The Bet : Love Begin #8

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |


-cue-

Ketika akhirnya mataku terbuka, aku melihat bahwa aku tidur beralaskan kaki yang memakai celana jin. Minho duduk bersandar pada tub dan kepalanya ke tembok, tidur meringkuk kedinginan. Ia terlihat sama parahnya denganku. Aku melepas selimutku lalu berdiri, tersentak melihat bayanganku yang menakutkan dalam cermin di atas wastafel.

Aku terlihat seperti mayat.

Wajah pucat pasi, mata bengkak, kantung mata yang begitu besar, dan rambut yang berantakan.

Ada sprei, handuk, dan selimut di sekeliling Minho. Ia membuat alas empuk untuknya tidur sementara aku memuntahkan lima belas sloki tequila yang aku minum tadi malam. Minho memijat punggungku dan duduk bersamaku sepanjang malam.

Aku menyalakan kran air dan menahan tanganku di bawah air hingga temperaturnya sesuai dengan yang aku inginkan. Menggosok wajah kusutku, lalu aku mendengar erangan dari lantai. Minho bangun, menggosok matanya, menggeliat dan melihat ke sebelahnya, ia tersentak panik.

“Aku di sini,” kataku. “Kenapa kau tidak pergi ke kamar saja untuk tidur lagi?”

“Kau baik-baik saja?” tanyanya mengusap matanya sekali lagi.

“Ya, aku baik-baik saja. Well, sebaik yang aku bisa. Aku merasa lebih baik setelah mandi nanti.”

“Kau sangat hebat tadi malam, asal kau tahu. Aku tak tahu dari mana asalnya, tapi aku tidak ingin kau melakukannya lagi,” katanya seraya berdiri.

“Aku sudah terbiasa, Minho. Bukan masalah besar bagiku.”

Ia memegang pipiku dengan tangannya yang panjang, lalu menghapus sisa air setelah aku membasuh wajah tadi dengan ibu jarinya. “Itu masalah besar bagiku.”

“Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Puas?”

“Ya. Aku akan memberitahumu sesuatu, tapi janji kau tidak akan panik.”

Oh my God, apa yang telah aku lakukan?”

“Kau tidak melakukan apapun, tapi kau harus menelepon Kibum.”

“Dimana dia?”

“Di asrama. Ia bertengkar dengan Jinki tadi malam.”

***

Aku mandi dengan tergesa-gesa dan memakai baju yang sudah Minho siapkan untukku di atas wastafel. Ketika aku keluar dari kamar mandi, Jinki dan Minho sedang duduk di ruang tamu.

“Apa yang telah kau lakukan padanya?”

Wajah Jinki tampak sedih. “Dia sangat marah padaku.”

“Apa yang terjadi?”

“Aku marah padanya karena menyuruhmu untuk minum sebanyak itu. Kupikir kita akan berakhir membawamu ke rumah sakit. Satu hal mengarah ke hal lainnya, dan selanjutnya yang aku tahu kami saling berteriak. Kami berdua mabuk, Taemin. Aku mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku tarik kembali,” ia menggelengkan kepala menunduk.

“Seperti apa?”

“Aku menyebutnya sesuatu yang tidak aku banggakan lalu menyuruhnya pergi.”

“Kau membiarkannya pergi dari sini dalam keadaan mabuk? Apa kau idiot?” kataku lalu mengambil tas.

“Tenang, Taemin. Dia sudah cukup merasa bersalah,” kata Minho mencoba menenangkanku.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan menghubungi nomor Kibum. “Halo?” ia menjawabnya dan terdengar sangat kacau.

 “Aku baru saja mendengarnya,” aku mengela napas. “Apa kau baik-baik saja?” aku berjalan ke luar untuk mendapatkan privasi dan sekali lagi melihat ke arah Jinki dengan tatapan marah.

Aku baik-baik saja. Dia brengsek,” kata-katanya kasar tapi aku bisa mendengar rasa sakit dalam suaranya. Kibum ahli dalam menyembunyikan emosinya, dan ia dapat menyembunyikannya dari semua orang kecuali aku.

“Maafkan aku tidak pergi bersamamu.”

Kau sedang tidak bisa, Taemin,” katanya dengan acuh.

“Kenapa kau tidak menjemputku sekarang? Kita bisa bicarakan masalah ini.”

Ia bernapas kearah telepon. “Aku tidak mau. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.

“Aku akan menyuruhnya agar tetap di dalam kalau begitu.”

Ia terdiam cukup lama, lalu aku mendengar suara kunci di telepon. “Baiklah. Aku akan tiba di sana dalam lima belas menit.

Aku masuk ke ruang tamu, mengaitkan tas di punggungku. Mereka mengamatiku membuka pintu untuk menunggu Kibum, dan Jinki bergeser ke depan di atas sofa.

“Dia akan datang kemari?”

“Dia tidak ingin bertemu denganmu, Jinki-ya. Aku bilang padanya kalau kau akan tetap di dalam.”

Ia mengela napas dan menjatuhkan diri ke kursi. “Dia membenciku.”

“Aku akan berbicara dengannya. Tapi sebaiknya kau punya cara yang hebat untuk meminta maaf.”

***

Lima belas menit kemudian, suara klakson mobil berbunyi dua kali di luar dan aku menutup pintu di belakangku.

Ketika aku tiba di dasar tangga, Jinki melewatiku dengan cepat menuju mobil Kibum dan membungkuk untuk melihat ke dalam jendela mobil. Aku berhenti melihat Kibum mengumpat pada Jinki sambil menatap lurus ke depan. Ia menurunkan jendelanya dan Jinki terlihat sedang menjelaskan, lalu mereka mulai berdebat. Aku masuk ke dalam untuk memberi mereka privasi.

“Sweety?” Minho memanggilku sambil berlari kecil menuruni tangga.

“Terlihat buruk.”

“Biarkan mereka menyelesaikannya, ayo kita masuk,” katanya dengan jarinya meraih jariku dan menuntunku ke atas.

“Apakah seburuk itu?” tanyaku.

“Lumayan buruk. Mereka baru saja keluar dari masa bulan madu. Mereka akan menyelesaikannya,” jelasnya seraya menganggukkan kepala.

“Untuk seseorang yang tidak pernah mempunyai pacar, kau tampak seperti tahu banyak tentang suatu hubungan.”

“Aku punya seorang saudara laki-laki dan teman yang banyak,” katanya menyeringai pada dirinya sendiri.

Jinki masuk ke dalam rumah lalu membanting pintu di belakangnya. “Tidak masuk akal!”

Aku mencium Minho di pipi. “Itu tandaku.”

“Semoga berhasil,” katanya tersenyum.

Aku meluncur duduk di samping Kibum dan ia mendengus. “Dia sangat tidak masuk akal!”

Aku tertawa, namun ia melotot ke arahku. “Maaf,” kataku memaksa senyumku agar menghilang.

Kami bersiap-siap untuk pergi dan Kibum berteriak, menangis lalu berteriak lagi. Terkadang ia mengeluarkan kata-kata umpatan yang ditujukan untuk Jinki, seolah ia duduk di tempatku. Aku duduk dengan tenang  membiarkannya mengatasi dengan caranya sendiri.

“Dia menyebutku tidak bertanggung jawab! Padaku! Seperti aku tidak mengenalmu! Seperti aku tak pernah melihatmu mencuri wine milik ayahmu yang berharga ratusan ribu won! Dia tak tahu apa yang dia bicarakan! Dia tak tahu bagaimana kehidupanmu dulu! Dia tak tahu apa yang aku tahu dan dia memperlakukanku seperti aku adalah anaknya, bukan kekasihnya!” Aku memegang tangannya namun ia menariknya menjauh. “Dia pikir kau yang akan menjadi alasan hubungan kami tidak akan berjalan dengan baik, tapi justru dia yang melakukannya sendiri. Dan berbicara tentang dirimu, apa yang kau pikirkan tadi malam bersama Jungmo?”

Pergantian topik pembicaraan yang tiba-tiba membuatku terkejut. “Apa maksudmu?” tanyaku seraya mengerutkan kedua alis.

“Minho mengadakan pesta untukmu, Taemin. Tapi kau malah pergi dan bercumbu dengan Jungmo. Dan kau heran kenapa orang lain membicarakanmu!”

“Tunggu sebentar! Aku memberitahu Jungmo bahwa kami tidak seharusnya melakukan di belakang sana. Apa masalahnya jika Minho mengadakan pesta itu untukku atau bukan? Aku tidak berpacaran dengannya!” Kibum menatap lurus ke depan lalu mengembuskan udara dari hidungnya. “Baiklah, Kibum. Ada apa? Kau marah padaku sekarang?”

“Aku tidak marah padamu. Aku hanya tidak kebal dengan orang yang benar-benar idiot.”

Aku menggelengkan kepala lalu melihat keluar jendela sebelun aku mengatakan sesuatu yang akan aku sesali. Kibum selalu bisa membuatku merasa buruk saat ia menginginkannya.

“Apa kau benar-benar melihat apa yang terjadi?” tanyanya. “Minho berhenti bertarung. Dia tidak membawa seseorang pulang. Dan kau mengkhawatirkan tentang apa yang dibicarakan orang lain. Kau tahu kenapa itu, Taemin? Karena itu adalah kebenaran!”

Aku berpaling, menjulurkan leherku dengan pelan ke arahnya, mencoba untuk memberikan tatapan paling marah yang aku tahu padanya. “Ada apa denganmu?”

“Kau berkencan dengan Jungmo, sekarang, dan kau sangat bahagia,” katanya dengan nada menghina. “Tapi kenapa kau tidak pulang ke asrama?”

“Karena aku kalah taruhan, kau tahu itu!”

“Yang benar saja, Taemin! Kau bicara tentang betapa sempurnanya Jungmo, kencanmu dengannya selalu sempurna, bicara dengannya berjam-jam di telepon, lalu kau tidur di samping Minho setiap malam. Kau melihat apa yang salah dengan situasi ini? Jika kau benar-benar menyukai Jungmo, semua barang-barangmu sudah akan berada di asrama sekarang.”

Gigiku terkatup dengan rapat. “Kau tahu aku tidak pernah lari saat kalah taruhan, Kibum-ah.”

“Itu yang harus dipikirkan,” katanya memutar tangannya di atas kemudi. “Minho adalah orang kau inginkan, sedangkan Jungmo hanyalah orang yang kau pikir kau butuhkan.”

“Aku tahu kelihatannya seperti itu, tapi–“

“Kelihatan seperti itu oleh semua orang. Jadi jika kau tidak suka dengan cara orang lain membicarakan dirimu, ubahlah. Ini bukan kesalahan Minho. Dia berubah 180 derajat untukmu. Kau yang dapat hadiah tapi Jungmo yang mendapatkan keuntungannya.”

“Seminggu yang lalu kau ingin membawaku pergi dan tidak akan pernah membiarkan Minho mendekatiku lagi! Sekarang kau membelanya?”

“Lee Taemin! Aku tidak membelanya, Bodoh! Aku justru menjagamu! Kalian berdua tergila-gila satu sama lain! Lakukan sesuatu tentang itu!”

“Bagaimana bisa kau berpikir aku harus  bersamanya?” ratapku. “Kau seharusnya menjauhkanku dari orang seperti dia!”

Ia menutup bibirnya rapat, jelas kehilangan kesabarannya. “Kau telah bersusah payah untuk menjauhkan diri dari ayahmu. Itu adalah satu-satunya alasan kau mempertimbangkan Jungmo! Dia bertolak belakang dengan mantanmu yang brengsek itu. Dan kau pikir Minho akan membawamu kembali ke tempat kau dulu berada. Dia bukan ayahmu, Taemin.”

“Aku tidak bilang dia seperti ayahku, tapi itu membuatku dalam posisi harus menuruti segala kemauannya.”

“Minho tidak akan melakukannya padamu. Kupikir kau meremehkan betapa berartinya dirimu untuknya. Jika saja kau memberitahunya–“

“Tidak. Kita meninggalkan semua di belakang agar semua orang di sini tidak melihatku seperti mereka di Jeju. Kita fokus pada masalah yang ada saja dulu. Jinki menunggumu.”

“Aku tidak ingin membicarakannya,” katanya melaju pelan untuk berhenti di lampu merah.

“Dia menderita, Kibum-ah. Dia mencintaimu.”

Matanya penuh dengan air mata dan bibir bawahnya bergetar. “Aku tidak peduli.”

“Kau peduli.”

“Aku tahu,” katanya berbisik menyenderkan kepalanya ke bahuku. Ia menangis hingga lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Aku mengelus punggungnya yang bergetar.

“Lampu hijau.”

Ia kembali duduk dan mengelap sisa air matanya. “Aku sangat jahat padanya tadi. Kupikir dia tidak akan mau bicara denganku sekarang.”

“Dia akan bicara padamu. Dia tahu kau sedang kesal.”

Kibum mengusap wajahnya lalu berputar arah pelan-pelan. Aku tadinya khawatir harus terus membujuknya agar dia mau pulang bersamaku, dan Jinki sudah berlari di tangga sebelum Kibum mematikan mesin mobilnya.

Ia menarik membuka pintu mobil Kibum lalu membantunya berdiri. “Maafkan aku, Sayang. Aku harusnya mengurus urusanku sendiri, aku.. aku mohon jangan pergi. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa dirimu.”

Kibum memegang wajah Jinki lalu tersenyum. “Kau adalah seorang bajingan sombong, tapi aku tetap mencintaimu.”

Jinki menciumnya berkali-kali seolah sudah tidak bertemu dengannya selama berbulan-bulan, dan aku tersenyum karena berhasil melakukan tugasku. Minho berdiri di ambang pintu, tersenyum kecil saat aku masuk rumah.

“Dan mereka hidup bahagia selamanya,” katanya sambil menutup pintu di belakangku. Aku menjatuhkan diri ke sofa dan ia duduk di sampingku, menarik kakiku ke atas pangkuannya. “Apa yang ingin kau lakukan hari ini, Sweety?”

“Tidur. Atau istirahat.. atau tidur.”

“Sebelumnya bolehkah aku memberikan hadiah untukmu sekarang?”

Aku mendorong bahunya. “Astaga! Kau memberikanku hadiah?”

Mulutnya membentuk senyuman gugup. “Ini bukan sesuatu yang berkilauan, tapi kupikir kau akan menyukainya.”

“Aku akan sangat menyukainya, meskipun belum melihatnya.”

Ia menurunkan kakiku dari pangkuannya, lalu ia menghilang ke kamar Jinki. Aku mengangkat kedua alisku saat aku mendengar ia bergumam, lalu ia keluar sambil memegang kotak. Ia menaruhnya di dekat kakiku lalu berjongkok di sampingnya.

“Bukalah. Aku ingin melihatmu terkejut,” ia tersenyum. Aku membuka tutup kotak itu seraya bingung sekaligus penasaran dengan isinya.

Mulutku menganga saat sepasang mata hitam besar melihat ke arahku. “Anak anjing?” tanyaku dengan suara terkejut namun senang luar biasa. Aku keluarkan makhluk kecil lucu itu dari kotak. Aku mengangkat si bulu cokelat tebal di depan wajahku, lalu ia menciumiku dengan hangat dan basah di mulutku.

Minho berseri-seri gembira. “Kau suka?”

“Suka? Aku bahkan sudah mencintainya! Kau memberiku seekor anak anjing!”

“Itu anjing jenis Poodle. Aku harus menempuh perjalanan selama tiga jam untuk mengambilnya hari kamis kemarin kepulang kuliah.”

“Jadi, waktu kau bilang akan pergi bersama Jinki untuk membawa mobilnya ke bengkel..”

“Kami mengambil hadiahmu,” ia mengangguk.

“Dia menggoyangkan ekornya.”

Minho membantuku memegang bola halus dan menaruhnya di atas pangkuanku.

“Aku akan memanggilnya Eve!” kataku sambil mengerutkan hidungku pada anak anjing yang sedang menggeliat.

“Kau bisa menyimpannya di sini. Aku akan merawatnya untukmu saat kau kembali ke asrama,” bibirnya membentuk senyuman yang dipaksakan. “Dan ini akan menjadi jaminanku agar kau datang berkunjung ketika satu bulan ini berakhir.”

Aku menutup rapat bibirku. “Bagaimanapun aku akan tetap berkunjung, Minho.”

“Aku akan melakukan apapun untuk melihat senyuman di wajahmu itu saat ini.”

“Kupikir kau butuh tidur siang, Eve,” kataku mengelus sayang bulu Eve.

Minho memngangguk, menarikku ke atas pangkuannya lalu berdiri. “Ayo. Kita tidur siang kalau begitu.”

Ia menggendongku ke kamar, menarik selimut lalu menurunkanku di tempat tidur. Merangkak di atasku, ia meraih tirai untuk ditutup lalu tidur di bantalnya.

“Terima kasih untuk tetap bersamaku tadi malam,” kataku membelai bulu halus Eve. “Kau tidak perlu tidur di lantai kamar mandi.”

“Tadi malam adalah malam terbaik dalam hidupku.”

Aku berpaling untuk melihat ekspresinya. Dan ketika aku melihatnya serius, aku memandangnya dengan tatapan meragukan. “Tidur di antara toilet dan tub diatas lantai yang dingin dengan seorang idiot yang terus muntah adalah salah satu malam terbaik dalam hidupmu? Itu menyedihkan, Minho.”

“Tidak. Tinggal bersamamu saat kau mual lalu kau tertidur di atas pangkuanku adalah malam terbaikku. Memang tidak nyaman, aku tidak bisa tidur nyenyak, tapi aku merayakan ulang tahunmu, dan kau lumayan manis saat mabuk.”

“Aku yakin diantara saat aku muntah dan kau menbersihkannya, aku sangat menawan.”

Ia menarikku mendekat, membelai Eve yang berbaring di atas leherku. “Kau satu-satunya orang yang aku tahu tetap terlihat cantik meskipun kepalamu di atas toilet sekalipun. Itu berarti sesuatu.”

“Terima kasih, Minho. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi.”

Ia berbaring di atas bantalnya. “Terserah. Tidak ada yang bisa memijat leher dan punggungmu sebaik aku.”

Aku terkekeh lalu menutup mataku, membiarkan tenggelam dalam kegelapan.

***

“Bangun, Taemin!” teriak Kibum membangunkanku. Lalu disusul Eve yang menjilati pipiku.

“Iya, iya, aku bangun.”

“Kita ada kuliah setengah jam lagi!”

Aku melompat dari tempat tidur. “Aku sudah tidur selama.. empat belas jam? Oh my gosh!”

“Cepat mandi! Jika kau belum siap dalam sepuluh menit, aku akan meninggalkanmu!”

“Aku tidak punya waktu untuk mandi,” kataku sambil mengganti baju yang aku pakai tidur.

Minho menyangga kepalanya dengan tangan lalu tergelak. “Kalian menggelikan, dunia tidak akan kiamat gara-gara kalian terlambat satu kelas.”

“Akan kiamat jika kau adalah Kibum. Dia tidak pernah terlambat dan dia benci kalau harus terlambat,” kataku sambil memakai kaus dan celana jinku.

“Biarkan Kibum pergi terlebih dahulu, aku akan mengantarmu.”

Aku memasukkan satu kakiku lalu yang lainnya memakai sepatu buts. “Tasku ada di mobilnya, Minho.”

“Terserah,” ia mengangkat bahu. “Asal jangan sampai terluka saat kau terburu-buru masuk kelas.” Ia mengangkat Eve, menggendongnya dengan satu tangan seperti membawa bola kecil, lalu membawanya keluar.

Kibum mendorongku keluar pintu dan masuk ke dalam mobil. “Aku tidak percaya dia memberimu anak anjing,” katanya sambil melihat ke belakang saat mundur keluar dari tempat parkir.

Minho berdiri di bawah sinar matahari pagi, hanya memakai celana boxer dan bertelanjang kaki, tangannya memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Ia memerhatikan Eve yang sedang mengendus rumput, membujuknya seperti seorang ayah yang bangga.

“Aku belum pernah memiliki anjing sebelumnya,” kataku. “Ini akan menyenangkan.”

Kibum memandang Minho sebelum memasukkan persneling mobilnya. “Lihat dia,” kata Kibum sambil menggelengkan kepalanya. “Choi Minho; bapak rumah tangga.”

“Eve sangat lucu. Bahkan kau akan takluk di bawah tangannya.”

“Kau tidak bisa membawanya ke asrama nanti, kau tahu. Kupikir Minho tidak memikirkan tentang itu.”

“Minho bilang dia akan memeliharanya di rumah.”

Ia menarik ke atas satu alisnya. “Tentu saja. Minho selalu berpikir ke depan, aku salut padanya,” kata Kibum menggelengkan kepalanya lalu menginjak gas.

***

Aku terengah-engah, segera duduk di kursiku dengan sisa satu menit sebelum kuliah dimulai. Setelah adrenalin menghilang dari tubuhku, rasa berat dari koma pasca ulang tahun mengambil alih. Kibum menyikutku ketika kelas bubar dan aku mengikutinya ke kafetaria.

Jinki menunggu kami di pintu dan aku langsung menyadari ada yang tidak beres. “Kibum-ah,” kata Jinki memegang tangan Kibum.

Minho berlari ke arah kami, memegangi pinggangnya. Ia mengambil napas hingga agak tenang.

“Apa ada segerombolan wanita mengamuk yang mengejarmu?” godaku.

Ia menggeleng. “Aku mencoba mengejarmu.. sebelum kau.. masuk,” katanya sambil menarik napas.

“Apa yang terjadi?” tanya Kibum kepada Jinki.

“Ada gosip,” Jinki mulai bercerita. “Semua orang mengatakan bahwa Minho membawa Taemin pulang dan.. detilnya berbeda-beda, tapi cukup buruk.”

“Apa? Serius?” tanyaku sedikit menaikkan volume suara.

Kibum memutar matanya. “Siapa yang peduli, Taemin? Semua orang sudah berspekulasi tentangmu dan Minho selama beberapa minggu ini. Ini bukan pertama kalinya seseorang menuduh kalian berdua sudah tidur bersama.”

Minho dan Jinki saling pandang.

“Ada apa?” tanyaku. “Ada sesuatu yang lainnya?”

Jinki mengernyit. “Mereka bilang kau tidur dengan Jungmo di rumah Jongin, lalu kau membiarkan Minho.. membawamu pulang, jika kau mengerti maksudku.”

Mulutku menganga. “Bagus. Jadi aku ayam kampus sekarang?”

Mata Minho menjadi gelap dan mulutnya tegang. “Ini semua salahku. Jika itu orang lain, mereka tidak akan mengatakan hal itu tentangmu.” Ia melangkah masuk ke dalam kafetaria dengan tangan mengepal.

Kibum dan Jinki mengikutinya di belakang. “Semoga tidak ada orang yang cukup bodoh dan mengatakan sesuatu pada Minho,” ujar Kibum.

“Atau pada Taemin,” Jinki menambahkan.

Minho duduk jauh beberapa kursi di seberang tempat dudukku, melamun sambil menatap roti isinya. Aku menunggunya melihat ke arahku, ingin memberikan senyuman yang menenangkannya.

Jinki menyikutku saat aku memandangi sepupunya. “Dia hanya merasa tidak enak. Mungkin dia mencoba untuk meredakan gosip itu.”

“Kau tidak harus duduk jauh di sana, Minho. Ayo, duduk di sini,” kataku menepuk tempat kosong di depanku.

“Aku dengar pesta ulang tahunmu sangat berkesan, Taemin,” kata Shim Changmin sambil melemparkan sepotong daun selada ke samping piring Minho.

“Jangan macam-macam dengannya, Shim,” Minho memperingatkan dengan menatap Changmin tajam.

Changmin tersenyum, mengangkat tulang pipinya. “Aku dengar Jungmo sangat marah. Dia bilang dia mampir ke rumah Minho kemarin, lalu melihatmu dan dia masih berada di tempat tidur.”

“Mereka sedang tidur siang , Changmin,” ujar Kibum menyeringai.

Mataku langsung menatap Minho. “Jungmo mampir?”

Ia bergerak dengan tidak nyaman di kursinya. “Aku tadi akan memberitahumu.”

“Kapan?” bentakku.

Kibum berbisik di telingaku. “Jungmo mendengar gosip itu, lalu datang untuk menanyakannya secara langsung padamu. Aku mencoba untuk menghentikannya, tapi dia menerobos masuk lalu.. benar-benar salah paham.”

Aku meletakkan sikuku di atas meja sambil menutupi wajahku. “Ini semua semakin memburuk.”

“Jadi kalian tidak melakukan hal itu?” Changmin bertanya. “Sialan, itu menyebalkan. Padahal aku sudah berpikir Taemin sangat cocok untukmu setelah semua itu, Minho.”

“Sebaiknya kau berhenti sekarang, Changmin-ah,” kata Minho memperingatkan kembali.

“Jika kau tidak tidur dengannya, apa kau keberatan jika aku yang mencobanya?” kata Changmin cekikikan bersama teman satu timnya.

Wajahku memerah karena malu, namun kemudian Kibum berteriak di dekat telingaku karena melihat reaksi Minho melompat dari tempat duduknya. Ia meraih dari atas meja, memegangi leher Changmin dengan satu tangannya dan tangan yang lain memegangi bajunya. Si pemain sepakbola itu terjatuh dari tempat duduknya, terdengar banyak suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai saat semua orang berdiri untuk melihat. Minho menonjok wajahnya berkali-kali, sikunya diangkat tinggi di udara sebelum ia mendaratkan setiap tinjunya. Hanya satu yang bisa Changmin lakukan yaitu melindungi wajahnya dengan tangan.

Tidak ada seorangpun yang menyentuh Minho. Ia sudah diluar kendali dan reputasinya membuat semua orang takut untuk menghalanginya. Para pemain sepakbola hanya menunduk dan meringis saar mereka menyaksikan temannya diserang tanpa ampun di lantai.

“Minho!” teriakku seraya berlari mengitari meja.

Ketika akan memukul lagi, Minho menahan tinjunya lalu melepaskan baju Changmin, membiarkannya terjatuh ke lantai. Minho terengah-engah saat melihat ke arahku, aku belum pernah melihatnya begitu menakutkan. Aku menelan ludah dan mundur selangkah ketika Minho menabrakku di bahu saat ia melewatiku.

Aku melangkah untuk mengikutinya, tapi Kibum mencegahnya dengan memegang tanganku. Jinki mencium Kibum lalu mengikuti sepupunya keluar.

“Ya Tuhan,” bisik Kibum.

Kami berpaling dan melihat semua teman Changmin mengangkatnya dari lantai dan aku meringis saat melihat wajahnya yang merah dan bengkak. Darah keluar dari hidungnya dan Jongin memberinya tisu yang ada di atas meja.

“Dasar orang gila!” maki Changmin yang duduk di atas kursi sambil memegang wajahnya. Ia menatapku. “Maafkan aku, Taemin. Aku hanya bercanda.”

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

“Dia tidak tidur dengan salah satu dari mereka,” kata Kibum menjelaskan.

“Kau tidak pernah tahu kapan harus menutup mulut, Shim,” kata Jongin dengan kesal.

Kibum menarik tanganku. “Ayo kita pergi.”

Ia terburu-buru sambil menarikku ke dalam mobil. Ketika ia memasukkan persneling, aku memegang tangannya. “Tunggu. Kita akan kemana?”

“Kita akan ke rumah Jinki. Aku tidak ingin meninggalkannya berdua dengan Minho. Kau tadi lihat dia, kan? Dia benar-benar lepas kendali!”

Well, aku juga tidak ingin berada di dekatnya.”

Kibum memandangku tidak percaya. “Sangat terlihat jelas ada sesuatu yang mengganggunya. Kau tidak ingin mengetahui apa itu?”

“Rasa untuk menjaga diriku lebih besar dari rasa penasaranku saat ini, Kibum.”

“Satu-satunya yang membuatnya berhenti hanyalah suaramu, Taemin. Dia akan mendengarkanmu. Kau harus bicara dengannya.”

Aku mengela napas dan duduk dengan benar di kursiku. “Baiklah. Ayo kita pergi.”

***

Kami masuk ke tempat parkir, Kibum melaju dengan pelan dan berhenti diantara mobil Jinki dan motor Minho. Ia berjalan menuju tangga, meletakkan tangan di pinggangnya dengan cara yang dramatis.

“Cepat, Taemin!” Kibum memanggil, membuatku bergerak mengikutinya.

Dengan ragu aku mengikutinya, langkahku terhenti saat melihat Jinki menuruni tangga untuk berbicara dengan pelan di telinga Kibum. Ia menatapku, menggelengkan kepalanya lalu berbisik di telinga Kibum lagi.

“Ada apa?” tanyaku.

“Jinki pikir..” Kibum terlihat gelisah. “Jinki pikir bukan ide yang bagus kalau kita masuk sekarang. Minho masih sangat marah.”

“Maksudmu dia pikir aku tidak seharusnya masuk,” kataku. Kibum mengangkat bahu dengan malu, lalu memandang Jinki.

Jinki menyentuh bahuku. “Kau tidak melakukan kesalahan, Taemin. Dia hanya.. dia hanya tidak bertemu denganmu saat ini.”

“Jika aku tidak melakukan kesalahan, lalu kenapa dia tidak ingin bertemu denganku?”

“Aku tak tahu kenapa, dia tidak memberitahuku. Kupikir dia merasa malu karena lepas kendali di depanmu.”

“Dia lepas kendali di depan semua orang di kafetaria. Apa hubungannya denganku?”

“Lebih dari yang kau pikir,” kata Jinki menghindari tatapan mataku.

Aku memandang mereka beberapa saat, lalu mendorong mereka untuk lewat, berlari menaiki tangga. Aku langsung melewati pintu dan ruang tamu yang kosong. Pintu kamar Minho tertutup rapat, jadi aku mengetuknya.

“Minho? Ini aku, buka pintunya.”

“Pergilah, Taemin,” ia menjawab dari balik pintu. Aku mengintip ke dalam dan melihatnya sedang duduk di ujung tempat tidur, menghadap jendela. Eve menggaruk punggungnya, tidak merasa senang karena diabaikan.

“Apa yang terjadi denganmu, Minho?” tanyaku. Ia tidak menjawab, maka aku berdiri di sampingnya dan melipat tangan di depan dada. Wajahnya tegang, tapi ekspresinya sudah tidak semenakutkan seperti saat di kafetaria. Ia terlihat sedih. Sangat putus asa. “Kau tidak akan membicarakan ini denganku?”

Aku menunggu, namun ia tetap diam. Aku berbalik menuju pintu dan akhirnya ia mengela napas. “Kau ingat kemarin saat Jongin berbicara yang tidak-tidak tentangku dan kau langsung membelaku? Well, kejadian tadi seperti itu. Hanya saja aku sedikit keterlaluan.”

“Kau sudah marah sebelum Changmin mengatakan sesuatu,” kataku, kembali duduk di sampingnya di atas tempat tidur.

Ia kembali menatap jendela. “Aku serius dengan yang aku katakan tadi. Kau harus pergi, Taemin. Tuhan tahu aku tidak bisa pergi darimu.”

Aku menyentuh lengannya. “Kau tidak serius ingin aku pergi.”

Wajah Minho kembali tegang, lalu memelukku. Ia terdiam beberapa saat lalu mencium keningku, menekan pipinya ke pelipisku. “Tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha. Kau akan membenciku setelah aku memberitahumu.”

Aku memeluknya. “Kita harus bersahabat. Aku tidak akan menerima kata tidak sebagai jawaban.”

Alisnya naik lalu ia memelukku lagi dengan kedua tangannya sambil tetap melihat jendela. “Aku memandangimu saat kau tidur. Kau selalu terlihat sangat damai. Aku tak pernah merasa damai seperti itu. Aku selalu merasa marah dan kesal yang bergejolak dalam diriku, kecuali saat aku melihatmu yang sedang tertidur. Itu yang sedang aku lakukan saat Jungmo masuk,” lanjutnya. “Aku sudah bangun dan dia masuk, namun hanya berdiri dia ambang pintu dengan ekspresi terkejut. Aku tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku tidak meluruskannya. Aku tidak menjelaskan karena aku ingin dia berpikir telah terjadi sesuatu diantara kita. Sekarang seluruh kampus berpikir kau melakukannya dengan kami berdua dalam satu malam yang sama.” Eve menyeruduk ke pangkuanku, dan aku mengusap telinganya. Minho meraihnya untu dibelai sekali lalu memegang tanganku. “Maafkan aku.”

Aku mengangkat bahu. “Jika dia percaya gosip itu, itu salahnya sendiri.”

“Sulit untuk berpikir hal lain saat dia melihat kita di atas tempat tidur.”

“Dia tahu aku tinggal bersamamu. Lagi pula aku masih berpakaian lengkap.”

Minho mengela napas. “Dia mungkin sudah terlalu kesal untuk menyadarinya. Aku tahu kau sangat menyukainya, Taemin. Aku seharusnya menjelaskan padanya. Aku berutang begitu banyak padamu.”

“Itu bukan masalah.”

“Kau tidak marah?” tanyanya terkejut.

“Itukah yang tadi membuatmu kesal? Kau berpikir aku akan marah padamu setelah kau memberitahuku yang sebenarnya?”

“Seharusnya kau marah. Jika ada seseorang yang menjatuhkan reputasiku, aku akan sangat marah.”

“Kau tidak peduli tentang reputasi. Apa yang terjadi dengan Minho yang tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?” aku meledeknya seraya menyikut.

“Itu sebelum aku melihat ekspresi wajahmu saat mendengar apa yang dibicarakan semua orang. Aku tidak ingin kau tersakiti karena aku.”

“Kau tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan menyakitiku.”

“Lebih baik aku memotong tanganku daripada melakukannya,” katanya mengela napas.

Ia meletakkan pipinya di atas kepalaku. Aku tidak menjawab dan Minho sepertinya sudah mengatakan semua yang ingin ia katakan, jadi kami hanya duduk dan terdiam. Sesekali Minho memelukku dengan erat. Aku berpegangan pada kausnya, tak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatnya merasa lebih baik selain hanya membiarkannya memelukku.

Ketika matahari terbenam, aku mendengar ketukan. “Taemin?” suara Kibum terdengar pelan di balik pintu.

“Masuklah, Kibum-ah,” jawab Minho.

Kibum masuk bersama Jinki dan ia tersenyum melihat kami yang berpegangan tangan. “Kita akan pergi makan. Kalian mau makan bento?”

“Makanan Jepang lagi? Serius?” tanya Minho. Aku tersenyum, ia sudah terdengar seperti dirinya lagi.

Kibum menyadarinya juga. “Ya, serius. Kalian ikut atau tidak?”

“Aku sangat lapar,” kataku.

“Tentu saja kau lapar, kah tidak sempat makan siang,” kata Minho. Ia berdiri dan mengajakku bersamanya. “Ayo kita pergi mencari makan untukmu.”

Ia terus memelukku dan tidak melepaskannya hingga kami tiba di restoran bento.

Sesaat setelah Minho pergi ke kamar mandi, Kibum mendekat. “So, apa yang dia katakan?”

“Tidak mengatakan apapun,” jawabku mengangkat bahu.

Ia mengerutkan alisnya. “Kau berada di kamarnya selama dua jam. Dia tidak mengatakan apapun?”

“Dia biasanya begitu kalau sedang marah,” kata Jinki.

“Dia pasti mengatakan sesuatu, aku yakin,” desak Kibum.

“Dia bilang dia keterlaluan saat membelaku dan dia tidak memberitahu Jungmo yang terjadi sebenarnya saat dia melihat kami. Hanya itu,” kataku sambil merapikan botol garam dan merica di atas meja.

***

Kami tertawa dan bercanda hingga restoran tutup, lalu kami masuk ke dalam mobil untuk pulang. Jinki menggendong Kibum di atas punggungnya, namun Minho tetap diam di belakang, menarikku agar aku tidak mengikuti mereka ke atas. Ia melihat ke atas memerhatikan mereka hingga mereka menghilang di belakang pintu, lalu memberiku senyuman menyesal. “Aku berutang permintaan maaf hari ini, jadi maafkan aku.”

“Kau sudah meminta maaf, tidak apa-apa.”

“Belum. Tadi aku meminta maaf karena Jungmo. Aku tidak ingin kau berpikir aku adalah orang gila yang suka menyerang orang lain hanya karena masalah kecil,” katanya. “Tapi aku berutang permintaan maaf karena aku tidak membelamu untuk alasan yang tepat.”

“Dan itu adalah?” desakku.

“Aku menyerangnya karena dia ingin menjadi yang berikutnya, bukan karena dia mengganggumu.”

“Menyindir itu ada batasnya, banyak alasan untukmu untuk membelaku.”

“Itu maksudku. Aku kesal karena aku menganggap dia ingin tidur denganmu.”

Setelah memroses apa yang Minho maksudkan, aku menarik ujung kausnya lalu meletakkan kepalaku di dadanya. “Kau tahu? Aku tak peduli,” kataku menatap wajahnya. “Aku tak peduli apa yang orang lain katakan, atau saat kau kehilangan kendali, atau kenapa kau merusak wajah Changmin. Hal yang tak ingin aku miliki adalah reputasi yang buruk, namun aku lelah harus menjelaskan hubungan persahatan kita pada semua orang. Persetan dengan mereka.”

Mata Minho nelembut dan ujung bibirnya terangkat ke atas. “Persahabatan kita? Terkadang aku bertanya kapan kau benar-benar mau mendengarkanku.”

“Apa maksudmu?”

“Ayo kita masuk, aku lelah.”

Aku mengangguk. Dan ia memelukku di sampingnya sampai kami masuk ke rumah. Kibum dan Jinki sudah masuk kamar tidur mereka, lalu aku mandi. Minho dan Eve menunggu di luar saat aku mengenakan piyamaku. Dalam waktu setengah jam, kami berdua sudah berada di temlat tidur.

Aku membaringkan kepala di atas tanganku, mengembuskan napas panjang, mengeluarkan embusan udara keluar. “Hanya tinggal dua minggu. Apa yang akan kau lakukan untuk drama ketika aku pindah kembali ke asrama?”

“Aku tak tahu,” jawabnya. Aku bisa melihat garis tersiksa di wajahnya, meskipun di dalam kegelapan.

“Hey,” aku menyentuh tangannya. “Aku hanya bercanda.”

Aku menatapnya lama, bernapas, berkedip, dan berusaha untuk tenang. Ia sedikit gelisah lalu melihat ke arahku. “Kau percaya padaku, Taemin?”

“Ya, kenapa?”

“Kemarilah,” katanya. Menarikku mendekat. Aku menjadi tegang beberapa saat sebelum membaringkan kepalaku di atas dadanya. Apapun yang terjadi padanya, ia membutuhkanku di dekatnya dan aku merasa tidak keberatan walaupun aku menginginkannya. Terasa sangat tepat berbaring di sampingnya.

-to be continued-

An: Halo hai! Longtime no see. Duh udah lama ya ternyata ga nerusin the bet, sekitar tiga bulan? Daebak yak :’) maafkan ya temans, mungkin kalian pikir ini bakal gantung begini aja tanpa diterusin. Tenang aja, aku bakal terusin sampe kelar kok, kan aku dah berkali-kali bilang walaupun lama update tapi pasti aku selesaiin. Mumpung lagi libur jadi mau lebih produktif sih, semester depan bakal lebih sibuk sepertinya. The bet 9 coming soon, on process ^^

Advertisements

18 thoughts on “The Bet : Love Begin #8

  1. blinger jonghyun 2017-07-21 / 8:54 pm

    wuahhhhh…. udah lama ga tayang akhirnya up date juga…
    suka part ini apalagi pas minho bela tetem…
    tp knapa alasannya berbelit sih… ga langsung aja bilang kalo minho itu suka sama tetem…..
    tetem nya juga ga pernah peka….
    author nim kapan mereka di persatukan…?
    kelanjutan nya jangan lama-lama dong…. plissss…. 😁😁😁

    Like

    • nad (bluesch) 2017-07-23 / 5:27 pm

      Yang selanjutnya masih dalam tahap penulisan yaa, mohon bersabar, pasti aku kelarin ko ff yang complicated ini :’)
      Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  2. blinger jonghyun 2017-07-21 / 8:53 pm

    wuahhhhh…. udah lama ga tayang akhirnya up date juga…
    suka part ini apalagi pas minho bela tetem…
    tp knapa alasannya berbelit sih… ga langsung aja bilang kalo minho itu suka sama tetem…..
    tetem nya juga ga pernah peka….
    author nim kapan mereka di persatukan…?
    kelanjutan nya jangan lama-lama dong…. plissss…. 😁😁😁

    Like

  3. Maladesu 2017-07-21 / 4:57 pm

    sudah sangat lama nggak update, akhrinya update jugak xD dari dulu gue nggak pernah ngerti apa yang ada difikiran minho, fikiran taemin apalagi, udah kasian banget gue ke minho. berharapnya perasaan cinta ke minho ke taemin ada masa lelahnya, jadi bakal ngejauh dari taemin bentar, terus disitu taemin merasa kehilangan minho, eaaak, tapi si minho ngga lelah2 kayaknya, malah gue yang lelah xD

    Like

    • nad (bluesch) 2017-07-23 / 5:26 pm

      Iyaaaa. Maaf karena telat update huhu aku jadi ngerasa bersalah gini. Btw aku juga lelah nulis ff ini ang ga kelar-kelar, masalah mereka terlalu complicated, doain semoga cepat kelar yaa :’)
      Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  4. nad (bluesch) 2017-07-21 / 8:47 am

    Waah terima kasih sekali sudah mau perhatian sama penulis amateur ini :’)
    Duh nanti dilihat aja ya gimana kelanjutannya. Terima kasih juga sudah berkunjung 🙂

    Like

  5. husniah nia 2017-07-21 / 7:37 am

    Yaahh sudah 3 bilan terakhir update april wkwkw.

    Iya bagus dah kalo sampe akhir.. heheh.

    Udah lma g baca ff 2min wkwkw.

    Eh tapi part ini biki aku penasaran gimana ya jika sewaktu2 Taemin kehilangan Minho wkwkw.
    Disini Minho selalu tersiksa sepertinya hahaha.
    Sepertiny hanya satu kebahagiaan Minho inginkan Lee Taemin.

    Okrehh oh ya next bakal dibahas ga tu masalah mantan Taemin sama ayah Taemin kayanya ngefek banget sama sifat Taemin di yang sekarang2 ini.
    Kaga dibahass juga gpp heheh.
    Thank you udah mau update hehe ☺☺

    Like

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s