Misconception

Cast : Choi Minho, Lee Taemin
By : bluesch
a/n : ff ini terinspirasi dari salah satu omnibook-nya kak Dwitasari yg judulnya ‘Jatuh Cinta Diam-Diam’. Dan sekarang saya bikin versi 2min nya. Seperti biasa, gausah dibaca kalo gasuka.

– CUE –

“Bagaimana masakanku? Enak?” tanya seorang yeoja disampingku dengan senyum dibibir plumnya yang selalu terlihat manis, riang dan cerah. Dan aku pun membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis.

“Enak. Gomawo, Taemin-ah,”

“Kau menyukainya?”

“Eum. Tentu saja aku menyukainya. Kalau ada kesempatan, aku mau dimasakin lagi ya,” pintaku sembari tersenyum menatapnya. Taemin mengangguk tanda setuju dengan permintaan yang aku utarakan.

“Kalau kita begini terus, aku mau memasak masakan yang enak seperti ini buatmu,” jawabnya dengan menyentuh pipiku yang masih gembung karena mengunyah masakan yang dia buat. Aku tak tahu mengapa masakan yang dia buat begitu enak, mungkin karena tangan malaikat yang dianugerahkan Tuhan untuknya.

Mata kami bertemu dan rasa canggung pun mulai merasukinya. Tiba-tiba kecanggungan itu pecah dengan suara pintu kelas yang terbuka. Ah, itu Yuri sang yeoja cerewet dengan gaya yang sok akrab dan sok asyik menurutku. Dia masuk dan duduk disamping Taemin. Ck, dia sangat menganggu moment indahku bersama Taemin.

Aku tak ikut apa yang mereka perbincangkan. Tahu sendiri, yeoja kalau sudah bergosip pasti suasana menjadi heboh walaupun yang berbicara hanya dua orang. Namun anehnya, mereka bergosip sambil berbisik dan sesekali melirik kearahku, aku mulai curiga, jangan-jangan mereka sedang membicarakanku lagi? Ck, dasar tukang gosip! Yuri sudah lama bersahabat baik dengan Taemin, sejak kelas 1 SMA dan sekarang sudah kuliah semester 3, wajar kalau mereka sedekat itu.

“Eh, kalian sudah mengerjakan tugas dari Lee Seonsaengnim?” Aku dan Taemin mengangguk bersamaan.

“Aigoo.. Kalian rajin sekali rupanya, salut. Aku juga sudah selesai, tinggal mencetaknya,” Itulah kebiasaan Yuri, selalu menunda-nunda pekerjaan.

“Aku mencetak tugas dulu ya kedepan kampus, jangan kangen ya sama aku,” teriak Yuri sambil meninggalkan kami berdua lagi.

Fyuh.. Akhirnya yeoja cerewet itu pergi juga. Dan rasa canggung kami pun tumbuh subur lagi, hingga aku yang memulai percapakan.

“Tulisanmu diblog menarik juga,”

“Menarik apanya? Masih belajar kok. Kau suka mengintip blogku? Mengapa tidak bilang?” jawab yeoja manis itu sambil mencubit pinggangku. Aku mengaduh.

“Eh, maaf Minho. Sakit ya? Sebelah mana yang sakit?”

“Tidak sakit. Biasa saja,” jawabku sambil menampakkan deretan gigiku.

“Dasar! Suka sekali membuatku khawatir,”

“Hehehe, maaf,” aku memang suka sekali menggoda Taemin, habis dia lucu. “Taemin-ah, setiap aku baca postingan blogmu, mengapa isinya yang sedih-sedih?”

Yeoja cantik itu menanggapi pertanyaanku dengan senyum dan kekehan kecil nan manis, “Itu hanya tulisan aneh. Mengapa kau membacanya?”

“Aku hanya membacanya saat waktu senggang saja,”

Tawa gelinya tiba-tiba berhenti, “Eum.. Apa kau menemukan sosokmu dalam tulisanku?”

“Sosokku? Maksudmu?” aku bingung dengan pernyataan Taemin.

“Kalau membaca itu diteliti, Minho!” jawab Taemin sedikit kesal namun tetap manis pikirku.

“Tetapi itu benar-benar tulisan tentangku?” tanyaku masih penasaran.

“Iya, Minho. Coba kau perhatikan tanggal pertama kita kenalan,”

“Mengapa kau mau menulis tentangku?”

“Aku juga tak tahu pasti, tapi menurutku, sosokmu itu sosok yang bisa abadi,”

“Kau mau lebih dari ini, Taemin?” tanyaku tiba-tiba dan itu berhasil membuat Taemin kaget.

“Tidak. Aku suka keadaan kita yang sekarang. Aku sudah nyaman seperti ini,”

Jawaban itu membuatku terdiam sejenak. Aku beranggapan bahwa dia berbeda dengan yeoja-yeoja lain diluar sana yang merengek-merengek meminta kejelasan hubungan mereka. Tapi tidak dengan Taemin, dia tidak pernah menuntut lebih dariku. Dengan reflek, tanganku memeluk tubuh ramping Taemin yang ada disampingku dan mengelus punggungnya. Dia tersenyum senang dan aku pun begitu.

•••

“Kita akan kemana, Yuri-ah?” tanyaku penuh kekesalan saat Yuri dengan paksa menarik tanganku.

“Aku akan membawamu kesuatu tempat, agar matamu yang buta itu bisa terbuka lebar, Choi Minho!”

“Ya! Kwon Yuri! Apa maksudmu?”

“Sudahlah. Ikut saja, nanti kau juga tahu sendiri,” Yuri memasukkanku ke mobilnya.

Mobil Yuri melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan, tidak ada perbincangan diantara kami. Hingga mobilnya berhenti disuatu restoran. Aku turun dan mengikuti langkah Yuri. Aku duduk disamping Yuri yang sudah memesan meja. Aku masih menatap Yuri dengan tatapan bingung dan tak mengerti dengan sikapnya.

“Sudah waktunya untuk membuka lebar matamu, Minho!”

“Membuka mata soal apa?”

“Itu lihat sendiri!” Aku menoleh kearah jemari Yuri yang menunjuk kesuatu tempat. Aku lihat itu. Yeoja dengan senyum manis di bibir plumnya, yeoja yang selalu membawakanku sarapan setiap pagi. Lee Taemin. Itu Taemin yang menjadi kekasih hatiku selama ini. Mataku terbelalak tak percaya melihat dia bahagia dengan menggenggam tangan seorang namja. Ini pasti pura-pura. Yuri pasti bohong.

“Siapa namja itu?” suaraku mulai gemetar.

“Namjachingunya pasti. Siapa lagi?”

“Kau pasti bohong, Yuri?”

“Mana ada orang yang berani bohong kepada orang yang dia cintai,”

“Apa maksudmu?”

“Aku.. Aku.. Mencintaimu Minho..” aku Yuri sambil menggenggam tanganku.Aku hanya terdiam dengan pengakuan Yuri, tak memberi respon apapun. Sedangkan tanganku mulai mengepal menahan amarah dengan apa yang aku lihat didepan mataku. Aku segera menarik tangan Yuri untuk melewati meja yang Taemin dan namja –yang entah siapa— itu duduki. Taemin kaget melihat kami melewatinya begitu saja. Terlihat Yuri memberikan smirk ke Taemin dan aku membiarkan itu. Dia hanya terdiam, tak menghampiriku, tak mengejarku.

•••

Beberapa minggu yang lalu, aku dan Yuri jadian. Entah mengapa aku bisa-bisanya menerima cinta yeoja cerewet yang selama ini aku benci itu. Pelarian? Mungkin. Karena aku merasa tidak ada kecocokan bersama yeoja satu itu. Terpaksa menjalani hubungan ini, sebenarnya.

Hujan diluar kosanku terdengar deras sekali, sesekali terdengar petir yang saling menyambar. Kulihat Yuri tertidur pulas dibahuku, langsung aku pindahkan dia ke tempat tidurku. Aku kembali membuka laptop dan membaca blog Taemin.

Tulisan yang Taemin posting akhir-akhir ini begitu memperlihatkan sisinya yang lemah dan rapuh. Aku tak tahu tulisan itu ditujukan untukku atau namja itu. Dia begitu menyesal dan merasa sangat bersalah. Baru kali ini aku membaca tulisan Taemin yang serapuh ini.

Hujan diluar semakin deras. Sayup-sayup terdengar ada ketukan pintu didepan kosanku. Kulihat jam yang ada di nakas dekat tempat tidurku. Tengah malam. Siapa yang tengah malam begini bertamu? Pikirku.  Tanpa berpikir panjang, aku membuka pintu kamar kosku. Taemin rupanya. Bajunya basah kuyup dan rambutnya pun terlihat acak-acakan karena kehujanan. Matanya terlihat sayu, wajahnya tak menampakkan keceriaan, hanya kesedihan yang terpancar.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Minho,” ucapnya pelan.

“Mau bilang apa?” jawabku sedikit sinis. Ada rasa benci dalam hatiku, sehingga tak mempersilakannya masuk.

Matanya melihat kearah dalam kamar kosku. Dia lihat Yuri yang tertidur di tempat tidurku. Aku ingin tahu, apakah dia terluka melihat hubunganku dengan Yuri atau dia malah senang sahabatnya mendapatkanku.

“Maaf. Maaf kalau aku kurang percaya padamu. Kita sudah sedekat ini, kenal sudah lama, bahkan kau pernah memelukku, tapi mengapa kau tidak pernah mengatakan sesuatu padaku?”

“Waktu aku menanyakannya padamu, kau bilang tidak mau lebih dari teman,”

Taemin tersenyum kecut melihatku “Terkadang, seorang yeoja itu tidak harus bilang apa yang dia rasakan. Aku kira kau sudah tahu tentang itu, ternyata aku salah,” katanya sambil menyeka air mata yang turun dari mata cantiknya. Aku terdiam melihatnya, tak tahu harus berbuat apa.

“Lalu, namja yang waktu itu siapa?”

“Dia hanya pelarianku. Aku kira kau tak memiliki perasaan apa-apa padaku. Wajar kalau aku mengira kau hanya mempermainkanku,”

“Yang benar saja. Bukankah kau yang mempermainkanku?”

“Jadi.. Kita sudah salah paham selama ini?” Taemin terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kita terlalu egois terhadap pendapat masing-masing, dan akhirnya tidak tahu yang sebenarnya terjadi,”

Aku sebenarnya kasihan dengan keadaan Taemin yang sekarang. Kedinginan, lemah, rapuh, dan rela basah kuyup ditengah malam seperti ini hanya untuk menjelaskan hal yang sangat tolol menurutku.

“Sebenarnya, untuk apa kau datang kemari?”

“Semua sudah terlanjur retak, tidak mungkin bisa kembali seperti semula. Begitu juga persahabatanku dengan Yuri. Aku hanya ingin minta maaf, karena—“

“Kau tidak salah, Taemin,” aku memotong kalimat Taemin yang belum selesai.

“Tak perlu menunggu salah kalau mau minta maaf, Minho,” dia masih tenang menanggapinya “Aku kemari hanya ingin mengatakan sesuatu padamu,”

“Apa itu?”

Taemin diam sejenak dan nampak menghela nafas dalam-dalam agar tak terlalu gugup, “Saranghae, Choi Minho,” Taemin kembali terdiam dan menundukkan kepalanya.

Aku mendongakkan kepala Taemin, mencoba mencari ketulusan dimatanya. Aku menemukannya. Sebuah ketulusan yang terpancar dimatanya yang merah menahan tangis itu. Tanpa ragu, aku mengecup singkat bibir pulmnya. Lalu beralih memeluk tubuh Taemin. Menghangatkan tubuhnya yang mulai mengginggil. Menjadi sandaran untuk meluapkan tangisnya.

“Kau bodoh, Taemin. Mengapa kau menungguku untuk mengungkapkan perasaanku terlebih dulu? Mengapa kau tidak bisa seperti Yuri yang mengungkapkan perasaannya terhadapku tanpa rasa malu dan takut?” suaraku mulai bergetar.

“Aku dan Yuri berbeda, Minho-ah. Seperti air dan api. Seperti bumi dan langit. Aku tak bisa mengungkapkan secara langsung, aku lebih nyaman mengungkapkannya melalui tulisan. Dan kau pun tau itu, Minho,”

“Tapi caramu membuatku salah paham, Taemin,” ujarku pelan.

“Maafkan aku, Minho-ah. Maafkan aku,”

Badan Taemin yang dingin karena kehujanan, tidak aku pedulikan. Yang terpenting, pelukan hangat ini bisa aku rasakan lagi. Bukan dengan Yuri, namun dengan Taemin. Gadis yang selama ini aku rindukan, gadis yang bisa membuatku nyaman, gadis yang selalu bisa membuat jantungku berdegup cepat. Ya, Taemin.

Dari belakang terdengar suara. Yuri bangun. Taemin tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang memenuhi pipi putih susunya.

“Yuri—“ kataku sedikit terkejut.

Dia melihat kami dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, “Mungkin sudah saatnya aku menyerah. Terlalu sulit untuk memisahkan perasaan kalian yang begitu kuat,”

– FIN –

Advertisements

2 thoughts on “Misconception

  1. icha 2015-08-23 / 9:29 pm

    nad.. thx udah bikin aku nangis T.T

    Like

    • sch-chan 2015-08-24 / 10:10 am

      feel nya biasa ajin perasaan-_-
      makasih deh udh nangis -..-

      Like

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s