Not A Kid

A 2Min fiction by bluesch ©2018

| Minho, Taemin |

•cue•

Malam itu kami sedang merayakan keberhasilan Taemin masuk ke universitas keinginannya. Pria berparas cantik itu memilih untuk menunggu diluar selama aku membayar tagihan.

“Sedang apa kau disini, Anak Muda?” tanya seorang pria paruh baya.

“Kami selesai makan malam,” jawab Taemin tak acuh. Ini memang sudah terhitung terlalu larut untuk makan malam.

Aku keluar kedai terkaget dengan adanya pria dan wanita paruh baya sedang berbicara—entah apa—dengan Taemin.

“Apa Anda walinya?” tanya pria itu kepadaku.

“Hm.. Bukan,” jawabku.

“Kerabatnya?”

“Bukan juga,” ujarku seraya menggaruk pelan tengkuk.

“Lalu siapa Anda?”

“Hanya anak buah ayahnya.”

“Anak buah? Anak buah apa?”

“Apa kau membawa kartu identitas?” tanya wanita disamping pria itu.

“K-Kartu identitas?”

“Itu terserah padaku mau berpacaran dengan siapa. Itu bukan urusanmu. Lagi pula kalian berdua ini siapa?” bentak Taemin tak terkendali.

“Kami dari Komisi Perlindungan Anak.”

Aku rasa mereka sudah salah paham.

***

“Mau sampai kapan kau berdiam diri seperti itu, Minho?”

“Pada akhirnya mereka menghubungi dekan universitasmu.”

“Omong-omong mereka merusak acara makan malam kita. Coba saja tadi aku ganti baju terlebih dulu.”

“Niat mereka juga tidak buruk. Usia kita pada kenyataannya memang terpaut 17 tahun. Aku terlihat seperti pedofilia jika kita bersama,” ujarku tiba-tiba mengusap wajah yang suntuk.

“Apalagi ini? Kau meminta putus hanya karena perbedaan usia?”

“Bukan seperti itu, Bocah Toge.”

“Tapi kita bisa membicarakan serial tv lama dengan serius, kan?”

“Yah, aku menonton siaran perdana, sedangkan kau menonton siaran ulang yang diulang lalu kembali diulang.”

Ternyata perbedaan usia kami memang lebih jauh dari yang aku pikirkan. Saat Taemin lahir, aku sudah menjadi murid SMA tingkat akhir. Usia Taemin baru 18 tahun saat ini sedangkan aku sudah 35 tahun.

Pada awalnya Taemin adalah seorang adik iparku beberapa tahun yang lalu. Aku seorang suami dari kakak perempuannya. Kemudian kami memutuskan untuk hidup sendiri-sendiri karena suatu hal. Mulai saat itu Taemin menempel terus padaku, mendatangi apartemenku setiap hari, sampai-sampai dia memiliki kunci duplikatnya sehingga bisa masuk dengan sendirinya jika aku tidak membukakan pintu entah aku ada di dalamnya atau tidak.

Sangat menyebalkan memang. Namun entah karena apa, kami jadian tiga bulan yang lalu.

“Kau sedang memikirkan apa lagi? Sudahlah tidak perlu dicemaskan,” ujarnya karena mungkin aku terlalu lama terdiam dan terlihat seperti mencemaskan dan memikirkan sesuatu.

“Tidak. Kau hanya terlihat lebih muda dari usiamu. Kau ini tipe pria cantik.”

“Cantik? Siapa yang kau maksud cantik?”

Ah. Aku lupa. Dia sangat membenci saat dipanggil cantik.

“Bergegaslah. Aku antar kau pulang.”

“Aku mau menginap malam ini,” sergahnya.

“Anak kecil harus tidur di rumahnya,” kataku ngotot.

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil!” bentaknya memasang wajah cemberut. Manisnya.

“Mau bagaimana lagi, kau memang anak kecil.”

***

Ting tong ting tong ting tong. Pagi yang sangat berisik seperti biasa. Aku yakin pasti Taemin yang berada dibalik pintu.

“Iya iya sebentar. Berisik sekali,” ucapku seraya menggaruk kepalaku. Pintu aku buka. “Kau ini tidak bosan kemari—” ucapanku terhenti setelah melihat orang dibalik pintu. “Dengan siapa ya?”

“Aku ingin sarapan denganmu. Ini sudah aku bawakan makanan,” ucapnya. Aku tahu dia Taemin tapi..

“Ada angin apa kau berpenampilan seperti itu?” tanyaku seraya berjalan memasuki apartemen. Dia berpenampilan seperti.. entahlah aku tidak bisa mendiskripsikan. Rambut pirang alaminya dia sisir ke atas, memakai celana dan jaket kulit, kaus bermotif cheetah, dan kacamata hitam dipagi hari seperti ini. Oh ya jangan lupakan beberapa tindikan di telinganya yang aku yakini itu hanya bohongan.

“Sebentar lagi aku akan menjadi mahasiswa, aku pikir aku perlu mengubah sedikit penampilanku,” jawabnya sambil mempersiapkan sarapan untuk kami berdua. “Sebenarnya aku akan memakai jas tadi, tapi malah berakhir seperti ini.”

“Jas? Mau kemana kau memakai jas segala?”

“Habisnya kalau aku memakai jas akan terlihat dewasa,” kalimatnya semakin melemah. “Ah bukan apa-apa,” katanya cepat.

Dewasa? Apa-apaan dia ini? Dia ingin terlihat dewasa? Kenapa? Apa karena kekhawatiranku semalam tentang perbedaan usia kami? Dia juga khawatir dan mencoba untuk mengurangi perbedaan itu walaupun sedikit saja? Manisnya.

“Yasudah ayo kita makan,” ajakku bersemangat.

“Hari ini aku sangat percaya diri. Menu kali ini kimbap dan—”

“Taemin..” potongku.

“Ya?”

“Jadilah dirimu sendiri. Maafkan aku sudah membuatmu cemas. Aku.. lebih menyukaimu yang sesungguhnya,” ucapku panjang lebar. Aku melihatnya bersemu merah di balik kacamata hitamnya. Kami diam untuk beberapa saat. “Pokoknya seperti itu. Wah makanan buatanmu sudah lebih baik sekarang. Terlihat enak untuk dimakan.”

“Minho..”

“Hm?”

“Sebenarnya aku membelinya di minimarket. Aku ingin membuatmu tersanjung walau hanya sekali. Maafkan aku,” akunya seraya membalikkan badan membelakangiku. Dia menundukkan kepalanya.

“Taemin..” panggilku membalikkan badannya menghadapku. Melepas kacamata hitamnya dan mengecup sekilas bibir penuhnya. Kupeluk tubuh ringkih harumnya lalu membisikkan sesuatu. “Menginaplah malam ini.”

Tangannya mulai ikut memeluk punggungku erat. Meremas kausku yang berada di telapak tangannya. Dia juga menelusupkan kepalanya ke dadaku. Aku menyerukkan kepalaku di lehernya. Baunya harum seperti bayi. Aku suka itu.

***

Keesokan harinya. Pagi hari lebih ribut lagi karena ada Taemin disini. Huft. Yang namanya anak kecil akan selamanya jadi anak kecil. Bukan begitu?

“Cepat makan!” sergahnya dengan nada memerintah. Dia mulai memasakkan masakan aneh lagi kali ini. Aku bahkan tidak bisa menamai masakannya.

Seperti sandwich tapi rotinya gosong. Seperti burger juga tapi dagingnya terlalu banyak minyak dan aku tidak yakin dengan rasanya. Oh my God Taemin apa yang kau lakukan.

“Aku tidak mau makan makanan dari orang yang tidak meyakinkan!” jawabku.

“Kau sendiri yang bilang kalau aku harus menjadi diriku sendiri!”

Seperti inilah kami yang sebenarnya. Terlalu banyak cekcok hmmm.

•fin•

A.n : Tulisan yang terlalu dipaksakan keberadaannya. Menyek banget ya? Maafkan. Sampai jumpa lagi~

Advertisements

6 thoughts on “Not A Kid

    • nad (bluesch) 2018-01-29 / 10:55 pm

      Hehe, ini cuma oneshot, maaf ya. Terima kasih sudah berkunjung ^^

      Like

  1. Kimchil17 2018-01-23 / 2:36 pm

    Taeminnya nge gemesin banget. Minta banget di cium 😂🤣

    Like

      • Kimchil17 2018-01-30 / 9:19 pm

        Bener2 kaya gaya2 dia yg skrng. Sok2an keren gitu. Kayanya ini kaya cuplikan sedikit dari real life mereka ya. Agak mengarah ke intermezzo.

        Suka banget, always kaya gini buatan kamu mah. Favorite 🙆‍♀️💕❤

        Like

      • nad (bluesch) 2018-01-31 / 4:44 am

        Aku mah apa cuma butiran debu yang cuma tau seupil cerita kehidupan mereka. Syukurlah kalo kamu suka. Thanks ya windaai♡♡

        Liked by 1 person

Fill this if you wanna say something about my post.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s