The Bet : Love Begin #7

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |

-cue-

“Taemin,” Jinki memanggilku, mengetuk pintu. “Kibum akan pergi mengurus sesuatu, dia ingin aku memberitahumu jika kau ingin ikut pergi.”

“Sweety?” Minho tidak melepaskan pandangannya dariku.

“Ya, aku akan ikut,” kataku pada Jinki. “Aku punya beberapa urusan yang harus aku selesaikan.”

“Baiklah, dia siap pergi kalau kau sudah siap,” kata Jinki. Suara langkahnya menghilang di lorong.

“Sweety?”

“Bisakah kita membicarakannya nanti? Aku punya banyak urusan yang harus diselesaikan hari ini,” kataku seraya menarik beberapa barang dari dalam lemari dan berjalan melewati Minho.

“Tentu,” katanya tersenyum, senyum yang dibuat-buat.

Aku lega saat masuk kamar mandi, langsung menutup pintu di belakangku. Aku masih punya dua minggu lagi untuk tinggal di rumah ini dan tidak mungkin menunda membahas permasalahan ini selama itu. Sisi logis pikiranku bersikeras bahwa Jungmo adalah tipeku; menarik, pintar, dan tertarik padaku. Kenapa aku merasa peduli pada Minho adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti.

Apapun alasannya, itu membuat kami berdua menjadi gila. Aku terbagi menjadi dua manusia yang berbeda; seorang yang sopan dan penurut saat bersama Jungmo, dan menjadi pemarah, bingung, dan frustasi saat berada di dekat Minho. Seluruh kampus telah melihat Minho yang tidak bisa ditebak menjadi hampir mendekati periang.

Aku bersiap dengan cepat, meninggalkan Minho dan Jinki untuk pergi ke pusat kota dengan Kibum. Ia tertawa cekikikan saat menceritakan tentang seks anehnya dengan Jinki tadi pagi. Dan aku mendengarkan sambil mengangguk pada setiap saat yang tepat. Sangat sulit untuk fokus pada topik pembicaraan saat berlian di pergelangan tanganku menciptakan titik-titik kecil cahaya di atap mobil, mengingatkanku akan pilihan yang harus aku hadapi. Minho menginginkan jawaban dan aku tidak memiliki jawabannya.

Okay, Taemin. Apa yang sedang kau pikirkan? Kau jadi pendiam.”

“Masalahku dengan Minho.. sangat kacau.”

“Kenapa?” tanyanya. Kacamata hitam yang menghiasi hidung bangirnya terdorong ke bawah saat ia mengerutkan dahinya.

“Dia bertanya padaku apa yang terjadi diantara kami.”

“Ada apa diantara kalian? Bukannya kau dengan Jungmo?”

“Aku menyukainya, tapi ini baru seminggu. Kami belum terlalu serius.”

“Kau menyukai Minho, bukan?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya. Aku hanya tahu itu tidak akan terjadi, Kibum-ah. Ia punya terlalu banyak hal yang buruk.”

“Salah satu diantara kalian harus ada yang mengutarakannya lebih dulu, itu masalahnya. Kalian berdua sangat takut pada apa yang akan terjadi sehingga kalian melawan perasaan itu mati-matian. Aku yakin kalau kau melihat ke dalam mata Minho dan mengatakan padanya kalau menginginkannya, dia tidak akan pernah lagi melirik orang lain.”

“Apa kau yakin?”

“Ya. Aku punya sumber orang dalam, ingat?”

Aku terdiam sambil berpikir beberapa saat. Minho telah memberitahu Jinki tentangku, tapi Jinki tidak mendukung hubungan ini dengan cara tidak memberitahu Kibum. Ia tahu Kibum akan memberitahuku, menuntunku pada satu kesimpulan; Kibum tidak sengaja telah mendengar pembicaraan mereka. Aku ingin menanyakan apa saja yang mereka katakan, tapi lebih baik tidak.

“Aku pasti akan patah hati,” kataku menggelengkan kepala. “Kupikir dia tidak akan pernah bisa setia.”

“Dia juga dulu tidak bisa memelihara suatu hubungan dengan seseorang, tapi kalian berdua telah membuat seluruh universitas terkejut.”

Aku menyentuh gelang dengan jariku lalu menghela napas. “Aku tak yakin. Aku tidak keberatan dengan keadaan seperti sekarang. Kami hanya bisa berteman.”

Kibum menggelengkan kepala. “Tapi kalian bukan hanya sekedar teman,” katanya menghela napas. “Kau tahu, aku sudah muak membicarakan ini. Ayo kita memanjakan tubuh dan menata penampilan. Aku akan membelikanmu pakaian baru untuk pesta ulang tahun nanti.”

“Kupikir itu memang yang aku butuhkan,” sahutku tersenyum.

***

“Nah itu Taemin yang aku tahu dan sayangi!” ia tertawa, menggelengkan kepalanya melihat penampilanku.

“Kau harus memakai baju itu besok.”

“Bukankah dari tadi memang itu rencananya?” tanyaku menyeringai. Teleponku berdering dari dalam tas yang aku bawa tadi dan aku mengangkatnya ke telingaku. “Ya?”

“Waktunya makan malam! Kalian berdua pergi kemana?” kata Minho.

“Kami sedikit memanjakan diri. Kau dan Jinki kan tahu bagaimana caranya untuk makan sebelum bertemu dengan kami. Aku yakin kalian bisa melakukannya.”

Well, yang benar saja. Kami mengkhawatirkan kalian, kau tahu.”

Aku melihat ke arah Kibum lalu tersenyum. “Kami baik-baik saja.”

“Katakan padanya aku akan mengantarmu pulang sebentar lagi. Aku akan ke apartemen Jongin dulu sebentar untuk mengambil catatan untuk Jinki, lalu kita akan pulang,” kata Kibum.

“Kau dengar itu?” tanyaku dengan orang di seberang telepon.

“Ya. Sampai bertemu nanti, Sweety.”

Kami menuju apartemen Jongin dalam keheningan. Kibum mematikan mesin mobil, menatap ke arah gedung apartemen di depan. Aku heran kenapa Jinki meminta Kibum untuk mampir ke apartemen Jongin, padahal jaraknya hanya satu blok dari rumah mereka.

“Kenapa, Kibum-ah?”

“Jongin membuatku takut. Terakhir kali aku kemari dengan Jinki, dia merayuku.”

Well, aku akan masuk bersamamu. Jika dia terus mengedipkan matanya padamu, aku akan menusuk matanya dengan jariku, oke?”

Kibum tersenyum dan memelukku. “Terima kasih, Taemin!”

Kami berjalan ke dalam gedung, beruntung berada di lantai dasar, jadi tidak perlu naik lift. Kibum menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Kami menunggu, namun tidak ada orang yang datang.

“Aku kira dia tidak ada di sini?” tanyaku.

“Dia ada di sini,” kata Kibum sedikit kesal. Ia memukul pintu kayu dengan kepalan tangannya dan pintu pun terbuka.

“SELAMAT ULANG TAHUN!” teriak semua orang di dalam.

“Tapi ulang tahunku kan besok,” kataku. Masih terkejut, aku mencoba tersenyum pada semua orang.

Well, karena ada yang membocorkannya padamu, kami harus membuat perubahan dimenit-menit terakhir untuk memberimu kejutan. Terkejut?”

“Sangat!” kataku saat Jonghyun memelukku.

“Selamat ulang tahun, My Baby!” kata Jonghyun sambil mencium pipiku.

“Beruntung aku mengajakmu pergi untuk menyelesaikan beberapa urusan hari ini atau kau akan datang kemari dengan penampilan berantakan,” kata Kibum menyikutku dengan sikunya.

“Kau terlihat sangat memesona,” kata Minho memerhatikan pakaianku.

“Dan aku harap kau tahu yang Kibum katakan tentang Jongin-membuatku-takut adalah hanya agar kau datang kemari,” kata Jongin memelukku.

“Itu berhasil, iya bukan?” tanyaku memandang Kibum dan ia tertawa.

Setelah semua orang bergantian memeluk dan mengucapkan selamat ulang tahun padaku, aku mendekati Kibum dan berbisik di telinganya. “Dimana Jungmo?”

“Dia akan datang nanti,” katanya berbisik. “Jinki tidak dapat menghubunginya melalui telepon untuk memberitahunya hingga sore ini.”

Jongin memutar volume di stereo menjadi lebih kencang dan semua orang berteriak. “Ayo ke sini, Taemin!” katanya berjalan menuju dapur. Ia menyusun sloki sepanjang meja dan mengeluarkan satu botol tequila dari lemari. “Ini hadiah ulang tahun dari tim sepakbola,” ia tersenyum mengisi penuh semua sloki dengan tequila. “Ini cara kami merayakan ulang tahun; kau berumur dua puluh satu, maka kau meminum dua puluh satu sloki. Kau dapat meminumnya atau memberikannya pada orang lain, tapi semakin banyak kau minum, semakin banyak kau mendapatkan ini,” katanya mengipaskan setumpuk uang.

“Ya Tuhan!” kataku memekik.

“Minum saja semua, Sweety!” kata Minho.

“Aku mendapat 10.000 won setiap sloki yang aku minum?” aku menatap Jongin curiga.

“Ya benar, enteng. Melihat ukuranmu, kupikir kami hanya akan kehilangan 30.000 won sampai tengah malam nanti.”

“Pikirkan lagi, Jongin-ssi,” kataku mengambil sloki pertama. Memutarnya di depan bibirku, mendongakkan kepalaku untuk mengosongkan gelas, lalu menelannya sampai habis dan menjatuhkan gelas itu ke tanganku yang lainnya.

“Astaga!” seru Minho.

“Ini akan sangat mudah, Jongin,” kataku mengelap sudut mulutku. “Kau menuangkan Cuervo bukan Petron.”

Senyum sombong Jongin menghilang perlahan dan ia menggelengkan kepala lalu mengangkat bahu. “Maka kau akan mendapatkannya setelah ini. Aku punya semua dompet kedua belas pemain sepakbola yang mengatakan kau tidak akan mencapai sepuluh sloki.”

“Gandakan atau tidak sama sekali apabila aku bisa menghabiskan lima belas sloki.” Aku memincingkan mataku.

“Sebentar,” sahut Minho meninggikan suaranya. “Kau tidak boleh masuk rumah sakit pada hari ulang tahunmu, Taemin!”

“Dia sanggup meminumnya,” kata Kibum santai menatap kearah Jongin.

“20.000 won setiap sloki?” tanya Jongin tak yakin.

“Kau takut?” tantangku.

“Tentu saja tidak! Aku akan memberimu dua belas sloki. Dan ketika kau minum lima belas, aku akan menggandakan totalnya.”

“Begitulah cara Jeju merayakan ulang tahun,” kataku sambil menenggak sloki berikutnya.

Satu jam dan tiga sloki berikutnya. Aku berada di ruang tamu sedang berdansa dengan Minho. Diiringi lagu rock ballad dan Minho mengatakan sesuatu tanpa suara padaku saat kami berdansa. Ia memiringkanku ke belakang pada chorus pertama dan aku membiarkan tanganku jatuh di belakangku. Ia menarikku lagi ke atas dan aku menghela napas.

“Kau tidak boleh melakukan itu ketika aku sudah minum dua digit sloki,” aku tersenyum cekikikan.

“Apa aku sudah bilang kalau kau terlihat sangat cantik malam ini?”

Aku menggelengkan kepala dan memeluknya. Meletakkan kepalaku di bahunya. Ia mengeratkan pegangannya dan memendamkan wajahnya di leherku, membuatku lupa tentang keputusan atau gelang atau dua kepribadianku yang berbeda; berada di tempat yang aku inginkan.

Ketika musik berganti menjadi lebih keras, pintu terbuka. “Jungmo!” teriakku berlari memeluknya. “Kau datang juga!”

“Maafkan aku terlambat, Darl,” katanya mencium bibirku. “Selamat ulang tahun.”

“Terima kasih,” kataku melihat Minho yang sedang memandang ke arah kami dari ujung mataku.

“Kau memakainya?” kata Jungmo seraya mengangkat pergelangan tanganku.

“Aku kan sudah bilang akan memakainya. Mau berdansa?”

“Hm.. Aku tidak berdansa,” ujarnya menggelengkan kepala.

“Oh. Well kau ingin melihatku meminum sloki keenam tequila?” aku tersenyum memerlihatkan uangku yang aku dapat tadi setelah minum lima sloki. “Aku akan mendapatkan double jika aku meminum lima belas sloki.”

“Bukankah itu sedikit berbahaya?”

“Aku benar-benar memperdaya mereka. Aku telah memainkan permainan ini sejak berumur belasan tahun bersama ayahku,” kataku mendekat ke telinganya.

“Oh,” katanya mengerutkan dahi karena tidak menyukainya. “Kau meminum tequila bersama ayahmu?”

“Itu caranya untuk mempererat ikatan.”

Jungmo tampak tidak terkesan saat matanya mengalihkan perhatiannya dariku ke arah kerumunan orang. “Aku tidak bisa lama. Aku akan pergi berburu dengan ayahku besok pagi.”

“Untung pestanya malam ini, kalau besok kau pasti tidak bisa datang,” kataku terkejut mendengar rencananya. Ia tersenyum dan memegang tanganku.

“Aku akan mengusahakan pulang pada waktunya.”

Aku menariknya ke meja, mengangkat sloki berikutnya dan meminumnya. Membantingnya berbalik di atas meja setelah semua isinya kosong seperti yang sudah aku lakukan lima sloki sebelumnya. Jongin menyerahkan 10.000 won lagi padaku dan aku menari menuju ruang tamu. Minho menarikku dan kami berdansa dengan Kibum dan Jinki.

“Satu!” Jinki memukul pantatku. Kibum menambahkan pukulan keras kedua di pantatku, lalu semua orang bergabung kecuali Jungmo.

Pada hitungan ke dua puluh satu, Minho menggosok-gosokkan tangannya. “Giliranku!”

“Pelan-pelan. Pantatku sakit.” Aku mengusap pantatku yang terasa panas.

Dengan seringai jahat, ia mengangkat tangannya jauh ke atas bahunya. Aku menutup rapat mataku. Beberapa saat kemudian, aku membukanya lagi sedikit. Tepat sebelum tangannya menyentuh pantatku, ia berhenti dan memberiku pukulan pelan.

“Dua puluh satu!” ia berseru.

Semua tamu bersorak dan Kibum mulai menyanyikan lagu Happy Birthday sambil mabuk. Aku tertawa saat bagian menyebutkan namaku, semua orang mengatakan “Taemin”.

Lagu pelan lainnya mengalun dari stereo dan Jungmo menarikku ke lantai dansa yang dibuat seadanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui alasan mengapa Jungmo tidak berdansa.

“Maaf,” katanya setelah menginjak kakiku untuk ketiga kalinya. Aku meletakkan kepalaku di bahunya.

“Kau berdansa cukup bagus,” kataku berbohong.

“Kau punya rencana Senin malam nanti?” tanyanya seraya mencium pelipisku.

“Pergi makan malam denganmu?”

“Ya. Di apartemen baruku.”

“Kau sudah menemukannya!”

Ia tertawa dan mengangguk. “Tapi kita akan memesan makanan. Masakanku tidak bisa dimakan.”

“Aku akan memakannya bagaimanapun juga.” Aku tersenyum padanya.

Jungmo memandang sekilas ke sekeliling ruangan lalu menuntunku ke lorong. Ia dengan lembut menekanku ke tembok, menciumku dengan bibirnya. Tangannya kemana-mana. Awalnya aku mengikuti, namun saat lidahnya menyusup ke dalam bibirku, aku dengan jelas merasakan bahwa aku telah melakukan kesalahan.

“Oke, Jungmo,” ujarku menghentikannya.

“Semua baik-baik saja, bukan?”

“Kupikir tidak sopan jika aku bercumbu denganmu di pojokan yang gelap, sedangkan aku memiliki tamu di sana.”

Ia tersenyum lalu menciumku lagi. “Kau benar, maafkan aku. Aku hanya ingin memberikanmu ciuman ulang tahun yang tak akan terlupakan sebelum aku pergi.”

“Kau akan pergi?”

“Aku harus sudah bangun tidur dalam waktu empat jam, Darl,” katanya menyentuh pipiku.

“Baiklah. Kita akan bertemu hari Senin?”

“Kau akan bertemu denganku besok. Aku akan mampir saat pulang nanti.”

Ia menuntunku ke pintu lalu mencium pipiku sebelum ia pergi. Aku menyadari Jinki, Kibum, dan Minho sedang memandang ke arahku.

Ayah sudah pergi!” teriak Minho ketika pintu ditutup. “Waktunya pesta ini dimulai!” Semua orang bersorak dan Minho menarikku ke tengah ruangan.

“Tunggu sebentar. Aku punya jadwal,” kataku menuntunnya ke meja. Aku menghabiskan satu minuman lagi dan tertawa ketika Minho juga mengambil satu yang di ujung. Menenggaknya hingga habis. Aku mengambil satu lagi lalu meneguknya. Ia juga melakukan hal yang sama.

“Tujuh gelas lagi, Taemin,” kata Jongin menyerahkan 20.000 won padaku.

Aku mengelap mulutku saat Minho menarikku kembali ke ruang tamu. Aku berdansa dengan Kibum, lalu Jinki, namun ketika aku akan berdansa dengan salah satu anggota tim sepakbola, Minho menarik bajunya ke belakang dan menggelengkan kepala. Akhirnya ia berbalik dan berdansa dengan seorang wanita yang pertama ia lihat.

Minuman yang kesepuluh memukul dengan keras dan aku merasa sedikit pusing saat berdiri di atas sofanya Jongin bersama Kibum, berdansa seperti anak sekolahan yang ceroboh. Kami cekikikan tanpa sebab, melambaikan tangan mengikuti alunan musik.

Aku terhuyung hampir terjatuh ke belakang dari sofa, namun tangan Minho selalu di pinggangku untuk memegangi. “Kau sudah membuktikan maksudmu,” katanya. “Kau mabuk lebih dari semua orang di sini. Aku akan menghentikannya.”

“Persetan, kalau kau berani,” aku berbicara dengan tidak jelas. “Aku punya banyak uang yang menunggu di bawah sloki-sloki itu dan semua orang, termasuk kau, tidak boleh melarangku melakukan sesuatu yang ekstrim untuk uang.”

“Jika kau begitu kesulitan finansial, Taemin.”

“Aku tidak akan meminjam uang darimu,” kataku menyeringai.

“Aku tadinya akan menyarankan untuk menggadaikan gelang itu.” Aku memukul tangannya saat Kibum mulai berhitung mundur menuju tengah malam. Ketika jarumnya menunjukkan jam dua belas, kami semua berpesta.

Aku sekarang dua puluh satu tahun.

Kibum dan Jinki masing-masing mencium satu pipiku dan Minho mengangkatku ke atas lalu memutarku. “Selamat ulang tahun, Sweety,” katanya dengan ekspresi yang lembut.

Aku menatap matanya yang hangat untuk beberapa saat, merasa tersesat di dalamnya. Waktu seperti berhenti di ruangan ini saat kami saling menatap. Sangat dekat sehingga aku dapat merasakan napasnya di kulitku.

“Minum,” kataku terhuyung ke meja.

“Kau sudah sangat mabuk, Taemin. Aku pikir sudah waktunya untuk menghentikannya,” kata Jongin.

“Aku bukan orang yang mudah menyerah,” kataku. “Aku ingin melihat uangku.”

Jongin meletakkan uang 20.000 won di bawah dua sloki terakhir, lalu ia berteriak pada teman satu timnya. “Dia akan meminum semuanya! Aku butuh 150.000 won!”

Mereka semua mengerang dan memutar mata mereka, mengeluarkan dompetnya untuk menyusun setumpuk uang di belakang sloki terakhir. Minho sudah menghabiskan enam sloki lainnya yang tersisa di luar lima belas sloki minumanku.

Aku menenggak masing-masing sloki dan menunggu agar muntahanku yang naik ke tenggorokan untuk turun kembali.

“Taemin?” tanya Minho mendekat satu langkah ke arahku. Aku mengangkat jariku dan Jongin tersenyum.

“Dia akan memuntahkannya,” kata Jongin.

“Tidak, tidak akan,” Kibum menggelengkan kepala. “Tarik napas panjang, Taemin.” Aku menutup mataku lalu menarik napas, menghabiskan sloki terakhirku.

“Sialan, Taemin! Kau akan mati karena keracunan alkohol!” teriak Jinki.

“Dia tidak akan apa-apa,” kata Kibum meyakinkannya.

Aku mendongakkan kepalaku ke belakang dan membiarkan tequila mengalir turun di tenggorakanku. Gigi dan mulutku sudah mati rasa sejak sloki kedelapan dan efek dari kadar alkohol 40 persen menendang jauh sebelum itu. Suasana pesta meledak menjadi suara siulan dan teriakan saat Jongin menyerahkan setumpuk uang padaku.

“Terima kasih,” kataku dengan bangga, menyelipkan uang ke dalam saku di pantatku.

“Kau benar-benar sangat cantik sekarang,” kata Minho di telingaku saat kami berjalan ke ruang tamu. Kami berdansa sampai pagi dan tequila yang mengalir di pembuluh darahku berkurang dan terlupakan.

-to be continued-

An: Okay, I know it is pretty short for y’all. Sorry then 😉

 

Advertisements

19 thoughts on “The Bet : Love Begin #7

  1. SikhoSoo 2017-04-21 / 10:38 am

    Berharap minho bisa ngerubah fikiranya taemin, biar 2min bisa bersatu aku ngerasa kalok jungmo cuman mau sama badanya taemin ajah deh, hayuk min liat minho tuh tang dayang banget sama kamu, yg setiap saat ada buat kamu

    Like

  2. kiki 2017-04-19 / 12:44 pm

    aku baru baca ini dan langsung baca dr part 1-7. kkkkkk
    2min nya ngeselin sumpah. ngaku aja kalo saling suka knp sih. mimhonya kan suda berubah juga. dan jungmo kpn kelarnya sama si taemin ini. grrrrr

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-19 / 3:43 pm

      Wah marathon ya? Semoga hati kamu tidak terkontaminasi ya :’) Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  3. Ria 2017-04-18 / 10:39 pm

    Gk suka sama karakternya Taemin dsini.Gk suka juga sama cara mereka ngerayain pesta ultahnya.
    Minho sama Taemin tetap gitu2 aja.Blm ada perubahan.Benar kata Kibum,salah satu dari mereka harus mengungkapkannya.

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-19 / 7:05 am

      Tenang ajaa, masih ada hubungannya sama chapter yang akan datang ko bad habit mereka ^^ Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  4. choi jenong 2017-04-18 / 7:52 am

    its too short…

    “Sisi logis pikiranku bersikeras bahwa Jungmo adalah tipeku; menarik, pintar, dan tertarik padaku. Kenapa aku merasa peduli pada Minho adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku mengerti.” cinta itu kdg gak butuh logika tae…

    “Salah satu diantara kalian harus ada yang mengutarakannya lebih dulu” bener yg di blg kibum….

    jungmo kok agak gmn gitu ya pas taemin ceritain kebiasaan.ny waktu di jeju…rasa.ny dia disini ky gak beneran suka sm taemin….

    beneran gak suka bgt sm jungmo disini…dia tuh sooook bgt…

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-18 / 9:55 am

      Sorry for that. I have no time to write long story. Iya tuh, Tae, coba deh dengerin lagunya Agnez Mo, kamu pasti bakalan sadar /ga. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  5. Kimchil17 2017-04-18 / 7:45 am

    Serius, kapan sih jungmo sama taemin berakhir. 😬

    Aku menunggu detik2 Minho dan Taemin saling jujur kalau mereka saling suka , kenapa terlalu bingung untuk perasaan mereka sebenarnya 😡😡😡😡

    Like

    • nad (bluesch) 2017-04-18 / 9:52 am

      Karena keadaan, jadi mereka enggan buat saling jujur. Ku pun ikut sedih mereka jadi begini duh. Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

      • Kimchil17 2017-04-18 / 5:49 pm

        Ku menunggu mereka bersatu, aku mohon authornim. Bikin mereka bersatu #2minshipperbanyakmaunya😂😂😂😂😂

        Like

      • nad (bluesch) 2017-04-18 / 7:49 pm

        Percayalah, aku juga ingin mereka bersatu :’)

        Like

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s