Truth or Dare

A fiction by bluesch ©2016

A poster by Rey Artwork

| Minho, Taemin, Kibum, Jonghyun, Jinki |

Seharusnya yang diucapkan saat Halloween itu Trick or Treat, bukan Truth or Dare.

Note : Italic = past

•cue•

“Happy Halloween!” teriaknya setelah memasuki dorm. Sebenarnya 30 Oktober sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Berhubung mereka baru saja memiliki waktu senggang malam ini, jadi kesempatan itu mereka pergunakan untuk mengunjungi dorm yang sudah lama tidak dikunjunginya. Toh disana masih ada Jinki dan Minho.

“Kemana orang-orang? Mengapa sepi sekali?” ujar yang lain yang masuk ke dorm. Memasuki ruang-ruang dorm tanpa dipersilakan. Mencari sang penghuni.

“Kalian disini rupanya,” ucapnya setelah menemukan dua makhluk yang sedang menikmati makan malam mereka yang terlalu awal–atau mungkin makan siang yang terlambat.

“Ck. Menyebalkan. Aku memberi kejutan, tapi kalian malah diam seperti ini. Tidak asik sekali.”

“Karena kau terlalu berisik, Kibum-ah.”

“Dan apa itu kejutan Halloween? 30 Oktober sudah beberapa hari lalu. Itu yang tidak asik,” ujar lelaki yang lebih tua.

“Karena kita memiliki jadwal yang padat kemarin, maka dari itu aku dan Kibum kemari untuk merayakan Halloween. Bukankah akan menjadi sesuatu yang mengasikkan?” seloroh Jonghyun.

“Betul apa yang dikatakan Jonghyun Hyung, harusnya kalian bersyukur kami kemari untuk menjenguk pria-pria jomblo yang kesepian disini.”

“Tapi aku tidak jomblo seperti yang kau katakan, Kibum-ssi,” protes Minho yang masih saja enggan mengalihkan pandangannya dari makanan di depannya.

“Oh, sayang sekali kau menjadi pria jomblo untuk malam ini, Minho-ssi.”

“Apa maksudmu?” tiba-tiba Minho menolehkan wajah kearah Kibum yang tersenyum mengejeknya.

“Pacarmu itu tak mau kuajak kemari untuk menjenguk pacarnya yang kesepian. Malang sekali. Ck ck ck.”

“Kemana dia?” Minho mencoba mengontrol nada bicaranya agar tidak terlalu kentara bahwa ia sungguh penasaran dengan keberadaan Taemin–pacarnya.

“Dia pergi bersama pacar wanitanya, tentu saja. Apa kau tak tahu?”

“Ck. Kau benar-benar menyebalkan, Kibum-ssi,” Minho menolehkan wajahnya kearah Kibum sekali lagi. Untuk menunjukkan mata bulat besarnya bahwa Kibum memang sungguh menyebalkan.

“Hahahaha. Raut cemburumu itu lucu sekali, Minho-ya. Hahahaha,” tawa Kibum hingga terdengar ke sudut terkecil dorm itu. Sangat kencang.

•••

Ding dong! Ding dong! Suara bel di apartemen itu lumayan nyaring di telinga lelaki cantik yang baru saja sampai ke apartemen pribadinya. Ia bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang bertamu di malam yang sudah larut ini. Pintunya terbuka, menampilkan sosok lelaki gagah, tampan, serta memesona. Pacarnya, Choi Minho.

“Oh, Hyung! Ayo masuk,” suruh Taemin pada tamu kesayangannya itu. Minho tak menjawab, hanya menuruti Taemin untuk masuk ke apartemen pribadi pacarnya. 

“Tumben sekali kau kesini, ada apa?”

Mereka berdua sudah duduk berdampingan di sofa. Raut wajah Minho tidak mengenakan bagi Taemin. Minho diam saja sejak ia melihatnya di depan pintu. Minho seperti melamun, tapi Taemin rasa tidak. Pandangan Minho hanya kosong.

“Apa kau baru saja pulang?” tanya Minho tanpa mengalihkan pandangannya kearah Taemin.

“Ya, aku baru saja selesai mandi. Kau terlihat aneh, Bi,” ucap Taemin terus terang.

“Apa kau–apa kau baru saja pulang kencan bersama pacarmu?”

“Kencan bersama pacar? Kita baru saja bertemu. Dan kita tidak ada rencana untuk kencan seharian ini,” Taemin merasa bingung dengan pertanyaan Minho.

“Kencan bersama pacar wanitamu maksudku.”

“Bagaimana bisa kau berpikir aku kencan bersama pacar wanita, sedangkan aku hanya memiliki pacar lelaki yang tampan di sini hm?”

“Kibum yang bilang begitu.”

“Dan kau percaya?” Minho hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Taemin. “Cih. Kau bodoh, Bi. Dibodohi Kibum Hyung begitu saja percaya hahaha,” ketawa mengejek Taemin mirip dengan yang dilakukan Kibum tadi. “Aku tadi hanya pergi ketempat biliard bersama Kai dan Moonkyu, Bi. Kau tidak perlu khawatir.”

Minho tak menjawab penjelasan Taemin, ia hanya menghela napas lega setelah mendengarnya. Ia mulai bisa tersenyum kecil, tanpa menoleh kearah Taemin.

Okay. Aku percaya padamu. Kalau begitu, aku pamit pulang,” pamitnya seraya berdiri dari sofa menuju pintu.

Tangan kurus Taemin mencegahnya. Ia sedikit tak rela membiarkan pacarnya pergi begitu saja.

“Tunggu. Tujuanmu kesini hanya untuk menanyakan hal ini?”

“Ya. Dan aku sudah memastikan kau pulang, saatnya sekarang aku pulang.”

“Ck. Ini pertama kalinya kau kesini dan kau akan pulang begitu saja?” kecewa Taemin.

“Lalu aku harus bagaimana? Aku tahu kau tipe orang yang tak mau diganggu privasinya. Dan aku mengerti itu Taemin. Aku pul–” 

“Tapi bukan berarti aku tak mau diganggu oleh pacarku sendiri!” emosi Taemin meningkat. Suaranya meninggi, protes dengan apa yang dikatakan Minho. Minho menoleh memperhatikan Taemin yang semakin menunduk didepannya.

“Aku memang tak ingin berbagi privasi dengan orang lain, tapi pengecualian jika itu pacarku. Terlebih itu kau, Bi! Harusnya kau lebih mengerti!” Taemin melanjutkan, dan Minho hanya bisa diam menyimak. “Aku senang akhirnya kau mau berkunjung ke apartemenku. Aku kira ada hal yang lebih dari sekedar menanyakan hal konyol itu.”

Air mata Taemin memang tak menetes. Ia tipe orang yang tidak dengan mudah meneteskan air mata. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan dan parau. Minho mendekat memeluk menenangkannya. Mengusap lembut punggung sempitnya. Taemin terdiam belum membalas pelukan Minho.

“Lalu kau mau aku bagaimana sekarang?” tanya Minho untuk memenuhi apa yang mengganjal dihati Taemin selama ini.

“Aku–aku mau kau tinggal. Walau hanya semalam,” ucapnya lirih. Berharap Minho tak mendengar. Tapi nyatanya ia mendengar. Dengan sangat jelas hingga membuatnya tak percaya.

“Baiklah. Walau ini berarti tantanganku gagal.”

“Tantangan? Apa maksudmu?” Taemin mengangkat wajahnya dari dada Minho. Memandang Minho dengan penuh tanda tanya.

“Ya. Aku ditantang mereka untuk menemuimu dan harus kembali dalam waktu kurang dari satu jam.”

“Kalian bermain truth or dare?”

“Untuk menuruti Kibum saja.”

“Bukankah Kibum Hyung dan Jonghyun Hyung kesana untuk merayakan Halloween? Mengapa kalian jadi bermain truth or dare?”

“Sudah terlalu kekanakan jika kami masih bermain trick or treat sambil keliling, kata Kibum. Jadi kami menggantinya dengan truth or dare.”

Minho akhirnya menuruti kemauan Taemin agar ia tinggal di sana, walau hanya semalam. Karena memang jadwal padat yang mereka kerjakan akhir-akhir ini membuat mereka berdua jarang–hampir tidak pernah–menghabiskan waktu bersama.

Dan ia tak peduli dengan hukuman yang akan ia dapat karena dare yang tidak berhasil ia lakukan. Paling-paling hanya kena omelan panjang dari Kibum. Itu sudah biasa.

•••

Sudah kesekian kali putaran mereka bermain truth or dare malam ini. Dan mereka berniat mengakhiri dan istirahat. Tapi Kibum meminta putaran terakhir dan itu tidak ada pilihan antara truth or dare, harus dare. Mereka menurutinya, jika tidak, Kibum tak akan berhenti mengomel sampai besok pagi. Terlebih lagi ia memutuskan untuk menginap di dorm malam ini. Bencana mengancam.

Botol itu berputar membuat empat orang yang mengelilinginya berdiam gugup. Putarannya mulai melemah. Semakin lemah putarannya, botol itu semakin menguji takdir mereka. Yang akhirnya takdir itu jatuh ke Minho. Minho mengusap wajah sial. Ia benci dare, mereka pasti minta yang aneh-aneh dan berusaha membuatnya tak mampu melakukannya. Selama permainan tadi, ia terus saja memilih truth. Ia tak khawatir karena memang tak ada yang ia sembunyikan.

“Hahahaha kena kau Choi Minho-ssi!” tawa Kibum terdengar puas sekali untuk putaran terakhir ini Minho yang kena dare. Ini kesempatannya untuk mengerjai Minho.

“Kami akan berembug dulu sebelum memberimu tantangan,” Minho hanya bisa terdiam menundukkan kepala. Merasa kalah. “Okay, kami akan menantangmu untuk menemui Taemin di apartemennya–karena kau memang belum pernah kesana sejak ia pindah–dan terserah apa yang akan kalian bicarakan. Tantangannya, kau harus kembali ke dorm dalam waktu kurang dari satu jam. Kau harua bertemu Taemin, tidak boleh hanya di depan gedung lalu putar balik, itu curang. Kami akan tahu jika kau curang Minho, aku sudah mempersiapkan sebelumnya. Sanggup?” tantang Kibum.

“Kau gila? Perjalanan kesana membutuhkan waktu satu jam untuk pergi-pulang dengan kecepatan tinggi, kau tahu,” protes Minho seraya membelalakkan mata besarnya.

“Aku tak mau tahu. Ini tantangan, kau tahu,” jawab Kibum meniru gaya bicara Minho sebelumnya, jadi terdengar aneh.

“Baiklah.” final Minho. Ia seorang yang sportif dan tak pernah menolak jika diberi tantangan. Minho menerima tanpa syarat, karena ia tahu Kibum akan semakin menyiksanya jika ia mengajukan syarat. Kibum memang licik, pikir Minho.

Dan disisi lain, Kibum tahu Minho tak akan sanggup jika harus berpisah setelah bertemu dengan pacarnya. Ia sangat yakin, ia akan menang kali ini. Dan ia akan menuntut hadiah dari Minho karena ia sudah kalah dari tantangannya.

•fin•

A.n : Halo. Lama ga update ya hehe. Dan apa sekali halloween udah kelewat jauuuh. So sorry. Fiksi ini sebenernya aku ikutin event kemarin, pas halloween an pastinya, jadi nelat publish. Dan nungguin posternya jadi juga sih hehe. Aku udah bikin fiksi satu lagi, cuma tetiba stuck ditengah jalan, jadi gatau kapan bisa publish. Bye!

Advertisements

2 thoughts on “Truth or Dare

  1. a person 2017-01-11 / 7:30 pm

    udah lama gak baca ff 2min,lanjutin thor aku suka

    Like

    • bluesch 2017-01-12 / 1:19 am

      Terima kasih sudah suka dan komen ^^

      Like

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s