Unpredictable [Special Edition on 27th Minho’s Birthday]

2Min fiction by bluesch ©2017

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki, Jonghyun |

An: Dont expect too much. Ga sebagus yang kalian kiraㅠㅠ

•cue•

“Kerja bagus semuanya. Selamat beristirahat!” teriak sang sutradara mengakhiri proses syuting malam yang larut itu.

“Sampa jumpa lagi, Sutradara Seo.”

“Kerja bagus, Minho. Perbanyak istirahat. Kau terlalu menikmati peranmu tadi.”

“Baiklah. Saya pamit kalau begitu,” ujar lelaki jangkung yang hanya dibalas anggukan dan senyuman hangat oleh sang sutradara.

Sang lelaki jangkung menyempatkan diri untuk mengganti pakaiannya yang lebih kasual dan nyaman untuk dipakai, lalu setelahnya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya pulang.

Jumat dini hari suasana Seoul kala itu memang sedikit menyebalkan. Salju turun disaat ada proses syuting jadi ada beberapa adegan yang harus ditunda terlebih dahulu dan pada akhirnya mereka pulang terlalu larut dan sangat dingin.

“Kau mau mampir atau langsung pulang?” tanya manager yang sedang mengendarai mobil. Minho duduk disampingnya menyandarkan kepalanya ke jok mobil.

“Langsung pulang saja, Hyung. Aku ingin istirahat,” jawabnya.

“Baiklah.”

Jalanan sudah mulai lengang walaupun tidak sepi seutuhnya. Seoul merupakan kota metropolitan yang tidak pernah tidur. Masih ada beberapa kendaraan yang lalu lalang meskipun fajar sudah hampir menampakkan diri.

Terdengar suara ponsel yang bergetar dari saku mantel yang dipakai Minho. Ah Taemin menghubunginya via pesan singkat. Sepertinya dia juga baru selesai dengan aktivitasnya.


From
Taemin :

Hyung, kau dimana?


To Taemin :

Dalam perjalanan pulang. Ada apa?


From
Taemin :

Kau akan pulang ke dorm atau apartemen?


To Taemin :

Dorm. Lebih dekat dari lokasi syutingku.


From Taemin :

Bisakah aku minta tolong kau mampir ke apartemen sebentar untuk mengambil celana jinku? Entah kenapa aku ingin memakainya besok.

Hyung, putar balik menuju apartemenku. Aku akan mampir sebentar,” katanya kepada manager tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel. Sang manager hanya menatapnya bingung. Pasti Lee Taemin, batinnya.


To
Taemin :

Baiklah. Kau sekarang berada di dorm?


From Taemin :

Ya. Jadwalku akan sangat padat besok-besok. Jadi manager mengusulkan untuk tinggal di dorm selama jadwalku padat.


To Taemin :

Oke. Sampai bertemu di dorm, Sayang.

Itulah yang namanya kekuatan Taemin si pacar Minho. Selelah apapun akan selalu diturutinya selama masih batas wajar dan bisa dia laksanakan. Bukankah mereka terlihat manis? Sangat.

Sampailah mereka di apartemen milik Minho dan Taemin. Minho turun dari mobil dan berpesan agar manager menunggunya di mobil saja karena dia hanya akan mengambil celana jin Taemin.

Dia memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dimana apartemennya berada. Sengaja memilih di lantai yang agak tinggi agar bisa menikmati pemandangan disaat terbit atau terbenamnya sang jingga. Minho memanglah bukan tipe orang yang romantis, tapi percayalah jika kau hidup dengannya kau akan diperlakukan layaknya kaca rapuh yang perlu perlindungan ekstra. Dia sangat manis.

Minho menekan kombinasi angka yang menjadi kunci pintu apartemennya dan Taemin. Dengan wajah yang sedikit kelelahan, dia memasuki ruangan yang gelap gulita itu.

“KEJUTAN! HAPPY BIRTHDAY CHOI MINHO!” terdengar teriakan lantang yang bukan dari satu orang saja. Lampu di ruang tengah itu pun seketika menyala, Minho terbelalak kemudian.
Menampilkan wajah-wajah tak asing yang tersenyum manis. Taemin, Kibum, Jonghyun, dan Jinki berada di sana.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanyanya masih dengan wajah tidak percaya.

“Merayakan ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, Minho Hyung. Maafkan aku tadi berbohong,” jawab Taemin yang membawa kue tar seraya mendekat kearah Minho yang masih mematung. “Buatlah permintaan lalu tiup lilinnya.”

Minho menurutinya, memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali lalu meniup lilin yang berada di atas kue. Taemin berjalan mundur untuk meletakkan kuenya. Kibum dan lainnya giliran mendekat untuk memeluk Minho satu per satu sambil mengucapkan doa-doa mereka.

***

Mereka tertawa bersama di ruang tengah, menceritakan hal-hal yang terjadi pada hari itu. Malam sudah semakin larut, Jinki sudah menghubungi manager yang menunggu di tempat parkir untuk pulang saja karena mereka berlima berencana menginap di apartemen kedua anggota termuda.

“Dasar kau mesum, Choi Minho. Bagaimana bisa kalian berdua memiliki tempat persembunyian ini ha?” ledek Kibum seperti biasa. Sudah menjadi tipikal Kibum yang sukanya meledek Minho. Thay are true best friends.

“Sudahlah, Kibum-ah. Ini sudah menjadi pilihan mereka. Lagi pula mereka sudah dewasa kan,” sanggah Jinki menjadi penengah. Aku mencintaimu Lee Jinki.

“Aku hanya tidak mau diganggu saat aku dan Taemin ingin berdua saja. Di dorm masih ada Jinki Hyung dan para manager. Di rumah Taemin pun masih ada orang tuanya dan kakaknya. Ya walaupun mereka tidak keberatan, tapi tetap saja memiliki rasa yang berbeda,” jelas Minho panjang lebar. Taemin hanya diam tersenyum mendengarnya. Jonghyun? Sepertinya manusia satu itu sudah tertidur gara-gara terlalu banyak minum bir.

“Cih alibimu, Choi,” cibir Kibum lagi.

“Kau itu kenapa? Cemburu? Nanti juga fans kita akan merayakan lima tahun saat aku melamarmu di Singapore, masih belum puas?”

Hyung! Apaan sih,” gertak Taemin dengan wajah cemberut.

“Uh Sayang tidak tidak, aku hanya bercanda. Kibum yang memulai. Marahi saja dia ya, kumohon,” bujuknya dengan sejuta kata-kata manis. Taeminnya sudah terlanjur cemberut, itu artinya dia harus memberikan sesuatu agar wajah cemberutnya berubah menjadi senyuman matahari seperti di kartun Teletubbies. “Kau boleh meminta apapun dariku, tapi setelah mereka bertiga pulang dari apartemen kita. Bagaimana?” bisiknya membuat kesepakatan.

“Baiklah,” final Taemin dengan mengela napas menyerah. Tidak ada yang bisa membantah karisma seorang Choi Minho bukan?

***

“Kami pamit dulu, Choi,” ujar Kibum berjalan bersama Jonghyun dan Jinki menyusuri lorong menuju pintu keluar apartemen. Minho mengantar mereka sampai depan pintu dengan tangannya yang masih bertengger di pundak Taemin.

“Yasudah pulang sana. Siapa juga yang mengundang kalian datang ke tempat persembunyian kami,” kata Minho.

“Taemin yang mengundang semalam asal kau tahu saja,” cibirnya. Minho terkaget-kaget melirik kearah Taemin. Taemin hanya bisa tersenyun kikuk di sampingnya. “Hei, Taemin. Kau tidak ikut pulang bersama kami?”

“Tidak. Dia akan menjadi tawananku sampai nanti siang,” itu suara Minho yang menjawab

Oh okay. Have fun your time kalau begitu.”

***

Taemin benar-benar merasa diadili sekarang, duduk di sofa dengan Minho berada di hadapannya melipat tangan di dada. Kepalanya dia tundukan dan kedua tangannya meremas satu sama lain. Tipikal Lee Taemin jika sedang gerogi.

“Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau mengundang mereka kemari?” tanya Minho tegas.

“Hm.. Aku ingin merayakan ulang tahunmu dengan cara yang berbeda, Hyung. Bukan di dorm seperti biasanya. Aku juga ingin menunjukkan kepada ketiga anggota lainnya bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkanku karena aku sudah memilikimu di sampingku. Begitu saja. Maafkan aku,” jawabnya dengan volume yang semakin mengecil.

“Baiklah. Kalau begitu keinginanmu semalam agar bisa meminta apapun dariku dibatalkan karena kau sudah membocorkan tempat kita kepada mereka,” kepala Taemin masih menunduk, tapi mata cantiknya masih tetap terlihat terbelalak begitu mendengar Minho dan Minho memperhatikan itu. “Maka dari itu, aku yang akan memintanya darimu dan kau tidak boleh menolak.”


Dasar bodoh, nanti siang ada rekaman acara musik. Bagaimana jika Minho
Hyung meminta yang aneh-aneh? Batinnya menjerit.

***

“Ah! Hyung—jangan membuatnya memerah—aku ada rekaman—acara musik nanti—siang,” kata Taemin dengan susah payah. Taemin sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua sementara Minho membersihkan diri. Begitu Minho keluar dari kamar mandi dan masih dengan handuk melilit di pinggangnya, dia langsung menerkam Taemin dari arah belakang.

“Kau bisa menggunakan turtle neck seperti biasanya, Sayang. Musim dingin sudah tiba, itu tidak akan terlihat aneh,” ujarnya dengan napas yang memburu dan masih mengecupi leher harum Taemin.

“Ah! Kau harus melakukannya dengan cepat—manager akan menjemputku tiga jam—lagi.”
“Baiklah.” Minho membalikkan badan Taemin agar menghadap kearahnya. Menyambar dengan lembut bibir penuh milik Taemin. Masih terasa manis seperti biasa.

Melepas tautan bibir mereka sejenak, meninggalkan benang liur yang begitu menggoda. Ditatapnya wajah cantik Taemin dengan intens, menilik ke dalam mata indahnya, tersenyum lembut setelahnya, dan kembali menautkan bibir mereka secara lembut.

Mendudukkan Taemin di meja konter dapur, memelorotkan sedikit celana yang dipakainya. Memberi rangsangan pada lubang merah muda milik Taemin yang terlihat sangat cantik itu. Mulai memasukkan dua jarinya untuk tahap awal, meskipun quick sex, mereka tetap perlu foreplay bukan?

“Ah! Hyung—ayo masukkan saja biar—lebih cepat,” perintah Taemin tidak sabar. Rupanya dia juga menginginkannya.

Minho mulai melepas lilitan handuk di pinggangnya. Kejantanannya terlihat tegak berdiri menantang. Dirasanya tidak perlu foreplay terlalu lama, dia hanya membasahinya dengan sedikit liur agar Taemin tidak merasa sakit.

“Ah! Pelan-pelan,” ucap Taemin.

Sudah berselang beberapa menit setelah mereka memulainya. Desahan dan keringat mulai memenuhi dapur itu. Pergerakan mereka semakin lama juga semakin cepat berharap apa yang mereka tunggu-tunggu akan segera datang.

“Ah Hyung iya disitu, terus, hmmm, sedikit lagi—Ahh—Ahh—”

“Ahh—”

Mereka klimaks dengan waktu yang bersamaan. Cairan putih milik Taemin sudah membasahi seluruh perutnya dan Minho, sedangkan milik Minho masuk ke dalam lubang sempit Taemin. Dia masih membiarkannya tetap berada di sana agar tidak banyak yang keluar.

Mencium bibir Taemin dengan lembut seraya melepas kejantanannya dari lubang Taemin.

“Hmm—”

“Terima kasih, Sayang. Kau sungguh luar biasa. Aku harus membersihkan diri untuk kedua kalinya. Kau juga harus membersihkan dirimu,” ucap Minho.

“Kau duluan saja, Hyung. Aku masih lemas. Kita belum sarapan tapi kau sudah mengajakku melakukannya. Energiku terkuras habis. Aku akan menyiapkan sarapannya lagi sementara kau mandi.”

“Baiklah.”

***

Terdengar suara dering telepon dari meja nakas saat Taemin sedang bersiap-siap ke acara musik. Minho sudah berangkat ke lokasi syuting sejak mereka selesai sarapan tadi.

“Halo?”


“Taemin aku sudah dibawah,”
ucap seseorang di seberang telepon.

“Oh iya, Hyung. Sebentar lagi aku akan turun,” jawab Taemin. Itu suara manager yang menjemput Taemin untuk melakukan rekaman acara musik.

Taemin bergegas mengenakan apa saja yang menurutnya patut untuk dikenakan. Minho sangat bandel masih saja membuatnya memerah di sekitar leher, menyebalkan.

Untung saja nanti memakai pakaian dengan kerah tinggi, jadi bisa tertutup, ujarnya dalam hati sambil melihat ruam kemerahannya di depan kaca.

Dia keluar dari apartemennya yang dirasa sudah cukup rapi untuk ditinggal pergi pemiliknya yang entah kapan akan kembali lagi, karena memang apartemen itu bukan prioritas tempat tinggal mereka.

Taemin masuk ke mobil yang akan mengantarnya ke gedung KBS. Manager sudah siap di belakang kemudi.

“Ayo berangkat, Hyung.”

“Taemin, kau terkena flu?” tanya sang manager heran melihat penampilan Taemin. Taemin memakai mantel yang sangat tebal—terlebih diritsletingkan serta topi mantelnya dipakai—dan masker seadanya.

“Hm.. Tidak. Hanya merasa sangat dingin, Hyung. Semakin hari semakin dingin saja hehe,” jawab Taemin. Manager hanya mengangguk saja. Dia sudah tahu watak Taemin jika dia disuruh menjemput di apartemennya, pasti ada suatu kejadian semalam atau bahkan tadi pagi. Who knows.

•fin•

An : Aku nulis apaan yawlaaa. Failed ini failed! Maafkan ya maafkan duh🙏

Advertisements

The Bet : Love Begin #9

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |


-cue-

Jonghyun menggelengkan kepalanya. “Jadi kau bersama Jungmo atau Minho? Aku bingung.”

“Jungmo tidak mau bicara denganku, jadi saat ini seperti mengambang di udara,” kataku sambil memantulkan tubuhku untuk membenarkan posisi tas ranselku.

Ia mengembuskan napas sedikit keras. “Jadi kau bersama Minho?”

“Kami hanya berteman, Jonghyun-ah.”

“Kau sadar kan semua orang berpikir bahwa kalian berdua mempunyai semacam hubungan teman-tapi-mesra yang tidak kau akui?”

“Aku tidak peduli. Mereka bisa berpikir apa saja yang mereka mau.”

“Sejak kapan? Apa yang terjadi dengan Taemin yang gugup, misterius, dan selalu berhati-hati yang aku tahu dan sayangi?”

“Dia telah mati stres karena semua gosip dan asumsi yang ada.”

“Sayang sekali. Aku akan merindukan menertawakan dirinya.” Aku memukul lengan Jonghyun dan ia pun tertawa. “Bagus. Sudah waktunya berhenti pura-pura,” katanya.

“Apa maksudmu?”

“Sayang, kau sedang bicara dengan orang yang hampir seumur hidupnya berpura-pura. Aku dapat mengenalimu dari jauh.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kau menyembunyikan sesuatu. Seseorang yang memakai pakaian elegan yang pergi ke restoran mewah bersama Kim Jungmo.. itu bukanlah dirimu. Entah itu kau si penari telanjang dari kota kecil atau kau pernah masuk klinik rehabilitasi. Tebakanku yang terakhir.”

Aku tertawa terbahak-bahak. “Kau adalah seorang tukang tebak yang payah.”

“Jadi, apa rahasiamu?”

“Kalau aku memberitahumu, namanya bukan rahasia, iya kan?” ujarku seraya tersenyum mengejek kearahnya.

Wajahnya dipertajam oleh seringai nakal. “Aku sudah memberitahumu rahasiaku, sekarang beritahu aku rahasiamu.”

Aku meringis sebelum aku bicara.“Apakah kau mempunyai kehidupan yang bahagia di rumah, Jonghyun-ah?”

“Ibuku orang yang hebat. Kakakku menjadi sangat sibuk sejak mendapatkan pekerjaan, tapi kami baik-baik saja saat ini.”

“Aku mempunyai Lee Yongguk sebagai ayah.”

“Siapa itu?”

Aku cekikikan. “Lihat? Itu bukan masalah besar jika kau tidak tahu siapa dia.”

“Siapa dia?”

“Sebuah masalah. Suka judi, minum, dan pemarah. Itu sudah menjadi keturunan di keluargaku. Aku dan Kibum datang kemari agar aku dapat memulai hidup baru, tanpa membawa status anak dari seorang pemabuk seperti dulu.”

“Seorang mantan penjudi dari Jeju?”

“Aku lahir di Jeonju. Pada saat itu, semua yang dia sentuh selalu berubah menjadi emas. Ketika aku berumur enam belas tahun, keberuntungannya berubah.”

“Dan dia menyalahkanmu.”

“Kibum mengorbankan banyak hal untuk datang kemari bersamaku agar aku dapat melarikan diri, namun saat aku tiba di sini aku bertemu dengan Minho.”

“Dan saat kau melihat Minho..”

“Semua sangat tidak asing.”

Jonghyun mengangguk. “Sial. Itu menyebalkan, Taemin.”

Aku menyipitkan mataku. “Jika kau memberitahu orang lain apa yang aku katakan padamu, aku akan memanggil mafia. Aku kenal beberapa dari mereka, kau tahu.”

“Omong kosong.”

Aku mengangkat bahu. “Percayalah semaumu.”

Jonghyun memandangku curiga lalu tersenyum. “Kau adalah orang yang paling keren yang aku kenal.”

“Itu sangat menyedihkan, Jonghyun. Kau harus keluar lebih sering,” kataku sambil berhenti di depan pintu masuk kafetaria.

Ia mengangkat daguku sedikit ke atas. “Semua akan berjalan dengan baik. Aku adalah orang yang sangat percaya pada pepatah ‘semua terjadi karena suatu alasan’. Kau datang kemari, Kibum bertemu dengan Jinki, kau tentang pertarungan itu, sesuatu tetangmu membuat dunia Minho jungkir balik. Pikirkanlah,” katanya sambil mendaratkan ciuman singkat di keningku.

“Ya!” kata Minho. Ia memegang pergelangan tanganku, lalu menarik ke belakang punggungnya. “Kau adalah orang terakhir yang aku khawatirkan akan melakukan hal itu, Jonghyun! Yang benar saja!”

Jonghyun mendekat ke samping Minho lalu berkedip. “Sampai nanti, Sugar.”

Ketika Minho melihat kearahku, senyumnya menghilang. “Kenapa merengut?”

Aku menggeleng. “Aku hanya tidak suka dipanggil dengan sebutan itu. Punya kenangan buruk pada nama itu.”

“Panggilan sayang dari pendeta mudamu?”

“Bukan,” jawabku menggerutu.

Minho mengepalkan tinjunya. “Kau ingin aku memukuli Jonghyun? Memberikan pelajaran padanya? Aku akan mengalahkannya.”

Aku tidak bisa menahan senyum. “Jika aku ingin mengalahkannya, aku hanya tinggal bilang kalau mobil lamborgininya tergores dan dia akan menyelesaikan sisanya.”

Minho tertawa lalu mendorong pintu agar terbuka. “Ayo! Aku menjadi kurus karena terlalu lama di sini.”

***

Kami duduk di meja yang sama, saling mengejek satu sama lain, saling cubit, menyikut tulang rusuk. Mood Minho sangat optimis seperti saat aku kalah taruhan. Semua orang di meja kami menyadarinya dan saat Minho memulai perang makanan denganku, hal itu menarik perhatian semua orang di sekitar meja kami.

Aku memutar mataku jengah. “Aku merasa seperti hewan di kebun binatang.”

Minho memandangku sebentar, menyadari semua tatapan itu, lalu berdiri. “I CAN’T!” ia berteriak. Aku menatapnya terpesona saat seluruh ruangan tersentak melihat ke arahnya. Minho mengayunkan kepalanya beberapa kali mengikuti ketukan lagu di kepalanya.

Jinki menutup matanya. “Oh tidak.”

Minho tersenyum, lalu mulai bernyanyi. Ia naik ke atas meja saat semua orang menatap. Ia menunjuk ke arah pemain sepakbola yang berada di ujung meja dan mereka tersenyum. Mereka berteriak bersamaan. Lalu, semua orang bertepuk tangan mengiringi.

Minho bernyanyi menaruh tangan di depannya seolah-olah ia sedang memegang mikrofon. Ia bernyayi sambil menari melewatiku. Semua orang bernyanyi dalam harmoni seperti seorang penggemar.

Minho mengentakkan pinggulnya, lalu suara siulan dan jeritan dari para wanita di dalam ruangan terdengar. Ia berjalan melewatiku lagi, menyanyikan bagian chorus lagunya di bagian belakang ruangan, para pemain sepakbola menjadi pengiringnya.

“Aku akan membantumu!” seorang wanita berteriak dari belakang. Semua orang bertepuk tangan dan para pemain sepakbola ikut bernyanyi.

Minho masih terus bernyanyi seraya menunjuk ke arah penontonnya yang bertepuk tangan. Beberapa orang berdiri dan menari bersamanya. Tapi kebanyakan hanya melihat dengan terpesona dan merasa terhibur.

Ia melompat ke meja sebelah dan Kibum menjerit lalu bertepuk tangan. Aku menggelengkan kepalaku; seperti mati dan terbangun di High School Musical.

Satu ruangan bertepuk tangan dan bahkan ada beberapa orang yang bersiul. Aku menggeleng setelah ia mencium dahiku, lalu ia berdiri dan membungkuk memberi hormat.

Ketika ia kembali ke tempat duduknya di depanku, ia cekikikan. “Mereka sekarang tidak lagi menatapmu, kan?” katanya terengah-engah.

“Terima kasih. Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu,” ujarku tersenyum manis.

“Taemin?”

Aku melihat ke atas dan melihat Jungmo sudah berdiri di ujung meja. Semua mata menatapku sekali lagi.

“Kita harus bicara,” katanya terlihat gugup. Aku melihat ke arah Kibum, Minho, lalu kembali ke arah Jungmo. “Please?” katanya memohon. Aku mengangguk, lalu mengikutinya keluar. Ia berjalan melewati jendela untuk mendapat privasi di samping gedung. “Aku tidak bermaksud untuk menarik perhatianmu kembali. Aku tahu betapa kau membencinya.”

“Maka seharusnya kau menelepon saja jika ingin bicara,” kataku.

Ia mengangguk, lalu melihat ke bawah. “Aku tidak sengaja melihatmu di kafetaria. Aku menyaksikan kegaduhan tadi, lalu melihatmu dan aku langsung masuk. Maafkan aku.” Aku menunggu, lalu ia berbicara lagi. “Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Minho. Itu bukan urusanku. Kita baru berkencan beberapa kali. Awalnya aku sempat merasa kesal, namun aku kemudian menyadari bahwa itu tidak akan menggangguku jika aku tidak menyukaimu.”

“Aku tidak tidur dengannya, Jungmo. Dia memijat leher dan punggungku saat aku memuntahkan tequila yang aku minum. Hanya seromantis itu.”

Ia tertawa lagi. “Aku pikir kita tidak mendapat kesempatan yang adil, tidak saat kau tinggal bersama Minho. Sebenarnya, Taemin, aku menyukaimu. Aku tidak tahu kenapa tadi aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.” aku tersenyum dan ia memegang tanganku, menyentuh gelangku dengan jarinya. “Aku mungkin menakutimu dengan hadiah bodoh ini, tapi aku belum pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Aku merasa aku selalu harus bersaing dengan Minho untuk menarik perhatianmu.”

“Kau tidak manakutiku dengan gelang ini.”

Ia menutup rapat bibirnya. “Aku ingin mengajakmu berkencan lagi dua minggu dari sekarang, setelah taruhanmu dengan Minho berakhir. Pada saat itu kita bisa berkonsentrasi untuk saling mengenal satu sama lain tanpa gangguan.”

“Cukup adil.”

Ia mendekat dan menutup matanya, lalu mencium bibirku sekilas. “Aku akan meneleponmu secepatnya.”

Aku melambaikan tangan saat berpisah dengannya, lalu kembali ke kafetaria, melewati Minho. Ia memegangku lalu menariknya ke pangkuannya. “Putus cinta itu sulit ya?”

“Dia ingin mencoba lagi kalau aku sudah kembali ke asrama.”

“Sialan. Aku harus mulai memikirkan taruhan lainnya,” katanya menarik piringku ke hadapannya.

***

Dua minggu berikutnya berlalu. Selain untuk kuliah, aku menghabiskan semua waktuku bersama Minho dan kebanyakan kami habiskan berdua. Ia membawaku pergi makan malam, minum dan berdansa di Gogo’s, bermain bowling, dan ia dipanggil untuk bertarung dua kali. Saat kami tidak sedang menertawakan kebodohan kami sendiri, kami bermain gulat, atau meringkuk di sofa bersama Eve, dan menonton film. Ia membuktikan maksudnya untuk mengacuhkan semua wanita yang menggodanya dan semua orang membicarakan Minho yang baru.

Malam terakhirku di rumahnya, entah kenapa Kibum dan Jinki tidak ada, dan Minho berusaha mengadakan makan malam terakhir yang spesial. Ia membeli wine, menyusun serbet di atas meja, dan bahkan membeli peralatan makan yang baru untuk acara ini.

Ia menaruh piring kami di meja tempat kami sarapan dan menarik bangkunya ke sisi lainnya dari meja agar duduk berhadapan denganku. Untuk pertama kalinya, aku mendapat firasat kuat kalau kami sedang berkencan.

“Ini sangat enak, Minho. Kau tidak memberitahu sebelumnya kalau kau pandai memasak,” kataku sambil mengunyah Cajun Chicken Pasta yang dimasaknya.

Ia memaksakan satu senyuman dan aku melihat bahwa ia berusaha untuk membuat percakapan tetap santai. “Jika aku memberitahumu sebelumnya, kau akan mengharapkan ini setiap malam,” senyumnya menghilang dan matanya menatap meja.

Aku memutar-mutar makanan dalam piringku. “Aku akan merindukanmu juga, Minho.”

“Kau akan tetap datang berkunjung, kan?”

“Kau tahu aku akan datang berkunjung. Dan kau akan ke asrama untuk membantuku belajar seperti sebelumnya.”

“Tapi itu tidak akan sama,” ia mengela napas. “Kau akan berkencan dengan Jungmo, kita akan sibuk.. berjalan ke arah yang berbeda.”

“Tidak akan berubah sebanyak itu.”

Ia berhasil tersenyum. “Siapa akan mengira pada saat kita bertemu pertama kali kita akan duduk di sini? Kau seharusnya memberitahuku tiga bulan yang lalu bahwa aku akan menderita seperti ini karena mengucapkan selamat tinggal pada seseorang.”

Perutku tiba-tiba terasa menegang tidak karuan. “Aku tidak ingin kau menderita.”

“Kalau begitu, jangan pergi,” katanya. Ekspresinya sangat putus asa mengakibatkan rasa bersalah membentuk gumpalan di tenggorokanku.

“Aku tidak bisa pindah ke sini, Minho. Itu gila.”

“Kata siapa? Aku baru saja merasakan dua minggu terindah dalam hidupku.”

“Aku juga,” kataku lirih. Aku memang mengakui kalau waktu dua minggu kebelakang menjadi hal terindah dalam hidupku.

“Lalu kenapa aku merasa seperti tidak akan pernah melihatmu lagi?”

Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Wajahnya tegang, namun ia tidak marah. Dorongan untuk menghampirinya sangat kuat, maka aku berdiri dan berjalan mengitari meja, lalu duduk di pangkuannya. Ia tidak menatapku, jadi aku yang memeluk lehernya.

“Kau akan menyadari betapa menyebalkannya aku, lalu kau akan melupakan semua yang menuntunmu untuk merindukanku,” kataku di telinganya.

Ia mengembuskan napasnya ke udara saat mengusap punggungku. “Janji?”

Aku bersandar dan menatap matanya, menyentuh wajahnya dengan tanganku. Aku membelai rahang tegasnya dengan ibu jariku; ekspresinya sangat menghancurkan hati. Aku menutup mataku dan mendekat untuk mencium ujung bibirnya, namun ia berpaling sehingga aku mencium bibirnya lebih dari yang dimaksud.

Meskipun ciuman ini membuatku terkejut, aku tidak mundur dan tidak menolaknya. Minho membiarkan bibirnya di atas bibirku, namun ia tidak bertindak lebih jauh.

Akhirnya aku yang menjauh, lalu tersenyum. “Besok adalah hari besar untukku. Aku akan membereskan dapur lalu pergi tidur.”

“Aku akan membantumu.”

***

Kami mencuci piring bersama sambil terdiam membisu dan Eve tertidur di bawah kaki kami. Ia mengeringkan piring terakhir dan menaruhnya di rak, lalu menuntunku menelusuri lorong, memegang tanganku sedikit erat. Jarak antara ujung lorong dengan kamarnya tampak dua kali lebih jauh. Kami berdua tahu bahwa perpisahan hanya tinggal beberapa jam lagi.

Ia bahkan tidak berusaha berpura-pura tidak melihat saat aku mengganti pakaianku ke salah satu kaus tidurnya. Ia membuka pakaiannya sehingga tinggal memakai celana boxernya, lalu masuk ke bawah selimut, menungguku bergabung dengannya.

Setelah aku naik, Minho mematikan lampu dan menarikku mendekat padanya tanpa meminta ijin atau permintaan maaf. Ia menegangkan tangannya dan mengela napas, dan aku meletakkan wajahku di lehernya. Aku menutup mataku rapat, berusaha untuk menikmati saat ini. Aku tahu aku akan mengharapkan momen ini terulang lagi setiap hari selama hidupku, maka aku menjalaninya dengan semua yang aku punya.

Ia menatap ke luar jendela. Pepohonan membuat bayangan di wajahnya. Minho menutup rapat matanya dan perasaan tenggelam menetap dalam diriku. Sangat menyakitkan melihatnya menderita, mengetahui bukan hanya aku yang mengakibatkannya.. aku juga satu-satunya yang bisa menghilangkannya.

“Minho? Kau baik-baik saja?” tanyaku.

Ada jeda yang cukup lama sebelum akhirnya ia berbicara. “Aku tidak pernah merasa kurang baik dari ini selama hidupku.”

Aku menekan dahiku pada lehernya dan ia memelukku erat. “Ini sangat konyol,” kataku.

“Kita akan tetap akan bertemu setiap hari.”

“Kau tahu itu tidak benar.”

Besarnya rasa duka yang kami berdua rasakan telah menghancurkan kami dan kebutuhan tak tertahankan untuk menyelamatkan kami berdua muncul dalam diriku.

Aku mengangkat kepalaku menatapnya, namun ragu; apa yang akan aku lakukan akan mengubah segalanya. Aku beralasan bahwa Minho menganggap hubungan intim bukan apa-apa selain hanya untuk menghabiskan waktu, lalu aku menutup mataku lagi dan menelan rasa takutku. Aku harus melakukan sesuatu, mengetahui kami berdua masih terbangun, takut pada setiap menit yang berlalu hingga pagi.

Hatiku berdebar kencang saat aku menyentuh lehernya dengan bibirku, lalu merasakan kulitnya dalam ciuman pelan dan lembut. Ia melihat ke bawah dengan rasa terkejut lalu matanya melembut saat menyadari apa yang aku inginkan.

Ia mendekat, menekan bibirnya di bibirku dengan rasa manis yang lembut. Kehangatan dari bibirnya mengalir sampai kakiku dan aku menariknya lebih dekat.

Sekarang setelah kami mengambil langkah pertama, aku tidak punya keinginan untuk menghentikannya. Aku membuka bibirku, membiarkannya masuk. “Aku menginginkanmu,” kataku.

Tiba-tiba ciumannya menjadi pelan dan ia berusaha menjauh. Bertekad untuk menyelesaikan apa yang aku mulai, mulutku menciumnya lebih gugup lagi. Akibatnya, Minho mundur hingga ia berlutut. Aku bangkit mengikutinya, menjaga agar mulut kami tetap menyatu.

Ia mencengkeram kedua bahuku untuk menahanku. “Tunggu sebentar,” bisiknya terengah-engah dengan senyuman senang di wajahnya. “Kau tidak harus melakukan ini, Taemin. Ini bukan maksud dari malam ini.”

Ia menahan, namun aku dapat melihat di matanya bahwa pengendalian dirinya tidak akan lama. Aku mendekat lagi dan kali ini tangannya memberi jalan untuk bibirku menyentuh bibirnya. “Jangan membuatku memohon,” bisikku di mulutnya.

Dengan empat kata itu, keberatannya hilang. Ia menciumku dengan keras dan bersemangat. Jariku menelusuri punggungnya dan berhenti di atas karet celana boxernya, dengan gugup menelusurinya. Bibirnya menjadi tidak sabar dan menuntut. Aku terjatuh di tempat tidur saat ia menindihku. Lidahnya menemukan jalannya untuk masuk sekali lagi, dan ketika aku mendapat keberanian untuk memasukkan tanganku diantara kulit dan celana boxernya, ia mengerang.

Minho menarik lepas kaus dari atas kepalaku kemudian tangannya dengan tidak sabar bergerak ke bagian bawahku, memegang celana boxerku dan melepasnya dari kakiku dengan satu tangan. Bibirnya kembali ke bibirku saat tangannya meluncur ke dalam pahaku dan aku mengeluarkan napas panjang yang terengah saat jarinya mengembara di tempat dimana tidak seorangpun yang pernah menyentuhnya sebelumnya. Lututku terangkat dan mengejang pada setiap gerakan tangannya dan saat aku mencengkeram kulitnya, ia memosisikan dirinya di atasku.

“Taemin,” panggilnya dengan terengah. “Kita tidak harus melakukannya malam ini. Aku akan menunggu hingga kau siap.”

Aku melihat ke atas kepalaku dan meraih laci teratas di meja nakas, menariknya hingga terbuka. Merasakan plastik diantara jariku, aku meletakkan ujungnya di bibirku, merobek bungkusnya terbuka menggunakan giginya. Tangannya yang bebas meninggalkan punggungku dan ia menurunkan celana boxernya, menendang lepas seolah ia tidak tahan itu berada diantara kami.

Bungkusnya bergemericik di ujung jarinya dan setelah beberapa saat aku merasakannya di pahaku. Aku menutup mataku.

“Tataplah aku, Taemin.”

Aku menatapnya. Matanya tajam dan lembut pada saat yang sama. Ia memiringkan kepalanya, berbaring mendekat untuk menciumku dengan lembut, kemudian tubuhnya menjadi tegang. Mendorong dirinya ke dalam diriku dengan gerakan kecil dan pelan. Ketika ia menarik kembali, aku menggigit bibirku karena merasa tidak nyaman; saat ia bergerak dalam tubuhku lagi, aku menutup mataku karena kesakitan. Pahaku menjadi tegang di sekeliling pinggangnya dan ia menciumku lagi.

“Tataplah aku,” bisiknya.

Ketika aku membuka mataku, ia menekan kedalam lagi, dan aku menjerit karena itu mengakibatkan rasa terbakar yang nikmat. Setelah aku tenang, gerakan tubuhnya dan tubuhku menjadi lebih berirama.

Rasa gugup yang awalnya aku rasakan telah hilang dan Minho mencengkeram kulitku seolah ia tidak pernah merasa cukup. Aku menariknya masuk kedalam diriku dan ia mengerang ketika itu terasa semakin nikmat.

“Aku menginginkanmu sudah sangat lama, Taemin. Hanya kau yang aku inginkan,” ujarnya bernapas di mulutku.

Ia memegang pahaku dengan satu tangan dan menyangga tubuhnya dengan siku. Hanya beberapa senti di atasku. Keringat tipis mulai menetes di atas kulit kami dan aku mengangkat punggungku saat bibirnya menelusuri wajahku lalu leherku.

“Minho,” kataku mendesah.

Saat aku menyebut namanya, ia menekan pipinya di pipiku dan gerakannya menjadi semakin keras. Suara dari tenggorokannya semakin kencang. Ia menekan dalam diriku sekali lagi, mengerang, dan bergetar di atas tubuhku.

Setelah beberapa saat, ia menjadi tenang dan membuat napasnya teratur. “Tadi itu adalah ciuman pertama yang hebat,” kataku dengan sedikit lelah dan rasa puas.

Ia mengamati wajahku dan tersenyum. “Ciuman pertama terakhirmu.”

Aku terlalu terkejut untuk menjawab.

Ia ambruk telungkup di sampingku, membentangkan tangannya di atas pinggangku, meletakkan dahinya di dekat pipiku. Jariku bergerak menelusuri kulit punggung telanjangnya hingga aku mendengar napasnya semakin pelan.

Aku tetap terjaga selama beberapa jam, mendengarkan napas Minho yang dalam dan angin menggerakkan pepohonan di luar. Kibum dan Jinki masuk lewat pintu depan dengan pelan, lalu aku mendengar langkah jinjit di sepanjang lorong, bergumam satu sama lain.

Kami sudah mengepak barang-barang tadi, aku meringis membayangkan akan merasa tidak nyaman nanti pagi. Kupikir setelah Minho tidur denganku, rasa penasarannya akan terpuaskan, namun ia justru membicarakan tentang apa yang terjadi selanjutnya. Mataku langsung tertutup karena memikirkan ekspresinya saat mengetahui apa yang telah terjadi diantara kami bukanlah merupakan suatu permulaan, namun penutupan. Aku tidak bisa menjalani hubungan itu dan ia akan membenciku saat aku memberitahunya.

Aku bergerak keluar dari bawah tangannya lalu berpakaian, membawa sepatuku keluar menuju kamar Jinki. Kibum sedang duduk di tempat tidur dan Jinki sedang membuka kausnya di depan lemari.

“Semua baik-baik saja, Taemin?” Jinki bertanya.

“Kibum-ah?” kataku memberinya tanda untuk mengikutiku ke lorong.

Ia mengangguk, melihatku dengan tatapan curiga. “Apa yang terjadi?”

“Aku ingin kau mengantarku ke asrama sekarang. Aku tidak bisa menunggu sampai besok.”

Satu sudut wajahnya terangkat karena senyuman. “Kau tidak pernah bisa menangani perpisahan.”

Jinki dan kibum membantuku membawa tas dan aku memandang keluar jendela mobil Kibum dalam perjalanan menuju asrama. Saat kami menurunkan tas terakhir di kamarku, Kibum memegangku.

“Akan terasa sangat berbeda sekarang di rumah mereka.”

“Terima kasih sudah mengantarku pulang. Matahari akan terbit beberapa jam lagi, sebaiknya kau pergi,” kataku sambil meremas tangannya sekali lagi sebelum melepaskannya.

Kibum tidak melihat ke belakang lagi saat ia meninggalkan kamar dan aku menggigit bibirku dengan gugup, menyadari akan sangat marahnya ia saat menyadari apa yang telah aku lakukan.

Kausku mengeluarkan suara seperti sobekan saat aku menariknya dari atas kepalaku, listrik statis di udara telah meningkat karena musim dingin yang semakin dekat. Merasa sedikit tersesat, aku meringkuk di bawah selimut tebalku dan menarik napas melalui hidungku; aroma tubuh Minho masih terasa di kulitku.

Tempat tidur terasa dingin dan asing. Sangat kontras dengan kehangatan tempat tidurnya Minho. Aku telah menghabiskan tiga puluh hari di rumah sempit dengan lelaki brengsek yang paling terkenal di kampusku, meskipun dengan semua pertengkaran dan tamu tengah malam, disanalah satu-satunya tempat dimana aku ingin berada.

***

Telepon berbunyi mulai dari jam delapan pagi, lalu menjadi setiap lima menit sekali selama satu jam.

Aku meraih teleponku dan mematikannya. Sesaat setelah aku mematikan teleponku, aku mendengar ada yang menggedor pintu dan aku menyadari aku tidak akan bisa menghabiskan hariku di atas tempat tidur seperti yang sudah aku rencanakan.

Aku bangun dan membukakan pintu. “Ada apa, Kibum-ah?”

“Minho mengamuk! Dia tidak mau memberitahu kami, dia menghancurkan rumah, melempar stereo ke seberang ruangan.. Jinki tidak bisa membujuknya!”

Aku menggosok mata dengan telapak tanganku, lalu berkedip. “Aku tidak tahu.”

“Omong kosong! Kau akan memberitahuku apa yang telah terjadi dan kau akan memberitahukannya sekarang!”

“Pelankan suaramu, Kibum, ya Tuhan,” aku berbisik.

Ia menutup rapat bibirnya. “Apa yang telah kau lakukan?”

Kupikir ia hanya akan marah padaku; aku tak tahu ia akan mengamuk.

“Aku.. tidak tahu,” aku menelan ludah.

“Dia melayangkan tinjunya ke arah Jinki ketika dia tahu kami membantumu pergi. Taemin! Kumohon beritahu aku!” matanya berkaca-kaca. “Itu menakutiku.”

Rasa ngeri di matanya membuatku memberitahukan sebagian dari yang terjadi sebenarnya. “Aku hanya tidak dapat mengucapkan selamat tinggal. Kau tahu itu berat untukku.”

“Bukan itu, pasti ada yang lain, Taemin. Dia menjadi gila! Aku mendengarnya memanggil namamu, lalu dia berlari ke seluruh sudut ruangan mencari dirimu. Dia menerobos masuk ke kamar Jinki, memaksa ingin mengetahui keberadaanmu. Lalu dia mencoba meneleponmu. Lagi, dan lagi, dan lagi,” ia mengela napas. “Wajahnya sangat.. ya Tuhan, Taemin. Aku belum pernah melihatnya seperti itu. Dia merobek sprei tempat tidurnya lalu melemparnya, melempar bantalnya, menghancurkan cerminnya dengan tinju, menendang pintu.. melepasnya dari engsel! Itu adalah kejadian yang paling menakutkan dalam hidupku!”

Aku menutup mataku, sehingga air mata di ujung mataku turun ke pipiku.

Kibum memberikan ponselnya padaku. “Kau harus meneleponnya. Setidaknya kau harus memberitahunya bahwa kau baik-baik saja.”

“Oke, aku akan meneleponnya.”

Ia menyodorkan ponselnya lagi padaku. “Tidak, kau harus meneleponnya, sekarang.”

Aku mengambilnya dan menekan tombol, berusaha memikirkan apa yang bisa aku katakan padanya. Ia merebut ponsel dari tanganku, menekan nomor, lalu menyerahkannya padaku. Aku memegang ponsel di telingaku dan mengambil napas panjang.

Kibum?” Minho menjawab teleponnya, suaranya sangat cemas.

“Ini aku.”

Hening sesaat sebelum akhirnya ia mulai bicara. “Apa yang terjadi padamu semalam? Aku terbangun pagi ini, kau tidak ada dan kau.. pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal? Kenapa?

“Maafkan aku. Aku—”

Kau minta maaf? Aku menjadi gila kau tidak menjawab teleponmu, menyelinap pergi dan, apa—kenapa? Kupikir kita akhirnya menyadari semuanya!

“Aku hanya membutuhkan waktu untuk berpikir.”

Berpikir tentang apa?” ia berhenti. “Apa aku telah menyakitimu?

“Tidak! Bukan itu. Aku benar-benar.. benar-benar minta maaf. Aku yakin Kibum telah memberitahumu. Aku tidak mampu mengucapkan selamat tinggal.”

Aku harus bertemu denganmu,” katanya. Suaranya terdengar putus asa.

Aku mengela napas. “Banyak yang harus aku kerjakan hari ini. Aku harus membongkar barang-barangku dan aku punya setumpuk baju yang harus dicuci.”

Kau menyesalinya,” katanya terdengar hancur.

“Bukan.. bukan karena itu. Kita berteman. Dan itu tidak akan berubah.”

Berteman? Lalu kau pikir semalam itu apa?” katanya. Kemarahannya terdengar dalam suaranya.

Aku menutup mataku rapat. “Aku tahu apa yang kau inginkan. Aku hanya tidak bisa.. melakukannya saat ini.”

Jadi kau hanya membutuhkan waktu?” tanyanya dengan suara yang lebih tenang. “Kau seharusnya memberitahuku. Kau tidak perlu lari dariku.

“Itu adalah cara yang paling mudah.”

Paling mudah untuk siapa?

“Aku tidak bisa tidur. Aku terus berpikir tentang bagaimana rasanya nanti pagi, saat memasukkan tasku ke dalam mobil Kibum dan.. aku tidak bisa melakukannya, Minho,” kataku.

Itu sudah cukup buruk bahwa kau tidak akan berada disini lagi. Kau tidak bisa langsung menghilang dari hidupku.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum. “Kita akan bertemu besok. Aku tidak ingin semua menjadi aneh, oke? Aku hanya ingin memikirkan beberapa masalah dulu. Hanya itu.”

Oke,” katanya. “Aku bisa melakukannya.

Aku menutup teleponnya dan Kibum membelalak ke arahku. “Kau.. tidur dengannya? Sialan! Kau bahkan tidak akan memberitahuku?”

Aku memutar mataku dan ambruk di atas bantal. “Ini bukan tentang dirimu, Kibum. Ini menjadi satu masalah sulit dan rumit.”

“Apanya yang sulit tentang itu? Kalian berdua seharusnya sangat bahagia, bukannya merusak pintu atau bersembunyi di kamarmu!”

“Aku tidak boleh bersamanya,” kataku berbisik lalu memandangi langit-langit.

Tangannya memegang tanganku, ia bicara dengan lembut. “Bersama Minho memang butuh banyak usaha. Percayalah padaku, aku mengerti semua rasa ragumu padanya, tapi lihat bagaimana ia telah berubah begitu banyak untukmu. Pikirkan tentang dua minggu yang lalu, Taemin. Dia tidak seperti ayahmu.”

“Aku yang seperti dia! Aku terlibat dengan Minho dan semua yang telah kami lakukan.. lenyap!” aku menjetikkan jariku. “Begitu saja!”

“Minho tidak akan membiarkan itu terjadi.”

“Itu bukan tergantung padanya sekarang, bukan?”

“Kau akan menghancurkan hatinya, Taemin. Kau akan menghancurkan hatinya! Satu-satunya orang yang dia percaya untuk dicintai dan kau akan sangat menyakitinya!”

Aku berpaling darinya, tidak mampu melihat ekspresinya yang datang bersamaan dengan nada pembelaan di suaranya.

“Aku ingin akhir yang bahagia. Itu alasan kita datang kemari.”

“Kau tidak harus melakukan ini. Semua akan berjalan lancar.”

“Hingga keberuntunganku habis.”

Kibum mengangkat tangannya ke atas dan menjatuhkannya di pangukuan. “Ya Tuhan, Taemin, jangan bicara tentang omong kosong itu lagi. Kita sudah membahas tantang ini.”

Teleponku berbunyi dan aku melihat nama di layarnya. “Jungmo.”

Ia menggelengkan kepalanya. “Kita belum selesai bicara.”

“Halo?” aku menjawab, menghindari tatapan Kibum.

Taemin! Ini hari pertama dari kebebasanmu! Bagaimana rasanya?” katanya.

“Itu terasa.. bebas,” kataku tidak bisa mengeluarkan sedikit pun nada antusias.

Makan malam besok malam? Aku merindukanmu.

“Ya,” aku mengelap hidungku dengan baju. “Besok adalah ide yang bagus.”

Setelah aku menutup teleponnya, Kibum merengut. “Minho akan bertanya padaku saat aku pulang,” katanya. “Dia akan bertanya apa saja yang kita bicarakan. Apa yang harus akan katakan padanya?”

“Katakan padanya bahwa aku menepati janjiku. Saat besok tiba, dia tidak akan merindukanku.”

-to be continued-

The Bet : Love Begin #8

AN ORIGINAL NOVEL WRITTEN BY JAMIE MCGUIRE WITH TITLE “BEAUTIFUL DISASTER”

Rewritten by bluesch ©2017

A poster by Afina23@Poster Channel

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki |


-cue-

Ketika akhirnya mataku terbuka, aku melihat bahwa aku tidur beralaskan kaki yang memakai celana jin. Minho duduk bersandar pada tub dan kepalanya ke tembok, tidur meringkuk kedinginan. Ia terlihat sama parahnya denganku. Aku melepas selimutku lalu berdiri, tersentak melihat bayanganku yang menakutkan dalam cermin di atas wastafel.

Aku terlihat seperti mayat.

Wajah pucat pasi, mata bengkak, kantung mata yang begitu besar, dan rambut yang berantakan.

Ada sprei, handuk, dan selimut di sekeliling Minho. Ia membuat alas empuk untuknya tidur sementara aku memuntahkan lima belas sloki tequila yang aku minum tadi malam. Minho memijat punggungku dan duduk bersamaku sepanjang malam.

Aku menyalakan kran air dan menahan tanganku di bawah air hingga temperaturnya sesuai dengan yang aku inginkan. Menggosok wajah kusutku, lalu aku mendengar erangan dari lantai. Minho bangun, menggosok matanya, menggeliat dan melihat ke sebelahnya, ia tersentak panik.

“Aku di sini,” kataku. “Kenapa kau tidak pergi ke kamar saja untuk tidur lagi?”

“Kau baik-baik saja?” tanyanya mengusap matanya sekali lagi.

“Ya, aku baik-baik saja. Well, sebaik yang aku bisa. Aku merasa lebih baik setelah mandi nanti.”

“Kau sangat hebat tadi malam, asal kau tahu. Aku tak tahu dari mana asalnya, tapi aku tidak ingin kau melakukannya lagi,” katanya seraya berdiri.

“Aku sudah terbiasa, Minho. Bukan masalah besar bagiku.”

Ia memegang pipiku dengan tangannya yang panjang, lalu menghapus sisa air setelah aku membasuh wajah tadi dengan ibu jarinya. “Itu masalah besar bagiku.”

“Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Puas?”

“Ya. Aku akan memberitahumu sesuatu, tapi janji kau tidak akan panik.”

Oh my God, apa yang telah aku lakukan?”

“Kau tidak melakukan apapun, tapi kau harus menelepon Kibum.”

“Dimana dia?”

“Di asrama. Ia bertengkar dengan Jinki tadi malam.”

***

Aku mandi dengan tergesa-gesa dan memakai baju yang sudah Minho siapkan untukku di atas wastafel. Ketika aku keluar dari kamar mandi, Jinki dan Minho sedang duduk di ruang tamu.

“Apa yang telah kau lakukan padanya?”

Wajah Jinki tampak sedih. “Dia sangat marah padaku.”

“Apa yang terjadi?”

“Aku marah padanya karena menyuruhmu untuk minum sebanyak itu. Kupikir kita akan berakhir membawamu ke rumah sakit. Satu hal mengarah ke hal lainnya, dan selanjutnya yang aku tahu kami saling berteriak. Kami berdua mabuk, Taemin. Aku mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku tarik kembali,” ia menggelengkan kepala menunduk.

“Seperti apa?”

“Aku menyebutnya sesuatu yang tidak aku banggakan lalu menyuruhnya pergi.”

“Kau membiarkannya pergi dari sini dalam keadaan mabuk? Apa kau idiot?” kataku lalu mengambil tas.

“Tenang, Taemin. Dia sudah cukup merasa bersalah,” kata Minho mencoba menenangkanku.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan menghubungi nomor Kibum. “Halo?” ia menjawabnya dan terdengar sangat kacau.

 “Aku baru saja mendengarnya,” aku mengela napas. “Apa kau baik-baik saja?” aku berjalan ke luar untuk mendapatkan privasi dan sekali lagi melihat ke arah Jinki dengan tatapan marah.

Aku baik-baik saja. Dia brengsek,” kata-katanya kasar tapi aku bisa mendengar rasa sakit dalam suaranya. Kibum ahli dalam menyembunyikan emosinya, dan ia dapat menyembunyikannya dari semua orang kecuali aku.

“Maafkan aku tidak pergi bersamamu.”

Kau sedang tidak bisa, Taemin,” katanya dengan acuh.

“Kenapa kau tidak menjemputku sekarang? Kita bisa bicarakan masalah ini.”

Ia bernapas kearah telepon. “Aku tidak mau. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.

“Aku akan menyuruhnya agar tetap di dalam kalau begitu.”

Ia terdiam cukup lama, lalu aku mendengar suara kunci di telepon. “Baiklah. Aku akan tiba di sana dalam lima belas menit.

Aku masuk ke ruang tamu, mengaitkan tas di punggungku. Mereka mengamatiku membuka pintu untuk menunggu Kibum, dan Jinki bergeser ke depan di atas sofa.

“Dia akan datang kemari?”

“Dia tidak ingin bertemu denganmu, Jinki-ya. Aku bilang padanya kalau kau akan tetap di dalam.”

Ia mengela napas dan menjatuhkan diri ke kursi. “Dia membenciku.”

“Aku akan berbicara dengannya. Tapi sebaiknya kau punya cara yang hebat untuk meminta maaf.”

***

Lima belas menit kemudian, suara klakson mobil berbunyi dua kali di luar dan aku menutup pintu di belakangku.

Ketika aku tiba di dasar tangga, Jinki melewatiku dengan cepat menuju mobil Kibum dan membungkuk untuk melihat ke dalam jendela mobil. Aku berhenti melihat Kibum mengumpat pada Jinki sambil menatap lurus ke depan. Ia menurunkan jendelanya dan Jinki terlihat sedang menjelaskan, lalu mereka mulai berdebat. Aku masuk ke dalam untuk memberi mereka privasi.

“Sweety?” Minho memanggilku sambil berlari kecil menuruni tangga.

“Terlihat buruk.”

“Biarkan mereka menyelesaikannya, ayo kita masuk,” katanya dengan jarinya meraih jariku dan menuntunku ke atas.

“Apakah seburuk itu?” tanyaku.

“Lumayan buruk. Mereka baru saja keluar dari masa bulan madu. Mereka akan menyelesaikannya,” jelasnya seraya menganggukkan kepala.

“Untuk seseorang yang tidak pernah mempunyai pacar, kau tampak seperti tahu banyak tentang suatu hubungan.”

“Aku punya seorang saudara laki-laki dan teman yang banyak,” katanya menyeringai pada dirinya sendiri.

Jinki masuk ke dalam rumah lalu membanting pintu di belakangnya. “Tidak masuk akal!”

Aku mencium Minho di pipi. “Itu tandaku.”

“Semoga berhasil,” katanya tersenyum.

Aku meluncur duduk di samping Kibum dan ia mendengus. “Dia sangat tidak masuk akal!”

Aku tertawa, namun ia melotot ke arahku. “Maaf,” kataku memaksa senyumku agar menghilang.

Kami bersiap-siap untuk pergi dan Kibum berteriak, menangis lalu berteriak lagi. Terkadang ia mengeluarkan kata-kata umpatan yang ditujukan untuk Jinki, seolah ia duduk di tempatku. Aku duduk dengan tenang  membiarkannya mengatasi dengan caranya sendiri.

“Dia menyebutku tidak bertanggung jawab! Padaku! Seperti aku tidak mengenalmu! Seperti aku tak pernah melihatmu mencuri wine milik ayahmu yang berharga ratusan ribu won! Dia tak tahu apa yang dia bicarakan! Dia tak tahu bagaimana kehidupanmu dulu! Dia tak tahu apa yang aku tahu dan dia memperlakukanku seperti aku adalah anaknya, bukan kekasihnya!” Aku memegang tangannya namun ia menariknya menjauh. “Dia pikir kau yang akan menjadi alasan hubungan kami tidak akan berjalan dengan baik, tapi justru dia yang melakukannya sendiri. Dan berbicara tentang dirimu, apa yang kau pikirkan tadi malam bersama Jungmo?”

Pergantian topik pembicaraan yang tiba-tiba membuatku terkejut. “Apa maksudmu?” tanyaku seraya mengerutkan kedua alis.

“Minho mengadakan pesta untukmu, Taemin. Tapi kau malah pergi dan bercumbu dengan Jungmo. Dan kau heran kenapa orang lain membicarakanmu!”

“Tunggu sebentar! Aku memberitahu Jungmo bahwa kami tidak seharusnya melakukan di belakang sana. Apa masalahnya jika Minho mengadakan pesta itu untukku atau bukan? Aku tidak berpacaran dengannya!” Kibum menatap lurus ke depan lalu mengembuskan udara dari hidungnya. “Baiklah, Kibum. Ada apa? Kau marah padaku sekarang?”

“Aku tidak marah padamu. Aku hanya tidak kebal dengan orang yang benar-benar idiot.”

Aku menggelengkan kepala lalu melihat keluar jendela sebelun aku mengatakan sesuatu yang akan aku sesali. Kibum selalu bisa membuatku merasa buruk saat ia menginginkannya.

“Apa kau benar-benar melihat apa yang terjadi?” tanyanya. “Minho berhenti bertarung. Dia tidak membawa seseorang pulang. Dan kau mengkhawatirkan tentang apa yang dibicarakan orang lain. Kau tahu kenapa itu, Taemin? Karena itu adalah kebenaran!”

Aku berpaling, menjulurkan leherku dengan pelan ke arahnya, mencoba untuk memberikan tatapan paling marah yang aku tahu padanya. “Ada apa denganmu?”

“Kau berkencan dengan Jungmo, sekarang, dan kau sangat bahagia,” katanya dengan nada menghina. “Tapi kenapa kau tidak pulang ke asrama?”

“Karena aku kalah taruhan, kau tahu itu!”

“Yang benar saja, Taemin! Kau bicara tentang betapa sempurnanya Jungmo, kencanmu dengannya selalu sempurna, bicara dengannya berjam-jam di telepon, lalu kau tidur di samping Minho setiap malam. Kau melihat apa yang salah dengan situasi ini? Jika kau benar-benar menyukai Jungmo, semua barang-barangmu sudah akan berada di asrama sekarang.”

Gigiku terkatup dengan rapat. “Kau tahu aku tidak pernah lari saat kalah taruhan, Kibum-ah.”

“Itu yang harus dipikirkan,” katanya memutar tangannya di atas kemudi. “Minho adalah orang kau inginkan, sedangkan Jungmo hanyalah orang yang kau pikir kau butuhkan.”

“Aku tahu kelihatannya seperti itu, tapi–“

“Kelihatan seperti itu oleh semua orang. Jadi jika kau tidak suka dengan cara orang lain membicarakan dirimu, ubahlah. Ini bukan kesalahan Minho. Dia berubah 180 derajat untukmu. Kau yang dapat hadiah tapi Jungmo yang mendapatkan keuntungannya.”

“Seminggu yang lalu kau ingin membawaku pergi dan tidak akan pernah membiarkan Minho mendekatiku lagi! Sekarang kau membelanya?”

“Lee Taemin! Aku tidak membelanya, Bodoh! Aku justru menjagamu! Kalian berdua tergila-gila satu sama lain! Lakukan sesuatu tentang itu!”

“Bagaimana bisa kau berpikir aku harus  bersamanya?” ratapku. “Kau seharusnya menjauhkanku dari orang seperti dia!”

Ia menutup bibirnya rapat, jelas kehilangan kesabarannya. “Kau telah bersusah payah untuk menjauhkan diri dari ayahmu. Itu adalah satu-satunya alasan kau mempertimbangkan Jungmo! Dia bertolak belakang dengan mantanmu yang brengsek itu. Dan kau pikir Minho akan membawamu kembali ke tempat kau dulu berada. Dia bukan ayahmu, Taemin.”

“Aku tidak bilang dia seperti ayahku, tapi itu membuatku dalam posisi harus menuruti segala kemauannya.”

“Minho tidak akan melakukannya padamu. Kupikir kau meremehkan betapa berartinya dirimu untuknya. Jika saja kau memberitahunya–“

“Tidak. Kita meninggalkan semua di belakang agar semua orang di sini tidak melihatku seperti mereka di Jeju. Kita fokus pada masalah yang ada saja dulu. Jinki menunggumu.”

“Aku tidak ingin membicarakannya,” katanya melaju pelan untuk berhenti di lampu merah.

“Dia menderita, Kibum-ah. Dia mencintaimu.”

Matanya penuh dengan air mata dan bibir bawahnya bergetar. “Aku tidak peduli.”

“Kau peduli.”

“Aku tahu,” katanya berbisik menyenderkan kepalanya ke bahuku. Ia menangis hingga lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Aku mengelus punggungnya yang bergetar.

“Lampu hijau.”

Ia kembali duduk dan mengelap sisa air matanya. “Aku sangat jahat padanya tadi. Kupikir dia tidak akan mau bicara denganku sekarang.”

“Dia akan bicara padamu. Dia tahu kau sedang kesal.”

Kibum mengusap wajahnya lalu berputar arah pelan-pelan. Aku tadinya khawatir harus terus membujuknya agar dia mau pulang bersamaku, dan Jinki sudah berlari di tangga sebelum Kibum mematikan mesin mobilnya.

Ia menarik membuka pintu mobil Kibum lalu membantunya berdiri. “Maafkan aku, Sayang. Aku harusnya mengurus urusanku sendiri, aku.. aku mohon jangan pergi. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpa dirimu.”

Kibum memegang wajah Jinki lalu tersenyum. “Kau adalah seorang bajingan sombong, tapi aku tetap mencintaimu.”

Jinki menciumnya berkali-kali seolah sudah tidak bertemu dengannya selama berbulan-bulan, dan aku tersenyum karena berhasil melakukan tugasku. Minho berdiri di ambang pintu, tersenyum kecil saat aku masuk rumah.

“Dan mereka hidup bahagia selamanya,” katanya sambil menutup pintu di belakangku. Aku menjatuhkan diri ke sofa dan ia duduk di sampingku, menarik kakiku ke atas pangkuannya. “Apa yang ingin kau lakukan hari ini, Sweety?”

“Tidur. Atau istirahat.. atau tidur.”

“Sebelumnya bolehkah aku memberikan hadiah untukmu sekarang?”

Aku mendorong bahunya. “Astaga! Kau memberikanku hadiah?”

Mulutnya membentuk senyuman gugup. “Ini bukan sesuatu yang berkilauan, tapi kupikir kau akan menyukainya.”

“Aku akan sangat menyukainya, meskipun belum melihatnya.”

Ia menurunkan kakiku dari pangkuannya, lalu ia menghilang ke kamar Jinki. Aku mengangkat kedua alisku saat aku mendengar ia bergumam, lalu ia keluar sambil memegang kotak. Ia menaruhnya di dekat kakiku lalu berjongkok di sampingnya.

“Bukalah. Aku ingin melihatmu terkejut,” ia tersenyum. Aku membuka tutup kotak itu seraya bingung sekaligus penasaran dengan isinya.

Mulutku menganga saat sepasang mata hitam besar melihat ke arahku. “Anak anjing?” tanyaku dengan suara terkejut namun senang luar biasa. Aku keluarkan makhluk kecil lucu itu dari kotak. Aku mengangkat si bulu cokelat tebal di depan wajahku, lalu ia menciumiku dengan hangat dan basah di mulutku.

Minho berseri-seri gembira. “Kau suka?”

“Suka? Aku bahkan sudah mencintainya! Kau memberiku seekor anak anjing!”

“Itu anjing jenis Poodle. Aku harus menempuh perjalanan selama tiga jam untuk mengambilnya hari kamis kemarin kepulang kuliah.”

“Jadi, waktu kau bilang akan pergi bersama Jinki untuk membawa mobilnya ke bengkel..”

“Kami mengambil hadiahmu,” ia mengangguk.

“Dia menggoyangkan ekornya.”

Minho membantuku memegang bola halus dan menaruhnya di atas pangkuanku.

“Aku akan memanggilnya Eve!” kataku sambil mengerutkan hidungku pada anak anjing yang sedang menggeliat.

“Kau bisa menyimpannya di sini. Aku akan merawatnya untukmu saat kau kembali ke asrama,” bibirnya membentuk senyuman yang dipaksakan. “Dan ini akan menjadi jaminanku agar kau datang berkunjung ketika satu bulan ini berakhir.”

Aku menutup rapat bibirku. “Bagaimanapun aku akan tetap berkunjung, Minho.”

“Aku akan melakukan apapun untuk melihat senyuman di wajahmu itu saat ini.”

“Kupikir kau butuh tidur siang, Eve,” kataku mengelus sayang bulu Eve.

Minho memngangguk, menarikku ke atas pangkuannya lalu berdiri. “Ayo. Kita tidur siang kalau begitu.”

Ia menggendongku ke kamar, menarik selimut lalu menurunkanku di tempat tidur. Merangkak di atasku, ia meraih tirai untuk ditutup lalu tidur di bantalnya.

“Terima kasih untuk tetap bersamaku tadi malam,” kataku membelai bulu halus Eve. “Kau tidak perlu tidur di lantai kamar mandi.”

“Tadi malam adalah malam terbaik dalam hidupku.”

Aku berpaling untuk melihat ekspresinya. Dan ketika aku melihatnya serius, aku memandangnya dengan tatapan meragukan. “Tidur di antara toilet dan tub diatas lantai yang dingin dengan seorang idiot yang terus muntah adalah salah satu malam terbaik dalam hidupmu? Itu menyedihkan, Minho.”

“Tidak. Tinggal bersamamu saat kau mual lalu kau tertidur di atas pangkuanku adalah malam terbaikku. Memang tidak nyaman, aku tidak bisa tidur nyenyak, tapi aku merayakan ulang tahunmu, dan kau lumayan manis saat mabuk.”

“Aku yakin diantara saat aku muntah dan kau menbersihkannya, aku sangat menawan.”

Ia menarikku mendekat, membelai Eve yang berbaring di atas leherku. “Kau satu-satunya orang yang aku tahu tetap terlihat cantik meskipun kepalamu di atas toilet sekalipun. Itu berarti sesuatu.”

“Terima kasih, Minho. Aku tidak akan menyusahkanmu lagi.”

Ia berbaring di atas bantalnya. “Terserah. Tidak ada yang bisa memijat leher dan punggungmu sebaik aku.”

Aku terkekeh lalu menutup mataku, membiarkan tenggelam dalam kegelapan.

***

“Bangun, Taemin!” teriak Kibum membangunkanku. Lalu disusul Eve yang menjilati pipiku.

“Iya, iya, aku bangun.”

“Kita ada kuliah setengah jam lagi!”

Aku melompat dari tempat tidur. “Aku sudah tidur selama.. empat belas jam? Oh my gosh!”

“Cepat mandi! Jika kau belum siap dalam sepuluh menit, aku akan meninggalkanmu!”

“Aku tidak punya waktu untuk mandi,” kataku sambil mengganti baju yang aku pakai tidur.

Minho menyangga kepalanya dengan tangan lalu tergelak. “Kalian menggelikan, dunia tidak akan kiamat gara-gara kalian terlambat satu kelas.”

“Akan kiamat jika kau adalah Kibum. Dia tidak pernah terlambat dan dia benci kalau harus terlambat,” kataku sambil memakai kaus dan celana jinku.

“Biarkan Kibum pergi terlebih dahulu, aku akan mengantarmu.”

Aku memasukkan satu kakiku lalu yang lainnya memakai sepatu buts. “Tasku ada di mobilnya, Minho.”

“Terserah,” ia mengangkat bahu. “Asal jangan sampai terluka saat kau terburu-buru masuk kelas.” Ia mengangkat Eve, menggendongnya dengan satu tangan seperti membawa bola kecil, lalu membawanya keluar.

Kibum mendorongku keluar pintu dan masuk ke dalam mobil. “Aku tidak percaya dia memberimu anak anjing,” katanya sambil melihat ke belakang saat mundur keluar dari tempat parkir.

Minho berdiri di bawah sinar matahari pagi, hanya memakai celana boxer dan bertelanjang kaki, tangannya memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Ia memerhatikan Eve yang sedang mengendus rumput, membujuknya seperti seorang ayah yang bangga.

“Aku belum pernah memiliki anjing sebelumnya,” kataku. “Ini akan menyenangkan.”

Kibum memandang Minho sebelum memasukkan persneling mobilnya. “Lihat dia,” kata Kibum sambil menggelengkan kepalanya. “Choi Minho; bapak rumah tangga.”

“Eve sangat lucu. Bahkan kau akan takluk di bawah tangannya.”

“Kau tidak bisa membawanya ke asrama nanti, kau tahu. Kupikir Minho tidak memikirkan tentang itu.”

“Minho bilang dia akan memeliharanya di rumah.”

Ia menarik ke atas satu alisnya. “Tentu saja. Minho selalu berpikir ke depan, aku salut padanya,” kata Kibum menggelengkan kepalanya lalu menginjak gas.

***

Aku terengah-engah, segera duduk di kursiku dengan sisa satu menit sebelum kuliah dimulai. Setelah adrenalin menghilang dari tubuhku, rasa berat dari koma pasca ulang tahun mengambil alih. Kibum menyikutku ketika kelas bubar dan aku mengikutinya ke kafetaria.

Jinki menunggu kami di pintu dan aku langsung menyadari ada yang tidak beres. “Kibum-ah,” kata Jinki memegang tangan Kibum.

Minho berlari ke arah kami, memegangi pinggangnya. Ia mengambil napas hingga agak tenang.

“Apa ada segerombolan wanita mengamuk yang mengejarmu?” godaku.

Ia menggeleng. “Aku mencoba mengejarmu.. sebelum kau.. masuk,” katanya sambil menarik napas.

“Apa yang terjadi?” tanya Kibum kepada Jinki.

“Ada gosip,” Jinki mulai bercerita. “Semua orang mengatakan bahwa Minho membawa Taemin pulang dan.. detilnya berbeda-beda, tapi cukup buruk.”

“Apa? Serius?” tanyaku sedikit menaikkan volume suara.

Kibum memutar matanya. “Siapa yang peduli, Taemin? Semua orang sudah berspekulasi tentangmu dan Minho selama beberapa minggu ini. Ini bukan pertama kalinya seseorang menuduh kalian berdua sudah tidur bersama.”

Minho dan Jinki saling pandang.

“Ada apa?” tanyaku. “Ada sesuatu yang lainnya?”

Jinki mengernyit. “Mereka bilang kau tidur dengan Jungmo di rumah Jongin, lalu kau membiarkan Minho.. membawamu pulang, jika kau mengerti maksudku.”

Mulutku menganga. “Bagus. Jadi aku ayam kampus sekarang?”

Mata Minho menjadi gelap dan mulutnya tegang. “Ini semua salahku. Jika itu orang lain, mereka tidak akan mengatakan hal itu tentangmu.” Ia melangkah masuk ke dalam kafetaria dengan tangan mengepal.

Kibum dan Jinki mengikutinya di belakang. “Semoga tidak ada orang yang cukup bodoh dan mengatakan sesuatu pada Minho,” ujar Kibum.

“Atau pada Taemin,” Jinki menambahkan.

Minho duduk jauh beberapa kursi di seberang tempat dudukku, melamun sambil menatap roti isinya. Aku menunggunya melihat ke arahku, ingin memberikan senyuman yang menenangkannya.

Jinki menyikutku saat aku memandangi sepupunya. “Dia hanya merasa tidak enak. Mungkin dia mencoba untuk meredakan gosip itu.”

“Kau tidak harus duduk jauh di sana, Minho. Ayo, duduk di sini,” kataku menepuk tempat kosong di depanku.

“Aku dengar pesta ulang tahunmu sangat berkesan, Taemin,” kata Shim Changmin sambil melemparkan sepotong daun selada ke samping piring Minho.

“Jangan macam-macam dengannya, Shim,” Minho memperingatkan dengan menatap Changmin tajam.

Changmin tersenyum, mengangkat tulang pipinya. “Aku dengar Jungmo sangat marah. Dia bilang dia mampir ke rumah Minho kemarin, lalu melihatmu dan dia masih berada di tempat tidur.”

“Mereka sedang tidur siang , Changmin,” ujar Kibum menyeringai.

Mataku langsung menatap Minho. “Jungmo mampir?”

Ia bergerak dengan tidak nyaman di kursinya. “Aku tadi akan memberitahumu.”

“Kapan?” bentakku.

Kibum berbisik di telingaku. “Jungmo mendengar gosip itu, lalu datang untuk menanyakannya secara langsung padamu. Aku mencoba untuk menghentikannya, tapi dia menerobos masuk lalu.. benar-benar salah paham.”

Aku meletakkan sikuku di atas meja sambil menutupi wajahku. “Ini semua semakin memburuk.”

“Jadi kalian tidak melakukan hal itu?” Changmin bertanya. “Sialan, itu menyebalkan. Padahal aku sudah berpikir Taemin sangat cocok untukmu setelah semua itu, Minho.”

“Sebaiknya kau berhenti sekarang, Changmin-ah,” kata Minho memperingatkan kembali.

“Jika kau tidak tidur dengannya, apa kau keberatan jika aku yang mencobanya?” kata Changmin cekikikan bersama teman satu timnya.

Wajahku memerah karena malu, namun kemudian Kibum berteriak di dekat telingaku karena melihat reaksi Minho melompat dari tempat duduknya. Ia meraih dari atas meja, memegangi leher Changmin dengan satu tangannya dan tangan yang lain memegangi bajunya. Si pemain sepakbola itu terjatuh dari tempat duduknya, terdengar banyak suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai saat semua orang berdiri untuk melihat. Minho menonjok wajahnya berkali-kali, sikunya diangkat tinggi di udara sebelum ia mendaratkan setiap tinjunya. Hanya satu yang bisa Changmin lakukan yaitu melindungi wajahnya dengan tangan.

Tidak ada seorangpun yang menyentuh Minho. Ia sudah diluar kendali dan reputasinya membuat semua orang takut untuk menghalanginya. Para pemain sepakbola hanya menunduk dan meringis saar mereka menyaksikan temannya diserang tanpa ampun di lantai.

“Minho!” teriakku seraya berlari mengitari meja.

Ketika akan memukul lagi, Minho menahan tinjunya lalu melepaskan baju Changmin, membiarkannya terjatuh ke lantai. Minho terengah-engah saat melihat ke arahku, aku belum pernah melihatnya begitu menakutkan. Aku menelan ludah dan mundur selangkah ketika Minho menabrakku di bahu saat ia melewatiku.

Aku melangkah untuk mengikutinya, tapi Kibum mencegahnya dengan memegang tanganku. Jinki mencium Kibum lalu mengikuti sepupunya keluar.

“Ya Tuhan,” bisik Kibum.

Kami berpaling dan melihat semua teman Changmin mengangkatnya dari lantai dan aku meringis saat melihat wajahnya yang merah dan bengkak. Darah keluar dari hidungnya dan Jongin memberinya tisu yang ada di atas meja.

“Dasar orang gila!” maki Changmin yang duduk di atas kursi sambil memegang wajahnya. Ia menatapku. “Maafkan aku, Taemin. Aku hanya bercanda.”

Aku tidak menjawabnya. Aku tidak dapat menjelaskan apa yang baru saja terjadi.

“Dia tidak tidur dengan salah satu dari mereka,” kata Kibum menjelaskan.

“Kau tidak pernah tahu kapan harus menutup mulut, Shim,” kata Jongin dengan kesal.

Kibum menarik tanganku. “Ayo kita pergi.”

Ia terburu-buru sambil menarikku ke dalam mobil. Ketika ia memasukkan persneling, aku memegang tangannya. “Tunggu. Kita akan kemana?”

“Kita akan ke rumah Jinki. Aku tidak ingin meninggalkannya berdua dengan Minho. Kau tadi lihat dia, kan? Dia benar-benar lepas kendali!”

Well, aku juga tidak ingin berada di dekatnya.”

Kibum memandangku tidak percaya. “Sangat terlihat jelas ada sesuatu yang mengganggunya. Kau tidak ingin mengetahui apa itu?”

“Rasa untuk menjaga diriku lebih besar dari rasa penasaranku saat ini, Kibum.”

“Satu-satunya yang membuatnya berhenti hanyalah suaramu, Taemin. Dia akan mendengarkanmu. Kau harus bicara dengannya.”

Aku mengela napas dan duduk dengan benar di kursiku. “Baiklah. Ayo kita pergi.”

***

Kami masuk ke tempat parkir, Kibum melaju dengan pelan dan berhenti diantara mobil Jinki dan motor Minho. Ia berjalan menuju tangga, meletakkan tangan di pinggangnya dengan cara yang dramatis.

“Cepat, Taemin!” Kibum memanggil, membuatku bergerak mengikutinya.

Dengan ragu aku mengikutinya, langkahku terhenti saat melihat Jinki menuruni tangga untuk berbicara dengan pelan di telinga Kibum. Ia menatapku, menggelengkan kepalanya lalu berbisik di telinga Kibum lagi.

“Ada apa?” tanyaku.

“Jinki pikir..” Kibum terlihat gelisah. “Jinki pikir bukan ide yang bagus kalau kita masuk sekarang. Minho masih sangat marah.”

“Maksudmu dia pikir aku tidak seharusnya masuk,” kataku. Kibum mengangkat bahu dengan malu, lalu memandang Jinki.

Jinki menyentuh bahuku. “Kau tidak melakukan kesalahan, Taemin. Dia hanya.. dia hanya tidak bertemu denganmu saat ini.”

“Jika aku tidak melakukan kesalahan, lalu kenapa dia tidak ingin bertemu denganku?”

“Aku tak tahu kenapa, dia tidak memberitahuku. Kupikir dia merasa malu karena lepas kendali di depanmu.”

“Dia lepas kendali di depan semua orang di kafetaria. Apa hubungannya denganku?”

“Lebih dari yang kau pikir,” kata Jinki menghindari tatapan mataku.

Aku memandang mereka beberapa saat, lalu mendorong mereka untuk lewat, berlari menaiki tangga. Aku langsung melewati pintu dan ruang tamu yang kosong. Pintu kamar Minho tertutup rapat, jadi aku mengetuknya.

“Minho? Ini aku, buka pintunya.”

“Pergilah, Taemin,” ia menjawab dari balik pintu. Aku mengintip ke dalam dan melihatnya sedang duduk di ujung tempat tidur, menghadap jendela. Eve menggaruk punggungnya, tidak merasa senang karena diabaikan.

“Apa yang terjadi denganmu, Minho?” tanyaku. Ia tidak menjawab, maka aku berdiri di sampingnya dan melipat tangan di depan dada. Wajahnya tegang, tapi ekspresinya sudah tidak semenakutkan seperti saat di kafetaria. Ia terlihat sedih. Sangat putus asa. “Kau tidak akan membicarakan ini denganku?”

Aku menunggu, namun ia tetap diam. Aku berbalik menuju pintu dan akhirnya ia mengela napas. “Kau ingat kemarin saat Jongin berbicara yang tidak-tidak tentangku dan kau langsung membelaku? Well, kejadian tadi seperti itu. Hanya saja aku sedikit keterlaluan.”

“Kau sudah marah sebelum Changmin mengatakan sesuatu,” kataku, kembali duduk di sampingnya di atas tempat tidur.

Ia kembali menatap jendela. “Aku serius dengan yang aku katakan tadi. Kau harus pergi, Taemin. Tuhan tahu aku tidak bisa pergi darimu.”

Aku menyentuh lengannya. “Kau tidak serius ingin aku pergi.”

Wajah Minho kembali tegang, lalu memelukku. Ia terdiam beberapa saat lalu mencium keningku, menekan pipinya ke pelipisku. “Tidak peduli seberapa kerasnya aku berusaha. Kau akan membenciku setelah aku memberitahumu.”

Aku memeluknya. “Kita harus bersahabat. Aku tidak akan menerima kata tidak sebagai jawaban.”

Alisnya naik lalu ia memelukku lagi dengan kedua tangannya sambil tetap melihat jendela. “Aku memandangimu saat kau tidur. Kau selalu terlihat sangat damai. Aku tak pernah merasa damai seperti itu. Aku selalu merasa marah dan kesal yang bergejolak dalam diriku, kecuali saat aku melihatmu yang sedang tertidur. Itu yang sedang aku lakukan saat Jungmo masuk,” lanjutnya. “Aku sudah bangun dan dia masuk, namun hanya berdiri dia ambang pintu dengan ekspresi terkejut. Aku tahu apa yang dia pikirkan, tapi aku tidak meluruskannya. Aku tidak menjelaskan karena aku ingin dia berpikir telah terjadi sesuatu diantara kita. Sekarang seluruh kampus berpikir kau melakukannya dengan kami berdua dalam satu malam yang sama.” Eve menyeruduk ke pangkuanku, dan aku mengusap telinganya. Minho meraihnya untu dibelai sekali lalu memegang tanganku. “Maafkan aku.”

Aku mengangkat bahu. “Jika dia percaya gosip itu, itu salahnya sendiri.”

“Sulit untuk berpikir hal lain saat dia melihat kita di atas tempat tidur.”

“Dia tahu aku tinggal bersamamu. Lagi pula aku masih berpakaian lengkap.”

Minho mengela napas. “Dia mungkin sudah terlalu kesal untuk menyadarinya. Aku tahu kau sangat menyukainya, Taemin. Aku seharusnya menjelaskan padanya. Aku berutang begitu banyak padamu.”

“Itu bukan masalah.”

“Kau tidak marah?” tanyanya terkejut.

“Itukah yang tadi membuatmu kesal? Kau berpikir aku akan marah padamu setelah kau memberitahuku yang sebenarnya?”

“Seharusnya kau marah. Jika ada seseorang yang menjatuhkan reputasiku, aku akan sangat marah.”

“Kau tidak peduli tentang reputasi. Apa yang terjadi dengan Minho yang tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan?” aku meledeknya seraya menyikut.

“Itu sebelum aku melihat ekspresi wajahmu saat mendengar apa yang dibicarakan semua orang. Aku tidak ingin kau tersakiti karena aku.”

“Kau tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan menyakitiku.”

“Lebih baik aku memotong tanganku daripada melakukannya,” katanya mengela napas.

Ia meletakkan pipinya di atas kepalaku. Aku tidak menjawab dan Minho sepertinya sudah mengatakan semua yang ingin ia katakan, jadi kami hanya duduk dan terdiam. Sesekali Minho memelukku dengan erat. Aku berpegangan pada kausnya, tak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatnya merasa lebih baik selain hanya membiarkannya memelukku.

Ketika matahari terbenam, aku mendengar ketukan. “Taemin?” suara Kibum terdengar pelan di balik pintu.

“Masuklah, Kibum-ah,” jawab Minho.

Kibum masuk bersama Jinki dan ia tersenyum melihat kami yang berpegangan tangan. “Kita akan pergi makan. Kalian mau makan bento?”

“Makanan Jepang lagi? Serius?” tanya Minho. Aku tersenyum, ia sudah terdengar seperti dirinya lagi.

Kibum menyadarinya juga. “Ya, serius. Kalian ikut atau tidak?”

“Aku sangat lapar,” kataku.

“Tentu saja kau lapar, kah tidak sempat makan siang,” kata Minho. Ia berdiri dan mengajakku bersamanya. “Ayo kita pergi mencari makan untukmu.”

Ia terus memelukku dan tidak melepaskannya hingga kami tiba di restoran bento.

Sesaat setelah Minho pergi ke kamar mandi, Kibum mendekat. “So, apa yang dia katakan?”

“Tidak mengatakan apapun,” jawabku mengangkat bahu.

Ia mengerutkan alisnya. “Kau berada di kamarnya selama dua jam. Dia tidak mengatakan apapun?”

“Dia biasanya begitu kalau sedang marah,” kata Jinki.

“Dia pasti mengatakan sesuatu, aku yakin,” desak Kibum.

“Dia bilang dia keterlaluan saat membelaku dan dia tidak memberitahu Jungmo yang terjadi sebenarnya saat dia melihat kami. Hanya itu,” kataku sambil merapikan botol garam dan merica di atas meja.

***

Kami tertawa dan bercanda hingga restoran tutup, lalu kami masuk ke dalam mobil untuk pulang. Jinki menggendong Kibum di atas punggungnya, namun Minho tetap diam di belakang, menarikku agar aku tidak mengikuti mereka ke atas. Ia melihat ke atas memerhatikan mereka hingga mereka menghilang di belakang pintu, lalu memberiku senyuman menyesal. “Aku berutang permintaan maaf hari ini, jadi maafkan aku.”

“Kau sudah meminta maaf, tidak apa-apa.”

“Belum. Tadi aku meminta maaf karena Jungmo. Aku tidak ingin kau berpikir aku adalah orang gila yang suka menyerang orang lain hanya karena masalah kecil,” katanya. “Tapi aku berutang permintaan maaf karena aku tidak membelamu untuk alasan yang tepat.”

“Dan itu adalah?” desakku.

“Aku menyerangnya karena dia ingin menjadi yang berikutnya, bukan karena dia mengganggumu.”

“Menyindir itu ada batasnya, banyak alasan untukmu untuk membelaku.”

“Itu maksudku. Aku kesal karena aku menganggap dia ingin tidur denganmu.”

Setelah memroses apa yang Minho maksudkan, aku menarik ujung kausnya lalu meletakkan kepalaku di dadanya. “Kau tahu? Aku tak peduli,” kataku menatap wajahnya. “Aku tak peduli apa yang orang lain katakan, atau saat kau kehilangan kendali, atau kenapa kau merusak wajah Changmin. Hal yang tak ingin aku miliki adalah reputasi yang buruk, namun aku lelah harus menjelaskan hubungan persahatan kita pada semua orang. Persetan dengan mereka.”

Mata Minho nelembut dan ujung bibirnya terangkat ke atas. “Persahabatan kita? Terkadang aku bertanya kapan kau benar-benar mau mendengarkanku.”

“Apa maksudmu?”

“Ayo kita masuk, aku lelah.”

Aku mengangguk. Dan ia memelukku di sampingnya sampai kami masuk ke rumah. Kibum dan Jinki sudah masuk kamar tidur mereka, lalu aku mandi. Minho dan Eve menunggu di luar saat aku mengenakan piyamaku. Dalam waktu setengah jam, kami berdua sudah berada di temlat tidur.

Aku membaringkan kepala di atas tanganku, mengembuskan napas panjang, mengeluarkan embusan udara keluar. “Hanya tinggal dua minggu. Apa yang akan kau lakukan untuk drama ketika aku pindah kembali ke asrama?”

“Aku tak tahu,” jawabnya. Aku bisa melihat garis tersiksa di wajahnya, meskipun di dalam kegelapan.

“Hey,” aku menyentuh tangannya. “Aku hanya bercanda.”

Aku menatapnya lama, bernapas, berkedip, dan berusaha untuk tenang. Ia sedikit gelisah lalu melihat ke arahku. “Kau percaya padaku, Taemin?”

“Ya, kenapa?”

“Kemarilah,” katanya. Menarikku mendekat. Aku menjadi tegang beberapa saat sebelum membaringkan kepalaku di atas dadanya. Apapun yang terjadi padanya, ia membutuhkanku di dekatnya dan aku merasa tidak keberatan walaupun aku menginginkannya. Terasa sangat tepat berbaring di sampingnya.

-to be continued-

An: Halo hai! Longtime no see. Duh udah lama ya ternyata ga nerusin the bet, sekitar tiga bulan? Daebak yak :’) maafkan ya temans, mungkin kalian pikir ini bakal gantung begini aja tanpa diterusin. Tenang aja, aku bakal terusin sampe kelar kok, kan aku dah berkali-kali bilang walaupun lama update tapi pasti aku selesaiin. Mumpung lagi libur jadi mau lebih produktif sih, semester depan bakal lebih sibuk sepertinya. The bet 9 coming soon, on process ^^

[Q2A] Question of The Day 3

Gimana sih biar pintar bahasa Inggris?

Oke, ini pertanyaan aneh memang. Dan aku dapat ini dari teman sebangku waktu kelas bahasa Inggris. Sebenarnya aku juga ga pintar bahasa Inggris, kosakataku masih terbatas dan masih banyak anak yang memiliki kosakata lebih banyak dibandingku.

Aku juga masih sering salah sama grammar dan meaning dari satu kata. Tahu sendiri bahasa Inggris, satu katanya bisa memiliki beribu arti. Tapi setidaknya aku ngerti kalau ada bacaan tentang bahasa Inggris, itu bisa menjadi bahan penambah kosakata.

Jadi, untuk menjawab pertanyaan di atas. Aku menjawabnya dalam konteks tahu arti ya. Perbanyaklah membaca tentang apa saja yang berbau bahasa Inggris, tidak perlu buku pelajaran or other same things. I know that things such a bored things. Kalian bisa membaca fanacc atau subtitle yang banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Dan kalau membaca bacaan bahasa Inggris, kalian ga perlu mengartikan kata per katanya, bahasa Inggris memiliki frasa, yang memiliki arti beda kalau digabung. So, kalian baca dulu sampe selesai bacaannya, baru kalau belum ngerti intinya nanya deh sama kamus.

Nah yang selanjutnya, bisa sedikit demi sedikit memraktikkan penulisan maupun pengucapannya. Memiliki teman chat dari luar negeri juga bisa. Dan jujur lagi, aku masih lemah dalam pengucapan dan pronounciation.

Jika kalian terbiasa dengan itu, yakin deh bakal jadi expert. Hahaha engga juga ding, seenggaknya ngerti dengan orang yang menuliskan english yang lewat di teel kalian mungkin.

Ah. Untuk The Bet, sorry again, aku belum bisa merampungkan yaa. Still in final test situation. Bentar lagi rampung kok final test ku, semoga mood nulis yaa. Dan semoga sebelum lebaran bakal tamat dan berganti dengan oneshots hehe, see ya ^^

[Q2A] Question of the Day 2

Maaf beribu maaf ya, aku belum bisa update The Bet nya u.u Beberapa hari kemarin sih sudah mulai nyicil ngeditin, tapi gegara ada virus menyebalkan bernama wannacry, aku jadi wanna cry beneran nanggepinnya. Takut buka laptop ih, nyeremin pas baca berita sama baca review gitu. Jadi gantinya, aku upload ga-penting ini dulu ya ^^

Three yaoi mangas that you don’t like!

Tiga manga ya? Actually I like all mangas that I read before. Sebelum baca pasti ada sinopsis kan, nah darisitu aku memutuskan mau meneruskan baca apa enggaknya. Jujur, aku lebih suka baca manga yang udah completed dulu. Soalnya pengalaman nih ya, aku baca manga yang masih on going dan pada saat menunggu waktu untuk update chapter selanjutnya itu sering kali kebablasan dan lupa terakhir kali baca sampai chapter berapa.

Soalnya juga kan aku gatau manga itu update setiap apa, bukan kea drama yang udah pasti satu minggu sekali misalnya. Ya sebenarnya bisa dikepoin juga sih ya, cuma terlalu malas wkwk. Aku bukan seorang hardcore sama bacaan manga sih. Kebanyakan manga yang aku baca juga ceritanya cliche banget, tapi entah kenapa tetep dapet aja gitu feelingnya.

Untuk manga sendiri aku lebih suka baca yang school-life atau work-life gitu, lebih yang menceritakan kehidupan sehari-hari lah intinya, kurang suka genre yang supranatural or something else nya. Dan jujur, aku udah lupa manga apa aja yang pernah aku baca sebelumnya, karena kan aku bacanya habis-sekali-duduk meski itu ada beberapa chapter, ya habis penasaran sih mending diterusin sampai akhir wkwk.

Yang paling inget itu paling Okane Ga Nai, Sekaiichi Hatsukoi, Junjou Romantica, Ten Count, Turning Point. Semua manga itu (kecuali Turning Point) masih on going sampai sekarang dan aku lupa terakhir kali baca chapter berapa. Ten Count aja lupa sampai nomor berapa itu bacanya, padahal pingin nerusin baca lagi. Paling nanti kalau udah mulai liburan dan gabut dirumah ya mulai lagi dari awal baca manganya.

Ah, malah lupa bahas yang kurang disukai kan. Emm apa ya, bingung nih. Mungkin Rough masuk kali ya. Aku rada ga sreg aja sama animasinya, akutu suka sama uke yang unyu gitu dan seme yang gagah berdada bidang dan bisa melindungi ukenya. Nah di Rough itu mereka sama-sama garang mukanya, kan aku jadi ga sreg 😦 

Ai wa Chitto mo Rakuja Nai masuk juga kali ya. Si uke nya lebih tua dari si seme soalnya duh berasa kea Minho bakalan nikah sama noona-noona gitu, nyesek tiada akhir lol. Padahal dari segi cerita aku suka, cuma si uke nya itu, bisa kali ya kalo request ke mangaka nya si uke dijadiin seme dan si seme dijadiin uke wkwk.

Yang selanjutnya Shiri Fechi Nanka ni Sukarete Tamaru ka. Jadi manga satu itu menceritakan soal si uke yang mempunyai pantat besar dan sering banget dilecehkan di tempat umum gara-gara pantat dia itu. Waktu awal cerita sih aku masih enjoy ya sama animasinya, karena aku seketika keinget sama Taemin yang punya pantat semok juga wkwk. Nah waktu di tengah-tengah, aku merhatiin, ini kok animasi pantatnya jadi tambah gede gitu ya. Ya bisa dibilang animasinya jadi segede semoknya cewek lah, semok banget di cowok jadinya, dan aku seketika shook ngeliatnya. Coba mangakanya konsisten dengan pantat semoknya cowok ya, aku pasti suka wkwk.

Btw ini hanya perspektifku aja ya, si mangakanya juga gabakal mempertimbangkan penilaianku, aku siapa disana haha, hanya lembaran kertas yang sudah tak terpakai lol.

[Q2A] Question of the Day 1

Halo, Gengs! Haha aku bikin kategori baru nih! Sebenarnya non-sense banget ya buat kalian yang suka mampir kesini tujuannya untuk baca cerita aja. I wanna answers some questions tho. Berhubung tidak ada tempat untuk ku menjawab, jadi aku bikin deh kategori ini. Tujuannya sih cuma satu, berharap postinganku ga jadi krik-krik kalau lagi gada ide cerita aja haha.

Okay well, aku menjawab menurut pribadi aku berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang secara tidak sengaja aku temukan haha. Kalau kalian mau tanya something, sok lah mangga. Okay let’s start the day 1 of Question to Answer woohoo!

Please explain yourself (as a fangirl) briefly!

As you know, I am a shawol. Dan shawol adalah satu-satunya fandom yang aku punya. Alasannya, karena aku gamau nambah fandom. Bisa dibilang aku ini penikmat musik kpop juga, tapi alhamdulillah aku gasampai kebablasan kalau suka sama other group, paling ya sering batin aja kalau mereka-mereka itu ganteng-ganteng wkwk. Kuncinya cuma satu, jangan kepo soal mereka. Oh iya, jangan coba-coba nyari fans mereka juga. Intinya jangan sampai kalian coba kepo, apalagi coba masuk ke fandom itu. Itu sih yang aku prinsipin dari awal.

Awalnya aku masih menganut paham Oppa is Mine. Itu dulu banget, jamannya alay. Tahu sendiri kan bagaimana anak yang baru suka sama salah satu member hahaha. But now, aku suka semua! Pingin sih ya, balik ke jaman dulu yang bisa curi-curi waktu pelajaran buat fangirlingan, sekarang apa, sekalinya ada waktu luang dibuat tidur 😦

Oh iya, aku kasih tahu ya, aku bukan shawol yang loyal cem swj gitu. Aku masih sekolah semester 4, jadi belum ada penghasilan beli ini itu walaupun kalau lihat di sosial media sering ngiler juga pingin beli. Tapi sungguh, itu ujian terberat. Antara pingin saving sama pingin beli stuff yang ucul soal mereka.

Fyi juga, aku bukan pure kpop, aku masih penikmat musik barat and ofc Indonesia too. Sekarang ini lagi suka banget sama grup Indonesia yang namanya Kevin and The Red Rose, selain membernya kasep-kasep, suara mereka juga aduhai. Tapi tenang aku pure shawol kok, serius deh :’) Soalnya di Indonesia kan sistemnya bukan fandom kea kpop gitu ya, jadi kalau misal suka sama artis satu terus mau suka sama yang lain ya terserah.

Ah! Aku juga seorang fujoshi. Ya, tetap sih in the first place fujoshinya my otp 2min, sudah masuk level hardcore kali ya/.\ tapi jujur aku masih sering bacain cerita-cerita dan nontonin video bl, entah itu di manga, cerpen, wattpad, anime, film bl bahkan haha.