The Bet : Love Begin #5

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |

-cue-

“Masuklah,” aku menjawab ketika mendengar ketukan di pintu. Minho masuk dan membeku di depan pintu.

“Wow.”

Aku tersenyum dan melihat pakaianku, celana bahan hitam yang menempel ketat di kaki-kakiku. Kemeja putih panjang yang ketat juga di badanku, harus aku akui pakaian seperti ini lebih berani dari yang pernah aku pakai sebelumnya. Serba ketat, bahannya tipis dan putih, membuat kulit yang seharusnya tertutupi agak menggemaskan. Jungmo akan ada dipesta nanti dan aku berniat untuk melakukan apapun untuk menarik perhatiannya.

“Kau terlihat mengagumkan,” katanya ketika aku sedang memakai sepatu pantofelku. Aku mengangguk setuju pada kemeja dan celana jin yang dipakainya.

“Kau juga terlihat tampan.” Kemejanya digulung sampai siku. Aku melihatnya memakai ikat pinggang favoritnya yang melingkar di pinggangnya ketika ia memasukkan tangan ke dalam saku.

Kibum dan Jinki sudah menunggu kami di ruang tamu. “Jungmo akan sangat takjub melihat penampilanmu,” kata Kibum sambil cekikikan saat Jinki menuntunnya ke mobil. Minho membuka mobil Jinki lalu duduk di kursi belakang. Meskipun sudah beberapa kali duduk di kursi itu bersamanya, namun sekarang terasa canggung.

Mobil berjejer di pinggir jalan, bahkan ada yang parkir di halaman rumput. The House penuh sesak karena banyaknya orang yang datang dan masih banyak lagi orang yang sedang berada di jalan menuju kemari. Aku dan Kibum mengikuti Minho dan Jinki masuk. Minho membawakanku gelas kertas berisi bir, membungkuk ke arah telingaku.

“Jangan menerima bir pemberian orang lain selain aku atau Jinki. Aku tak ingin ada yang memasukkan sesuatu pada minumanmu,” kata Minho. Aku memutar mataku menanggapinya.

“Tidak akan ada yang memasukkan apapun pada minumanku, Minho.”

“Pokoknya jangan minum apapun selain pemberianku, oke? Kau bukan di kota lain, Sweety.”

“Aku belum pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya,” kataku menjawab dengan nada sinis lalu meminum minuman pemberian Minho.

Satu jam telah berlalu, Jungmo masih belum terlihat. Kibum dan Jinki sedang berdansa diiringi lagu berirama lambat di ruang tamu ketika Minho menarik tanganku.

“Mau berdansa?”

“Tidak, terima kasih,” jawabku. Wajahnya tampak kecewa. Aku menyentuh bahunya.

“Aku hanya lelah, Minho.”

Ia memegang tanganku dan mulai berbicara. Tapi ketika aku menatap ke belakang tubuhnya, aku melihat Jungmo sedang berjalan ke arah kami. Minho menyadari ekspresiku lalu melihat ke belakang.

“Hai, Taemin. Kau datang juga,” sapa Jungmo tersenyum.

“Ya, kami semua di sini kurang lebih satu jam yang lalu,” jawabku sambil menarik tanganku dari tangan Minho.

“Kau terlihat mengagumkan!” katanya berteriak di antara musik yang terdengar sangat keras.

“Terima kasih!” Aku tersenyum lebar, melirik ke arah Minho, bibirnya tegang, ada sebuah kerutan di antara alisnya. Jungmo menunjuk ke arah ruang tamu dengan kepalanya lalu tersenyum.

“Mau berdansa?” tanya Jungmo padaku. Aku mengerutkan dahiku dan menggeleng.

“Hm tidak. Aku agak lelah.”

“Kupikir kau tidak akan datang,” kata Jungmo mengalihkan pandangan ke arah Minho.

“Aku berubah pikiran,” Minho menjawab, merasa terganggu karena harus menjelaskan.

“Oh.” Lalu Jungmo melihat ke arahku lagi. “Kau ingin keluar?” Aku mengangguk lalu mengikuti Jungmo ke lantai atas. Ia menghentikan langkahnya lalu meraih tanganku saat kami naik. Ketika kami tiba di lantai dua, ia mendorong pintu yang bergaya klasik menuju balkon. “Apa kau kedinginan?” tanyanya lagi.

“Sedikit,” jawabku lalu tersenyum saat ia melepaskan jaketnya dan mengenakannya di bahuku.

“Terima kasih.”

“Kau datang bersama Minho?”

“Ya. Kami naik mobil bersama.”

Bibir Jungmo tersenyum tegang lalu melihat ke arah halaman rumput di bawah. Sekelompok perempuan berkerumun sambil berpegangan tangan untuk melawan udara dingin. Kertas dan kaleng bir berserakan di rumput bersama dengan botol kosong minuman keras. Jungmo menggelengkan kepalanya.

“Tempat ini akan sangat berantakan nanti pagi. Tim pembersih akan sangat sibuk.”

“Kalian punya tim pembersih?”

“Ya,” ia tersenyum. “Kami menyebut mereka freshmen.”

“Kasihan, Jinki.”

“Dia tidak termasuk. Dia bisa lolos karena sepupunya Minho dan dia tidak tinggal di sini.”

“Apa kau tinggal di sini?” tanyaku.

“Dua tahun terakhir. Tapi aku membutuhkan apartemen sekarang. Aku butuh tempat yang lebih tenang untuk belajar,” jawabnya setelah mengganggukkan kepalanya.

“Biar aku tebak. Jurusan bisnis?”

“Biologi, fokus minor anatomi. Aku masih punya waktu satu tahun lagi, lalu mengambil tes masuk kedokteran. Aku berharap diterima di Kedokteran Harvard.”

“Kau sudah tahu bahwa kau diterima?”

“Ayahku kuliah di Harvard. Maksudku, aku tidak tahu pasti, tapi beliau alumni yang dermawan. Aku sudah menjalani segala tes tertulis dan hasilnya cukup memuaskan untuk masuk dalam posisi yang patut dipertimbangkan untuk diterima.”

“Ayahmu seorang dokter?” tanyaku penasaran seraya menatap lekat wajahnya dari samping. Jungmo mengiyakan dengan senyum bangga.

“Dokter bedah tulang.”

“Wow hebat.”

Kami berdiri di balkon selama hampir lebih dari satu jam. Membicarakan segala hal, dari restoran lokal hingga bagaimana awalnya aku dan Minho bisa berteman baik.

“Aku awalnya tidak akan mengatakannya, tapi kalian berdua tampak menjadi topik pembicaraan.”

“Baguslah,” jawabku berbisik.

“Hanya saja tidak biasa bagi Minho. Dia tidak berteman baik dengan seseorang. Dia cenderung lebih sering menjadi musuh mereka daripada berteman.”

“Oh aku tak tahu itu. Aku telah melihat beberapa yang kehilangan ingatan jangka pendek atau terlalu memaafkan kalau menyangkut tentangnya,” kataku asal dengan nada mencibir. Jungmo tertawa, giginya yang putih berkilau di atas kulit maskulinnya.

“Orang hanya tidak paham bagaimana hubungan kalian. Kau harus mengakui bahwa itu sedikit membingungkan.”

“Kau bertanya apa aku tidur dengan Minho?”

“Kau tidak akan berada di sini kalau kau pernah tidur dengannya. Aku mengenalnya sejak berumur empat belas tahun dan aku sangat mengenal bagaimana dia beroperasi. Tapi aku penasaran tentang hubungan kalian,” katanya tersenyum.

“Itu seperti hubungan biasa,” aku mengangkat bahu. “Kami hangout, makan, menonton televisi, belajar bersama, dan berdebat. Hanya itu.” Jungmo tertawa keras sambil menggelengkan kepalanya karena kejujuranku.

“Aku dengar hanya kau yang bisa membuat Minho menurut. Itu adalah gelar yang terhormat.”

“Apapun artinya itu. Dia tidak seburuk yang orang lain kira.”

Langit berubah menjadi keunguan lalu menjadi kekuningan saat matahari mulai muncul di batas cakrawala. Jungmo melihat jam tangannya memandang ke arah kerumunan yang mulai berkurang di halaman rumput dari atas pembatas balkon.

“Sepertinya pesta sudah selesai.”

“Aku sebaiknya mencari Jinki dan Kibum.”

“Apa kau keberatan kalau aku yang mengantarmu pulang?” ia bertanya. Aku mencoba menyembunyikan rasa senangku.

“Tidak sama sekali. Aku akan memberitahu Kibum.” Aku berjalan melewati pintu lalu meringis sebelum berbalik ke belakang. “Apa kau tahu tempat tinggal Minho?” tanyaku pada Jungmo. Alis tebalnya mengernyit.

“Ya. Kenapa?”

“Di sana aku tinggal,” jawabku menguatkan diri menunggu reaksinya.

“Kau.. tinggal bersama Minho?” tanyanya dengan mata terbelalak tak percaya.

“Hm.. Semacam kalah taruhan, karena itu aku harus tinggal di sana selama satu bulan,” jawabku lirih setelah menggaruk tengkukku yang tak terasa gatal sama sekali.

“Satu bulan?”

“Ceritanya panjang,” aku tersenyum kaku menjawabnya.

“Tapi kalian berdua hanya berteman?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke sana,” katanya tersenyum padaku.

***

Aku berlari menuruni tangga untuk mencari Kibum, melewati Minho yang terlihat jengkel karena merasa terganggu oleh perempuan mabuk yang mengajaknya bicara. Ia mengikutiku saat aku menarik baju Kibum.

“Kalian bisa pulang terlebih dahulu. Jungmo akan mengantarku pulang.”

“Huh?” kata Kibum dengan kegembiraan yang terpancar di matanya.

“Apa?” giliran Minho yang bertanya dengan marah.

“Apa ada masalah dengan hal itu?” tanya Kibum pada Minho dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap Kibum dengan tajam lalu menarikku ke pojok ruangan, rahang tegasnya terlihat tegang di bawah kulit kecokelatannya.

“Kau bahkan tak mengenal pria itu, Sweety,” katanya dengan raut khawatir namun secara bersamaan terlihat marah. Aku melepaskan tanganku dari cengkeramannya.

“Ini bukan masalahmu, Minho.”

“Aku tak peduli. Aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan orang asing. Bagaimana kalau dia mencoba melakukan sesuatu padamu?”

“Oh itu bagus! Dia tampan.” Ekspresi Minho berubah terkejut menjadi marah, aku bersiap dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Kim Jungmo, Taemin? Kau serius? Kim Jungmo?” ia mengulang namanya dengan kebencian. “Nama macam apa itu?”

“Hentikan, Minho. Kau bersikap menyebalkan,” kataku melipat tangan. Ia membungkuk mendekat, tampak bingung.

“Aku akan membunuhnya, jika dia menyentuhmu.”

“Aku menyukainya,” kataku dengan penekanan pada setiap kata. Ia tercengang atas pengakuanku, ia berubah bengis.

“Baiklah. Jika berakhir dengan dia menekan dan menindihmu di kursi belakang mobilnya, jangan mengeluh padaku.” Mulutku menganga mendengar perkataannya. Aku tersinggung dan sangat marah.

“Jangan khawatir, aku tidak akan mengeluh padamu,” jawabku sambil melangkah pergi. Minho mencengkeram tanganku.

“Bukan itu maksudku, Sweety. Jika dia menyakitimu, atau bahkan jika dia membuatmu tidak nyaman, beritahu aku,” katanya lagi dengan nada merendah. Rasa marahku mereda dan bahuku tidak tegang lagi seperti tadi.

“Aku tahu bukan itu maksudmu. Tapi kau harus mengurangi rasa over-protective seperti seorang kakak padaku.” Ia tertawa menanggapi perkataanku.

“Aku tidak berlagak seperti seorang kakak. Tidak sama sekali.”

Jungmo datang lalu memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

“Sudah siap?” tanya Jungmo. Minho mengatupkan rahangnya dan aku melangkah ke sisi Jungmo agar ia tidak melihat ekspresi Minho.

“Sudah. Ayo kita pergi,” sahutku. Aku memegang lengan Jungmo lalu berjalan beberapa langkah bersamanya sebelum berbalik untuk mengucapkan selamat tinggal pada Minho, tapi ia sedang menatap marah ke arah belakang kepala Jungmo. Matanya menatap tajam padaku lalu wajahnya melembut. Aku mengikuti Jungmo melewati beberapa kerumunan yang masih ada untuk menuju ke mobilnya.

“Mobilku yang berwarna silver.” Lampu depannya berkedip dua kali ketika ia menekan tombol remotenya. Ia membuka pintu sisi penumpang dan aku tertawa.

“Kau mengendarai mobil Porsche?”

“Dia bukan hanya Porsche. Dia Porsche 911 GT 3. Ada bedanya,” elaknya.

“Biar aku tebak, dia adalah cinta sejatimu?” tanyaku mengutip pertanyaanku pada Minho tentang motornya.

“Bukan. Dia hanya mobil. Cinta sejatiku adalah seseorang yang akan memakai nama belakangku.” Aku tersenyum kecil berusaha untuk tidak terlalu terpengaruh oleh tanggapannya. Ia memegang tanganku untuk membantu masuk ke dalam mobil dan ketika ia meluncur ke belakang kemudi, ia menyandarkan kepala dikursinya lalu tersenyum padaku.

“Apa rencanamu malam ini?”

“Malam ini?” ulangku.

“Sekarang sudah pagi. Aku ingin mengajakmu makan malam sebelum seseorang mendahuluiku.” Senyuman lebar muncul di wajahku.

“Aku tidak punya rencana apapun.”

“Aku akan menjemputmu.. jam enam?”

“Baiklah,” kataku final sambil memerhatikan jarinya yang menggenggam jariku.

Jungmo langsung mengantarku ke rumah Minho, menjalankan mobil dengan kecepatan minimum dan tanganku memegang tangannya. Ia berhenti di tempat parkir, dan seperti sebelumnya, ia membukakan pintu untukku. Setelah kami berdua tiba di depan rumah, ia membungkuk dan mencium pipiku.

“Beristirahatlah. Kita bertemu nanti malam,” katanya berbisik di telingaku.

“Hm. Bye,” kataku. Aku tersenyum lalu memutar pegangan pintu. Ketika aku mendorong pintu dan terbuka lebar, aku terdorong ke depan. Minho menangkapku sebelum aku terjatuh.

“Hati-hati, Sayang.” Aku berbalik untuk melihat Jungmo yang menatap kami dengan ekspresi tidak nyaman. Ia melihat ke dalam rumah.

“Apa ada seseorang yang sedang merasa dipermalukan dan terlantar di sini yang harus aku antar pulang?” sindir Jungmo dengan menatap tajam mata Minho.

“Jangan macam-macam padaku.” Jungmo tersenyum dan mengedipkan matanya.

“Aku rasa itu mempermudah semuanya,” kataku mengolok Minho.

“Tidak lucu, Sweety.”

“Sweety?”

“Itu adalah hm.. hanya nama panggilan. Aku bahkan tak tahu kenapa dia memanggilku begitu,” jawabku. Itu adalah pertama kalinya aku merasa aneh dengan nama yang Minho berikan padaku di malam pertama kami bertemu.

“Kau harus menceritakannya padaku kalau sudah tahu alasannya. Kedengarannya menarik,” kata Jungmo tersenyum. “Selamat malam, Taemin.”

“Maksudmu selamat pagi?” kataku memerhatikannya yang berjalan cepat menuruni tangga.

“Itu juga,” jawabnya sambil tersenyum manis. Minho membanting pintu. Aku harus menarik kepalaku ke belakang sebelum pintunya mengenai wajahku.

“Apa?” bentakku pada Minho. Ia menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju kamarnya. Aku mengikutinya lalu melompat dengan satu kaki untuk membuka sepatuku. “Dia pria yang baik, Minho.” Ia menghela napas dan berjalan ke arahku.

“Kau akan menyakiti dirimu sendiri,” katanya sambil mengaitkan satu lengannya di pinggangku dan menarik lepas sepatuku dengan lengan satunya. Ia melemparkan sepatu itu ke sembarang arah lalu membuka bajunya dan berjalan menuju tempat tidur.

Aku membuka kancing bajuku lalu membuangnya ke pojok kamar. Aku memasukkan kaus ke kepalaku. Ketika aku menyisir rambutku dengan tangan yang sedikit mengacau tadi, aku menyadari ia menatapku.

“Aku yakin tidak ada yang aku punya yang belum pernah kau lihat sebelumnya,” kataku sambil memutar mataku. Aku meluncur ke dalam selimut dan berbaring di atas bantalku, meringkuk seperti bola. Ia membuka ikat pinggang dan menarik lepas celana jinnya.

Aku menunggu sementara ia diam berdiri sesaat. Aku membelakanginya, membuatku penasaran apa yang sedang ia lakukan, berdiri di samping tempat tidur dengan diam. Tempat tidur menjadi cekung saat ia merangkak naik dan aku menegang ketika ia menaruh tangannya di atas pinggulku.

“Aku tidak ikut bertarung malam ini,” katanya. “Adam menelepon, tapi aku tidak datang.”

“Kenapa?” tanyaku berbalik menghadapnya.

“Aku ingin memastikan kau pulang ke rumah.” Aku mengerutkan dahiku atas jawaban yang ia berikan.

“Kau tidak harus menjagaku, Minho,” kataku. Ia membelai lenganku dengan jari-jari panjangnya, mengirimkan getaran ke punggungku.

“Aku tahu. Kupikir aku hanya masih merasa tidak enak dengan kejadian tempo hari.”

“Aku sudah bilang aku tidak peduli.” Ia bersandar di atas dua sikunya ada rasa ragu di wajahnya.

“Apa itu sebabnya kau tidur di kursi? Karena kau tidak peduli?”

“Aku tidak bisa tidur setelah temanmu pulang.”

“Kau tidur nyenyak di kursi. Kenapa kau tidak bisa tidur denganku?”

“Maksudmu di samping pria yang baunya seperti dua lalat bar yang baru saja kau suruh pulang? Aku tidak tahu. Betapa egoisnya aku.”

“Aku sudah bilang aku menyesal,” katanya meringis.

“Dan aku sudah bilang aku tidak peduli,” kataku berbalik membelakanginya.

Beberapa saat berlalu dalam hening. Ia menyelipkan tangannya di atas bantalku dan menaruh tangannya di atas tanganku. Ia mengelus kulit halus di antara jariku dan mencium rambutku.

“Aku takut kau tidak akan pernah bicara padaku lagi. Tapi kupikir ini lebih buruk karena ternyata kau tidak peduli.” Aku menutup mataku mendengar perkataanya.

“Apa yang kau inginkan dariku, Minho? Kau tak ingin aku marah atas perbuatanmu, tapi kau ingin aku peduli. Kau mengatakan pada Kibum kalau kau tidak ingin berkencan denganku, tapi kau jadi sangat kesal ketika aku mengatakan hal yang sama padanya, lalu kau pergi dan mabuk. Alasanmu tidak masuk di akal.”

“Itukah sebabnya kau mengatakan hal itu pada Kibum? Karena aku berkata tidak ingin berkencan denganmu?” gigiku mengatup. Ia baru saja mengatakan padaku bahwa ia mengira aku sedang mempermainkan dirinya. Aku memberikan jawaban yang paling tegas yang dapat aku pikirkan.

“Tidak, aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku tidak bermaksud menyinggungmu.” Kudengar Minho menghela napas.

“Aku mengatakan itu hanya karena—” ia menggaruk rambut pendeknya dengan gugup. “—aku tak ingin menghancurkan semua yang ada, Sweety. Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi seseorang yang pantas untukmu. Aku hanya mencoba membuat itu semua berjalan dengan baik di kepalaku.”

“Apapun maksudnya itu. Aku harus tidur. Aku ada kencan nanti malam.”

“Dengan Jungmo?” tanyanya. Kemarahan menyusup di nada suaranya.

“Ya. Bisakah aku tidur sekarang?”

“Tentu saja,” jawabnya sambil mendorong tubuhnya berdiri dari tempat tidur dan membanting pintu di belakangnya. Kursi malas berdecit karena berat badannya lalu suara samar dari televisi terdengar di seluruh ruangan. Aku memaksa mataku untuk tertutup dan berusaha tenang agar tidur sebentar, meskipun hanya untuk beberapa jam.

***

Jam menunjukkan jam tiga sore ketika aku membuka mata. Aku mengambil handuk dan jubah mandiku lalu berjalan dengan susah payah menuju kamar mandi. Sesaat setelah aku menutup tirai mandi, pintu terbuka lalu tertutup lagi. Aku menunggu beberapa saat untuknya bicara, tapi satu-satunya suara adalah suara tutup toilet yang membentur porselen.

“Minho?”

“Bukan. Ini aku,” jawab Kibum.

“Apa kau harus buang air kecil di sini? Kau kan punya kamar mandi sendiri.”

“Jinki berada di kamar mandi sudah hampir setengah jam karena bir yang dia minum. Aku tidak akan masuk ke sana.”

“Bagus.”

“Aku dengar kau ada kencan malam ini. Minho sangat marah!” katanya terdengar senang.

“Jam enam nanti. Dia sangat manis, Kibum. Dia sangat—” aku terdiam, menghela napas. Aku tak bisa mengontrol diriku dan aku biasanya tidak seperti ini. Aku terus memikirkan betapa sempurnanya ia sejak pertama kami bertemu. Ialah pria yang aku butuhkan, sangat bertolak belakang dengan Minho.

“Membuatmu tidak bisa berkata apa-apa?” tebaknya sambil terkekeh. Kepalaku keluar dari balik tirai mandi.

“Aku tidak ingin pulang. Aku bisa bicara dengannya selamanya.”

“Kedengarannya menjanjikan. Tapi bukannya sangat aneh kau berada di sini akhirnya?” aku menunduk dibawah pancuran air, menghilangkan semua busa.

“Aku telah menjelaskan semua padanya.” Terdengar suara toilet disiram dan kran menyala, membuat air menjadi dingin sesaat. Aku menjerit lalu pintu terbuka.

“Sweety?” Minho memanggil. Kibum tertawa.

“Aku hanya menyiram toilet, Minho. Tenanglah.”

“Oh. Kau tidak apa-apa, Sweety?”

“Aku tidak apa-apa. Keluar.” Pintu tertutup lagi dan aku menghela napas. “Apa terlalu berlebihan untuk meminta memasang kunci di pintu?” Kibum tidak menjawab. “Kibum?”

“Sangat disayangkan kalian berdua tidak bisa bersama. Kau satu-satunya orang yang bisa—” ia mendesah sebelum melanjutkan. “Lupakan. Itu bukan masalah, sekarang.” Aku mematikan air dan membungkus tubuhku dengan handuk.

“Kau sama buruknya dengannya. Itu membuatku muak. Tidak ada seorangpun di sini yang masuk akal. Kau kesal padanya, kan? Ingat?”

“Aku tahu,” angguknya membenarkan.

***

Aku menyalakan pengering rambut baruku dan mulai bersiap-siap untuk kencanku bersama Jungmo. Aku menata rambutku sedemikian menariknya, mengangkatnya ke atas ala mohawk. Itu memang sedikit berlebihan untuk kencan pertama. Aku mengerutkan dahi pada diriku sendiri. Bukan Jungmo yang ingin aku buat terkesan. Bagaimanapun aku tidak dalam posisi untuk merasa tersinggung ketika Minho menuduhku mempermainkannya.

Melihat sekali lagi pada cermin, rasa bersalah melandaku. Minho berusaha terlalu keras dan aku seperti anak bandel keras kepala. Aku melangkah keluar ke ruang tamu dan Minho tersenyum, bukan reaksi yang aku harapkan sama sekali.

“Kau.. sangat memesona.”

“Terima kasih,” jawabku bingung karena tidak ada rasa terganggu atau rasa cemburu dalam suaranya. Jinki bersiul.

“Pilihan yang bagus, Taemin. Para pria menyukai warna merah.”

“Dan rambut mohawknya sangat indah,” tambah Kibum. Bel berbunyi dan Kibum tersenyum, melambai dengan rasa senang yang belebihan. “Selama bersenang-senang!”

Aku membuka pintu. Jungmo memegang satu karangan kecil bunga, ia memakai celana panjang dan dasi. Matanya melihat pada baju dan sepatuku lalu kembali ke wajahku.

“Kau adalah makhluk paling cantik yang pernah kulihat,” katanya terpesona.

Aku melihat ke belakang untuk melambai pada Kibum yang sedang tersenyum sangat lebar sehingga aku bisa melihat semua giginya. Ekspresi Jinki seperti seorang ayah yang bangga pada anak perempuannya dan Minho tidak melepaskan pandangannya dari televisi.

Jungmo mengulurkan tangannya, menuntunku ke mobil Porschenya yang mengkilap. Setelah kami di dalam mobil, ia mengembuskan napasnya.

“Kenapa?”aku bertanya.

“Aku harus bilang, aku sedikit gugup menjemput seseorang—yang membuat Choi Minho jatuh cinta—dari rumahnya. Kau tak tahu berapa banyak orang yang mengira aku gila hari ini.”

“Minho tidak jatuh cinta padaku. Dia hampir tidak pernah tahan berada di dekatku kadang-kadang.”

“Kalau begitu itu hubungan cinta tapi benci? Karena ketika aku menceritakan pada teman-temanku bahwa aku mengajakmu kencan malam ini, mereka mengatakan hal yang sama. Kelakuan Minho tidak menentu, bahkan lebih dari biasanya, mereka semua menyimpulkan hal yang sama.”

“Mereka salah,” kataku bersikeras. Jungmo menggelengkan kepalanya karena aku benar-benar tidak mengerti maksudnya.

“Sebaiknya kita pergi. Aku sudah memesan tempat,” ujarnya seraya memegang tanganku.

“Di mana?”

“Brena. Aku harap kau suka masakan Italia.”

“Bukankah itu waktu yang singkat untuk melakukan reservasi? Tempat itu selalu penuh,” tanyaku sambil mengerutkan dahiku penasaran.

Well, itu adalah restoran keluargaku. Separuhnya maksudku.”

“Aku suka masakan Italia,” tegasku tersenyum lembut.

***

Jungmo mengendarai ke restoran dengan kecepatan minimal yang sama, memakai lampu sein ketika berbelok dan memelankan laju mobilnya di saat lampu kuning. Ketika kami bicara, ia sama sekali tidak memalingkan pandangannya dari jalan. Ketika kami tiba di restoran, aku terkekeh.

“Ada apa?” tanyanya bingung.

“Kau adalah pengendara yang sangat hati-hati. Itu adalah hal yang bagus.”

“Berbeda dengan duduk di belakang motor Minho?” ia tersenyum. Aku seharusnya tertawa, namun perbedaannya tidak terasa seperti hal yang bagus.

“Jangan membahas tentang Minho malam ini, oke?”

“Baiklah,” jawabnya meninggalkan kursi kemudinya untuk membukakan pintu untukku.

Kami langsung mendapat tempat duduk di meja yang besar dekat jendela. Meskipun aku memakai kemeja, aku merasa berbeda dengan orang-orang yang ada di sana. Mereka sangat glamour, memakai berlian dan sekawannya. Aku belum pernah makan di tempat manapun yang semegah ini. Kami telah memesan makanan, Jungmo menutup buku menu lalu tersenyum pada pelayannya.

“Dan tolong bawakan kami sebotol wine Allergrini Amarone.”

“Baik, Sir,” kata pelayan sambil mengambil buku menu kami.

“Tempat ini sangat indah,” bisikku sambil mencondongkan tubuhku ke arah meja. Mata indahnya melembut.

“Terima kasih. Aku akan memberitahu ayahku kau bilang begitu.”

Seorang wanita mendekati kami. Rambutnya disanggul kecil dengan rapi, sanggul klasik berwarna pekat, satu garis abu-abu menganggu poninya yang berombak halus. Aku mencoba untuk tidak menatap pada perhiasan yang ada di leher atau yang berayun ke depan dan ke belakang di telinganya, tapi semua perhiasan itu dibuat untuk di perhatikan. Mata cokelatnya yang sipit tertuju ke arahku. Lalu dengan cepat ia menatap ke arah teman kencanku.

“Siapa temanmu ini, Jungmo?

“Ibu, dia adalah Lee Taemin. Taemin, dia adalah ibuku, Kim Seungjae.” Aku mengulurkan tangan dan beliau menggenggamnya sekali. Dengan gerakan yang sudah terlatih, rasa tertarik palsu menyala di wajahnya yang berfigur tegas, lalu melihat ke arah Jungmo.

“Lee?” Aku sedikit khawatir Nyonya Kim akan mengenali nama keluargaku, barang kali. Tapi kan di negara ini dengan nama keluarga Lee ribuan jumlahnya. Ekspresi Jungmo menjadi tidak sabar setelah melirik ke arahku yang merasa tak nyaman.

“Dia berasal dari Jeju, Bu. Ibu tidak mengenal keluarganya. Dia satu universitas denganku saat ini.”

“Oh,” Nyonya Kim menatap ke arahku lagi. “Jungmo akan kuliah di Harvard tahun depan.”

“Itu yang dia bilang padaku. Kupikir itu hebat. Anda pasti bangga dengannya.”

“Kami memang bangga. Terima kasih.” Ketegangan di sekitar matanya sedikit menghilang, beliau sedikit tersenyum saat menanggapiku.

Aku sangat terkesan dengan kata-katanya yang halus namun sedikit menyinggung. Itu bukan keterampilan yang dapat dipelajari hanya dalam satu malam. Nyonya Kim pasti telah bertahun-tahun menunjukkan kehebatannya pada orang lain.

“Sangat senang bertemu denganmu, Ibu. Selamat malam,” kata Jungmo mengantar ibunya pergi. Ibunya mencium pipi Jungmo sebelum pergi, lalu menghapus noda lipstick dengan ibu jarinya kemudian kembali ke dalam. “Maaf, aku tak tahu dia akan berada di sini.”

“Tidak apa-apa. Beliau kelihatannya baik.” Jungmo tertawa.

“Ya, untuk seekor piranha.” Aku menahan tawaku dan ia tersenyum minta maaf. “Dia akan terbiasa. Hanya butuh waktu.”

“Semoga pada saat kau pergi ke Harvard.”

Kami berbincang tentang segala topik; makanan, universitas, kalkulus, bahkan ring pertarungan. Jungmo sangat menawan, lucu, dan selalu mengatakan kata yang tepat. Beberapa orang mendekat untuk menyapanya dan ia selalu memperkenalkan diriku dengan senyuman bangga. Ia seperti selebriti di dalam restoran. Dan ketika kami pergi, aku merasakan pandangan menilai dari semua orang.

“Mau kemana lagi kita?” tanyaku.

“Sayangnya aku ada ujian tengah semester mata kuliah Anatomi Vertebrata hari Senin pagi. Aku harus belajar,” jawabnya sambil memegang tanganku.

“Memang sebaiknya kau belajar,” kataku berusaha tidak terlihat terlalu kecewa.

***

Ia mengantarku ke rumah Minho dan menuntun tanganku naik ke atas tangga. “Terima kasih, Jungmo,” ucapku tersenyum. “Aku sangat senang malam ini.”

“Apa terlalu cepat untuk mengajakmu kencan kedua?”

“Tidak sama sekali,” jawabku berseri-seri.

“Aku akan meneleponmu.. besok?”

“Kedengarannya sempurna.” Lalu ada keheningan yang canggung. Elemen dari berkencan yang aku takutkan. Harus mencium atau tidak, aku sangat benci pertanyaan itu.

Sebelum aku sempat untuk mencari tahu apa ia akan menciumku, ia memegang kedua sisi wajahku dan menarik ke arahnya, menekan bibirnya di atas bibirku. Bibirnya lembut, hangat dan indah. Ia melepaskannya sebentar lalu menciumku lagi.

“Sampai besok, Darl.”

Bye.” Aku melambaikan tangan, memerhatikannya turun tangga menuju mobilnya.

Sekali lagi, ketika aku memutar pegangan pintu, pintu terbuka lebar lalu aku jatuh ke depan. Minho memegangiku, dan aku berdiri secara reflek.

“Kau harus hentikan itu,” kataku menutup pintu di belakangku.

“Darl? Memangnya kau seorang konsumen online shop?” ejeknya yang tadi mendengar panggilan Jungmo padaku.

“Sweety?” kataku dengan penghinaan yang sama. “Terdengar seperti nama burung kecil yang selalu di sarangnya.”

“Kau itu manis,” katanya membela diri. “Rasa manis yang hanya bisa dirasakan lewat hati.”

Aku berpegangan pada tangannya saat melepas sepatuku, lalu melangkah menuju kamarnya. Ketika aku ganti baju dan memakai piyama, aku berusaha keras untuk tetap marah padanya. Minho duduk di tempat tidur dan melipat tangannya di dada.

“Apa kau bersenang-senang?”

“Tentu saja,” jawabku menghela napas. “Sangat bersenang-senang. Dia sangat—” aku tidak bisa memikirkan kata yang tepat yang mampu menggambarkan Jungmo. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

“Dia menciummu?” tanyanya dengan nada selembut mungkin, terdengar kecewa. Aku menggigit bibirku dan mengangguk.

“Dia memiliki bibir yang sangat lembut.” Minho tersentak mendengar jawabanku.

“Aku tidak peduli bibirnya seperti apa.”

“Percayalah padaku, itu sangat penting. Aku merasa gugup pada ciuman pertama, tapi ini tidak terlalu buruk.”

“Kau merasa gugup saat ciuman pertama?” tanyanya merasa geli.

“Hanya pada ciuman pertama. Aku tidak menyukainya.”

“Aku tidak akan menyukainya juga kalau harus Kim Jungmo.” Aku cekikikan dan meninggalkan kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah. Minho mengikuti, bersandar pada kusen pintu. “So kalian akan berkencan lagi?”

“Yup. Dia akan meneleponku besok.” Aku mengeringkan wajahku dan berlari menelusuri lorong, melompat ke atas tempat tidur.

Minho membuka celananya sehingga hanya memakai celana boxer, lalu telungkup membelakangiku. Sedikit terkulai terlihat sangat lelah. Otot punggungnya menegang seperti wajahnya. Ia melirik ke arahku sekilas.

“Jika kalian bersenang-senang, kenapa kau pulang cepat?”

“Dia ada ujian penting hari Senin nanti.”

Who cares?” ujarnya mengerutkan kening.

“Dia berusaha masuk Harvard. Dia harus belajar.” Ia mendengus, telungkup lagi. Aku melihatnya memasukkan tangan ke bawah bantalnya, tampak sedikit kesal.

“Ya, itu yang selalu dia katakan pada semua orang.”

“Jangan jadi menyebalkan. Dia mempunyai prioritas. Kupikir itu bertanggungjawab.”

“Bukankah harusnya pacar yang menjadi prioritas utama?”

“Aku bukan pacarnya. Kami baru berkencan satu kali, Minho,” ujarku menggerutu.

“Jadi, apa saja yang kalian lakukan?” Aku menatapnya dengan marah dan ia tertawa. “Apa? Aku ingin tahu.”

Melihatnya sangat tulus, aku menceritakan semuanya; dari restoran, makanannya, hingga semua hal yang manis dan lucu yang Jungmo ceritakan. Aku tahu aku membeku dengan senyuman bodoh di wajahku, namun aku tak dapat berhenti tersenyum ketika menceritakan malamku yang sempurna.

Minho memandangku dengan senyuman senang ketika aku terus mengobrol, bahkan ia menanyakan beberapa pertanyaan. Meskipun ia terlihat frustasi dengan situasi mengenai Jungmo, aku sangat yakin ia senang melihatku bahagia. Minho memerbaiki posisinya di tempat tidur dan menguap. Kami saling memandang untuk beberapa saat sebelum ia menghela napasnya.

“Aku senang kau bahagia,Sweety. Kau berhak untuk itu.”

“Terimakasih,” responku menyeringai. Ponselku berbunyi dari atas meja lampu tidur dan aku tersentak ke atas untuk melihat layarnya.

“Halo?”

“Ini sudah besok,” kata Jungmo. Aku melihat jam dan tertawa. Sekarang jam dua belas lewat satu menit.

“Ya, benar.”

“Jadi bagaimana kalau hari Senin malam?” tanyanya to the point. Aku menutup mulutku sebentar lalu menarik napas yang dalam.

“Hm ya. Senin malam terdengar bagus.”

“Bagus. Sampai bertemu hari Senin,” katanya lagi. Aku dapat mendengar senyuman di suaranya. Aku menutup telepon dan menatap Minho yang sedang memerhatikanku dengan sedikit kesal. Aku berbalik membelakanginya dan meringkuk seperti bola, tegang karena terlalu bahagia.

“Kau seperti anak kecil,” kata Minho membalik tubuhnya membelakangiku. Aku memutar mataku lalu menghela napas. Ia berbalik lagi, lalu menarikku ke arahnya. “Kau benar-benar menyukai Jungmo?”

“Jangan mengacaukannya, Minho!” Ia menatapku sebentar lalu menggelengkan kepalanya dan berbalik lagi.

Kim Jungmo,” katanya mendengus.

-to be continued-

An : Akhirnya selesai juga ya chapter 5 nya. So glad and feel sorry to y’all. Update satu chapter aja butuh waktu 2 mingguan, maaf ya. Ah. Aku mau tanya dong sama kalian, waktu kalian baca setiap chapternya ngerasa kalau karakter Taemin menyek banget ga sih? Sama gimana soal panggilannya Minho buat Taemin? Terlalu girly kah? I would appreciate if you reply my questions. See ya in the next chapter :’)

Advertisements

20 thoughts on “The Bet : Love Begin #5

  1. choi jenong 2017-03-19 / 10:03 pm

    Choi Minho…Kim Jungmo…mereka berdua itu kontras bgt…dan mereka itu sok2an mengenal satu sm lain…

    jungmo org.ny sombong ya,, pamer mobil, pamer pendidikn, pamer restaurant mewah.ny…ibu.ny jg sombooong.ny masyaAllah…
    klo minho itu gak sombong tp dia itu brengsek.ny 😐😐😐😐

    disini tuh taemin kesan.ny cm mau buat minho cemburu gak beneran suka sm jungmo…dia itu ky ngelampiasin kesedihan.ny ttg minho tempo hari itu…

    sweety, baby…bgus panggilan itu dr pd darl…lagian taejung kn blm jadian,, klo ud jadian panggilan darl itu bru pas…rasa.ny jungmo itu lbh meyek2 ketimbang minho…

    haduh masa lalu.ny taemin gmn sihh ?? dia was2 gtu pas ibu.ny jungmo nyebut lee…

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-19 / 10:56 pm

      But believe me, Minho sama Jungmo itu different at all, of course my hubby Minho still.. Oke forget it lol. Padahal Taemin sama Minho kan ga jadian juga 😦 Lihat saja bagaimana cerita selanjutnya ya. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  2. minnalee 2017-03-19 / 8:12 am

    panggilan minho k taem bgus kok… manis gtu… si taemin.a juga manus jd bgus bgt kok…

    taem sneng bgt yah d ajak kencan ama jungmo… taemin jg kyak suka bgt k jungmo…
    smoga jungmo org.a baik… dan gak nyakitin taemin…

    minho kesel bgt yaj taemin dkat” ama jungmo… hahaha
    minho gak brengsek yah d chap in….
    jgn brengsek lagi mkanya ming…

    msih nunggu nih 2min jdian… tp kli minho nya masih suka berseks ria dgn cwek” lain gak rela klo taemin sma minho…
    tp maunya taemin ama minho… hehe

    d tggu next part.a…

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-19 / 8:55 am

      Waduh konsisten dong kak. Maunya Taemin sama Minho atau Jungmo nih? Haha engga bercanda. Ditunggu aja ya gimana nanti cerita mereka bertiga. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  3. Kim Yoonjae 2017-03-18 / 6:51 am

    Tapi, panggilan Minho ke Taemin cocok2 aja, soalnya Taemin manis banget.
    Dan seriuosly, Taemin itu bodoh atau emang gak peka ya. Padahal kalau dipikir kurangnya Minho apa ke dia, Minho lebih sering berlaku lembut ke Taemin. Kesel juga sih sama sifatnya Taemin disini. Gregetan asli wkwkwk 😅

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-18 / 9:12 am

      Thanks for your response. Dia emang manis sekali, makanya aku kepikiran ‘Sweety’. Sampai aku nulis chapter 5 itu keliaan girly apa engga u.u Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  4. mala 2017-03-17 / 1:43 pm

    Kok gue bacanya nyesek, berasa pengen si minho nyerah aja, terus sitaeminnya berasa gimana nyeseknya ngga diperhatiin minho lagi, hahaha gila gue

    Like

    • nad (bluesch) 2017-03-17 / 3:13 pm

      Wajar aja kok kalau kamu merasa begitu. Aku yang menulis saja rasanya pingin menyudahi derita ini. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  5. husniah nia 2017-03-17 / 4:51 am

    Panggilan Minho e Taemin?? Menurutku itu “manis” dan ya Taemin memang manis “sweety” bukan hanya untuk hal yg girly saja kalo menurt ku karena kesan imut manis indah itu bukan hanya hal2 yg dimiliki seoarang wanita saja setiap sesuatu memiliki sifat kalo menurut ku.

    Oh.. ohh. Aku ko liat Minho dichapter ini lelah wkwk Minho harus sering2 cemburu merasa bahagia sekaligus kesal secara bersamaan dan yaa itu cukup menyakitkan jika terlalu sering dirasakan.
    Dichpter ini Minho engga berengsek dan yaaa karena Minho sepertinya tertarik dengan Taemin dalam jumlah banyak sikap Minho dipart ini aku kasih jempoll tapi disisi lain aku nyesek juga liat Minho hahhhh

    Lee Taemin uhhh… cukup menarik perhatian Jungmo tapi cukups sedikit sombong Jungmonya yaa perihal kekayaan dan sedikit kekuasaannya dan memang seperti itu sika Jungmo.
    Ibu Jubgmo sedikit kurang bersahabat dan hmmm keluarga Lee marga Lee ada apa dengan itu bagi ibu Jongmo????

    Apa Jungmo laki2 yg baik?
    Apa Minho mengetahui banyak hal tentang Minho???
    Ok aku tunggu lanjutanny 😄😄😄😄😄

    Like

    • husniah nia 2017-03-17 / 4:53 am

      Ohh maksudku apa minho mengetahui banyalk hal tentang Jungmo?

      Like

    • nad (bluesch) 2017-03-17 / 3:12 pm

      Terima kasih responnya ya. Sebenarnya Minho itu baik kok. Buktinya sampai sekarang dia masih langgeng aja sama Taemin .g
      Terima kasih juga sudah berkunjung 😉

      Like

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s