The Bet : Love Begin #9

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |


-cue-

Jonghyun menggelengkan kepalanya. “Jadi kau bersama Jungmo atau Minho? Aku bingung.”

“Jungmo tidak mau bicara denganku, jadi saat ini seperti mengambang di udara,” kataku sambil memantulkan tubuhku untuk membenarkan posisi tas ranselku.

Ia mengembuskan napas sedikit keras. “Jadi kau bersama Minho?”

“Kami hanya berteman, Jonghyun-ah.”

“Kau sadar kan semua orang berpikir bahwa kalian berdua mempunyai semacam hubungan teman-tapi-mesra yang tidak kau akui?”

“Aku tidak peduli. Mereka bisa berpikir apa saja yang mereka mau.”

“Sejak kapan? Apa yang terjadi dengan Taemin yang gugup, misterius, dan selalu berhati-hati yang aku tahu dan sayangi?”

“Dia telah mati stres karena semua gosip dan asumsi yang ada.”

“Sayang sekali. Aku akan merindukan menertawakan dirinya.” Aku memukul lengan Jonghyun dan ia pun tertawa. “Bagus. Sudah waktunya berhenti pura-pura,” katanya.

“Apa maksudmu?”

“Sayang, kau sedang bicara dengan orang yang hampir seumur hidupnya berpura-pura. Aku dapat mengenalimu dari jauh.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kau menyembunyikan sesuatu. Seseorang yang memakai pakaian elegan yang pergi ke restoran mewah bersama Kim Jungmo.. itu bukanlah dirimu. Entah itu kau si penari telanjang dari kota kecil atau kau pernah masuk klinik rehabilitasi. Tebakanku yang terakhir.”

Aku tertawa terbahak-bahak. “Kau adalah seorang tukang tebak yang payah.”

“Jadi, apa rahasiamu?”

“Kalau aku memberitahumu, namanya bukan rahasia, iya kan?” ujarku seraya tersenyum mengejek kearahnya.

Wajahnya dipertajam oleh seringai nakal. “Aku sudah memberitahumu rahasiaku, sekarang beritahu aku rahasiamu.”

Aku meringis sebelum aku bicara.“Apakah kau mempunyai kehidupan yang bahagia di rumah, Jonghyun-ah?”

“Ibuku orang yang hebat. Kakakku menjadi sangat sibuk sejak mendapatkan pekerjaan, tapi kami baik-baik saja saat ini.”

“Aku mempunyai Lee Yongguk sebagai ayah.”

“Siapa itu?”

Aku cekikikan. “Lihat? Itu bukan masalah besar jika kau tidak tahu siapa dia.”

“Siapa dia?”

“Sebuah masalah. Suka judi, minum, dan pemarah. Itu sudah menjadi keturunan di keluargaku. Aku dan Kibum datang kemari agar aku dapat memulai hidup baru, tanpa membawa status anak dari seorang pemabuk seperti dulu.”

“Seorang mantan penjudi dari Jeju?”

“Aku lahir di Jeonju. Pada saat itu, semua yang dia sentuh selalu berubah menjadi emas. Ketika aku berumur enam belas tahun, keberuntungannya berubah.”

“Dan dia menyalahkanmu.”

“Kibum mengorbankan banyak hal untuk datang kemari bersamaku agar aku dapat melarikan diri, namun saat aku tiba di sini aku bertemu dengan Minho.”

“Dan saat kau melihat Minho..”

“Semua sangat tidak asing.”

Jonghyun mengangguk. “Sial. Itu menyebalkan, Taemin.”

Aku menyipitkan mataku. “Jika kau memberitahu orang lain apa yang aku katakan padamu, aku akan memanggil mafia. Aku kenal beberapa dari mereka, kau tahu.”

“Omong kosong.”

Aku mengangkat bahu. “Percayalah semaumu.”

Jonghyun memandangku curiga lalu tersenyum. “Kau adalah orang yang paling keren yang aku kenal.”

“Itu sangat menyedihkan, Jonghyun. Kau harus keluar lebih sering,” kataku sambil berhenti di depan pintu masuk kafetaria.

Ia mengangkat daguku sedikit ke atas. “Semua akan berjalan dengan baik. Aku adalah orang yang sangat percaya pada pepatah ‘semua terjadi karena suatu alasan’. Kau datang kemari, Kibum bertemu dengan Jinki, kau tentang pertarungan itu, sesuatu tetangmu membuat dunia Minho jungkir balik. Pikirkanlah,” katanya sambil mendaratkan ciuman singkat di keningku.

“Ya!” kata Minho. Ia memegang pergelangan tanganku, lalu menarik ke belakang punggungnya. “Kau adalah orang terakhir yang aku khawatirkan akan melakukan hal itu, Jonghyun! Yang benar saja!”

Jonghyun mendekat ke samping Minho lalu berkedip. “Sampai nanti, Sugar.”

Ketika Minho melihat kearahku, senyumnya menghilang. “Kenapa merengut?”

Aku menggeleng. “Aku hanya tidak suka dipanggil dengan sebutan itu. Punya kenangan buruk pada nama itu.”

“Panggilan sayang dari pendeta mudamu?”

“Bukan,” jawabku menggerutu.

Minho mengepalkan tinjunya. “Kau ingin aku memukuli Jonghyun? Memberikan pelajaran padanya? Aku akan mengalahkannya.”

Aku tidak bisa menahan senyum. “Jika aku ingin mengalahkannya, aku hanya tinggal bilang kalau mobil lamborgininya tergores dan dia akan menyelesaikan sisanya.”

Minho tertawa lalu mendorong pintu agar terbuka. “Ayo! Aku menjadi kurus karena terlalu lama di sini.”

***

Kami duduk di meja yang sama, saling mengejek satu sama lain, saling cubit, menyikut tulang rusuk. Mood Minho sangat optimis seperti saat aku kalah taruhan. Semua orang di meja kami menyadarinya dan saat Minho memulai perang makanan denganku, hal itu menarik perhatian semua orang di sekitar meja kami.

Aku memutar mataku jengah. “Aku merasa seperti hewan di kebun binatang.”

Minho memandangku sebentar, menyadari semua tatapan itu, lalu berdiri. “I CAN’T!” ia berteriak. Aku menatapnya terpesona saat seluruh ruangan tersentak melihat ke arahnya. Minho mengayunkan kepalanya beberapa kali mengikuti ketukan lagu di kepalanya.

Jinki menutup matanya. “Oh tidak.”

Minho tersenyum, lalu mulai bernyanyi. Ia naik ke atas meja saat semua orang menatap. Ia menunjuk ke arah pemain sepakbola yang berada di ujung meja dan mereka tersenyum. Mereka berteriak bersamaan. Lalu, semua orang bertepuk tangan mengiringi.

Minho bernyanyi menaruh tangan di depannya seolah-olah ia sedang memegang mikrofon. Ia bernyayi sambil menari melewatiku. Semua orang bernyanyi dalam harmoni seperti seorang penggemar.

Minho mengentakkan pinggulnya, lalu suara siulan dan jeritan dari para wanita di dalam ruangan terdengar. Ia berjalan melewatiku lagi, menyanyikan bagian chorus lagunya di bagian belakang ruangan, para pemain sepakbola menjadi pengiringnya.

“Aku akan membantumu!” seorang wanita berteriak dari belakang. Semua orang bertepuk tangan dan para pemain sepakbola ikut bernyanyi.

Minho masih terus bernyanyi seraya menunjuk ke arah penontonnya yang bertepuk tangan. Beberapa orang berdiri dan menari bersamanya. Tapi kebanyakan hanya melihat dengan terpesona dan merasa terhibur.

Ia melompat ke meja sebelah dan Kibum menjerit lalu bertepuk tangan. Aku menggelengkan kepalaku; seperti mati dan terbangun di High School Musical.

Satu ruangan bertepuk tangan dan bahkan ada beberapa orang yang bersiul. Aku menggeleng setelah ia mencium dahiku, lalu ia berdiri dan membungkuk memberi hormat.

Ketika ia kembali ke tempat duduknya di depanku, ia cekikikan. “Mereka sekarang tidak lagi menatapmu, kan?” katanya terengah-engah.

“Terima kasih. Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu,” ujarku tersenyum manis.

“Taemin?”

Aku melihat ke atas dan melihat Jungmo sudah berdiri di ujung meja. Semua mata menatapku sekali lagi.

“Kita harus bicara,” katanya terlihat gugup. Aku melihat ke arah Kibum, Minho, lalu kembali ke arah Jungmo. “Please?” katanya memohon. Aku mengangguk, lalu mengikutinya keluar. Ia berjalan melewati jendela untuk mendapat privasi di samping gedung. “Aku tidak bermaksud untuk menarik perhatianmu kembali. Aku tahu betapa kau membencinya.”

“Maka seharusnya kau menelepon saja jika ingin bicara,” kataku.

Ia mengangguk, lalu melihat ke bawah. “Aku tidak sengaja melihatmu di kafetaria. Aku menyaksikan kegaduhan tadi, lalu melihatmu dan aku langsung masuk. Maafkan aku.” Aku menunggu, lalu ia berbicara lagi. “Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Minho. Itu bukan urusanku. Kita baru berkencan beberapa kali. Awalnya aku sempat merasa kesal, namun aku kemudian menyadari bahwa itu tidak akan menggangguku jika aku tidak menyukaimu.”

“Aku tidak tidur dengannya, Jungmo. Dia memijat leher dan punggungku saat aku memuntahkan tequila yang aku minum. Hanya seromantis itu.”

Ia tertawa lagi. “Aku pikir kita tidak mendapat kesempatan yang adil, tidak saat kau tinggal bersama Minho. Sebenarnya, Taemin, aku menyukaimu. Aku tidak tahu kenapa tadi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.” aku tersenyum dan ia memegang tanganku, menyentuh gelangku dengan jarinya. “Aku mungkin menakutimu dengan hadiah bodoh ini, tapi aku belum pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Aku merasa aku selalu harus bersaing dengan Minho untuk menarik perhatianmu.”

“Kau tidak manakutiku dengan gelang ini.”

Ia menutup rapat bibirnya. “Aku ingin mengajakmu berkencan lagi dua minggu dari sekarang, setelah taruhanmu dengan Minho berakhir. Pada saat itu kita bisa berkonsentrasi untuk saling mengenal satu sama lain tanpa gangguan.”

“Cukup adil.”

Ia mendekat dan menutup matanya, lalu mencium bibirku sekilas. “Aku akan meneleponmu secepatnya.”

Aku melambaikan tangan saat berpisah dengannya, lalu kembali ke kafetaria, melewati Minho. Ia memegangku lalu menariknya ke pangkuannya. “Putus cinta itu sulit ya?”

“Dia ingin mencoba lagi kalau aku sudah kembali ke asrama.”

“Sialan. Aku harus mulai memikirkan taruhan lainnya,” katanya menarik piringku ke hadapannya.

***

Dua minggu berikutnya berlalu. Selain untuk kuliah, aku menghabiskan semua waktuku bersama Minho dan kebanyakan kami habiskan berdua. Ia membawaku pergi makan malam, minum dan berdansa di Gogo’s, bermain bowling, dan ia dipanggil untuk bertarung dua kali. Saat kami tidak sedang menertawakan kebodohan kami sendiri, kami bermain gulat, atau meringkuk di sofa bersama Eve, dan menonton film. Ia membuktikan maksudnya untuk mengacuhkan semua wanita yang menggodanya dan semua orang membicarakan Minho yang baru.

Malam terakhirku di rumahnya, entah kenapa Kibum dan Jinki tidak ada, dan Minho berusaha mengadakan makan malam terakhir yang spesial. Ia membeli wine, menyusun serbet di atas meja, dan bahkan membeli peralatan makan yang baru untuk acara ini.

Ia menaruh piring kami di meja tempat kami sarapan dan menarik bangkunya ke sisi lainnya dari meja agar duduk berhadapan denganku. Untuk pertama kalinya, aku mendapat firasat kuat kalau kami sedang berkencan.

“Ini sangat enak, Minho. Kau tidak memberitahu sebelumnya kalau kau pandai memasak,” kataku sambil mengunyah Cajun Chicken Pasta yang dimasaknya.

Ia memaksakan satu senyuman dan aku melihat bahwa ia berusaha untuk membuat percakapan tetap santai. “Jika aku memberitahumu sebelumnya, kau akan mengharapkan ini setiap malam,” senyumnya menghilang dan matanya menatap meja.

Aku memutar-mutar makanan dalam piringku. “Aku akan merindukanmu juga, Minho.”

“Kau akan tetap datang berkunjung, kan?”

“Kau tahu aku akan datang berkunjung. Dan kau akan ke asrama untuk membantuku belajar seperti sebelumnya.”

“Tapi itu tidak akan sama,” ia mengela napas. “Kau akan berkencan dengan Jungmo, kita akan sibuk.. berjalan ke arah yang berbeda.”

“Tidak akan berubah sebanyak itu.”

Ia berhasil tersenyum. “Siapa akan mengira pada saat kita bertemu pertama kali kita akan duduk di sini? Kau seharusnya memberitahuku tiga bulan yang lalu bahwa aku akan menderita seperti ini karena mengucapkan selamat tinggal pada seseorang.”

Perutku tiba-tiba terasa menegang tidak karuan. “Aku tidak ingin kau menderita.”

“Kalau begitu, jangan pergi,” katanya. Ekspresinya sangat putus asa mengakibatkan rasa bersalah membentuk gumpalan di tenggorokanku.

“Aku tidak bisa pindah ke sini, Minho. Itu gila.”

“Kata siapa? Aku baru saja merasakan dua minggu terindah dalam hidupku.”

“Aku juga,” kataku lirih. Aku memang mengakui kalau waktu dua minggu kebelakang menjadi hal terindah dalam hidupku.

“Lalu kenapa aku merasa seperti tidak akan pernah melihatmu lagi?”

Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Wajahnya tegang, namun ia tidak marah. Dorongan untuk menghampirinya sangat kuat, maka aku berdiri dan berjalan mengitari meja, lalu duduk di pangkuannya. Ia tidak menatapku, jadi aku yang memeluk lehernya.

“Kau akan menyadari betapa menyebalkannya aku, lalu kau akan melupakan semua yang menuntunmu untuk merindukanku,” kataku di telinganya.

Ia mengembuskan napasnya ke udara saat mengusap punggungku. “Janji?”

Aku bersandar dan menatap matanya, menyentuh wajahnya dengan tanganku. Aku membelai rahang tegasnya dengan ibu jariku; ekspresinya sangat menghancurkan hati. Aku menutup mataku dan mendekat untuk mencium ujung bibirnya, namun ia berpaling sehingga aku mencium bibirnya lebih dari yang dimaksud.

Meskipun ciuman ini membuatku terkejut, aku tidak mundur dan tidak menolaknya. Minho membiarkan bibirnya di atas bibirku, namun ia tidak bertindak lebih jauh.

Akhirnya aku yang menjauh, lalu tersenyum. “Besok adalah hari besar untukku. Aku akan membereskan dapur lalu pergi tidur.”

“Aku akan membantumu.”

***

Kami mencuci piring bersama sambil terdiam membisu dan Eve tertidur di bawah kaki kami. Ia mengeringkan piring terakhir dan menaruhnya di rak, lalu menuntunku menelusuri lorong, memegang tanganku sedikit erat. Jarak antara ujung lorong dengan kamarnya tampak dua kali lebih jauh. Kami berdua tahu bahwa perpisahan hanya tinggal beberapa jam lagi.

Ia bahkan tidak berusaha berpura-pura tidak melihat saat aku mengganti pakaianku ke salah satu kaus tidurnya. Ia membuka pakaiannya sehingga tinggal memakai celana boxernya, lalu masuk ke bawah selimut, menungguku bergabung dengannya.

Setelah aku naik, Minho mematikan lampu dan menarikku mendekat padanya tanpa meminta ijin atau permintaan maaf. Ia menegangkan tangannya dan mengela napas, dan aku meletakkan wajahku di lehernya. Aku menutup mataku rapat, berusaha untuk menikmati saat ini. Aku tahu aku akan mengharapkan momen ini terulang lagi setiap hari selama hidupku, maka aku menjalaninya dengan semua yang aku punya.

Ia menatap ke luar jendela. Pepohonan membuat bayangan di wajahnya. Minho menutup rapat matanya dan perasaan tenggelam menetap dalam diriku. Sangat menyakitkan melihatnya menderita, mengetahui bukan hanya aku yang mengakibatkannya.. aku juga satu-satunya yang bisa menghilangkannya.

“Minho? Kau baik-baik saja?” tanyaku.

Ada jeda yang cukup lama sebelum akhirnya ia berbicara. “Aku tidak pernah merasa kurang baik dari ini selama hidupku.”

Aku menekan dahiku pada lehernya dan ia memelukku erat. “Ini sangat konyol,” kataku.

“Kita akan tetap akan bertemu setiap hari.”

“Kau tahu itu tidak benar.”

Besarnya rasa duka yang kami berdua rasakan telah menghancurkan kami dan kebutuhan tak tertahankan untuk menyelamatkan kami berdua muncul dalam diriku.

Aku mengangkat kepalaku menatapnya, namun ragu; apa yang akan aku lakukan akan mengubah segalanya. Aku beralasan bahwa Minho menganggap hubungan intim bukan apa-apa selain hanya untuk menghabiskan waktu, lalu aku menutup mataku lagi dan menelan rasa takutku. Aku harus melakukan sesuatu, mengetahui kami berdua masih terbangun, takut pada setiap menit yang berlalu hingga pagi.

Hatiku berdebar kencang saat aku menyentuh lehernya dengan bibirku, lalu merasakan kulitnya dalam ciuman pelan dan lembut. Ia melihat ke bawah dengan rasa terkejut lalu matanya melembut saat menyadari apa yang aku inginkan.

Ia mendekat, menekan bibirnya di bibirku dengan rasa manis yang lembut. Kehangatan dari bibirnya mengalir sampai kakiku dan aku menariknya lebih dekat.

Sekarang setelah kami mengambil langkah pertama, aku tidak punya keinginan untuk menghentikannya. Aku membuka bibirku, membiarkannya masuk. “Aku menginginkanmu,” kataku.

Tiba-tiba ciumannya menjadi pelan dan ia berusaha menjauh. Bertekad untuk menyelesaikan apa yang aku mulai, mulutku menciumnya lebih gugup lagi. Akibatnya, Minho mundur hingga ia berlutut. Aku bangkit mengikutinya, menjaga agar mulut kami tetap menyatu.

Ia mencengkeram kedua bahuku untuk menahanku. “Tunggu sebentar,” bisiknya terengah-engah dengan senyuman senang di wajahnya. “Kau tidak harus melakukan ini, Taemin. Ini bukan maksud dari malam ini.”

Ia menahan, namun aku dapat melihat di matanya bahwa pengendalian dirinya tidak akan lama. Aku mendekat lagi dan kali ini tangannya memberi jalan untuk bibirku menyentuh bibirnya. “Jangan membuatku memohon,” bisikku di mulutnya.

Dengan empat kata itu, keberatannya hilang. Ia menciumku dengan keras dan bersemangat. Jariku menelusuri punggungnya dan berhenti di atas karet celana boxernya, dengan gugup menelusurinya. Bibirnya menjadi tidak sabar dan menuntut. Aku terjatuh di tempat tidur saat ia menindihku. Lidahnya menemukan jalannya untuk masuk sekali lagi, dan ketika aku mendapat keberanian untuk memasukkan tanganku diantara kulit dan celana boxernya, ia mengerang.

Minho menarik lepas kaus dari atas kepalaku kemudian tangannya dengan tidak sabar bergerak ke bagian bawahku, memegang celana boxerku dan melepasnya dari kakiku dengan satu tangan. Bibirnya kembali ke bibirku saat tangannya meluncur ke dalam pahaku dan aku mengeluarkan napas panjang yang terengah saat jarinya mengembara di tempat dimana tidak seorangpun yang pernah menyentuhnya sebelumnya. Lututku terangkat dan mengejang pada setiap gerakan tangannya dan saat aku mencengkeram kulitnya, ia memosisikan dirinya di atasku.

“Taemin,” panggilnya dengan terengah. “Kita tidak harus melakukannya malam ini. Aku akan menunggu hingga kau siap.”

Aku melihat ke atas kepalaku dan meraih laci teratas di meja nakas, menariknya hingga terbuka. Merasakan plastik diantara jariku, aku meletakkan ujungnya di bibirku, merobek bungkusnya terbuka menggunakan giginya. Tangannya yang bebas meninggalkan punggungku dan ia menurunkan celana boxernya, menendang lepas seolah ia tidak tahan itu berada diantara kami.

Bungkusnya bergemericik di ujung jarinya dan setelah beberapa saat aku merasakannya di pahaku. Aku menutup mataku.

“Tataplah aku, Taemin.”

Aku menatapnya. Matanya tajam dan lembut pada saat yang sama. Ia memiringkan kepalanya, berbaring mendekat untuk menciumku dengan lembut, kemudian tubuhnya menjadi tegang. Mendorong dirinya ke dalam diriku dengan gerakan kecil dan pelan. Ketika ia menarik kembali, aku menggigit bibirku karena merasa tidak nyaman; saat ia bergerak dalam tubuhku lagi, aku menutup mataku karena kesakitan. Pahaku menjadi tegang di sekeliling pinggangnya dan ia menciumku lagi.

“Tataplah aku,” bisiknya.

Ketika aku membuka mataku, ia menekan kedalam lagi, dan aku menjerit karena itu mengakibatkan rasa terbakar yang nikmat. Setelah aku tenang, gerakan tubuhnya dan tubuhku menjadi lebih berirama.

Rasa gugup yang awalnya aku rasakan telah hilang dan Minho mencengkeram kulitku seolah ia tidak pernah merasa cukup. Aku menariknya masuk kedalam diriku dan ia mengerang ketika itu terasa semakin nikmat.

“Aku menginginkanmu sudah sangat lama, Taemin. Hanya kau yang aku inginkan,” ujarnya bernapas di mulutku.

Ia memegang pahaku dengan satu tangan dan menyangga tubuhnya dengan siku. Hanya beberapa senti di atasku. Keringat tipis mulai menetes di atas kulit kami dan aku mengangkat punggungku saat bibirnya menelusuri wajahku lalu leherku.

“Minho,” kataku mendesah.

Saat aku menyebut namanya, ia menekan pipinya di pipiku dan gerakannya menjadi semakin keras. Suara dari tenggorokannya semakin kencang. Ia menekan dalam diriku sekali lagi, mengerang, dan bergetar di atas tubuhku.

Setelah beberapa saat, ia menjadi tenang dan membuat napasnya teratur. “Tadi itu adalah ciuman pertama yang hebat,” kataku dengan sedikit lelah dan rasa puas.

Ia mengamati wajahku dan tersenyum. “Ciuman pertama terakhirmu.”

Aku terlalu terkejut untuk menjawab.

Ia ambruk telungkup di sampingku, membentangkan tangannya di atas pinggangku, meletakkan dahinya di dekat pipiku. Jariku bergerak menelusuri kulit punggung telanjangnya hingga aku mendengar napasnya semakin pelan.

Aku tetap terjaga selama beberapa jam, mendengarkan napas Minho yang dalam dan angin menggerakkan pepohonan di luar. Kibum dan Jinki masuk lewat pintu depan dengan pelan, lalu aku mendengar langkah jinjit di sepanjang lorong, bergumam satu sama lain.

Kami sudah mengepak barang-barang tadi, aku meringis membayangkan akan merasa tidak nyaman nanti pagi. Kupikir setelah Minho tidur denganku, rasa penasarannya akan terpuaskan, namun ia justru membicarakan tentang apa yang terjadi selanjutnya. Mataku langsung tertutup karena memikirkan ekspresinya saat mengetahui apa yang telah terjadi diantara kami bukanlah merupakan suatu permulaan, namun penutupan. Aku tidak bisa menjalani hubungan itu dan ia akan membenciku saat aku memberitahunya.

Aku bergerak keluar dari bawah tangannya lalu berpakaian, membawa sepatuku keluar menuju kamar Jinki. Kibum sedang duduk di tempat tidur dan Jinki sedang membuka kausnya di depan lemari.

“Semua baik-baik saja, Taemin?” Jinki bertanya.

“Kibum-ah?” kataku memberinya tanda untuk mengikutiku ke lorong.

Ia mengangguk, melihatku dengan tatapan curiga. “Apa yang terjadi?”

“Aku ingin kau mengantarku ke asrama sekarang. Aku tidak bisa menunggu sampai besok.”

Satu sudut wajahnya terangkat karena senyuman. “Kau tidak pernah bisa menangani perpisahan.”

Jinki dan kibum membantuku membawa tas dan aku memandang keluar jendela mobil Kibum dalam perjalanan menuju asrama. Saat kami menurunkan tas terakhir di kamarku, Kibum memegangku.

“Akan terasa sangat berbeda sekarang di rumah mereka.”

“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Matahari akan terbit beberapa jam lagi, sebaiknya kau pergi,” kataku sambil meremas tangannya sekali lagi sebelum melepaskannya.

Kibum tidak melihat ke belakang lagi saat ia meninggalkan kamar dan aku menggigit bibirku dengan gugup, menyadari akan sangat marahnya ia saat menyadari apa yang telah aku lakukan.

Kausku mengeluarkan suara seperti sobekan saat aku menariknya dari atas kepalaku, listrik statis di udara telah meningkat karena musim dingin yang semakin dekat. Merasa sedikit tersesat, aku meringkuk di bawah selimut tebalku dan menarik napas melalui hidungku; aroma tubuh Minho masih terasa di kulitku.

Tempat tidur terasa dingin dan asing. Sangat kontras dengan kehangatan tempat tidurnya Minho. Aku telah menghabiskan tiga puluh hari di rumah sempit dengan lelaki brengsek yang paling terkenal di kampusku, meskipun dengan semua pertengkaran dan tamu tengah malam, disanalah satu-satunya tempat dimana aku ingin berada.

***

Telepon berbunyi mulai dari jam delapan pagi, lalu menjadi setiap lima menit sekali selama satu jam.

Aku meraih teleponku dan mematikannya. Sesaat setelah aku mematikan teleponku, aku mendengar ada yang menggedor pintu dan aku menyadari aku tidak akan bisa menghabiskan hariku di atas tempat tidur seperti yang sudah aku rencanakan.

Aku bangun dan membukakan pintu. “Ada apa, Kibum-ah?”

“Minho mengamuk! Dia tidak mau memberitahu kami, dia menghancurkan rumah, melempar stereo ke seberang ruangan.. Jinki tidak bisa membujuknya!”

Aku menggosok mata dengan telapak tanganku, lalu berkedip. “Aku tidak tahu.”

“Omong kosong! Kau akan memberitahuku apa yang telah terjadi dan kau akan memberitahukannya sekarang!”

“Pelankan suaramu, Kibum, ya Tuhan,” aku berbisik.

Ia menutup rapat bibirnya. “Apa yang telah kau lakukan?”

Kupikir ia hanya akan marah padaku; aku tak tahu ia akan mengamuk.

“Aku.. tidak tahu,” aku menelan ludah.

“Dia melayangkan tinjunya ke arah Jinki ketika dia tahu kami membantumu pergi. Taemin! Kumohon beritahu aku!” matanya berkaca-kaca. “Itu menakutiku.”

Rasa ngeri di matanya membuatku memberitahukan sebagian dari yang terjadi sebenarnya. “Aku hanya tidak dapat mengucapkan selamat tinggal. Kau tahu itu berat untukku.”

“Bukan itu, pasti ada yang lain, Taemin. Dia menjadi gila! Aku mendengarnya memanggil namamu, lalu dia berlari ke seluruh sudut ruangan mencari dirimu. Dia menerobos masuk ke kamar Jinki, memaksa ingin mengetahui keberadaanmu. Lalu dia mencoba meneleponmu. Lagi, dan lagi, dan lagi,” ia mengela napas. “Wajahnya sangat.. ya Tuhan, Taemin. Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Dia merobek sprei tempat tidurnya lalu melemparnya, melempar bantalnya, menghancurkan cerminnya dengan tinju, menendang pintu.. melepasnya dari engsel! Itu adalah kejadian yang paling menakutkan dalam hidupku!”

Aku menutup mataku, sehingga air mata di ujung mataku turun ke pipiku.

Kibum memberikan ponselnya padaku. “Kau harus meneleponnya. Setidaknya kau harus memberitahunya bahwa kau baik-baik saja.”

“Oke, aku akan meneleponnya.”

Ia menyodorkan ponselnya lagi padaku. “Tidak, kau harus meneleponnya, sekarang.”

Aku mengambilnya dan menekan tombol, berusaha memikirkan apa yang bisa aku katakan padanya. Ia merebut ponsel dari tanganku, menekan nomor, lalu menyerahkannya padaku. Aku memegang ponsel di telingaku dan mengambil napas panjang.

Kibum?” Minho menjawab teleponnya, suaranya sangat cemas.

“Ini aku.”

Hening sesaat sebelum akhirnya ia mulai bicara. “Apa yang terjadi padamu semalam? Aku terbangun pagi ini, kau tidak ada dan kau.. pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal? Kenapa?

“Maafkan aku. Aku—”

Kau minta maaf? Aku menjadi gila kau tidak menjawab teleponmu, menyelinap pergi dan, apa—kenapa? Kupikir kita akhirnya menyadari semuanya!

“Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir.”

Berpikir tentang apa?” ia berhenti. “Apa aku telah menyakitimu?

“Tidak! Bukan itu. Aku benar-benar.. benar-benar minta maaf. Aku yakin Kibum telah memberitahumu. Aku tidak mampu mengucapkan selamat tinggal.”

Aku harus bertemu denganmu,” katanya. Suaranya terdengar putus asa.

Aku mengela napas. “Banyak yang harus aku kerjakan hari ini. Aku harus membongkar barang-barangku dan aku punya setumpuk baju yang harus dicuci.”

Kau menyesalinya,” katanya terdengar hancur.

“Bukan.. bukan karena itu. Kita berteman. Dan itu tidak akan berubah.”

Berteman? Lalu kau pikir semalam itu apa?” katanya. Kemarahannya terdengar dalam suaranya.

Aku menutup mataku rapat. “Aku tahu apa yang kau inginkan. Aku hanya tidak bisa.. melakukannya saat ini.”

Jadi kau hanya membutuhkan waktu?” tanyanya dengan suara yang lebih tenang. “Kau seharusnya memberitahuku. Kau tidak perlu lari dariku.

“Itu adalah cara yang paling mudah.”

Paling mudah untuk siapa?

“Aku tidak bisa tidur. Aku terus berpikir tentang bagaimana rasanya nanti pagi, saat memasukkan tasku ke dalam mobil Kibum dan.. aku tidak bisa melakukannya, Minho,” kataku.

Itu sudah cukup buruk bahwa kau tidak akan berada disini lagi. Kau tidak bisa langsung menghilang dari hidupku.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Kita akan bertemu besok. Aku tidak ingin semua menjadi aneh, oke? Aku hanya ingin memikirkan beberapa masalah dulu. Hanya itu.”

Oke,” katanya. “Aku bisa melakukannya.

Aku menutup teleponnya dan Kibum membelalak ke arahku. “Kau.. tidur dengannya? Sialan! Kau bahkan tidak akan memberitahuku?”

Aku memutar mataku dan ambruk di atas bantal. “Ini bukan tentang dirimu, Kibum. Ini menjadi satu masalah sulit dan rumit.”

“Apanya yang sulit tentang itu? Kalian berdua seharusnya sangat bahagia, bukannya merusak pintu atau bersembunyi di kamarmu!”

“Aku tidak boleh bersamanya,” kataku berbisik lalu memandangi langit-langit.

Tangannya memegang tanganku, ia bicara dengan lembut. “Bersama Minho memang butuh banyak usaha. Percayalah padaku, aku mengerti semua rasa ragumu padanya, tapi lihat bagaimana ia telah berubah begitu banyak untukmu. Pikirkan tentang dua minggu yang lalu, Taemin. Dia tidak seperti ayahmu.”

“Aku yang seperti dia! Aku terlibat dengan Minho dan semua yang telah kami lakukan.. lenyap!” aku menjetikkan jariku. “Begitu saja!”

“Minho tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“Itu bukan tergantung padanya sekarang, bukan?”

“Kau akan menghancurkan hatinya, Taemin. Kau akan menghancurkan hatinya! Satu-satunya orang yang dia percaya untuk dicintai dan kau akan sangat menyakitinya!”

Aku berpaling darinya, tidak mampu melihat ekspresinya yang datang bersamaan dengan nada pembelaan di suaranya.

“Aku ingin akhir yang bahagia. Itu alasan kita datang kemari.”

“Kau tidak harus melakukan ini. Semua akan berjalan lancar.”

“Hingga keberuntunganku habis.”

Kibum mengangkat tangannya ke atas dan menjatuhkannya di pangukuan. “Ya Tuhan, Taemin, jangan bicara tentang omong kosong itu lagi. Kita sudah membahas tantang ini.”

Teleponku berbunyi dan aku melihat nama di layarnya. “Jungmo.”

Ia menggelengkan kepalanya. “Kita belum selesai bicara.”

“Halo?” aku menjawab, menghindari tatapan Kibum.

Taemin! Ini hari pertama dari kebebasanmu! Bagaimana rasanya?” katanya.

“Itu terasa.. bebas,” kataku tidak bisa mengeluarkan sedikit pun nada antusias.

Makan malam besok malam? Aku merindukanmu.

“Ya,” aku mengelap hidungku dengan baju. “Besok adalah ide yang bagus.”

Setelah aku menutup teleponnya, Kibum merengut. “Minho akan bertanya padaku saat aku pulang,” katanya. “Dia akan bertanya apa saja yang kita bicarakan. Apa yang harus akan katakan padanya?”

“Katakan padanya bahwa aku menepati janjiku. Saat besok tiba, dia tidak akan merindukanku.”

-to be continued-

Advertisements

15 thoughts on “The Bet : Love Begin #9

  1. SikhoSoo 2017-08-06 / 9:23 am

    Ini taemin butuh bukti apa lagi ke minho, minho udah sayang banget ke taemin, taemin seenaknya ajah ningalin minho abis ngelakuin itu pantes kalok minho marah banget kek orang gila, ini bapernya udah tingkat dewa. Aku ngerasa kalok minho cuman buat mainan doang sama kelabilan taemin ayolah min fikir lebih mateng lagi setiap sikapmu keminho jan bikin minho makin bapaer lagi. Makasih thor udah nyelesain cherpter ini ditunggu next chepternya yah semangat thor buat nulisnya

    Like

    • nad (bluesch) 2017-08-06 / 11:15 am

      Kalo minho beneran mainan taemin mending minho sama aku ya, bakal aku sayang-sayang terus tiap hari.
      Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  2. MinMin Sofi 2017-08-05 / 1:37 pm

    Please itu taemin ngeselin bngt
    Knpa dia gak bisa nerima minho gitu
    Knpa dia lebih milih jungmo padahal taemin sma minho dh lakuin kaya gitu.
    Liat kedepan taemin jngn kebelakang
    Kalau liat kebelakang terus minho bakalan sakit bngt pasti
    Minho rela lakuin apa aja buat dia knpa gk bales apa yg telah dilakuin sma minho
    Jngn bikin minho sakit hati taemin.

    Like

    • nad (bluesch) 2017-08-05 / 11:49 pm

      Iya tuh taemin dengerin. Kamu sih gamau dengerin kata aku 😦
      Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  3. husniah nia 2017-08-03 / 5:21 pm

    Sebel sama Taemin kenapa ya??? Ada apa dengan Taemin??

    Minho horror kalo udah marah tapi sekalinya sayang sama orang sampe kaya gitu.. semua keputusan ada di Taemin tapi tetep aja Minhonya kaga nerima kalo yg dipilih Taemin adalah perpisahan..
    Ok.. aku tunggu yaa lanjutannya 😊

    Like

    • nad (bluesch) 2017-08-03 / 9:18 pm

      Terima kasih sudah mau menunggu ^^
      Terima kasih juga sudah berkunjung 😉

      Like

  4. choi jenong 2017-08-02 / 3:51 pm

    rasa.ny tambah complicated bgt…
    padahal kebahagiaan ud jelas di dpn mata,, tp taemin msh aj liat keblkg n salah ambil jalan…
    kibum ud blg.in ratusan kali tp tetep aj tutup kuping…
    taemin bebal bgt…
    au…ah…sebel sm taemin…

    Like

    • nad (bluesch) 2017-08-03 / 2:48 am

      Taemin itu unsensitive jangan sebel sama ciwi syantik syalala cem dia 😦
      Terima kasih sudah berkunjung 😉

      Like

  5. Neny sintya 2017-07-31 / 9:50 pm

    Knpa taemin gtu bgt sih… knpa dya gak nyerah aja sama perasaanya sendiri…
    Minho akan berubah demi dya…
    Please jgn sakiti minho dg berhubungan dg jungmo…
    Aq gak tega ama minho…

    Ditunggu next chapnya author nim

    Like

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s