Limited Edition [Dedicated for 2Min Day]

image

ORIGINAL STORY BY HOSHIMORI YUKIMO WITH TITLE “THIS LOVE IS A RARE THING”

Rewritten by bluesch ©2016

Poster by Ina©Cover Fanfiction Art

| Minho, Taemin, Krystal, Taemin’s Mom |

“Because you are my precious person in my whole life like your limited edition things.”  -Minho

Hai. Kali ini aku bawain fiksi yang aku remake dari komik. Ada beberapa perubahan dari alur dan tokoh, pastinya. Aku respect banget sama komik kali ini, ceritanya.. romantis sekaligus nyesek. Tapi entah nanti sampai ditangan aku gimana jadinya. Dan ya, ini akan jadi fiksi yang panjang. Siapin cemilan ya 😉 So happy reading!

– CUE –

“TAEMIN!!”

Baru saja aku sampai di kelas. Anak ini sudah jejeritan tidak jelas. Dan apa ini? Apa maksudnya memelukku segala?

“Hei! Lepaskan! Sesak! Apa-apaan kau? Pagi-pagi sudah bikin ribut. Berisik!” kesalku pada anak tak tahu diri yang seenaknya saja memeluk tubuh berhargaku ini.

“Taemin, Taemin, kau tahu? Hari ini kelas kita akan kedatangan siswa baru,” ucapnya sambil jingkrak-jingkrak. “Dan katanya dia sangat tampan. Aduh aku jadi gugup kalau-kalau nanti bertemu dengannya,”

Tumben sekali ada siswa baru di kelasku, biasanya para guru akan memasukkannya ke kelas lain. Aku hanya mengangkat bahu tak peduli.

“Kau pasti akan menyukainya. Aku yakin,” ujarnya lagi setelah kami berdua duduk di bangku masing-masing yang bersebelahan.

“Sok tahu sekali kau. Aku takkan tertarik dengan siapapun. Aku hanya tertarik dengan barang-barang edisi terbatas. Kau juga tahu itu, kan?” jawabku dingin kepada teman sebelahku yang cerewet ini.

“Aku yakin kau takkan bisa mengelak dengan pesonanya kali ini,”

“Ck. Terserahmu saja. Aku tak peduli,” ucapku tak acuh sambil mengeluarkan buku pelajaran untuk hari ini karena baru saja bel tanda masuk berbunyi.

Tak lama kemudian, wali kelasku masuk kelas. “Selamat pagi!” salamnya kepada kami.

“Pagi, Saem!” jawab kami serempak bersemangat. Mungkin hanya aku yang tak tertarik dengan sesi perkenalan-siswa-baru ini.

“Kalian pasti sudah mendengar tentang siswa baru di kelas kita hari ini, kan?” basa-basinya.

“Tentu, Saem!” mereka tampak semangat sekali, kecuali aku.

“Okay. Kalau begitu, silakan masuk!” ucapnya menghadap pintu ruang kelas, berbicara pada seorang siswa yang masih menunggu di depan.

Begitu ia masuk, semua anak di kelasku mulai menatapnya intens dan tentu saja membicarakannya. Entah, aku pun tak mengerti apa yang mereka bicarakan dan aku tak peduli dengan itu.

“Perkenalkan dia Choi Minho. Minho ini juga aktif di dunia entertainment sebagai model. Kurasa kalian sudah tahu itu,”

Deg!

Choi Minho? Choi Minho yang aku kenal dengan Choi Minho yang ini pasti beda kan? Setelah wali kelas memperkenalkan namanya, aku semakin menundukkan kepalaku. Takut kalau saja Choi Minho yang kukenal memang dia orangnya.

“Mohon bantuannya, teman-teman,” salamnya kepada teman sekelasku seraya membungkukkan badan hormat.

“Baiklah. Kau boleh duduk diujung sana, Minho,” perintah wali kelasku untuknya duduk di kursi yang kosong, satu deret dengan kursiku.

Ia berjalan menuju kursinya yang ditunjukkan wali kelas. Semua mata hanya tertuju padanya–kecuali aku–saat ia berjalan bak seorang model yang berjalan di arena catwalk, aku hanya diam–masih–menundukkan kepala.

Tiba-tiba ia mengusap kepalaku lembut. “Kau masih seperti dulu ya, Taemin,” gumamnya kepadaku. Tunggu, ia mengenaliku.

“Besok anak dari Tuan Choi akan kembali lagi ke apartemen sebelah. Kau harus bersikap baik dengannya, Taemin. Kau ingat? Dia dulu teman semasa kecilmu,”

Tiba-tiba ucapan ibu semalam teringat olehku. Tapi apa harus dia pindah ke sekolah yang sama denganku? Sekolah lain yang lebih elit kan banyak.

Ya. Memang benar Choi Minho itu teman semasa kecilku. Dan dulu apartemen tempat tinggalnya juga bersebelahan dengan apartemenku. Semasa kecil, dia selalu jahil–terutama kepadaku.

Ah. Bagaimana ini? Maksudnya kembali untuk apa? Dan mengapa dia tak berpura-pura tak mengenalku saja? Menyebalkan sekali hari ini.

•••

“Ah, Eomma. Mengapa harus aku?” rengekku kepada ibu yang menyuruhku mengantar makan malam kepada anak Tuan Choi. Siapa lagi kalau bukan Choi Minho.

“Kau pikir saja, Taemin, haruskah Eomma? Hei, dia seumuran denganmu, dan dia dulu teman masa kecilmu,”

Eomma..” rajukku hingga mengeluarkan aegyo kebanggaan.

“Sudah. Cepat sana!” paksa ibu seraya mendorong tubuhku keluar pintu apartemen. “Lee Taemin Fighting!” Serunya dengan mengepalkan tangan menyemangati, lalu menutup pintu.

Aku hanya mengernyitkan dahi bingung dengan perkataan ibu barusan. Kuhela nafas menyerah jika sudah begini. Melangkahkan kaki gontai menuju apartemen Minho. Hah. Aku benar-benar harus melakukan hal ini jika tak mau uang sakuku dipotong 50%.

Sejak beberapa detik yang lalu aku hanya berdiri kaku di depan pintu apartemen ini. Apartemen tempat tinggal teman masa kecilku yang sangat jahil. Aku tak tahu maksudnya menjahiliku dengan mengambil serta menyembunyikan barang-barang edisi terbatasku yang aku dapatkan dengan susah payah.

Menghela nafas saat mengingat kejadian yang sudah terlampau lama dan untuk meyakinkan bahwa takkan terjadi hal apapun setelah aku menyerahkan makan malam ini.

Tok! Tok! Tok!

Akhirnya, dengan malas tanganku kupaksakan untuk mengetuk pintu di depanku. Setelah beberapa saat, terdengar suara orang yang sedang membuka pintu. Ya. Pintu di depanku ini terbuka menampilkan sosok Choi Minho.

Eoh? Taemin! Ada apa?” tanyanya yang terlihat kaget melihatku.

“Hanya mengantar makan malam. Ini. Dari ibuku,” ucapku to the point. Aku malas berlama-lama dengannya. Untuk apa juga, toh kami juga sudah lama tak bertemu jadi kurasa tak ada hal yg perlu dibicarakan lagi. “Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat menikmati,” pamitku setelah melihat Minho menerima kotak makannya.

Grep. Pergelangan tanganku digenggam–yang kuyakin olehnya–lembut yang berhasil membuatku berhenti melangkah dan membalikkan badan.

“Tunggu,”

“Ada apa?” tanyaku sedikit sinis setelah sebentar melirik pergelangan tangan yang masih digenggamnya. Memberi kode untuknya melepaskan.

“Apa kau tak mau memastikan sesuatu?” dahiku mengernyit bingung dengannya. Apa yang harus aku pastikan? Sudah pasti dia menerima kotak makan itu dan tugasku selesai.

Ia tak kunjung melepaskan genggamannya di pergelangan tanganku. Menggenggamnya lebih erat dan tiba-tiba menarikku kedalam. Suara pintu tertutup itu sedikit memekik di telingaku. Dilemparnya punggungku dibalik pintu. Mengunci bahuku dengan sebelah tangannya yang lain–yang tidak membawa kotak makan.

“Memastikanku memakan habis makanan dari ibumu dan menikmatinya,” ucapnya melembut serta wajahnya sedikit demi sedikit mendekat kewajahku. Aku tak mengerti mengapa aku merasa wajahku memanas saat ia semakin mendekat.

Kudorong dada bidangnya sedikit keras. Menghela nafas panjang memutuskan. “Baiklah,” putusku. Akan lebih repot jika tak menuruti kelakuannya yang seperti anak kecil ini. “Aku hanya menemani saja,” sambungku mengajukan syarat.

“Apa kau mengharapkan sesuatu hingga berkata seperti itu?” apa-apaan ia ini? Membuat wajahku semakin panas saja.

“Ck. Apa maksudmu? Aku tak mengharapkan apapun darimu, Choi Minho-ssi,” elakku.

“Arraseo,”

•••

“Ck. Makanmu lambat sekali, Choi Minho. Bisakah aku pulang? Sudah terlampau lama aku disini,”

“Kenapa? Kau tidak mau temu kangen dengan teman kecilmu ini? Aku kangen denganmu, Taemin,” santainya.

“Untuk apa aku kangen dengan orang macam kau. Ingat wajahmu saja tidak,” kalimat terakhir ku sengaja merendahkan volume suara.

“Oh jadi kau lupa denganku? Pantas saja tadi kau terlihat biasa-biasa saja,” gumamnya lirih. “Luangkan waktu 3 hari,” ucapnya tiba-tiba dengan nada dingin.

“Huh? Untuk apa? Tak mau,”

“Kuajak kau ke Hawaii, menemani pemotretanku disana,” ia menghentikan makannya dan menatapku dalam. Seolah bisa menghinoptis. Tapi aku tak luluh begitu saja. Walaupun reaksi tubuhku tak sinkron dengan otak. Ada apa sebenarnya?

“Tak mau!” tekanku sekali lagi menolak.

“Kau tetap tak mau jika kuberi cincin limited edition bulan ini versi majalahku?” mataku langsung membulat sempurna menatap Minho setelah mendengar kata limited edition disana. Aku tak bisa menolak jika menyangkut barang-barang edisi terbatas. Ibu apa yang harus aku lakukan?

“Kau serius?” tanyaku terbata.

“Serius,” jawabnya dingin. Seperti marah. Entahlah aku tak tahu.

“Baiklah. Jadi, mana cincin itu?” pintaku. Aku akan mengambil cincin itu, kemudian tidak akan ikut ke Hawaii. Bukankah itu pemikiran yang cerdas? Haha.

“Aku akan memberikannya saat malam terakhir kita di Hawaii,” sial. Ternyata ia lebih pintar bisa mengerti rencanaku.

“Baiklah,” finalku lemah. Tak bisa melakukan apapun selain menurutinya. Aku tak bisa menolak. Ini demi koleksi barang-barang edisi terbatasku.

•••

Semilir angin pantai menemaniku disiang yang lumayan terik ini. Hanya mereka, tak ada yang lain. Beberapa meter di depanku ramai orang memang, namun hanya satu orang yang kukenal. Ya. Choi Minho.

Kami sudah di Hawaii. 3 hari yang lalu. Dan selama itu aku serasa seperti pembantu saja bagi Minho. Menemaninya kesana kemari untuk pemotretan. Cih. Membosankan sekali. Ia sih enak bisa berdekatan dengan model lain yang notabene perempuan cantik nan seksi. Aku? Aku hanya menunggu dan melihatnya skinship dengan bebasnya seperti itu. Betapa menyedihkan bukan?

“Selesai! Kerja bagus Choi Minho-ssi, Krystal-ssi!” teriak sang fotografer pada Minho dan partner pemotretannya. “Hari ini pemotretan terakhir, melanjutkan berlibur disini atau pulang ke Korea itu terserah kalian. Selamat bersenang-senang,” lanjutnya.

“Terima kasih atas kerja samanya semua. Terima kasih Lee-ssi,” bungkuk hormat Minho dan Krystal pada sang fotografer dan seluruh staff.

Oppa, hari ini kau akan kemana? Mau makan siang bersamaku?” ajak Krystal ke Minho. Dasar perempuan. Tak bisa melihat laki-laki tampan sedikit saja mulai genit. Ck.

“Ah maaf Krystal-ssi. Aku sudah ada janji,” tolak Minho tersenyum. Rasakan.

“Oh okay. Kalau begitu aku duluan,”

“Ya,” senyumnya ramah. Setelah berbincang sedikit dengan Krystal, ia menghampiriku yang berada dibawah pohon rindang ini. “Hai. Aku terlalu lama ya?” sapanya bertanya basa-basi. Cih. Bodoh. Kau pun sudah tahu jawabannya mengapa bertanya. Batinku.

Aku mengalihkan pandanganku darinya cuek. Memutar bola mata jengahku. Jujur aku sangat bosan selama di Hawaii. Minho tak perhatian sekali tak memberiku jalan-jalan. Apa aku benar-benar pembantunya yang hanya bertugas menunggunya pemotretan? Ck. Menyebalkan.

Sedikit mengangkat kaki-kakiku untuk segera pergi dari tempat itu. Untuk apalagi disana? Toh pemotretannya sudah selesai. Minho mencegahku dengan menggenggam pergelangan tanganku–lagi. Kali ini aku tak mau membalikkan wajahku padanya.

“Kau mau kemana?” ucapnya sedikit.. Pasrah? Ah entahlah. Nada bicaranya beda kali ini.

“Aku akan kembali ke penginapan, aku lapar dan ingin istirahat. Jika kau masih ingin disini, itu terserahmu,” jawabku cuek tanpa mengalihkan pandanganku padanya.

“Ah baiklah. Kau pasti lelah menungguku seharian ini. Kembalilah,” melepaskan genggaman tangannya dipergelangan tanganku. Dan nada bicaranya, tak seperti biasanya yang suka berteriak.

Kuanggukkan kepala mengerti dan berjalan meninggalkannya.

•••

Hah. Malam ini adalah malam terakhir kami di Hawaii. Aku masih menunggu janji Minho waktu itu untuk menyerahkan cincin limited edition dari majalahnya.

Namun sejak siang tadi aku tak melihatnya di sekitar penginapan. Aku tak tahu ia kemana, mungkin menemui partnernya yang genit itu. Entahlah.

Kakiku berjalan menyusuri lorong menuju kamar tidur. Ya kamarku. Kami tidak sekamar, hanya saja bersebelahan. Aku akan menolak mentah-mentah jika Minho berani membiarkan kami sekamar.

Beberapa waktu lalu, aku hanya jalan-jalan melihat sekitar penginapan. Siapa tahu bertemu dengan Minho dan menanyakan soal cincin itu. Tapi ternyata Minho tak ada di penginapan. Lagipula ini sudah malam. Dan besok kami kembali ke Korea dengan penerbangan pertama. Lebih baik aku istirahat saja. Mungkin Minho akan menyerahkannya besok saat kami kembali.

Kubuka perlahan pintu kamarku dengan lesu karena memang aku sudah lelah dan sedikit kecewa dengan Minho karena tak menepati janjinya. Lampu otomatis menyala dan kulihat seseorang sedang berdiri di beranda kamarku menghadap langit. Siapa dia?

“Minho? Kau kah itu?” ia membalikkan badan kearahku. Benar dugaanku. Karena memang hanya Minho yang memiliki tubuh tegap seperti itu. Sangat mudah dikenali.

“Oh, Taemin. Kau sudah kembali?” senyumnya kikuk.

“Bagaimana bisa kau ada disini?” tanyaku seduktif sambil mengernyitkan dahi curiga.

“Kau lupa? Kamar kita bersebelahan. Dan itu. Ada pintu yang menghubungkannya,” tunjuknya ke sebuah daun pintu di sebelah lemari pakaian.

“Ah..” dengungku mengerti. Sudah 3 hari aku disini tapi tak tahu jika kamar kami berdua memiliki pintu yang saling terhubung. “Lalu kau mau apa kesini?”

“Ini. Aku hanya akan menyerahkan cincin ini,” diserahkannya cincin itu kepadaku. “Cincin yang aku janjikan saat di Korea,”

Cincinnya cantik. Berwarna coklat tua mirip seperti kayu, bagian luar sedikit bergerigi namun tak tajam. Unik. Dan kurasa cincin ini seperti cincin rosario karena ada tanda menyerupai tanda salib disana.

Yeppeuda,” gumamku lirih. Mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya. Aku suka cincin ini. Pantas menjadi edisi terbatas.

“Kau suka?”

“Ya. Aku suka. Ini akan menjadi koleksi edisi terbatasku yang paling berharga,” aku tanpa sadar mengucapkannya karena memang cincin ini indah. Hanya itu.

“Syukurlah,” gumamnya. Tapi masih bisa kudengar.

Aku yang sedang memperhatikan cincin itu, dengan tiba-tiba Minho memelukku dari belakang. Aku terkejut merontanya. Tapi rontaanku masih belum seberapa.

“M-Minho.. Apa yang kau lakukan?” ucapku terbata. Bagaimana tidak? Nafasku tercekat, jantung berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, yang terpenting ini pertama kalinya bagiku. Dan Minho–teman masa kecilku yang jahil–yang melakukannya.

Ia memelukku semakin erat. Aku hanya bisa diam gugup. Dan ia meletakkan kepalanya di bahu kananku. Kurasakan nafas hangatnya yang berhembus menenangkan. Oh Tuhan, tolong aku.

“Biarkan seperti ini sebentar saja,” ucapnya lembut sekali. Membuatku semakin gugup.

Aku mencoba memejamkan mata untuk menetralisir kegugupanku. Tapi apa yang aku rasakan setelahnya? Aku merasakan detak jantung Minho yang lebih cepat dibanding detak jantungku. Aku membuka mataku terkaget. Bagaimana bisa?

Setelah beberapa menit berlalu, ia melepaskan pelukannya secara perlahan. Membalikkan badanku agar menghadapnya. Ada apa ini? Aku.. Tak bisa menatapnya. Aku hanya bisa menatap ke sembarang arah asal tidak ke wajahnya. Aku tak sanggup. Sungguh.

“Terima kasih sudah meminjamkan bahumu untukku bersandar sebentar,”

“A-ah. Ya. Sama-sama,” gugupku menjawabnya. Mengusap leherku tanda semakin canggung dengan suasana malam ini.

“Kalau begitu, selamat malam. Selamat tidur, Taemin. Besok kita akan pulang ke Korea pagi-pagi,”

“Ya. Kau juga,” ia mulai menjauh menuju pintu dimana kamarnya berada. Berjalan tanpa melihat kearahku sama sekali. Ku hanya bisa melihat punggung tegapnya yang berjalan itu.

Setelah ia menghilang dibalik pintu, kakiku lemas, aku terduduk di lantai balkon.

“Bagaimana bisa aku segugup itu dihadapan Minho? Itu memalukan, Bodoh!” rutukku dalam hati. Lebih baik aku tidur saja daripada memikirkan hal tidak penting ini.

•••

Kemarin siang kami sudah sampai di Korea. Kami langsung ke apartemen masing-masing tanpa pembicaraan yang berarti. Dan hari ini, sudah saatnya kami kembali bersekolah.

Aku sudah sampai di kelas 30 menit yang lalu. Dan kelas akan dimulai sebentar lagi. Tapi aku tak ada melihatnya memasuki ruang kelas dan kursinya masih kosong. Apa ia tidak masuk? Sakitkah? Aku rasa kemarin ia baik-baik saja. Entahlah.

Bel masuk berbunyi. Saat itu juga guru segera masuk kelas untuk memulai pembelajaran. Kebetulan sekali jam pertama wali kelasku yang mengajar.

“Selamat pagi,” sapanya ramah.

“Pagi, Saem!”

“Bisa dimulai kelas hari ini?” itu kebiasaannya saat akan mengajar. Selalu menanyakan itu. Heu. Entah mengapa aku malas sekali mengikuti pelajaran hari ini. Rasanya ingin membolos saja.

Ne..” jawab kami sedikit lesu berbeda dengan menjawab sapaannya tadi.

“Ah! Saem! Minho kemana? Apa dia tidak masuk kelas hari ini?” tanya seorang siswa perempuan di kelasku. Aku rasa ia hanya mengalihkan saja agar pelajaran tidak segera dimulai. Huu dasar.

“Ah iya. Tadi Minho memang sudah berpamitan untuk tidak masuk kelas hari ini,” benarkah? Apa ia benar-benar sakit?

“Kenapa Saem?” celetuk siswa perempuan lain. Kurasa pikiranku sama dengannya.

“Oh. Tadi dia hanya bilang akan ada interview untuk televisi yang sudah membuat jadwal sebelumnya. Jadi tak bisa diundur. Dan katanya dia akan mengikuti tambahan jam. Ya seperti itulah. Menjadi entertainer itu memang bukan hal yang mudah,” ceritanya.

Cih. Hanya karena terjadi sesuatu di penginapan saja membolos sekolah dengan beralibi ada interview. Dasar pembual! Eh? Mengapa aku jadi marah kepadanya? Toh tidak ada yang terjadi. Ia hanya meminjam bahuku untuk sandaran sementara. Tidak lebih. Ya hanya itu. Lupakan, Lee Taemin. Lupakan!

•••

“Aku pulang!” seruku sembari melepas sepatu sebelum memasuki apartemen.

“Oh. Kau sudah pulang? Mau makan?” tanya ibuku dari arah ruang televisi tanpa memandangku. Tumben sekali beliau menonton televisi hingga seperti itu.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan ibu tadi. Terdengar suara dari televisi yang sepertinya ada wawancara dengan selebriti.

“Jadi bagaimana pemotretanmu di Hawaii kemarin, Choi Minho-ssi?”

Deg. Choi Minho. Secara reflek aku menoleh kearah televisi yang memang sedang menayangkan sesi wawancara dengan Choi Minho.

“Ya. Aku menikmatinya. Namun rasanya pemotretan kali ini lebih menyenang dari sebelum-sebelumnya,” aku tak menyangka ternyata ia benar-benar ada interview tadi.

“Wah wah. Ada apa ini? Ada alasan apa sehingga kau tersenyum seperti itu?” tanya pewawancara itu lagi. Aku masih saja berdiri kaku di belakang sofa tempat ibuku duduk yang memfokuskan kearah televisi.

“Yah. Hanya ada orang special yang menemaniku selama disana,” senyumnya lagi. Ah. Pasti orang itu yang menjadi partner modelnya yang genit itu. I see.

“Orang special?” tanya sang pewawancara yang sedikit mengorek kehidupan pribadi Minho.

Aku sebenarnya tak mau mendengar lebih lanjut. Tapi rasanya kakiku tak bisa digerakkan hingga masih saja berdiri dengan kaku ditempat.

“Ya. Dia sangat specil sejak bertahun-tahun yang lalu,” cih. Mendengarnya saja sudah memuakkan. Tanpa segan sedikitpun ia mulai menceritakan kehidupan pribadinya didepan pewawancara bahkan didepan masa yang menonton acara ini.

“Aku tak tahu, tayangan ini akan dilihatnya atau tidak. Tapi aku yakin dia akan melihatnya atau mendengar dari orang lain, mungkin. Dia.. Adalah alasanku untuk menjadi model sejak dulu,” lanjutnya. Oh. Jadi wanita kemarin itu alasannya. Tak kudengar suara pewawancara yang menyela cerita Minho, seakan ia tertarik dengan kehidupan pribadi Minho yang–katanya–masih misterius itu.

“Sejak kecil, dia memiliki barang-barang kesayangan yang selalu dia pamer-pamerkan setiap ke sekolah. Dia tidak peduli dengan lingkungannya, bahkan mungkin teman dekatnya hanya karena barang kesayangannya yang lebih menarik. Sejak dulu aku sudah menyukainya. Karena dia amat lucu. Matanya akan terlihat seperti bulan sabit jika tersenyum. Aku mulai kesal dengan barang-barangnya itu, hingga aku berniat  mengambil barang kesayangannya dan menyembunyikannya agar dia mau memperhatikan lingkungannya. Namun ternyata niatku itu disalahartikan olehnya yang menganggap bahwa aku hanya iri dan menjahilinya. Sejak saat itu, dia menjauh dariku. Dan aku mulai berpikir hal apa yang bisa mengalihkan perhatiannya dari barang-barang kesayangannya. Aku memutuskan untuk menjadi model saat itu. Terutama intuk model barang-barang edisi terbatas,” wah. Hebat sekali Choi Minho bisa menceritakan secara detail kehidupan masa kecilnya. Aku hanya menyeringai mendengarnya.

“Edisi terbatas?” tanya si pewawancara itu. Minho sudah menceritakan secara gamblang tapi masih saja ia ingin tahu. Ck ck dasar infotainment.

“Ya. Dia pengoleksi barang-barang edisi terbatas. Maka dari itu ia sangat marah saat aku mengambil dan menyembunyikannya,” aku terkesiap dengan ucapannya barusan. Edisi terbatas? Aku? Tidak mungkin. Pengoleksi edisi terbatas bukan hanya aku bukan di dunia ini? Masih banyak yang lain. Dan mungkin saja wanita itu juga seperti itu. Ya mungkin saja.

Aku berlalu ke kamarku. Benar-benar tak mau mendengarnya lebih lanjut. Entah mengapa ada sedikit yang berderik ketika ia menceritakan itu. Ah entahlah.

•••

“Taemin!” panggil ibuku dari lantai bawah. Dengan malasnya aku keluar kamar dan menemui beliau.

“Ada apa, Eomma?”

“Ja. Kau antar makan malam untuk Minho, ya?” pintanya menyodorkan kotak makan–lagi. Ya Tuhan. Aku sedang malas sekali bertemu dengannya.

“Aku sedang malas bertemu dengannya. Eomma sendiri saja,” ucapku jujur.

“Lee Taemin! Antarkan! Dia sudah bekerja keras tadi saat wawancara,”

“Lalu?” jengahku dihadapan ibu. Sejujurnya aku jarang sekali membantah perintahnya. Tapi kali ini aku benar-benar sedang malas.

“Dia tinggal sendiri di apartemennya. Tak ada salahnya kan membagi sedikit makan malam kita,” ternyata ibuku ini memang pandai sekali beralasan.

Eomma, dia seorang model. Dan pasti uangnya juga banyak. Dia sudah kaya. Dia bisa membeli makan malamnya sendiri,” rajukku lagi. Dan dia juga bisa menyuruh pacarnya untuk membawakannya makan, batinku.

“Ya! Lee Taemin! Kau membantahku?” murka ibu. Ia mulai memukul-mukulkan tangannya di punggungku.

“Ah, Eomma! Sakit! Arraseo. Aku akan mengantarkannya,” jika tidak begitu aku yakin ibuku tak akan menghentikannya. Dan besok pagi badanku akan pegal-pegal karenanya. Aku mengalah.

•••

Pada akhirnya aku berakhir kaku di depan pintu ini lagi. Entah mengapa aku sangat kesal dengannya hari ini. Aku malas bertemu dengannya. Menghela nafasku berat. Kali ini, aku hanya akan mengantarnya dan pulang.

Kuketuk tiga kali pintu itu. Tak ada jawaban. Apa ia tak ada dirumah. Kuketuk lagi pintunya. Jika kali ini tak ada jawaban, maka aku akan pulang saja.

“Siapa?” terdengar suara kecil dari balik pintu. Ternyata ia di dalam.

“Taemin. Lee Taemin!” ucapku sedikit berteriak.

“Masuklah!” bodoh. Bagaimana aku bisa masuk? Pintunya memakai password seperti apartemen kebanyakan. “Ulang tahunmu. Passwordnya,” aku terkaget. Mengapa ia memakai ulang tahunku untuk password pintu rumahnya? Mungkin hanya kebetulan, pikirku.

Dan benar saja. Pintu itu terbuka setelah aku masukan password dengan nomor seri ulang tahunku.

Aku celingukan mencarinya begitu aku memasuki apartemennya.

“Ada apa?” sapanya mendadak. Membuat jantungku berdebar karena kaget.

“Em.. Hanya mengantar makan malam–lagi,” kuserahkan kotak makan itu. Ia tak langsung menerimanya. Seperti melihat kearah jariku. Aku memang memakai cincin yang kemarin ia berikan. So what? Ini salah satu koleksi edisi terbatas favoritku sekarang.

“Kau memakainya?” gumamnya yang masih dengan jelas kudengar. Aku tak menjawab. Lalu ia mengambil kotak makan itu.

Aku berniat pulang setelah menyerahkannya. Tapi.. Ia menghalangi jalanku dengan wajah menunduk.

“Singgahlah sebentar. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu,” lirihnya. Suaranya berbeda. Persis seperti kami di Hawaii kemarin.

“Hanya sebentar,” akupun tak tahu mengapa aku menurutinya. Aku duduk di sofa ruang tamu untuk yang kedua kalinya. “Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku seduktif dengan melipat tangan depan dada dan menyandarkan punggungku disandaran sofa.

“Apa.. Kau melihat tayangan wawancaraku hari ini?” tanyanya sedikit ragu.

“Kukira kau akan membicarakan hal yang penting. Ya. Aku melihatnya–tidak sengaja. Dan aku baru tahu kalau ternyata wanita itu adalah alasanmu menjadi model,”

“Wanita?” ia mengernyitkan dahi pura-pura tak mengerti.

“Wanita yang saat itu menjadi partner pemotretanmu di Hawaii. Aku tak tahu ternyata kalian sedekat itu. Ck,”

“Kenapa? Kau cemburu?” tanyanya sedikit terdengar ada kekehan disana. Apa maksudnya?

“Tidak. Untuk apa aku cemburu denganmu? Tak ada gunanya. Lagipula bukan urusanku juga. Menyebalkan,”

“Kau tahu? Sebenarnya orang yang aku maksud itu adalah kau,” aku terkesiap menatapnya tepat dimata. Hanya beberapa detik saja. Aku tak kuat melihatnya dalam waktu lama. “Kau benar-benar yakin kalau itu dia?” tanyanya. Aku mengangguk bodoh.

“Kau ingat dulu saat aku menyembunyikan barang kesayanganmu? Sebenarnya aku hanya ingin kau memperhatikanku. Setiap aku berbicara kau selalu mengabaikanku. Jadi aku kesal dengan barang-barangmu itu dan menyembunyikannya. Lalu aku sadar, aku tak kan memperhatikanku dan mengabaikan barang-barangmu. Jadi aku mencari jalan lain, menjadi model misalnya. Aku yakin kau tak tahu mengapa aku pindah sekolah waktu itu,” ceritanya panjang lebar. Aku hanya bisa melongo mendengarnya.

“Aku tak pernah tahu kenyataan itu,” ucapku menundukkan kepala merasa bersalah.

“Aku pindah sekolah agar fokus menjadi model. Aku sudah membicarakannya dengan ayahku, dan beliau setuju. Aku menjadi model semata-mata hanya ingin menarik perhatianmu, Taemin. Kau tak tahu itu?” aku menggeleng. Karena memang aku tak peduli dengannya yang sering kali menjahiliku.

“Dan aku yakin kau percaya begitu saja dengan cincin berembel-embel limited edition dariku itu,” sambungnya seraya menunjuk cincin yang ada dijariku dengan dagunya. Aku menatapnya sekilas. Ia tersenyum kemudian. “Cincin itu bukan limited edition dari majalahku. Itu limited edition dariku,”

“Apa maksudmu?” tanyaku bingung menatapnya kemudian menatap cincin yang ada dijariku.

“Cincin itu memang limited edition. Hanya ada satu di dunia. Aku yang mendesain dan menyuruh orang untuk membuatkannya khusus untukmu. Dan cincin itu sudah diberkati oleh pastur gereja,” ucapnya kemudian. Aku terkaget. Jadi benar ini cincin rosario.

“Lalu maksudmu memberikannya padaku?” tanyaku sedikit terbata karena kenyataan ini.

“Aku mencintaimu, Taemin. Sejak kita kecil dulu hingga saat ini. Detik ini. Aku mencintaimu,” lagi-lagi aku terkesiap dengan ucapan telaknya. Aku memandangnya tepat dimata. Aku harus bertahan untuk membuktikan ia sedang bercanda. Tapi yang aku lihat hanya tatapan sendu dan ia tidak terlihat sedang bercanda. Aku menunduk.

Hatiku berdesir mendengarnya menyatakan cinta padaku. Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa bersalah dengannya karena dulu mengabaikannya.

“Jujur, aku tidak mengetahui semua kenyataan yang kau ceritakan itu. Aku merasa ada batu besar yang menghantamku saat kau menceritakan semuanya. Aku linglung tak bisa berpikir. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini,”

“Kau tak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu mengetahui kenyataan ini, Taemin. Aku tak menuntut lebih darimu. Karena aku tahu, sampai kapanpun barang-barang edisi terbatasmu lebih berharga dari apapun. Aku mengerti,”

“Kau tahu? Setelah kau menjadi model untuk barang-barang edisi terbatas, aku selalu berusaha untuk mendapatkan barang-barang yang kau promosikan dengan barbagai cara,” biarkan aku bercerita dari sudut pandangku sendiri. Aku tetap menunduk tak menatap Minho. Tapi aku tahu sekarang giliran dia yang terkesiap.

“Dulu sebelum kau menjahiliku, aku amat menyukaimu. Karena kau memang teman yang baik, kau banyak disegani teman-teman yang lain, dan bahkan hampir semua siswa di sekolah menjadi temanmu. Aku juga ingin menjadi temanmu kala itu. Tapi melihat kau asyik dengan teman yang lain, lalu aku memutuskan untuk memperhatikanmu dari kejauhan. Aku tak berani menyapamu. Mengapa? Semakin hari kau terlihat semakin memesona dimataku karena kebaikanmu yang tulus. Saat kau mulai menyapaku untuk pertama kalinya, dan kau menganggap aku mengabaikanmu, itu salah. Aku sebenarnya tak mengabaikanmu, aku hanya gugup bagaimana menjawabnya,” ceritaku panjang lebar agar kesalahpahaman kami dimasa lampau terselesaikan. Minho hanya diam tak menginterupsi.

“Saat aku akan menjawab, kau malah sudah pergi dengan teman-temanmu. Aku merutuki diriku sendiri saat itu karena tak bisa mengontrol diri saat kau didekatku. Padahal saat itu adalah kesempatanku agar bisa menjadi temanmu, tapi aku malah menyia-nyiakannya. Aku bodoh memang. Lalu kau mulai menjahiliku dan aku mulai kecewa dengan sikapmu itu. Aku jarang melihatmu melakukan itu pada temanmu yang lain, tapi kau melakukan itu padaku. Jadi aku berpikiran bahwa kau membenciku dan tak mau berteman denganku. Dan saat mendengar kau akan pindah sekolah, aku terpukul luar biasa. Aku pikir kau pindah sekolah karena teramat sangat membenciku hingga tak mau melihatku lagi,” ceritaku secara gamblang.

“Aku bukan tipe orang seperti itu,” ia menyela sedikit. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Satu per satu kesalahpaman terselesaikan. Tapi masih ingin bercerita banyak dari sudut pandangku kepadanya. “Lalu mengapa saat aku mengajakmu ke Hawaii kau menolaknya mentah-mentah?” ia bertanya.

“Karena saat itu aku masih berpikiran bahwa kau membenciku. Jadi aku akan menjadi bebanmu disana. Dan kupikir kau akan meneruskan sikap jahilmu padaku,” jawabku jujur. Karena memang itu yang aku pikirkan.

“Tapi kau langsung menerimanya setelah aku tawarkan cincin limited edition,” gumamnya.

“Aku hanya berpikiran tak ada salahnya jika aku mendapatkan cincin itu. Toh dari majalahmu. Kau tak ingat aku selalu membeli barang-barang limited edition yang kau promosikan? Jadi aku rasa, aku tak perlu susah payah untuk mendapatkannya. Hanya menemanimu saja, kau sudah memberikannya kepadaku langsung,”

“Ternyata memang benar barang-barang edisi terbatasmu lebih menarik dariku,” gumamnya kecewe. Aku tersenyum kecut. Sedikit senang karena ia terlihat cemburu dengan barang-barang edisi terbatasku.

“Bukan seperti itu. Dulu memang iya, tapi sekarang aku merasa lebih dekat denganmu jika aku mendapatkan barang-barang edisi terbatas yang kau promosikan. Barang-barang edisi terbatas, yang artinya hanya segelintir orang saja yang memilikinya, jadi aku merasa dekat denganmu. Itu saja,” aku lega sudah mengungkapkan uneg-uneg yang selama ini mengganjal dihatiku. Kulihat Minho masih saja menunduk.

“Dan soal wanita itu. Aku kesal melihatmu pemotretan dengannya saat di Hawaii kemarin. Aku benar-benar menyiksaku. Aku melihatnya secara langsung kau skinship dengannya. Aku masih bisa mengontrol diri jika melihatmu di majalah dengannya seperti itu. Tapi tidak untuk saat itu, aku benar-benar mengeluarkan semua sumpah serapahku dalam hati. Aku marah. Aku–” ucapanku terhenti. Minho mendorongku ke sandaran sofa. Bibir sensualnya menempel begitu saja dibibirku. Hanya menempel.

“Jangan bicarakan wanita itu. Dia bukan siapa-siapa. Hanya ada kita berdua disini, Taemin,” Minho melepaskan bibirnya dari bibirku. Itu ciuman pertamaku. Dan ia merebutnya. Syukurlah bukan orang lain.

Tapi wajahnya masih dekat dengan wajahku. Ia tak memundurkan wajahnya barang sedikit. Aku tak berani melihatnya, kualihkan pandangnku kearah lain. Dari sudut mataku, ia masih saja melihatku dengan pandang menelanjangi.

So, kesalahpaman kita sudah selesai. Aku mencintaimu. Dan aku tahu kau juga mencintaiku–meski kau tak mengatakannya secara langsung. Jadi, Lee Taemin, maukah kau menjadi kekasihku?” ucapnya tiba-tiba. Aku melongo menatapnya.

Aku belum menjawabnya. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan tubuhku kaku untuk mengangguk atau menggeleng sekalipun.

Ia dengan jahilnya, menempelkan bibirnya kembali ke bibirku, sekejap. Hanya sekejap lalu menanyakan, “Apa kau mau menjadi kekasihku?” aku masih saja belum menjawab. Dan selama itu pula ia melakukannya secara berulang-ulang. Hingga membuatku risih.

Kudorong sedikit tubuhnya agar sedikit menjauh dan menghentikan aksinya itu. Menghela nafas gugup. Aku akan menjawabnya saat ini.

Belum terdengar suara apapun dari bibirku, ia akan memulai aksinya kembali. Aku menahannya sekuat yang aku bisa.

“Hentikan itu, Minho. Aku akan menjawabnya,” ia terdiam menunggu jawabanku.

“Jawabanmu?” tanyanya tak sabaran.

“Setelah dipikir-pikir..” sengaja kugantungkan ucapanku. Kulihat ia memutar bola matanya jengah. Aku terkekeh melihatnya. “Ya. Aku mau,” jawabku lirih. Buru-buru menundukkan kepalaku. Aku malu setengah mati.

Ia terdiam. Lalu sedetik kemudian, ia menempelkan kedua tangannya di kedua pipiku. Mendongakkan kepalaku agar menatapnya. Setelah itu ia menghapus jarak diantara kami. Ia menempelkan bibirnya–lagi–diatas bibirku. Kulihat ia memejamkan matanya dan aku mengikuti memejamkan mataku.

Beberapa detik menempelkan bibir, ada sedikit pergerakan darinya. Ia mengecup bibirku. Bibirnya terasa manis. Ini pengalaman pertamaku, jadi aku tak tahu bagaimana membalasnya. Lalu ia melepaskan tautan bibir kami. Menghapus benang saliva di sudut bibirku dengan ibu jarinya.

“Aku mencintaimu, Taemin,” ia memelukku erat kali ini. Wajahku memanas. Ia sangat manis seperti dulu.

Aku juga mencintaimu, Minho.

– FIN –

A.n : Wakatta! Akhirnya! Fiksi terpanjangku terselesaikan. Bisa nulis 4+k words itu ga gampang–sekaligus bangga–bisa nulis segini panjangnya. Walaupun ini cuma remake dari komik, ada beberapa bagian yang aku tambahin sendiri–endingnya pun dirubah sedikit. Dan nulisnya pun butuh waktu berminggu-minggu u,u aku harap kalian suka dengan fiksi kali ini walaupun alurnya sengaja aku bikin lambat dan terlalu bertele-tele–maafkan. Aku nulisnya cape sampe berkali-kali ngalamin konflik  batin, mau dibawa kemana cerita ini. Oiya dicerita ini gada panggilang Bi-Dear yaa. Hehe ya abis mereka kan baru jadian masa udah Bi-Dear aja. Lain cerita aja.

Oiya, actually ini fiksi special buat 2min day kemarin tapi aku post pas shawol day–dan telat. HAPPY 8th SHINee WORLD DAY! ^^

Advertisements

9 thoughts on “Limited Edition [Dedicated for 2Min Day]

  1. Ria 2017-02-07 / 10:24 pm

    Cha…ternyata udah saling mencintai sejak kecil.Lucu aja cara Minho menarik perhatian Taemin.Akhirnya kesalahpahaman mereka terungkap dan saling mengakui satu sama lain.Trus jadian deh,hehehe…

    Like

    • nad (bluesch) 2017-02-08 / 12:20 am

      Ga afdol kalo misal mereka ga saling suka dari kecil. Lagian Taemin pernah bilang juga kalau mau dekat sama dia butuh waktu lebih dari 10th–okay ini respon teraneh.

      Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  2. afizhaqis 2016-11-25 / 5:54 pm

    Untung tae dapet pacar model XD. Ibunya taemin juga udah perhatian banget ama minho cem menantu aja wkwkwk 😂😂😂

    Like

    • bluesch 2016-11-25 / 10:21 pm

      Orang si ibu udah anggep dia menantu makanya kayak gitu wkwk
      Terima kasih sudah mampir dan komen 😉

      Like

  3. SikhoHoon 2016-09-02 / 12:28 am

    Taemin mah apa banget deh giliran dikasik cincin ajah baru mau diajak minho pergi tapi.ibunya taemin salah satu faktor pendukung banget mereka bisa jadian , gomawo thor ffnya

    Liked by 1 person

  4. taelsafeels 2016-09-01 / 10:09 pm

    Ya ampun taemin matre juga ya diiming”i cincin langsung mau ikut kekeke^^
    Oh ya sewaktu masih kecil, gimana taemin bisa mendapatkan barang” limited itu, apa uang saku dari ibu ny terlalu bnyak 😂

    Like

    • bluesch 2016-09-01 / 10:23 pm

      Bukan matre juga sih sebenernya. Kan udah dijelasin disitu knp dia langsung mau ikut setelah minho bilang bakal dikasih cincin limited edition. Dan ya salah satunya gitu, taemin udah bilang jg kalo dia dpt barang itu dg susah payah. Ya nabung lah, ya bujuk ibunya lah, ikut undian lah. Semacam itu kkk ^^

      Terima kasih udah mau baca dan mampir yaa 😉

      Like

  5. sullytaemin 2016-09-01 / 1:40 am

    Sukaa loch aq.
    Sweet crtinya & easy read, please jd gegara limited edition taemin mau sm minho sblmnya. 😂😂😂 oh taem dsr maniak kolektor limited 😑.
    Tpi mreka akhrnya jd sepasang kekasih ya 💜💜.

    Oia kritiknya. Kurang alur ya cyin kyk tau2 mreka ke hawai dll. Trus taemin dsni kurang meyakinkan loch 😂😂 wlopun dya bnyak alasan pas scene nyatain suka sm minho jga. Minho justru dh pas.
    Oia konflik ya naikin donk jd kyk biasa jja aq bcanya 😂😂.
    Tpi tulisannya bgus koq 😉😊.
    Keep going yuaa 😎.

    Like

    • bluesch 2016-09-01 / 2:09 am

      Aduh makasih banget ya udah dikasih saran sama kritikannya. Lain kali kalo nulis aku naikin deh konfliknya. Mungkin akunya terpacu sama alur asli jd imajinasinya ga berkembang. Itu aja banyak scene yg aku tambahan biar ga aneh😂

      But thanks banget atas kritikannya. Ditampung ^^

      Liked by 1 person

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s