The Bet : Love Begin #6

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |

-cue-

Kencan pada Senin malam melebihi semua harapanku. Kami makan malam di restoran China sambil aku cekikikan mendengar keterampilan Jungmo bercanda. Ketika ia mengantarku pulang, Minho membuka pintu sebelum Jungmo sempat menciumku. Kami pergi berkencan lagi pada Rabu malam, Jungmo memastikan untuk menciumku di dalam mobil.

Hari Kamis saat makan siang, Jungmo menemuiku di kafetaria dan mengejutkan semua orang dengan duduk di tempat biasa Minho duduk. Ketika Minho kembali ke kafetaria setelah mengobrol dengan teman-temannya, ia melewati Jungmo dengan rasa tidak peduli, kemudian duduk di kursi di ujung meja. Haneul mendekatinya, namun segera kecewa karena Minho mengusirnya. Semua orang yang duduk satu meja dengannya menjadi diam setelah itu. Dan aku merasa sangat sulit untuk fokus pada semua yang Jungmo katakan.

“Aku anggap aku tidak diundang,” kata Jungmo, aku menolehkan kepalaku terkejut.

“Huh?”

“Aku dengar hari Minggu pesta ulang tahunmu. Aku tidak diundang?”

Kibum melirik Minho yang sedang menatap tajam ke arah Jungmo, ia tampak seperti ingin memotong-motongnya. “Itu seharusnya pesta kejutan, Jungmo-ya,” kata Kibum pelan.

“Oh!”

“Kau mengadakan pesta kejutan untukku?” tanyaku pada Kibum. Kibum mengangguk.

“Itu ide Minho. Di rumah Jongin hari Minggu. Jam enam.” Seketika wajah Jungmo tampak memerah mendengar jawaban Kibum.

“Aku ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan sebelum aku masuk kelas. Aku akan meneleponmu nanti.”

“Baiklah,” kataku memberinya senyuman minta maaf. Jungmo mencondongkan tubuhnya di atas meja dan mengecup bibirku sekilas. Seluruh kafetaria terdiam dan Kibum menyikutku setelah Jungmo pergi.

“Kau tidak takut dengan bagaimana orang menatapmu?” Kibum berbisik. Ia melirik sekilas ke sekeliling ruangan sambil mengerutkan dahi. “Apa?!” Kibum berteriak di antara tatapan orang-orang di kafetaria. “Urus urusan kalian sendiri!” satu per satu mulai berpaling dan mereka saling berbisik.

“Kau tahu, sebelumnya aku sangat menyedihkan dikira sebagai  pacar Minho yang terlalu polos, sekarang aku dikira jahat karena semua orang berpikir aku mempermainkan Minho dan Jungmo seperti bola pingpong,” kataku menutup mataku dengan kedua tangan. Ketika Kibum tidak berkomentar, aku melihat kearahnya. “Jangan bilang kau percaya dengan gosip itu.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa!” kata Kibum. Aku menatapnya tidak percaya.

“Tapi itu yang kau pikirkan, bukan?” Kibum menggelengkan kepala, tapi ia tidak berbicara. Tatapan dingin dari mahasiswa lain tiba-tiba terasa sangat jelas, lalu aku berdiri melangkah ke ujung meja.

“Kita harus bicara,” kataku menepuk bahu Minho. Aku berusaha terdengar sopan, tapi rasa marah bergejolak di dadaku. Semua mahasiswa, termasuk sahabatku, Kibum, berpikir aku telah mempermainkan dua pria sekaligus. Hanya ada satu solusi.

“Bicaralah,” jawab Minho sambil memasukkan sesuatu yang dibungkus tepung dan digoreng ke dalam mulutnya. Aku gelisah merasa tatapan penasaran semua orang yang berusaha mendengarkan. Ketika Minho tetap tidak bergerak, aku meraih tangannya dan menariknya dengan keras. Ia berdiri dan mengikutiku keluar dengan seringai di wajahnya. “Ada apa, Taemin?” tanyanya melihat kearah tanganku yang masih memegang tangannya lalu menatapku lagi.

“Kau harus membebaskanku dari taruhan ini,” kataku memohon. Wajahnya tampak kecewa.

“Kau ingin pergi? Kenapa? Apa yang telah aku lakukan?”

“Kau tidak melakukan apapun, Minho. Kau tidak menyadari tatapan semua orang? Aku menjadi sampah di universitas ini.”

“Bukan masalahku,” katanya menggelengkan kepala.

“Itu masalahmu juga. Jungmo bilang semua orang berpikir punya keinginan untuk mati karena kau jatuh cinta padaku.” Alis Minho terangkat dan ia tersedak minuman yang ia bawa tadi.

“Semua orang mengatakan itu?” ia bertanya sambil terbatuk. Aku mengangguk. Ia berpaling dengan mata terbelalak, meminum minumannya lagi.

“Minho! Kau harus membebaskanku dari taruhan ini! Aku tidak bisa berkencan dengan Jungmo dan tetap tinggal denganmu pada saat yang sama. Itu terlihat mengerikan!”

So  stop dating him.” Aku menatapnya geram.

“Bukan itu masalahnya. Dan kau tahu itu.”

“Apa hanya itu alasan kau ingin pergi? Karena apa yang semua orang katakan?”

“Setidaknya dulu aku dikira polos dan kau menjadi orang jahatnya,” kataku menggerutu.

“Jawab pertanyaannya, Taemin.”

“Ya, hanya itu!”

Minho memerhatikan semua orang yang masuk dan keluar dari kafetaria. Ia sedang mempertimbangkan dan aku sudah tidak sabar ketika ia berlama-lama dalam mengambil keputusan. Akhirnya ia berdiri tegak, memutuskan.

“Tidak.” Aku menggelengkan kepala, yakin bahwa aku salah dengar.

Sorry, what?”

I said no. Kau sendiri yang bilang taruhan adalah taruhan. Setelah satu bulan habis, kau akan bersama Jungmo, ia akan menjadi dokter, kalian akan menikah dan memiliki anak dan aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi,” katanya meringis pada kata-katanya sendiri. “Aku masih punya waktu tiga minggu. Aku tidak akan menyerahkannya hanya karena gosip makan siang.”

Aku menatap kearah jendela kaca dan melihat semua orang di kafetaria memerhatikan kami. Perhatian yang tidak diinginkan membuat mataku berkaca-kaca. Aku menabrak bahu Minho sambil berjalan menuju kelas berikutnya.

“Taemin,” Minho memanggilku. Tapi aku tidak berpaling.

***

Malam itu Kibum duduk di lantai kamar mandi, mengoceh tentang Minho dan Jinki ketika aku sedang berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutku dengan tangan. Aku tidak terlalu mendengarkan, memikirkan betapa sabarnya Minho, padahal ia tahu ia tidak menyukai Jungmo yang selalu menjemputku dari rumahnya setiap malam.

Ekspresi wajah Minho terlintas dipikiranku ketika aku memintanya untuk melepaskanku dari taruhan ini. Lalu ketika aku bilang semua orang berpikiran kalau ia jatuh cinta padaku. Aku tidak bisa berhenti berpikir mengapa ia tidak membantahnya.

Well, Jinki berpikir kau terlalu keras pada Minho. Dia sebelumnya tidak pernah punya seseorang yang sangat dia sayangi untuk—” Kepala Minho muncul di pintu lalu tersenyum ketika melihatku kesulitan mengatur rambutku.

“Mau makan malam?” ia bertanya. Kibum berdiri dan melihat dirinya di cermin, menyisir tangannya pada rambutnya.

“Jinki ingin makan di restoran Mexico baru di pusat kota jika kalian ingin pergi.”

“Aku pikir aku dan Taemin akan pergi berdua saja malam ini,” kata Minho menggelengkan kepala.

“Aku ada kencan dengan Jungmo.”

“Lagi?” tanya Minho dengan kesal.

“Lagi,” jawabku.

Bel pintu berbunyi dan aku bergegas untuk membuka pintu melewati Minho. Jungmo berdiri di depanku, rambutnya tertata rapi di atas wajah bersih tercukurnya.

“Apa kau pernah kelihatan tidak memesona?” tanya Jungmo.

“Berdasarkan penampilannya pertama kali datang kemari, aku bilang pernah,” Minho menjawab dari belakang. Aku memutar mataku dan tersenyum, mengangkat jariku untuk memberi sinyal pada Jungmo agar menunggu sebentar. Aku berbalik dan memeluk Minho. Ia membeku karena terkejut lalu kembali tenang, menarikku ke arahnya dan memelukku dengan erat.

“Terima kasih sudah memersiapkan pesta ulang tahun untukku. Bisakah kita atur ulang jadwal untuk pergi makan malamnya?” tanyaku menatap matanya dan tersenyum. Berbagai emosi terlihat di wajahnya, lalu ia tersenyum.

“Besok?” Aku memeluknya erat dan tersenyum.

“Boleh.” Aku melambaikan tanganku padanya saat Jungmo memegang tanganku.

“Tentang apa itu?” Jungmo bertanya.

“Belakangan ini kami tidak akur. Jadi itu adalah caraku untuk berdamai.”

“Haruskah aku khawatir?” tanyanya sambil membuka pintu mobilnya untukku.

“Tidak,” jawabku tersenyum lalu mencium pipinya.

***

Saat makan malam, Jungmo membicaraan tentang Harvard, The House, dan rencananya untuk mencari apartemen. Alisnya ia angkat.

“Apa Minho akan pergi bersamamu ke pesta ulang tahunmu?”

“Entahlah. Ia belum mengatakan apa-apa tentang itu.”

“Jika ia tidak keberatan, aku akan menjemputmu.”

“Aku akan bertanya padanya. Pesta itu kan idenya, jadi..”

“Aku mengerti. Jika tidak bisa, kita akan bertemu di sana saja,” katanya tersenyum.

Jungmo mengantarku ke rumah Minho, memperlambat laju mobilnya untuk berhenti di tempat parkir. Ketika ia memberiku ciuman perpisahan, bibirnya berlama-lama menciumku. Ia menarik rem tangan ketika bibirnya menelusuri rahangku menuju telingaku dan setengah kebawah leherku. Itu membuatku lengah dan aku membiarkan desahan lembut keluar dari mulutku.

“Kau sangat cantik,” bisiknya. “Aku sudah tidak bisa konsentrasi sepanjang malam karena rambutmu yang sedikit menutupi leher indahmu.” Ia menghujani leherku dengan ciuman dan aku menarik napas, erangan keluar bersamaan dengan napasku.

“Apa yang membuatmu begitu lama?” aku tersenyum mengangkat daguku untuk lebih memberinya jalan agar bisa menciumku.

Jungmo berfokus pada bibirku. Ia memegang kedua sisi wajahku menciumku lebih kuat daripada biasanya. Kami tidak memiliki banyak ruang di dalam mobil, tapi kami berhasil membuat sedikit ruang yang ada menjadi keuntungan untuk kami. Ia bersandar padaku, aku melipat lututku ketika jatuh kearah jendela. Lidahnya menyusup ke dalam mulutku dan tangannya memegang mata kakiku lalu menarik keatas. Jendela menjadi beruap dalam beberapa menit karena napas hangat kami yang terengah-engah menempel di jendela yang dingin. Bibirnya menelusuri tulang leherku lalu tersentak ketika kaca bergetar karena beberapa pukulan keras.

Jungmo kemudian duduk dan aku memerbaiki posisiku lalu merapikan bajuku. Aku terloncat ketika pintu terbuka. Minho dan Kibum berdiri di samping mobil. Kibum mengernyitkan dahi dan Minho tampak seperti terbang ke dalam kemarahan yang sangat besar.

“Apa yang kau lakukan, Minho?!” bentak Jungmo pada Minho.

Situasi tiba-tiba terasa sangat berbahaya. Aku belum pernah mendengar Jungmo meninggikan suaranya, ibu jari Minho menjadi putih pucat karena ia mengepalkan tinju di samping tubuhnya dan aku menghalanginya. Tangan Kibum terlihat sangat kecil ketika menyentuh tangan Minho yang besar, menggelengkan kepala untuk memberi sinyal pada Jungmo agar diam.

“Ayo, Taemin. Aku perlu bicara denganmu,” kata Kibum.

“Tentang apa?”

“Ayo ikut saja!” bentaknya.

“Maafkan aku, tapi aku harus pergi.” Aku menatap Jungmo, melihat rasa kesal dimatanya.

“Tidak apa-apa. Silakan pergi.” Minho membantuku keluar dari mobil, lalu menendang pintu hingga tertutup. Aku berputar dan berdiri diantara mobil dan Minho, mendorong bahunya.

“Ada apa denganmu? Hentikan!”

Kibum tampak gugup. Tidak butuh lama untuk mengerti mengapa ia merasa gugup. Minho berbau alkohol; ia telah memaksa untuk menemani Minho atau Minho yang meminta Kibum untuk menemaninya. Suara ban mobil Jungmo berdecit ketika keluar dari tempat parkir.

“Kau boleh pergi sekarang, Kibum-ah.” Kibum menarik lengan bajuku.

“Ayo, Taemin.”

“Kau disini saja, Taemin,” katanya berdesis marah. Aku mengangguk pada Kibum agar ia masuk lebih dulu dan dengan enggan ia menurut. Aku melipat tanganku siap untuk percekcokan, siap untuk mencaci makinya setelah pelajarannya yang tak terelakkan. Ketika ia hanya berdiam diri dan terlihat tidak ada niat untuk menjelaskan, kesabaranku habis.

“Kenapa kau melakukan itu?” kataku bertanya.

“Kenapa? Dia melecahkanmu di depan rumahku!” katanya berteriak. Matanya tidak fokus dan aku dapat melihatnya tidak mampu melakukan percakapan yang rasional.

“Aku memang tinggal denganmu, tapi apa yang aku lakukan dan dengan siapa aku melakukannya adalah urusanku.” Aku menahan suaraku agar tetap tenang.

“Kau lebih dari itu, Taemin. Jangan biarkan dia menidurimu di mobil seperti kencan pesta dansa murahan.”

“Aku memang tidak akan berhubungan seks dengannya!”

“Kalau begitu apa yang kau lakukan tadi?” tanyanya sambil menunjuk kearah tempat parkir kosong tempat mobil Jungmo parkir tadi.

“Apa kau tidak pernah bercumbu dengan seseorang, Minho? Tidak pernahkah kau melakukannya tanpa membiarkannya terlalu jauh?”

“Apa enaknya melakukan itu semua?” katanya mengerutkan dahi dan menggelengkan kepala seolah-olah aku bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.

“Konsep itu ada untuk semua orang. Terutama mereka yang berkencan.”

“Jendela menjadi beruap, mobil bergerak naik turun. Bagaimana mungkin aku tahu?” katanya melambaikan tangan ke tempat parkir yang telah kosong.

“Mungkin seharusnya kau tidak memata-mataiku!”

“Aku tidak tahan lagi, Taemin. Aku rasa aku akan menjadi gila.” Ia mengusap wajahnya dan menggelengkan kepala.

“Kau tidak tahan apa?”

“Jika kau tidur dengannya, aku tidak ingin tahu tentang itu. Aku akan masuk penjara dengan waktu yang sangat lama kalau aku tahu. Pokoknya jangan beritahu aku.”

“Minho,” aku berdesis marah. “Aku tidak percaya kau bicara seperti itu! Itu adalah langkah yang sangat besar untukku! Aku belum pernah—ah lupakan.” Aku melangkah pergi darinya, tapi ia menarik tanganku, memutarku sehingga berhadapan dengannya.

“Kau belum pernah apa?” tayanya. Aku tidak menjawab. Aku tidak harus menjawab. Aku dapat melihat penghargaan menyala di wajahnya lalu ia tertawa sekali lagi. “Kau belum pernah melakukannya?”

“Lalu kenapa kalau aku belum pernah?” kataku dengan pipi yang merona. Matanya terhanyut dari mataku, tidak fokus seakan berpikir melalui alkoholnya.

“Jadi itu yang membuat Kibum yakin tidak akan terjadi apa-apa.”

“Aku punya seorang pacar yang selama tiga tahun di sekolah menengah. Ia calon pendeta pembaptisan remaja! Itu tidak pernah terpikirkan!”

“Calon pendeta? Apa yang terjadi setelah semua pantangan itu?” kemarahan Minho lenyap, digantikan oleh perasaan lega di matanya.

“Dia ingin menikah dan menetap di Gwangju. Aku tidak mau itu.” Aku sangat ingin mengganti topik pembicaraan. Rasa senang dimata Minho sudah cukup memalukan. Aku tidak ingin menggali terlalu jauh masa laluku. Ia megambil satu langkah ke hadapanku dan memegang kedua sisi wajahku.

“Perawan,” katanya menggelengkan kepala. “Aku tidak akan pernah mengingat caramu berdansa di Gogo’s.”

“Sangat lucu,” kataku menginjak tangga. Minho bermaksud mengikutiku, namun ia terpeleset dan jatuh, terguling lalu tertawa histeris. “Apa yang kau lakukan? Berdiri!” kataku membantunya berdiri.

Ia mengaitkan tangannya dileherku dan aku membantunya naik ke atas. Jinki dan Kibum sudah tertidur, jadi dengan tidak adanya bantuan lain, aku menendang sepatuku ketika menuntun Minho ke tempat tidur. Ia jatuh telentang lalu menarikku jatuh bersamanya.

Ketika ia mendarat di tempat tidur, wajahku hanya berjarak beberapa senti dari ajahnya. Ekspresinya tiba-tiba menjadi serius. Ia mendekat hampir menciumku, namun aku mendorongnya. Alis Minho mengkerut.

“Hentikan, Minho,” kataku. Ia memelukku erat sampai aku berhenti merota, lalu ia mulai melepas kancing bajuku dari tempatnya.

“Sejak kau berkata kau belum pernah melakukannya, aku tiba-tiba punya dorongan kuat untuk menolongmu membuka baju itu.”

Well, sayang sekali. Kau siap membunuh Jungmo karena hal yang sama dua puluh menit yang lalu, jadi jangan munafik.”

“Persetan dengan Jungmo. Ia tidak mengenalmu seperti aku.”

“Ayolah, Minho. Buka bajumu lalu pergi tidur.”

“Itu yang aku pikirkan,” katanya tergelak.

“Berapa banyak yang kau minum?” tanyaku menempatkan kakiku di antara kakinya.

“Cukup,” ia tersenyum sambil menarik-narik ujung bajuku.

“Kau mungkin telah melewati kata cukup beberapa botol yang lalu,” kataku menepis tangannya. Aku berlutut di tempat tidur di sampingnya, lalu menarik lepas kausnya dari atas kepala. Ia meraihku lagi dan aku memegang pergelangan tangannya, mencium bau tajam diudara. “Ya Tuhan, Minho, kau bau Jack Daniels.”

“Jim Beam,” koreksinya sambil mengangguk mabuk.

“Baunya seperti kayu terbakar dan bahan kimia.”

“Rasanya juga seperti itu,” ia tertawa. Aku membuka dan menarik ikat pinggangnya hingga lepas. Ia tertawa sambil bangun lalu mengangkat kepalanya kearahku. “Sebaiknya jaga keperawananmu, Sweety. Kau tahu aku suka yang kasar.”

“Diamlah,” kataku membuka kancing celana jinnya. Membuka melewati pinggangnya lalu melepaskannya dari kaki. Aku melempar celana jin kelantai lalu berdiri dengan tangan di pinggang, teregah-engah. Kakinya menggantung di ujung tempat tidur, matanya tertutup, dan ia bernapas dalam dan berat. Ia telah pingsan.

Aku menarik napas panjang lalu melangkah menuju lemari, menggoyangkan kepalaku saat menggeledah baju kami. Aku membuka kancing celana dan bajuku, mendorongnya keluar bersamaan dari kedua lengan dan kakiku kemudian membiarkannya terjatuh ke lantai. Menendangnya ke pojok dan mengibaskan rambutku.

Lemarinya penuh dengan bajuku dan baju Minho, aku mengembuskan napas, meniup rambut dari wajahku saat mencari kausku di antara barang yang berantakan di dalam lemari. Saat aku menarik satu kaus lepas dari gantungannya, Minho menabrakku dari belakang lalu memeluk pinggangku.

“Kau membuatku terkejut!” Ia menelusuri kulitku dengan jarinya. Aku merasa itu sangat berbeda; pelan dan sangat hati-hati. Aku menutup mataku ketika ia menarikku ke arahnya dan memendamkan wajahnya dirambutku lalu mengendus leherku. Merasakan kulitnya yang telanjang di kulitku, itu membutuhkan beberapa saat untuk proses. “Minho..”

Ia menyeret bibirnya dipunggungku dari satu bahu ke bahu yang lain. Ia mencium kulit telanjang di bawah leherku dan aku memejamkan mataku, kehangatan lembut mulutnya terasa begitu nikmat untuk membuatnya berhenti. Erangan lembut keluar dari tenggorokannya ketika ia menekan tulang pinggulnya padaku. Dan aku bisa merasakan betapa ia sangat menginginkanku dari celana boxernya. Aku menahan napasku, mengetahui satu-satunya yang menghalangi kami dari langkah besar yang aku tolak beberapa waktu sebelumnya adalah dua potong kain tipis.

Minho memutarku menghadapnya dan menekan tubuhku, menyandarkanku di dinding. Mata kami saling memandang dan aku bisa melihat rasa sakit diwajahnya saat ia mengamati kulit telanjangku. Aku telah melihatnya mendekati seseorang sebelumnya, tapi ini berbeda. Ia tidak ingin menaklukkanku; ia hanya ingin aku berkata ya.

Ia mendekat untuk menciumku, namun berhenti ketika berjarak beberapa senti saja. Aku dapat merasakan panas kulitnya yang memancar dibibirku. Dan aku harus menghentikan diriku untuk tidak menariknya selama hal ini berlangsung. Ia tidak tergesa-gesa saat menyentuh kulitku lebih dalam, lalu tangannya meluncur dari punggung ke lipatan celana dalamku. Jari telunjuknya turun kepinggangku, masuk di antara kulit dan celanaku. Pada saat yang sama ketika ia akan memasukkan telapak tangannya yang sedikit keras namun seksi itu di antara kakiku, ia menjadi ragu-ragu. Ketika aku hampir membuka mulutku untuk berkata ya, ia menutup matanya.

“Bukan seperti ini,” bisiknya mengusapkan bibirnya dibibirku. “Aku menginginkanmu, tapi tidak seperti ini.” Ia mundur ke belakang, jatuh telentang di atas tempat tidur dan aku hanya berdiri untuk beberapa saat dengan tangan disilangkan di atas perutku. Ketika napasnya menjadi teratur, aku mendorong masuk lenganku kedalam kaus yang selama ini ada ditanganku dan menarik masuk melewati kepalaku. Minho tidak bergerak dan aku mengembuskan napasku pelan-pelan keudara, mengetahui aku tidak akan bisa mengendalikan kami berdua apabila aku tidur di tempat tidur dan ia akan terbangun dengan pandangan yang kurang hormat.

Aku bergegas menuju kursi malas dan roboh di atasnya. Menutup wajahku dengan tangan. Aku merasakan perasaan frustasi yang berlapis-lapis menari dan saling menghancurkan didalam diriku. Jungmo pergi merasa diremehkan, Minho menunggu hingga aku bertemu dengan seseorang—yang benar-benar aku sukai—untuk menunjukkan rasa ketertarikannya padaku dan sepertinya hanya aku yang tidak ia ajak tidur, meskipun sedang mabuk.

***

Keesokan paginya, aku menuangkan jus jeruk ke dalam gelas besar lalu meminumnya satu teguk sambil mengayunkan kepalaku mengikuti alunan musik diponselku. Aku terbangun sebelum matahari terbit dan menggeliat dikursi hingga jam menunjukkan angka delapan. Setelah itu aku memutuskan membersihkan dapur untuk menghabiskan waktu hingga teman sekamarku yang ambisius itu terbangun. Aku memasukkan piring kotor ke dalam dishwasher lalu mengelap meja yang sempat kacau entah sejak kapan. Ketika dapur sudah bersih, aku mengambil sekeranjang baju bersih lalu duduk di sofa, melipatnya hingga ada beberapa lusin lebih tumpukan.

Terdengar suara bisikan dari arah kamar Jinki. Kibum cekikikan lalu hening beberapa saat, diikuti suara yang membuatku merasa sedikit tidak nyaman saat sedang duduk sendirian di ruang tamu.

Aku menyusun tumpukan baju yang telah dilipat ke dalam keranjang lalu membawanya kekamar Minho. Tersenyum ketika aku melihat bahwa ia tidak bergerak dari posisinya ketika tertidur tadi malam. Aku menurunkan keranjang ke bawah dan menarik selimut menutupinya, menahan tawa ketika ia berbalik.

“Pemandangan, Sweety,” katanya menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar sebelum napasnya kembali pelan dan dalam.

Aku tidak bisa menahan untuk memerhatikannya tidur; mengetahui ia memimpikanku mengirimkan getaran ke pembuluh darahku yang tidak dapat aku jelaskan. Minho terbaring diam, maka aku memutuskan untuk mandi, berharap suara orang yang sudah bangun dan ada di sekitarnya dapat menghentikan suara erangan Jinki dan Kibum serta suara berderit dan benturan tempat tidur pada dinding.

Ketika aku mematikan pancuran air, aku menyadari bahwa mereka tidak peduli siapa yang mendengar. Aku memutar mataku saat Kibum memekik dengan suara keras, yang lebih mirip suara anjing pudel daripada bintang porno. Bel pintu berbunyi lalu aku mengambil jubah handukku dan mengikatkan talinya. Berlari kecil melintasi lantai ruang tamu. Suara dari arah kamar Jinki langsung berhenti lalu aku membuka pintu dan melihat wajah Jungmo yang tersenyum.

“Selamat siang,” katanya. Aku menyisir rambut basahku dengan jari.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku tidak menyukai cara kita mengucapkan selamat tinggal tadi malam. Aku pergi keluar tadi pagi untuk membeli hadiah ulang tahunmu. Dan aku tidak sabar untuk memberikannya padamu. Jadi..” katanya sambil mengeluarkan kotak kecil yang sudah terbungkus kertas kado dari saku jaketnya. “Selamat ulang tahun, Darl.” Ia meletakkan kotak itu ditanganku dan aku mendekat untuk mencium pipinya.

“Terima kasih.”

“Ayo. Aku ingin melihat wajahmu saat kau membukanya.”

Aku memasukkan jariku ke bawah selotip di bawah kotaknya, lalu menarik lepas bungkus kertasnya dan memberikannya pada Jungmo. Sebuah untaian cantik gelang sederhana. Ada liontin berlian juga yang menggantung disana.

“Jungmo,” aku berbisik.

“Kau menyukainya?” tanyanya berseri-seri.

“Ya, aku menyukainya,” jawabku memegangnya di depan wajahku dengan kagum. “Tapi ini berlebihan. Aku tidak dapat menerimanya meskipun kita telah berkencan selama satu tahun, apalagi baru seminggu.”

“Aku tahu kau pasti berpikir begitu. Aku sudah kemana-mana sepanjang pagi untuk mencari hadiah ulang tahun yang sempurna. Dan ketika aku melihat ini, aku tahu hanya ada satu tempat yang tepat untuknya,” katanya mengambil dariku dan memasangkannya di pergelangan tanganku. “Dan aku benar. Itu terlihat sangat indah dipakai olehmu.”

Aku mengangkat pergelangan tanganku lalu menggelengkan kepala, terhipnotis oleh warna yang bereaksi terhadap sinar matahari. “Ini adalah benda yang paling indah yang pernah aku lihat. Tidak pernah seorang pun memberiku sesuatu yang sangat—” kata mahal terlintas dipikiranku, tapi aku tidak mengatakannya. “—rumit. Aku tidak tahu harus berkata apa.” Jungmo tertawa lalu mencium pipiku.

“Katakan kau akan memakainya besok.” Aku tersenyum lebar.

“Aku akan memakainya besok,” kataku sambil memandangi pergelangan tanganku.

“Aku senang kau menyukainya. Ekspresi wajahmu sebanding dengan tujuh toko yang aku datangi.”

“Kau mendatangi tujuh toko?” tanyaku menghela napas kaget. Ia mengangguk dan aku memegang wajahnya. “Terima kasih. Ini sempurna,” kataku sambil menciumnya. Ia memelukku dengan erat.

“Aku harus pergi. Aku akan makan siang dengan orang tuaku, tapi aku akan meneleponmu nanti, oke?”

“Baiklah. Terima kasih!” kataku berteriak ke arahnya. Memerhatikannya yang berlari kecil menuruni tangga. Aku langsung masuk ke dalam, tidak bisa berhenti memandangi pergelangan tanganku.

“Ya ampun, Taemin!” teriak Kibum memegang tanganku. “Dari mana kau mendapatkan ini?”

“Jungmo yang memberikannya padaku. Hadiah ulang tahun katanya.” Kibum ternganga mendengarnya, lalu melihat ke arah liontinnya.

“Ia memberikanmu berlian? Setelah seminggu? Jika aku tidak mengenalmu, aku akan mengira kau mempunyai selangkangan ajaib!”

Aku tertawa keras, memulai festival cekikikan konyol di ruang tamu. Jinki keluar dari kamarnya, kelihatan lelah.

“Apa yang kalian tertawakan disini?”

“Lihat! Hadiah ulang tahun dari Jungmo!” kata Kibum seraya mengangkat pergelangan tanganku.

“Wow!” responnya memincingkan mata lalu matanya terbuka lebar.

“Hebat, kan?” Kibum berkata sambil mengangguk.

Minho terhuyung keluar dari kamarnya, terlihat sedikit lelah. “Kalian sangat berisik,” keluhnya mengancingkan celana jin.

“Maaf,” kataku menarik tangan dari genggaman Kibum. Moment hampir-saja-Minho-melihatnya menyelinap dipikiranku. Dan aku tidak mampu menatap matanya.

“Siapa yang membiarkanku minum sangat banyak tadi malam?” kata Minho meminum habis sisa jus jerukku, lalu mengelap mulutnya.

“Kau. Kau pergi keluar dan membeli lima botol setelah Taemin pergi dengan Jungmo. Dan sudah menghabiskannya saat dia pulang,” jawab Kibum sambil menyeringai.

Shit!” umpatnya menggelengkan kepala. “Apa kau bersenang-senang?” tanyanya melihat kearahku.

“Apa kau serius?” aku berbalik tanya, memperlihatkan kemarahanku sebelum berpikir.

“Kenapa?”

“Kau menariknya keluar dari mobil Jungmo, terlihat memerah saat kau mengetahui mereka bercumbu seperti anak sekolah yang mabuk. Mereka membuat jendela beruap dan semuanya!” seloroh Kibum tertawa mengejek.

Mata Minho tidak fokus. Memindai ingatannya tentang yang terjadi tadi malam. Aku berusaha menahan amarahku. Jika ia tidak ingat menarikku keluar dari mobil Jungmo, maka ia tidak akan ingat aku hampir menyerahkan semua padanya.

“Seberapa kesalnya dirimu?” ia bertanya sambil meringis.

“Sangat kesal.” Aku lebih marah karena perasaanku tidak ada hubungannya dengan Jungmo. Aku mengikat tali jubahku lebih erat dan berjalan menelusuri lorong. Langkah Minho berada di belakangku.

“Sweety,” ia memanggilku. Menahan pintu ketika aku menutupnya di depan wajahnya. Ia perlahan mendorong pintu terbuka dan berdiri di depanku, menunggu untuk menerima kemarahanku.

“Apa kau ingat semua yang katakan padaku tadi malam?” tanyaku.

“Tidak. Kenapa? Apa aku kasar padamu?” Matanya memerah terlihat karena khawatir—yang hanya memperkuat kemarahanku.

“Dari mana ini?” tanyanya melihat kearah gelangnya.

“Ini punyaku,” jawabku menarik dari tangannya. Ia tidak melepaskan pandangannya dari pergelangan tanganku.

“Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini. Itu kelihatannya baru.”

“Benar.”

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Jungmo memberikannya padaku sekitar lima belas menit yang lalu,” kataku melihat wajahnya berubah dari kebingungan menjadi marah.

“Apa yang dilakukan orang brengsek itu disini? Apa dia menginap disini?” tanyanya dengan suara yang semakin tinggi pada setiap pertanyaan.

“Dia pergi berbelanja untuk mencari hadiah ulang tahun untukku, lalu membeli ini,” jawabku menyilangkan tangan di depan dada.

“Ini kan belum ulang tahunmu.” Wajahnya berubah menjadi merah saat ia berusaha mengontrol emosinya.

“Dia tidak tahan menunggu,” kataku mengangkat daguku dengan rasa bangga.

“Tidak heran aku harus menyeretmu keluar dari mobilnya, kedengarannya kalian sedang—” ia berhenti dan menekan bibirnya. Aku menyipitkan mataku.

“Apa? Kedengarannya aku sedang apa?”

Rahangnya menjadi tegang dan ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya melalui hidung. “Tidak sedang apa-apa. Aku hanya kesal dan tadi aku akan mengatakan hal yang buruk yang akan aku sesali.”

“Itu tidak pernah menghentikanmu sebelumnya.”

“Aku tahu. Aku sedang berusaha memerbaikinya,” katanya sambil melangkah menuju pintu. “Aku akan membiarkanmu berpakaian.”

Ketika ia meraih pegangan pintu, ia berhenti. Lalu menyentuh luka lebam berwarna ungu di kulitnya, ia mengangkat sikunya dan melihat. Ia memandanginya sesaat lalu melihat kearahku.

“Aku terjatuh di tangga tadi malam. Dan kau membantuku ke tempat tidur,” katanya menyaring semua gambaran yang samar dipikirannya. Jantungku berdebar, sulit untuk menelan ludah saat melihat kesadaran menyerangnya. Matanya menyipit. “Kita..” ia memulai, mengambil langkah kearahku lalu melihat kearah lemari dan ke tempat tidur.

“Tidak, kita tidak melakukannya. Tidak ada yang terjadi,” kataku menggelengkan kepala.

Ia meringis, ingatannya jelas berputar ulang di pikirannya. “Kau membuat jendela mobil Jungmo beruap. Aku menarikmu keluar, lalu mencoba untuk..” katanya menggelengkan kepala. Ia berbalik menuju pintu dan menarik pegangan pintu, telapak tangannya menjadi putih. “Kau membuatku menjadi seperti orang gila sialan, Taemin,” ia menggerutu. “Aku tidak berpikiran lurus ketika berada di dekatmu.”

“Jadi ini salahku?” Ia berbalik. Matanya menatapku lalu jubahku. Pahaku kemudian kakiku. Kembali ke mataku.

“Aku tidak tahu, ingatanku sedikit kabur. Namun, aku tidak ingat kau berkata tidak.” Aku melangkah maju, siap untuk berdebat tentang fakta kecil yang tidak relevan itu. Tapi aku tidak bisa. Ia benar.

“Apa yang kau ingin aku katakan, Minho?” Ia melihat kearah gelang lalu menatapku dengan pandangan menuduh.

“Kau berharap aku tidak akan mengingatnya?”

“Tidak! Aku sangat kesal bahwa kau lupa!” sergahku. Mata besar cokelatnya menatap mataku.

“Kenapa?”

“Karena jika aku telah—kita telah—dan kau tidak—aku tidak tahu kenapa! Pokoknya aku kesal!”

Ia bergegas menyeberangi ruangan, berhenti beberapa senti dariku. Tangannya menyentuh kedua sisi wajahku. Ia bernapas cepat saat mengamati wajahku.

“Apa yang sedang kita lakukan, Taemin?”

Mataku mulai memandang ikat pinggangnya, naik keatas kearah otot perut dan dadanya, lalu berakhir di mata cokelatnya yang hangat.

“Kau yang beritahu aku.”

-to be continued-

An : Sorry for very late update 😦 Ingin rasanya update dua chapter sekaligus, but I cant, ku tak berdaya mengetik sampai dua chapter. Diusahakan yang akan datang secepatnya update yaa 😉

Btw, happy birthday buat Kim Jonghyun-ssi!♥

 

Advertisements

22 thoughts on “The Bet : Love Begin #6

  1. Ria 2017-04-09 / 10:16 pm

    Tumben lama postnya.
    Sebenarnya kesal bnget ama sikapnya Taemin dsini.Dan Jungmo,ntah knp aku malah jadi gk suka ma dia.Minho terasa yg paling menyedihkan dsini.
    Hampir saja 2min melakukannya,dan anehnya Taemin tidak keberatan.Bukankah ia menyukai Jungmo? Taemin seolah egois,masak sama sekali gk peka sama perasaan Minho.Lebih baiknya Minho terus terang saja ke Taemin kalau dia mencintai Taemin.

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-09 / 10:26 pm

      Iya, maaf banget ya. Beberapa minggu kemarin kuliahnya ga bisa di skip, satu matkul bisa 3x seminggu yg normalnya cuma sekali seminggu. Jadi baru sempat nulisnya kemarin itu 😦 Maaf ya. Terima kasih juga masih berkunjung 😉

      Like

  2. Kimchil17 2017-04-09 / 8:38 pm

    Serius, kesel sama Taemin yang entah gimana kaya gak peka sama perlakuan Minho ke dia. Padahal Minho jaga banget Taemin, untuk ngelakuin hal lebih aja dia nahan2.

    Please, Jungmo enyahlah kau dari Taemin wkwk. Gak tega liat Minho yang terlalu pasrah

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-09 / 8:50 pm

      Berdoa aja semoga Minho dapat imbalan yang setimpal buat yang kata kamu ‘pasrah’ itu wkwkwk. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  3. SikhoSoo 2017-04-09 / 10:12 am

    Minho sabar banget nunggu taemin peka sama keadaan, taemin ga peka baget dari awal minho udah ngode tapi tetep ajah taemin milih jungmo, semoga minho lebih berani lagi buat ngungkapin perasaanya, tapi kalok alu liat sebenernya taemin lebih nyaman sama minho ketimbang sama jungmo, yah semoga 2min cepet dipersatukan, tetep semangat thor buat nulisnya

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-09 / 10:35 am

      Percayalah bahwa takdir mereka disini, aku yg bakal nulis. LOL. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  4. mala 2017-04-09 / 7:06 am

    2 jempol tangan 2 jempol kaki lah untuk kesabaran minho ngadepin taemin. Cintanya ke taemin besar banget ini loh padahal, hasratnya ke taemin juga besar banget, tapi atas dasar Cinta, dia bisa ngga ngelakuin hubungan lebih jauh sama taemin. Aura2nya si taemin udah mau menyerah ke minho deh ini. Lanjutin perjuangan mu choi xD

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-09 / 10:08 am

      Padahal si Choi ga berjuang apa-apa loh. Dia mah pasrah aja si Taemin mau gimana, lol. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  5. husniah nia 2017-04-09 / 6:01 am

    Behh Minho sabaaaaaar banget.
    Untuk seukuran Choi Minho mengnginkan *itu* pada saat mabuk tapi yahh Minho tidak melakukannya itu sangat luarrr biasa..

    Taemin.. tidak kah kau merasa kau sangat diharhai oleh Minho bahkan Minho sampai sedikit berterus terang menganai perasaanya bahwa dia akan gila jika tau kau telah melakukan*nya*. Sweety pangilan manis yang sesuai bagi Taemin karena bagaimana Minho menghargai Taemin tidak seperti wanita2 yg ditinggalkannya setalah berconta semalam.

    Kehadiran Jungmo dan berkencannya Jungmo dengan Taemin kalo menurut ku itu sebuah keuntungan wkwkwk yaa setidaknya disuatu hari Taemin akan bisa membandingkan bagiamana perasaannya antara saat bersama Minho dan Jugmo.

    Taemin sangat tahu seprtinya jika Minho sangat menginginkanya dan yahh bahkan seoarmag Lee Taemin yg masih menjaga hmmm itu kesucian? Nya hampir saja menyerahkan *semuanya* pada Minho tapi yahh kembali lagi Minho sangat menghargai Taemin sehingga Minho pun masih bisa mengendalikan dirinya meskipun dalam keadaan mabuk setelah minum 5 botol 😯

    Aku kasian masa .. sama Minho kenapa Minho begitu sabar?? Apa kareana cinta? Rasa cintanya pada Taemin sehingga membuat Minho yang begitu.

    Apa pun itu yg kutahu Minho sangat mencintai Taemin tapi Taemin sedikit kurang melihat itu atau mungkin Taemin tidak tertarikpadanya wait.. tapi Taemin hampir memberikan *semuanya* pada Minho …
    Mereka sanhat rumit dan semakin rumit pada saat nanti Taemin mencintai Minho pada akhirnnya dalam keadaan Jungmo yg masi berkencan dengannya. Semoga itu tidak terjadi.

    Ditunggu lanjutannya yaa 😄😄😐😄

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-09 / 10:06 am

      Your comment is so long , I dont expect that before. I think, just believe at your side to save you from this complicated story lol. Soal terjadi apa enggaknya, ditunggu aja chapter selanjutnya yaa. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Liked by 1 person

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s