The Bet : Love Begin #4

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |

An : Siapkan hati kalian, gengs!

-cue-

“Dia benar-benar menatap ke arahmu,” Kibum berbisik sambil bersandar ke belakang untuk mengintip ke seberang ruangan.

“Berhenti melihat ke arahnya, Bodoh, dia akan mengetahuinya nanti.” Kibum tersenyum melambaikan tangannya.

“Dia sudah melihatku tapi dia tetap menatap ke arahmu.”

Aku ragu sejenak lalu mengumpulkan keberanian untuk menatap balik ke arahnya. Jungmo memang sedang menatap ke arahku lalu ia tersenyum. Aku membalas senyumannya, lalu pura-pura mengetik sesuatu di laptopku.

“Apa dia masih melihat kemari?” aku berbisik.

“Ya.” Kibum tersenyum.

Setelah kelas selesai, Jungmo menghentikanku di lorong. “Jangan lupa ada pesta akhir pekan minggu ini.”

“Aku tidak akan lupa,” jawabku sambil berusaha tidak mengedipkan mataku atau melakukan sesuatu yang bodoh.

Aku dan Kibum berjalan menyeberangi halaman rumput menuju kafetaria untuk bertemu dengan Minho dan Jinki lalu makan siang bersama. Kibum masih menertawakan kelakuan Jungmo tadi ketika Jinki dan Minho mendekat.

“Hai, Sayang,” Kibum menyapa lalu mencium pipi kekasihnya.

“Apa yang begitu lucu?” tanya Jinki.

“Oh. Ada seorang pria di kelas yang memandangi Taemini sepanjang waktu. Sangat manis.”

“Selama dia hanya memandangi Taemin.” Jinki mengedipkan sebelah matanya.

“Siapa orangnya?” Terdengar dengusan saat Minho bertanya. Aku mencoba melepaskan tas ranselku, meminta Minho melepaskannya dari tanganku dan memegangnya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Kibum membayangkan yang tidak-tidak.”

“Taemin! Kau benar-benar pembohong! Orangnya Kim Jungmo dan dia sangat jelas memandanginya. Dia hampir meneteskan air liurnya.” Ekspresi Minho berubah menjadi rasa jijik.

“Kim Jungmo?”

Jinki menarik tangan Kibum. “Kita akan makan siang. Apa kau ingin menikmati masakan kafetaria siang ini?” Kibum mencium pipinya lagi sebagai jawaban, aku dan Minho mengikuti di belakang mereka.

***

Aku meletakkan nampanku di antara Kibum dan Jonghyun, namun Minho tidak duduk di tempat biasa—di depanku, melainkan ia duduk beberapa kursi dari tempat biasanya. Baru aku menyadari ia tidak banyak bicara ketika kami berjalan menuju kafetaria tadi.

“Apa kau baik-baik saja, Minho?” tanyaku.

“Aku? Baik-baik saja. Kenapa?” ia balik bertanya, melembutkan ekspresi wajahnya.

“Kau lebih banyak diam.”

Beberapa anggota tim sepakbola mendekati meja lalu duduk dan tertawa keras. Minho tampak sedikit terganggu saat ia memutar-mutar makanan di atas piringnya. Max Changmin melemparkan kentang goreng ke dalam piring Minho.

“Apa kabar, Minho? Aku dengar kau meniduri Haneul. Dia terus-terusan menyebutkan namamu hari ini.”

“Diam, Max,” kata Minho tetap memadangi makanannya. Aku bersandar ke depan hingga pria berotot di depan Minho dapat dengan jelas melihat tatap tajamku.

“Hentikan, Max.” Minho memandangku kesal.

“Aku dapat menjaga diriku sendiri, Taemin.”

“Maafkan aku. Aku—”

“Aku tidak ingin kau minta maaf. Aku tidak ingin apapun darimu,” katanya. Sedetik kemudian ia terlihat kesal dan mendorong menjauh dari meja lalu berjalan cepat keluar pintu. Jonghyun memandangku lalu mengangkat alisnya.

“Astaga, ada apa dengannya?” Aku menusuk anggur kecil dengan garpuku dan menghela napas.

“Aku tak tahu.” Jinki menepuk punggungku.

“Bukan karena dirimu, Taemin-ah.”

“Dia hanya sedang punya masalah,” tambah Kibum.

“Masalah apa?” tanyaku. Jinki mengangkat bahunya dan kembali memandangi piringnya.

“Seharusnya sekarang kau sudah terbiasa untuk lebih sabar dan memaafkan jika berteman dengan Minho. Dia punya alam semestanya sendiri.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Itu Minho yang orang lain lihat. Minho yang aku kenal tidak seperti itu.” Jinki bersandar ke depan.

“Tidak ada bedanya. Kau harus mengikuti arus.”

***

Setelah kelas selesai, aku pulang bersama Kibum ke rumah mereka dan mengetahui bahwa motor Minho sudah tidak ada. Aku masuk ke kamarnya dan meringkuk seperti bola di atas tempat tidurnya, menahan kepalaku di atas tangan. Minho tampak baik-baik saja tadi pagi. Setelah sekian lama kami bersama, aku tak bisa percaya bahwa aku tidak melihat ada sesuatu yang mengganggunya. Bukan hanya itu, yang lebih menggangguku adalah saat Kibum tahu apa yang terjadi sedangkan aku tidak.

Napasku semakin pelan dan mata semakin berat, tak begitu lama aku pun tertidur. Ketika mataku terbuka lagi, langit malam sudah menggelapkan jendela. Suara bisikan terdengar dari arah lorong di ruang tamu, termasuk suara berat Minho. Aku berjalan keluar dan membeku saat mendengar namaku.

“Taemin mengerti, Minho. Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri,” kata Jinki.

“Kalian sudah akan pergi ke pesta kencan. Kenapa tidak mengajaknya berkencan?” tanya Kibum. Aku menegang menanti jawabannya.

“Aku tidak ingin berkencan dengannya. Aku hanya ingin ada di dekatnya. Dia.. berbeda.”

“Berbeda bagaimana?” Kibum bertanya terdengar sedikit tidak sabaran. Tipikal Kibum.

“Dia tidak termakan rayuanku, itu sangat menyegarkan untukku. Kau sendiri yang bilang kalau aku bukan tipenya. Kami hanya—tidak seperti itu.”

“Kau mendekati tipenya lebih dari yang kau tahu.”

Aku mundur sepelan mungkin dan ketika lantai kayu berderak di bawah kakiku, aku meraih pintu kamar Minho untuk menutupnya kemudian melangkah menuju lorong.

“Hai, Taemini,” Kibum tersenyum. “Bagaimana tidurmu?”

Minho memandangku sejenak dan ketika aku tersenyum padanya, ia melangkah ke arahku; memegang tanganku dan menarikku sepanjang lorong menuju kamarnya. Ia menutup pintu dan jantungku berdegup kencang, menguatkan diri menunggu ia mengatakan sesuatu untuk menghancurkan egoku.

“Maafkan aku, Sweety. Aku—sikapku menyebalkan tadi,” katanya seraya mengernyitkan dahi. Aku sedikit lebih tenang melihat penyesalan di matanya.

“Aku tak tahu kalau kau marah padaku.”

“Aku memang tidak marah padamu. Aku hanya punya kebiasaan melampiaskannya pada orang yang aku sayangi. Itu alasan yang buruk, aku tahu tapi aku sangat menyesal,” katanya sambil mendekapku. Aku menaruh pipiku di dadanya merasa nyaman.

“Apa yang membuatmu marah?”

“Itu tidak penting. Yang aku khawatirkan hanya dirimu.” Aku mundur untuk menatapnya.

“Aku bisa menghadapi luapan kemarahanmu, Minho.” Ia mengamati wajahku beberapa saat sebelum senyuman kecil muncul di bibirnya.

“Aku tak tahu mengapa kau tahan denganku, tak tahu apa yang akan aku lakukan apabila kau tidak tahan.”

Aku dapat mencium aroma mint di napasnya dan aku menatap bibirnya, tubuhku bereaksi dengan kedekatan kami. Ekspresi Minho berubah dan napasnya terengah. Ia menyadari juga. Ia membungkuk semakin dekat padaku. Lalu kami berdua terlonjak karena terkejut ketika ponselnya berdering. Ia mendengus lalu mengeluarkannya dari saku celana.

“Ya. Donghyeon? Ya Tuhan. Baiklah. Itu akan menjadi kemenangan yang mudah. Gwangmyeong?” Ia melihat ke arahku dan mengedipkan satu matanya. “Kami akan datang.” Ia menutup telepon dan menarik tanganku. “Ayo ikut denganku.” Ia menarikku ke ruang tamu. “Tadi Adam menelepon. Kim Donghyeon akan datang ke Gwangmyeong dalam 90 menit,” katanya memberitahu Jinki.

Jinki mengangguk dan berdiri, mengambil ponselnya dari saku celana. Setelah beberapa lama, ia mengulangi apa yang dikatakan Minho saat menelepon, menutup telepon lalu men-dial nomor lain dan mengulang informasi yang sama sekali lagi. Ia men-dial nomor lain lagi saat menutup pintu kamarnya.

“Inilah saatnya,” Kibum berkata sambil tersenyum. “Sebaiknya kita bersiap-siap!”

Suasana rumah sangat tegang dan tenang pada saat yang bersamaan. Minho tampak tidak terpengaruh. Memakai sepatu botnya dan kaus tanpa lengan seperti akan pergi hanya untuk mengurus sesuatu yang lain. Kibum menuntunku menelusuri lorong menuju kamar Minho dan mengerutkan dahi.

“Kau harus ganti pakaianmu, Taemin. Kau tidak bisa memakai itu ke pertarungan.”

“Aku memakai sweter saat terakhir kali kesana tapi kau tidak bilang apapun!” protesku.

“Kupikir kau tidak akan datang waktu itu. Ini,” ia melemparkan pakaian ke arahku. “Pakai ini.”

“Aku tak akan memakai ini!”

“Ayo kita pergi!” Jinki memanggil dari ruang tamu.

“Ayo cepat!” teriak Kibum berlari ke kamar Jinki.

Aku mengenakan kaus putih v-neck dengan belahan rendah yang dipadukan cardigan cokelat dengan bahan tipis dan celana jin yang bolong dimana-mana yang tadi Kibum lemparkan ke arahku, memakai sepatu bot hitam dengan berhak agak tinggi, lalu menyisir rambutku dengan tangan sambil berjalan menuju ruang tamu.

Kibum keluar dari kamar memakai celana pendek, kaus oblong biasa yang dipadukan dengan kemeja belel lengan pendek, serta sepatu berhak tinggi. Dan ketika kami tiba di ruang tamu, Minho dan Jinki sudah berdiri di dekat pintu keluar. Mulut Minho terbuka.

“Oh tidak, Sweety. Apa kau mau membuatku terbunuh? Kau harus ganti pakaianmu.”

“Huh?” tanyaku lalu melihat pakaian yang aku pakai. Kibum menutup mulut dengan tangannya.

“Dia terlihat sempurna, Minho, biarkan saja!” bentak Kibum. Minho menarik tanganku dan menuntunku menelusuri lorong.

“Pakai hoodie dan sepatu kets saja. Atau apapun, pokoknya sesuatu yang nyaman dipakai.”

“Apa? Kenapa?”

“Karena aku akan lebih khawatir pada orang yang melihat paha dan dadamu dengan pakaian seperti itu daripadaDonghyeon,” katanya lalu berhenti di depan pintu kamarnya.

“Aku pikir kau tak akan peduli pada apa yang orang lain pikirkan.”

“Ini situasinya berbeda, jadi aku mohon. Tolong. Aku mohon ganti saja,” ia tergagap lalu mendorongku masuk dan mengurungku di kamar.

“Minho!” aku berteriak. Aku mendorong lepas sepatuku dan menggantinya dengan Converse. Lalu melepas atasan sekaligus celanaku dan menggantinya dengan skinny jin dan hoodie bertudung yang pertama aku pegang lalu berlari keluar kamar, berdiri di depan pintu.

“Lebih baik?” kataku mendengus sambil menyisir rambutku yang sempat kacau.

“Ya!” Minho menjawab lega. “Ayo kita pergi!”

***

Kami semua berlari menuju tempat parkir. Aku melompat naik ke atas motor Minho saat ia menyalakan mesinnya lalu melesat cepat menuju Gwangmyeong. Aku memeluk erat pinggang Minho untuk antisipasi—karena ia terburu-buru—telah membuat adrenalin melonjak dalam pembuluh darahku.

Minho memacu motornya melewati trotoar, memarkirkan motornya di bawah bayangan belakang gedung. Ia mendorong kacamata hitamnya ke atas kepala, lalu memegang tanganku dan tersenyum saat menyelinap ke belakang gedung. Ia berhenti di depan jendela yang terbuka yang berada tidak jauh dari permukaan tanah. Ketika menyadari itu jalan untuk masuk, mataku terbelalak.

“Apa kau bercanda?” Minho tersenyum.

“Ini pintu masuk VIP. Kau harus lihat bagaimana cara orang lain untuk masuk.” Aku menggelengkan kepala ketika ia mencoba mendorong masuk kakinya lalu menghilang. Aku membungkuk ke bawah dan memanggilnya, merasa ditinggalkan.

“Minho!” teriakku. “Kau pasti sudah gila kalau kau pikir aku akan melompat ke lubang gelap!”

“Di bawah sini, Sweety. Masuklah dengan posisi kaki terlebih dahulu, aku akan menangkapmu.”

“Ini gila.” Aku menarik napas, menyentuh dahi dengan tanganku. Aku duduk di lantai, lalu bergeser ke depan sehingga setengah tubuhku menggantung dalam kegelapan. Aku berbalik telungkup, mengarahkan tumitku untuk merasakan lantai. Aku menunggu sampai tangan Minho menyentuh kakiku, namun aku kehilangan pegangan dan menjerit ketika jatuh ke belakang. Sepasang tangan memegangku lalu mendengar suara Minho di dalam kegelapan.

“Kau jatuh seperti seorang gadis,” katanya sambil terkekeh. Ia menurunkan kakiku dan menarikku lebih jauh ke dalam kegelapan. Setelah beberapa langkah, aku dapat mendengar suara teriakan nomor dan nama yang sangat tidak asing lalu ruangan menjadi terang. Ada sebuah lentera di pojok ruangan, cahayanya cukup terang untuk dapat membaca wajah Minho.

“Apa yang akan kita lakukan?” tanyaku.

“Menunggu. Adam harus menyelesaikan ocehannya sebelum aku masuk,” jawabnya. Aku duduk dengan gelisah.

“Apa aku harus menunggu di sini atau ikut masuk ketika pertarungan dimulai? Jinki dan Kibum dimana?”

“Mereka masuk lewat pintu lain. Ikuti saja aku nanti, aku tidak akan mengirimmu ke sarang hiu tanpaku. Berdiri dekat Adam, ia akan membuatmu terhindar dari desakan orang-orang. Aku tidak bisa memerhatikanmu sambil mengayunkan pukulan dalam waktu yang sama.”

“Desakan?”

“Akan ada banyak orang yang datang malam ini. Kim Donghyeon dari Hongdae. Mereka mengadakan acara pertarungan sendiri di sana. Maka akan ada penonton mereka dan penonton dari kita sehingga keadaan akan menjadi gila.”

“Apa kau gugup?” aku bertanya. Ia tersenyum sambil menatapku.

“Tidak. Tapi kau kelihatan sedikit ugup.”

“Mungkin sedikit,” aku mengaku.

“Kalau ini membuatmu merasa lebih baik, aku tidak akan membiarkannya menyentuhku. Aku bahkan tidak akan membiarkannya meskipun untuk penggemarnya.”

“Bagaimana kau akan melakukannya?”

“Biasanya aku membiarkan mereka memukulku satu kali, agar terlihat adil,” ia mendengus.

“Kau? Kau membiarkan orang lain memukulmu?”

“Dimana kesenangannya kalau aku membantai orang lain tapi mereka tak pernah bisa membalas pukulanku sama sekali? Itu tidak bagus untuk bisnis, tidak akan ada orang yang bertaruh melawanku.”

“Omong kosong,” kataku sambil melipat tanganku. Minho mengangkat alisnya.

“Kau pikir aku bercanda?”

“Aku sulit untuk percaya kalau kau terkena pukulan hanya karena kau membiarkannya.”

“Apa kau akan bertaruh untuk itu, Lee Taemin?” ia tersenyum, matanya tampak bersemangat. Aku tersenyum kemudian.

“Aku terima tantangan itu. Kupikir dia akan memukulmu sekali.”

“Dan apabila dia tidak berhasil, apa yang akan aku menangkan?” tanyanya. Aku mengangkat bahu saat teriakan di dinding sebelah semakin keras terdengar. Adam menyapa penonton, lalu membacakan semua peraturannya. Senyuman Minho semakin lebar. “Jika kau menang, aku tidak akan berhubungan seks selama satu bulan.” Aku mengerutkan dahiku lalu ia tersenyum lagi. “Tapi jika aku yang menang, kau harus tinggal bersamaku selama satu bulan.”

“Apa? Tapi aku kan memang tinggal bersamamu sekarang! Taruhan macam apa itu?” aku berteriak di antara suara bising.

“Mereka telah memerbaiki pemanas air hari ini,” Minho tersenyum sambil mengedipkan matanya. Satu senyuman puas terukir di wajahku saat Adam memanggil nama Minho.

“Apapun berharga untuk melihatmu berusaha untuk tidak terpukul.”

Minho mencium pipiku lalu melangkah keluar, berdiri tegak. Aku mengikutinya di belakang dan ketika ia berjalan memasuki ruangan berikutnya, aku terkejut dengan jumlah penonton yang berada di ruangan sekecil ini. Hanya tersedia sedikit ruang untuk berdiri, tapi desakan dan teriakan semakin keras saat kami memasuki ruangan. Minho mengangguk ke arahku lalu tangan Adam berada di atas bahuku, menarikku ke sampingnya.

“Aku bertaruh dua untuk Minho,” kataku mendekat ke telinga Adam. Alis Adam terangkat saat aku mengeluarkan uang dari sakuku. Ia mengulurkan telapak tangannya lalu aku menaruh uangku di sana.

“Ternyata kau tidak seoptimis yang kukira,” katanya menatapku sekilas.

Donghyeon setidaknya sedikit lebih tinggi dari Minho. Aku menelan ludah ketika aku melihat mereka berdiri berhadapan. Donghyun sangat besar, dua kali lipat dari Minho dengan otot yang sangat besar. Aku tidak dapat melihat ekspresi Minho, tapi terlihat sangat jelas kalau Donghyeon haus darah.

“Kau mungkin harus menutup telingamu, Nak,” ujar Adam mendekatkan bibirnya ke telingaku. Aku menutup telingaku dan Adam membunyikan terompetnya. Bukannya menyerang, Minho justru mundur beberapa langkah. Donghyeon mengayunkan pukulannya dan Minho menghindar ke kanan. Donghyeon mencoba memukul lagi dan Minho menunduk lalu bergeser ke samping.

“Apa ini? Ini bukan pertarungan tinju, Minho!” Adam berteriak.

Minho mendaratkan pukulan di hidung Donghyeon. Suara di basement sangat memekakan telinga waktu itu. Minho kemudian memukul rahang Donghyeon dan tanganku menutup mulut saat Donghyeon berusaha memukul lagi beberapa kali, tidak ada yang kena. Donghyeon terjatuh ke arah rombongannya ketika Minho memukulkan sikunya ke arah donghyun. Ketika kupikir semua akan berakhir, Donghyeon berdiri dan mengayunkan pukulannya lagi. Pukulan demi pukulan. Donghyeon tampak tidak dapat mengikuti. Mereka berdua berkeringat, aku terkesiap ketika Donghyeon meleset lagi memukul tiang semen. Ketika ia membungkuk memegangi tangannya yang sakit, Minho menyerang untuk mengakhiri pertarungan.

Tanpa ampun, pertama ia menendangkan dengan lututnya ke wajah Donghyeon, lalu memukulinya terus menerus hingga Donghyeon terjatuh dan menyentuh lantai. Tingkat kebisingan semakin keras saat Adam meninggalkanku untuk melempar kain berwarna merah ke wajah Donghyeon yang penuh darah.

Minho menghilang di belakang para penggemarnya dan aku bersandar di tembok mencari jalan kembali ke pintu tempat kami datang tadi. Meras lega ketika dapat memegang lentera. Aku khawatir akan terjatuh lalu terinjak. Mataku fokus menatap pintu keluar, memerhatikan tanda akan semakin bertambahnya orang di dalam ruangan yang kecil ini. Setelah beberapa menit dan masih tidak ada tanda-tanda dari Minho, aku bersiap untuk mengingat jalan ke jendela tempat kami masuk tadi. Dengan semakin banyaknya orang yang berusaha keluar bersamaan, sangat tidak aman untuk hanya diam berdiri.

Ketika aku akan melangkah ke kegelapan, suara langkah terdengar berderak di semen yang lepas di lantai. Minho menatapku dengan panik.

“Taemin!”

“Aku di sini!” aku menyahut, berlari ke pelukannya. Minho melihat ke bawah dan mengerutkan dahinya.

“Kau mambuatku sangat takut! Aku hampir memulai perkelahian lagi tadi ketika mencarimu. Akhirnya aku tiba di sini tapi kau tidak ada!”

“Aku senang kau kembali ke sini. Aku tak ingin mencari jalan keluar di kegelapan seorang diri.” Semua rasa khawatir di wajahnya menghilang, lalu ia tersenyum lebar.

“Aku rasa kau kalah taruhan.” Adam melangkah masuk, menatapku lalu menatap tajam ke arah Minho.

“Kita perlu bicara.” Minho mengedipkan matanya padaku.

“Diam di tempat. Aku akan segera kembali.”

Minho menghilang di kegelapan. Adam meninggikan suaranya beberapa kali, tapi aku tak bisa mendengar apa yang ia katakan. Minho kembali, memasukkan setumpuk uang ke dalam sakunya lalu tersenyum kecil.

“Kau perlu membawa pakaian tambahan.”

“Kau serius akan membuatku tinggal bersamamu selama satu bulan?”

“Apa kau akan membuatku tidak berhubungan seks selama satu bulan?” Aku tertawa mengetahui kalau aku akan melakukannya.

“Kita harus mampir ke asrama dulu.” Kulihat Minho berseri-seri.

“Ini akan jadi menarik.”

Ketika Adam lewat, ia menyerahkan uang yang aku menangkan ke tanganku lalu menghilang di tengah orang banyak. Minho mengerutkan dahinya.

“Kau ikut bertaruh?”

“Kupikir aku harus mendapatkan pengalaman sepenuhnya,” jawabku tersenyum dan mengangkat bahuku.

Ia menuntunku ke jendela lalu merangkak keluar, berbalik untuk menolongku keluar ke udara malam yang segar. Jangkrik sedang mengerik di kegelapan, berhenti cukup lama untuk membiarkan kami lewat. Udara tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin juga. Ini adalah malam yang sempurna.

So, kenapa kau menginginkan aku untuk tinggal bersamamu?” tanyaku. Minho mengangkat bahunya, memasukkan tangan ke dalam sakunya.

“Aku tidak tahu. Semua tampak lebih baik ketika kau ada di dekatku.” Rasa hangat yang tidak jelas yang aku rasakan karena kata-katanya langsung berubah melihat warna merah; noda kotor di kausnya.

Ew. Ada darah di kausmu.”

***

Minho melihat ke bawah dengan acuh tak acuh, lalu membuka pintu memberi isyarat agar aku masuk. Minho terkekeh kecil melihatku yang kesusahan mengangkat tasku.

“Siap?”

“Ya. Tapi bagaimana kita akan membawanya ke rumahmu? Kita kan naik motor.” Minho tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membawa tasku keluar dan beberapa menit kemudian mobil hitam klasik Jinki berhenti. Jendela di kursi penumpang turun dan Kibum menjulurkan kepalanya keluar.

“Hai, Taemini!”

“Hai. Pemanas air di asrama sudah diperbaiki, apa kau tetap akan tinggal di rumah Jinki?”

“Ya. Kupikir aku akan menginap di sana malam ini. Aku dengar kau kalah taruhan,” katanya seiring dengan kedipan matanya padaku.

Sebelum aku sempat merespon Kibum, Minho menutup bagasi mobil lalu mereka melesat pergi dan Kibum memekik ketika ia jatuh bersandar di kursinya. Kami berjalan menuju motor dan ketika aku memeluk pinggangnya, ia memegang tanganku.

“Aku senang kau menginap malam ini, Sweety. Aku tidak pernah merasa begitu senang saat bertarung.” Aku mengangkat kepalaku di bahunya lalu tersenyum.

“Itu karena kau berusaha memenangkan taruhan ini.”

“Benar. Aku benar-benar berusaha untuk menang,” katanya sembari melirik ke belakang menatapku. Tidak ada kegirangan di matanya, ia sangat serius dan ia ingin aku melihatnya.

“Itukah sebabnya kau badmood hari ini? Karena tahu pemanas air di asrama sudah diperbaiki dan aku akan pulang malam ini?” tanyaku mengerutkan dahi. Minho tak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu menyalakan motornya.

Perjalanan menuju rumahnya sangat lambat. Di setiap traffic light, Minho akan memegang tanganku yang di pinggangnya atau lututku. Batasnya tidak jelas lagi dan aku khawatir bagaimana kami akan menjalani satu bulan bersama tanpa merusak semuanya. Ujung tali persahabatan kami bergantung dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan.

Ketika kami tiba di tempat parkir di rumah mereka, mobil Jinki terparkir di tempat biasa. Aku berdiri di depan tangga.

“Aku tidak suka kalau mereka tiba lebih dulu di rumahmu. Aku merasa seperti kita akan mengganggu mereka.”

“Biasakan. Ini rumahmu untuk empat minggu kedepan,” Minho tersenyum dan berbalik menghadapku. “Ayo naik!”

“Huh?”

“Ayo. Aku akan menggendongmu ke atas.” Aku terkekeh dan naik ke atas punggungnya, berpegangan di lehernya saat ia berlari ke atas. Kibum membuka pintu sebelum kami sampai di atas dan tersenyum.

“Lihat kalian berdua. Jika aku tidak tahu yang sebenarnya—”

“Hentikan, Kibum-ah,” teriak Jinki dari sofa.

Kibum tersenyum seperti ia telah terlalu banyak bicara dan membuka pintu dengan lebar agar cukup untuk kami berdua bisa masuk. Minho ambruk di kursi malas. Aku berteriak ketika ia menindihku di bawah punggungnya.

“Kau tampak ceria malam ini, Minho. Ada apa?” tanya Kibum. Aku duduk tegak untuk melihat wajah Minho. Aku tak pernah melihat ia begitu bahagia.

“Aku baru saja memenangkan banyak uang, Kibum-ah. Dua kali lipat dari yang aku kira akan dapatkan. Kenapa tidak bahagia?”

“Bukan itu. Sepertinya ada alasan lain,” Kibum berkata lagi ketika melihat tangan Minho membelai pahaku. Ia benar. Minho berbeda. Ada aura kedamaian di sekitarnya, hampir seperti ada rasa kepuasan baru yang menghuni jiwanya.

“Kibum,” Jinki memperingatkan.

“Baiklah, aku akan membicarakan hal lain. Bukankah Jungmo mengundangmu ke pesta akhir minggu ini, Taemin?” Senyum Minho menghilang dan ia melihat padaku menunggu jawaban.

“Hm.. Ya? Bukankah kita semua akan datang?”

“Aku akan datang,” jawab Jinki sambil melihat televisi.

“Dan itu artinya aku juga datang.” Kibum tersenyum memandang Minho penuh harap. Minho memandangiku sejenak, lalu menyikut kakiku.

“Apa dia akan menjemputmu?”

“Tidak. Dia hanya memberitahuku tentang pesta itu.” Bibir Kibum tersenyum nakal, hampir seperti mengangguk dalam antisipasi.

“Tapi kan dia bilang akan bertemu denganmu di sana. Dia sangat manis.” Minho menatap Kibum dengan kesal lalu menatapku.

“Apa kau akan datang?”

“Aku bilang padanya aku akan datang,” aku mengangkat bahuku. “Apa kau akan datang?”

“Ya, aku akan datang,” jawabnya tanpa ragu. Perhatian Jinki kembali pada Minho saat itu.

“Tapi beberapa minggu yang lalu kau bilang tidak akan datang.”

“Aku berubah pikiran, Jinki-ya. Ada masalah?”

“Tidak ada.” Ia menggerutu lalu kembali masuk kamarnya. Kibum cemberut pada Minho.

“Kau tahu masalahnya apa,” kata Kibum. “Kenapa kau tidak berhenti membuatnya gila dan menyelesaikan semua?” Ia bergabung dengan Jinki di kamarnya dan suara mereka menjadi bisikan di belakang pintu yang tertutup.

Well, aku senang semua orang tahu,” kataku. Minho berdiri.

“Aku akan mandi sebentar.”

“Apa mereka sedang ada masalah?” tanyaku.

“Tidak. Mereka hanya paranoid.”

“Karena kita,” aku menebak. Mata Minho menyala lalu mengangguk.

“Kau benar. Itu karena kita. Jangan tidur dulu, Sweety. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

Ia berjalan mundur beberapa langkah lalu menghilang di belakang pintu kamar mandi. Aku merenungkan cara ia menekankan kata kita dan ternyata hanya aku yang menganggap bahwa Minho dan aku hanya berteman.

“Jinki, jangan!” kata Kibum memohon pada Jinki seraya keluar kamar dan Kibum mengejarnya. Jinki melihat ke belakang ke arah pintu kamar mandi lalu menatapku. Suaranya pelan tapi terdengar marah.

“Kau sudah berjanji, Taemin. Ketika aku bilang jangan menghakimi Minho, bukan berarti kalian harus berhubungan! Kukira kalian hanya berteman!”

“Kami memang hanya berteman,” jawabku terkejut dengan serangannya.

“Tidak! Kalian lebih dari teman!” aku rasa ia benar-benar marah. Kibum menyentuh bahunya.

“Sayang, aku sudah bilang bahwa semua akan baik-baik saja.” Ia menjauhkan tangan Kibum.

“Kenapa kau membiarkan ini, Kibum-ah? Kau tahu apa yang akan terjadi!” Kibum memegang wajah Jinki dengan dua tangannya.

“Dan aku bilang itu semua tidak akan terjadi. Kau tidak percaya padaku?” Jinki menghela napas, memandang ke arah Kibum lalu padaku kemudian menghentak masuk ke kamarnya. Kibum duduk terengah di sampingku.

“Aku tidak bisa membuatnya mengerti bahwa meskipun hubunganmu dengan Minho berjalan lancar atau tidak, itu tidak akan memengaruhi hubunganku dan dia. Itu karena dia sudah pernah terluka beberapa kali. Dia tidak percaya padaku.”

“Apa yang kau bicarakan, Kibum-ah? Minho dan aku tidak berpacaran. Kami hanya teman. Kau dengar yang dia katakan tadi, dia tidak tertarik padaku seperti itu.”

“Kau mendengarnya?”

Well, ya.”

“Dan kau percaya itu?” Aku mengangkat bahuku merespon pertanyaan Kibum.

“Itu tidak penting. Itu tidak akan terjadi. Dia bilang padaku dia tidak menginginkanku seperti itu, dia benar-benar fobia pada komitmen. Aku akan sulit mengikuti moodnya yang selalu berubah. Aku tidak percaya Jinki berpikir sebaliknya.”

“Bukan hanya karena dia mengenal Minho dengan sangat baik, Taemin. Dia telah bicara dengan Minho.”

“Apa maksudmu?”

“Kibum-ah?” Jinki memanggilnya dari kamar tidur. Kibum menghela napas.

“Kau adalah sahabatku. Kupikir aku lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri—terkadang. Aku telah melihat kalian berdua, dan satu-satunya perbedaan antara aku dan Jinki dengan kau dan Minho adalah kami berhubungan seks. Selain itu? Tak ada bedanya.”

“Ada perbedaan yang sangat-sangat besar. Apa Jinki membawa pulang seseorang yang berbeda setiap malam? Apa kau akan datang ke pesta besok untuk hangout bersama seseorang yang berpotensi menjadi teman kencan? Kau tahu aku tidak bisa berhubungan dengan Minho, Kibum-ah. Aku bahkan tak mengerti mengapa kita membicarakan hal ini.” Ekspresi Kibum berubah menjadi kekecewaan.

“Aku tidak mengada-ada, Taemin. Kau telah menghabiskan banyak waktu bersamanya. Satu bulan lebih. Mengakulah, kau menyukainya.”

“Hentikan itu, Kibum,” Minho berkata sambil mengencangkan handuk di pinggangnya. Aku dan Kibum terkejut mendengar suara Minho dan ketika mata kami bertemu, aku dapat melihat kebahagiaan di matanya telah hilang. Ia berjalan meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun lagi, lalu Kibum menatapku dengan ekspresi sedih.

“Kupikir kau membuat kesalahan,” bisiknya. “Kau tak perlu pergi ke pesta itu untuk bertemu seorang pasangan, kau sudah memilikinya yang tergila-gila padamu di sini,” lanjutnya lalu meninggalkanku sendiri.

Aku duduk di atas kursi malas, membiarkan apa yang sudah terjadi diminggu-minggu terakhir ini berputar kembali di pikiranku. Jinki marah padaku, Kibum kecewa padaku, dan Minho.. ia berubah dari paling bahagia yang pernah aku lihat menjadi sangat tersinggung hingga membuatnya tidak dapat mengatakan apapun. Terlalu gugup untuk berbaring bersamanya, aku memandangi jam dari menit ke menit.

Satu jam telah berlalu ketika Minho keluar dari kamarnya, berjalan menelusuri lorong dan ketika ia muncul , aku mengharapkan ia menyuruhku tidur. Tapi ia telah berpakaian rapi dengan kunci motor di tangannya. Kacamata hitam menyembunyikan matanya lalu memegang pegangan pintu.

“Kau akan pergi?” tanyaku sambil duduk tegak. “Pergi kemana?”

“Keluar,” jawabnya sambil menghentak pintu hingga terbuka lalu membantingnya di belakangnya. Aku terjatuh ke kursi malas kemudian menghela napas. Entah bagaimana aku merasa seperti penjahat tapi tidak mengerti kenapa merasa demikian.

Ketika jam di atas televisi menunjukkan jam dua pagi, akhirnya aku menyerah dan pergi tidur. Kasur terasa kosong tanpa dirinya dan ide untuk menelepon ponselnya terus muncul dalam pikiranku. Aku hampir tertidur ketika terdengar motor Minho berhenti di tempat parkir. Dua pintu mobil tertutup tidak lama kemudian, lalu beberapa pasang langkah kaki menaiki tangga. Minho meraba-raba kunci pintu, lalu pintu terbuka. Ia tertawa dan bergumam lalu aku mendengar bukan satu tapi dua suara perempuan. Cekikikan mereka berganti menjadi suara ciuman dan erangan. Hatiku hancur dan aku langsung marah karena merasa seperti itu. Aku menutup rapat mataku saat salah satu dari perempuan itu menjerit dan aku yakin suara seperti itu adalah suara mereka bertiga ambruk di atas sofa.

Aku sedang menimbang untuk meminjam mobil pada Kibum, namun kamar Jinki berada tepat di depan sofa. Dan aku tak sanggup menyaksikan pemandangan yang sesuai dengan suara ribut di ruang tamu. Aku menenggelamkan kepalaku di bawah bantal dan menutup mataku saat pintu terbuka. Minho berjalan melintasi ruangan lalu membuka laci meja nakas yang paling atas, meraih mangkuk kondomnya kemudian menutup laci dan berlari kecil keluar. Si perempuan cekikikan selama kurang lebih dari setengah jam lalu hening.

Beberapa lama kemudian, erangan, dengungan, dan teriakan terdengar ke seluruh ruangan. Terdengar seperti sedang membuat film porno di ruang tamu. Aku menutup wajah dengan tanganku sambil menggelengkan kepala. Batas apapun yang hilang atau tidak jelas selama seminggu kemarin, telah digantikan oleh dinding batu yang tidak bisa ditembus. Aku menepiskan emosi bodohku, memaksaku untuk tenang. Minho adalah Minho, dan kami—tanpa diragukan lagi—hanya berteman dan hanya teman.

Teriakan dan suara yang memuakkan berhenti setelah satu jam, diikuti oleh suara merengek lalu menggerutu dari si perempuan setelah diusir keluar. Minho mandi lalu ambruk di sisi tempat tidurnya, membelakangiku. Meskipun sudah mandi, ia masih tercium seperti ia telah banyak minum whiskey, dan aku marah karena ia mengendarai motornya pulang dalam keadaan seperti itu.

Setelah rasa canggung hilang dan kemarahan berkurang, aku masih belum bisa tidur. Ketika napas Minho menjadi dalam dan tetap, aku duduk untuk melihat jam. Matahari sudah akan muncul dari singgasananya kurang dari satu jam. Aku membuka selimut, berjalan menelusuri lorong lalu mengambil selimut dari lemari di lorong. Bukti dari Minho telah melakukan threesome adalah dua bungkus kondom yang kosong di lantai. Aku melangkah melewatinya lalu menjatuhkan diri di kursi malas.

Aku menutup mataku. Ketika aku membukanya lagi, Kibum dan Jinki sedang duduk di sofa dengan diam sambil menonton televisi yang dimatikan suaranya. Matahari sudah menerangi rumah dan meringis ketika punggungku terasa sakit saat aku berusaha bergerak. Perhatian Kibum tertuju padaku.

“Taemin?” katanya melangkah cepat ke arahku. Ia melihatku dengan waspada. Ia menunggu kemarahan, air mata, atau emosi lainnya untuk keluar.

“Aku menyesal tentang semalam, Taemin. Ini adalah salahku.” Jinki tampak tersiksa. Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf, Jinki-ya.”

“Minho sedang pergi ke toko. Dia.. hm.. tidak penting siapa dia. Aku telah mengemas semua barangmu dan aku akan membawamu ke asrama sebelum dia pulang sehingga kau tidak harus berhadapan dengannya.” Pada saat itulah aku ingin menangis; aku diusir. Aku berusaha agar suaraku tetap tenang sebelum aku bicara.

“Apa aku punya waktu untuk mandi terlebih dahulu?”

Kibum menggelengkan kepala. “Ayo langsung pergi, Taemin. Aku tak ingin kau melihatnya. Dia tidak pantas untuk—”

Pintu terbuka dan Minho berjalan masuk, tangannya penuh dengan tas belanjaan. Ia berjalan langsung menuju dapur, berusaha menyimpan kaleng dan kotak ke dalam lemari.

“Kalau Taemin sudah bangun, beritahu aku ya?” katanya dengan suara pelan. “Aku punya spagheti, pancake, dan sereal dengan cokelat. Dan dia suka susu pisang, benar kan, Kibum-ah?” ia bertanya dan berbalik. Ketika ia melihatku, ia terdiam. Setelah jeda yang canggung, ekspresinya mencair dan suaranya menjadi lembut dan manis.

“Hai, Sweety.”

Aku tidak akan merasa lebih bingung dari ini kalau saja aku terbangun dan aku di negara asing. Tidak ada yang masuk akal. Awalnya kupikir aku telah diusir, lalu Minho datang membawa tas yang penuh dengan makanan kesukaanku. Ia melangkah ke ruang tamu dengan gugup memasukkan tangan ke sakunya.

“Kau lapar, Sweety? Aku akan membuatkanmu beberapa pancake. Atau ada.. hm.. ada sereal. Dan aku membelikanmu pisau cukur baru, pengering rambut, dan.. hm.. tunggu sebentar, itu ada di sini,” katanya lalu terburu-buru menuju kamar tidur. Pintu terbuka, tertutup dan ia muncul kembali dengan wajah pucat. Ia mengambil napas panjang dan mengerutkan dahinya. “Semua barangmu dikemas.”

“Aku tahu,” jawabku.

“Kau akan pergi,” katanya lagi merasa kalah. Aku menatap Kibum yang menatap Minho seperti ia ingin membunuhnya.

“Apa kau benar-benar berpikir dia akan tinggal?”

“Sayang,” bisik Jinki.

“Jangan memulai, Jinki. Jangan berani-berani kau membelanya di depanku,” Kibum berdesis marah. Minho tampak putus asa.

“Maafkan aku, Taemin. Aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa.”

“Ayo, Taemin,” kata Kibum. Ia berdiri dan menarik tanganku. Minho menghalangi, namun Kibum menunjuk padanya.

“Ya Tuhan, Minho! Jika kau berusaha untuk menghentikan dia, aku akan menyiramkan bensin padamu dan menyalakan api saat kau tidur!”

“Kibum-ah,” kata Jinki terdengar sedikit putus asa. Aku dapat melihat ia terkoyak di antara sepupu dan seseorang yang ia cintai. Dan aku merasa kasihan padanya. Situasi inilah yang sejak awal ingin ia hindari.

“Aku baik-baik saja,” kataku putus asa karena ketegangan yang ada di ruangan ini.

“Apa maksudmu kau baik-baik saja?” tanya Jinki hampir berharap.

“Minho membawa pulang perempuan dari bar tadi malam, lalu kenapa?”

“Taemin! Maksudmu kau tidak keberatan dengan apa yang terjadi?” seloroh Kibum

“Minho dapat membawa pulang siapapun yang dia mau. Ini kan rumahnya,” kataku memandang mereka semua. Kibum menatapku seperti aku sudah kehilangan akalku, Jinki hampir tersenyum, dan Minho tampak lebih buruk dari sebelumnya.

“Bukan kau yang mengemas barang-barangmu?” tanya Minho. Aku menggelengkan kepalaku dan melirik jam; sudah jam 2 siang lewat.

“Bukan, dan sekarang aku harus membongkar semuanya lagi. Aku masih harus makan, mandi, dan berpakaian,” kataku sambil melangkah masuk kamar mandi. Setelah pintu tertutup di belakangku, aku bersandar di pintu dan terduduk di lantai. Aku yakin telah membuat Kibum sangat kesal, akan tetapi aku telah berjanji pada Jinki dan aku berniat untuk menepatinya. Ketukan di pintu terdengar di atasku.

“Taemin?” Minho memanggil.

“Ya?” jawabku berusaha terdengar normal.

“Apa kau akan tetap tinggal di sini?”

“Aku akan pergi jika kau ingin aku pergi, tapi taruhan tetap taruhan.” Pintu bergetar karena benturan pelan dari dahi Minho pada pintu.

“Aku tidak ingin kau pergi, tapi aku tidak akan menyalahkanmu kalau kau pergi.”

“Maksudmu aku terbebas dari taruhan?” Ada jeda cukup lama sebelum ia menjawabnya.

“Kalau aku bilang ya, apa kau akan pergi?”

Well, ya, tentu saja. Aku kan tidak tinggal di sini, Bodoh,” jawabku memaksakan tertawa.

“Kalau begitu tidak. Taruhan tetap berjalan.”

Aku melihat ke langit-langit dan menggelengkan kepala, merasakan air mata mulai turun. Aku tak tahu kenapa aku menangis, aku tidak bisa menahannya.

“Bolehkah aku mandi sekarang?”

“Ya,” katanya terdengar menghela napas.

“Dasar bajingan egois kau.” Aku mendengar suara sepatu Kibum memasuki lorong dan menuju ke arah Minho. Ia menggeram sambil membanting pintu kamar Jinki di belakangnya.

Aku mendorong tubuhku agar berdiri, menyalakan shower dan membuka pakaianku lalu menarik tirai di belakangku. Setelah beberapa ketukan di pintu, Minho berdehem.

“Sweety? Aku membawakan beberapa barangmu.”

“Letakkan saja di wastafel. Nanti aku akan mengambilnya.” Minho masuk lalu menutup pintu di belakangnya.

“Aku sangat marah. Aku mendengarmu mengatakan semua hal yang buruk tentangku pada Kibum dan itu membuatku sangat kesal. Aku hanya bermaksud untuk pergi dan minum beberapa gelas dan berusaha memikirkan semuanya, tapi sebelum aku menyadarinya, aku sangat mabuk dan perempuan-perempuan itu—” ia terdiam tak melanjutkan. “Aku terbangun pagi ini dan kau tidak ada di tempat tidur. Dan ketika aku menemukanmu di kursi lalu melihat bungkus kondom di lantai, aku merasa mual.”

“Kau bisa bertanya padaku daripada menghabiskan banyak uang di toko hanya untuk menyuapku agar tinggal.”

“Aku tidak peduli dengan uang, Sweety. Aku sangat takut kau akan pergi dan tidak akan pernah bicara padaku lagi.”

Aku merinding karena penjelasannya. Aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana perasaannya ketika mendengarku bicara tentang betapa tidak pantasnya ia untukku. Dan sekarang situasinya terlalu kacau untuk dapat diselamatkan.

“Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu,” kataku dari bawah pancuran air.

“Aku tahu itu. Dan aku tahu apapun yang aku katakan tidak akan merubah apapun sekarang, karena aku mengacaukan semuanya seperti biasa yang aku lakukan.”

“Minho?”

“Ya?”

“Jangan mengendarai motor dalam keadaan mabuk lagi ya?” Aku menunggu selama satu menit hingga akhirnya ia menarik napas panjang.

“Ya, baiklah,” katanya sambil menutup pintu di belakangnya.

-to be continued-

An: Actually, chapter ini mau aku post malam kemarin. Tapi karena ada halangan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi chapter ini baru bisa diposting setelah 14 hari kemudian. So sorry. Ah ya, di chapter sebelumnya ada yang mengeluh masalah bahasa yang terkadang tidak dimengerti. So sorry for that too. Aku sudah merubah sebaik mungkin, semoga tidak ada yang tak dimengerti lagi ya. Walaupun masih ada, feel free to ask me okay, aku bakal bales kok ^^ See ya in the next chapter 🙂

Advertisements

18 thoughts on “The Bet : Love Begin #4

  1. minnalee 2017-03-12 / 9:11 pm

    entah lah kok d part in tmbah ksel liat klakuan.a minho..
    d awal” udah so sweey bgt.. tp ya tuhan dia having sex d rmh.a dan dstu ad taem dan 2 cwek lg.. sumpah ksel bgt pas bca bgian d stu. si taem jg kuat bgt yah nahan ksedihan.a…
    taem ttap care jg yah ama minho.. mreka jg udah pda suka kan??
    tp please nad kpan nih si minho tobat dri klakuan jhanamnya.. hahahaha

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-12 / 9:44 pm

      Aduh kak, aku mah gabisa jawab pertanyaan kakak atulah. Kakak baca aja ya nanti kelanjutannya gimana soal Taemin sama Minho nya. Ingat, ini baru chapter 4 loh. Masih panjang wkwk. Terima kasih sudah berkunjung kak 😉

      Like

  2. 3 2017-03-10 / 3:25 am

    lanjut,… makin seru. untuk bahasa tiap kalimatnya udah bagus.

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-10 / 8:25 pm

      Pasti dilanjut kok. Sabar ya. Aku rasa akan butuh waktu lama lagi mengingat kesibukanku juga. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  3. Ria 2017-03-05 / 10:09 pm

    2min udah terbiasa bersama.Tapi Minho gk bisa bohonh kalau dia cemburu ke Taemin karna mau hadir di pesta dansa dan menemui Jungmo.Dia ingin marah tapi,bahkan dia dan Taemin tdk pacaran.
    Dan Minho blm bisa merubah sifatnya yg suka membawa pulang cewek dan berhubungan intim.Parahnya Taemin ada di rumahnya ketika itu.Dan herannya Taemin knp seolah tak apa2 dgn kebiasaan Minho.Bahkan dia mencoba menutupi kesedihannya.2min pasti punya rasa yg sama tp blm berani mengungkapkan.Key bahkan tak mengerti dgn sikap Taemin dan Onew merasa lega dan sedikit tenang.Karna dia prihatin dgn hubungan Minho dgn masa lalunya.Dibalik semua ini,Minho pasti punya masa lalu yg pahit.Dan harapannya,Taemin mjd tempat terakhir Minho berlabuh.

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-06 / 7:22 am

      This chapter looks so simple with your re-explanation hehe. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  4. blinger jonghyun 2017-03-04 / 3:30 pm

    Terimakasih udah di post ff nya…,
    ini pake sudut pandang tetem dong yah ceritanya ga pake sudut pandang minho….,
    klo boleh saran di blakang dialognya di kasih expresi atu suasana si pembicara… Biar feel nya tambah kuat….😉😉
    D tunggu next caphtetnya….
    Ceritanya bagus….

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-04 / 5:43 pm

      Yup. Aku mau konsisten makai satu sudut pandang aja biar ga bingung dan biar berasa banyak surprise karena membaca dari satu sudut pandang aja. Maksud kamu ekspresi atau suasana itu yang seperti apa ya? Aku kurang bisa nangkep hehe. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  5. husniah nia 2017-03-04 / 2:39 am

    Aku syuka chapter ini.. awalnya maniss Minho benar2 memperlakukan Taemin dengan manis..
    Uhh Minho bawa perempuan lagi dua mlah xkckck bahkan Taemin mengetahui hal itu yapss tapi Minho sedang mabuk saat itu dan Minho sedikit merasa bersalah karena Taemin mengethui kejadian threesome Minho dengan perempuan gak jelas wkwk.
    Aku cukup lama nunnggu chapter ini heheheh hampir tiap hari cek notif ehh munculnya malam ini heheh.
    Ok aku tunggu lanjutnny yaa

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-04 / 3:04 am

      Wah~ maaf sekali kalau begitu. Aku ga menyangka ada yang sampai cek notif setiap harinya demi fiksi ini. I think it will takes long time (again) for next chapter TT tapi terima kasih sudah berkunjung 😉

      Liked by 1 person

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s