Unpredictable [Special Edition on 27th Minho’s Birthday]

2Min fiction by bluesch ©2017

| Minho, Taemin, Kibum, Jinki, Jonghyun |

An: Dont expect too much. Ga sebagus yang kalian kiraㅠㅠ

•cue•

“Kerja bagus semuanya. Selamat beristirahat!” teriak sang sutradara mengakhiri proses syuting malam yang larut itu.

“Sampa jumpa lagi, Sutradara Seo.”

“Kerja bagus, Minho. Perbanyak istirahat. Kau terlalu menikmati peranmu tadi.”

“Baiklah. Saya pamit kalau begitu,” ujar lelaki jangkung yang hanya dibalas anggukan dan senyuman hangat oleh sang sutradara.

Sang lelaki jangkung menyempatkan diri untuk mengganti pakaiannya yang lebih kasual dan nyaman untuk dipakai, lalu setelahnya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya pulang.

Jumat dini hari suasana Seoul kala itu memang sedikit menyebalkan. Salju turun disaat ada proses syuting jadi ada beberapa adegan yang harus ditunda terlebih dahulu dan pada akhirnya mereka pulang terlalu larut dan sangat dingin.

“Kau mau mampir atau langsung pulang?” tanya manager yang sedang mengendarai mobil. Minho duduk disampingnya menyandarkan kepalanya ke jok mobil.

“Langsung pulang saja, Hyung. Aku ingin istirahat,” jawabnya.

“Baiklah.”

Jalanan sudah mulai lengang walaupun tidak sepi seutuhnya. Seoul merupakan kota metropolitan yang tidak pernah tidur. Masih ada beberapa kendaraan yang lalu lalang meskipun fajar sudah hampir menampakkan diri.

Terdengar suara ponsel yang bergetar dari saku mantel yang dipakai Minho. Ah Taemin menghubunginya via pesan singkat. Sepertinya dia juga baru selesai dengan aktivitasnya.


From
Taemin :

Hyung, kau dimana?


To Taemin :

Dalam perjalanan pulang. Ada apa?


From
Taemin :

Kau akan pulang ke dorm atau apartemen?


To Taemin :

Dorm. Lebih dekat dari lokasi syutingku.


From Taemin :

Bisakah aku minta tolong kau mampir ke apartemen sebentar untuk mengambil celana jinku? Entah kenapa aku ingin memakainya besok.

Hyung, putar balik menuju apartemenku. Aku akan mampir sebentar,” katanya kepada manager tanpa mengalihkan matanya dari layar ponsel. Sang manager hanya menatapnya bingung. Pasti Lee Taemin, batinnya.


To
Taemin :

Baiklah. Kau sekarang berada di dorm?


From Taemin :

Ya. Jadwalku akan sangat padat besok-besok. Jadi manager mengusulkan untuk tinggal di dorm selama jadwalku padat.


To Taemin :

Oke. Sampai bertemu di dorm, Sayang.

Itulah yang namanya kekuatan Taemin si pacar Minho. Selelah apapun akan selalu diturutinya selama masih batas wajar dan bisa dia laksanakan. Bukankah mereka terlihat manis? Sangat.

Sampailah mereka di apartemen milik Minho dan Taemin. Minho turun dari mobil dan berpesan agar manager menunggunya di mobil saja karena dia hanya akan mengambil celana jin Taemin.

Dia memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dimana apartemennya berada. Sengaja memilih di lantai yang agak tinggi agar bisa menikmati pemandangan disaat terbit atau terbenamnya sang jingga. Minho memanglah bukan tipe orang yang romantis, tapi percayalah jika kau hidup dengannya kau akan diperlakukan layaknya kaca rapuh yang perlu perlindungan ekstra. Dia sangat manis.

Minho menekan kombinasi angka yang menjadi kunci pintu apartemennya dan Taemin. Dengan wajah yang sedikit kelelahan, dia memasuki ruangan yang gelap gulita itu.

“KEJUTAN! HAPPY BIRTHDAY CHOI MINHO!” terdengar teriakan lantang yang bukan dari satu orang saja. Lampu di ruang tengah itu pun seketika menyala, Minho terbelalak kemudian.
Menampilkan wajah-wajah tak asing yang tersenyum manis. Taemin, Kibum, Jonghyun, dan Jinki berada di sana.

“Apa yang kalian lakukan disini?” tanyanya masih dengan wajah tidak percaya.

“Merayakan ulang tahunmu. Selamat ulang tahun, Minho Hyung. Maafkan aku tadi berbohong,” jawab Taemin yang membawa kue tar seraya mendekat kearah Minho yang masih mematung. “Buatlah permintaan lalu tiup lilinnya.”

Minho menurutinya, memejamkan mata sejenak dan membukanya kembali lalu meniup lilin yang berada di atas kue. Taemin berjalan mundur untuk meletakkan kuenya. Kibum dan lainnya giliran mendekat untuk memeluk Minho satu per satu sambil mengucapkan doa-doa mereka.

***

Mereka tertawa bersama di ruang tengah, menceritakan hal-hal yang terjadi pada hari itu. Malam sudah semakin larut, Jinki sudah menghubungi manager yang menunggu di tempat parkir untuk pulang saja karena mereka berlima berencana menginap di apartemen kedua anggota termuda.

“Dasar kau mesum, Choi Minho. Bagaimana bisa kalian berdua memiliki tempat persembunyian ini ha?” ledek Kibum seperti biasa. Sudah menjadi tipikal Kibum yang sukanya meledek Minho. Thay are true best friends.

“Sudahlah, Kibum-ah. Ini sudah menjadi pilihan mereka. Lagi pula mereka sudah dewasa kan,” sanggah Jinki menjadi penengah. Aku mencintaimu Lee Jinki.

“Aku hanya tidak mau diganggu saat aku dan Taemin ingin berdua saja. Di dorm masih ada Jinki Hyung dan para manager. Di rumah Taemin pun masih ada orang tuanya dan kakaknya. Ya walaupun mereka tidak keberatan, tapi tetap saja memiliki rasa yang berbeda,” jelas Minho panjang lebar. Taemin hanya diam tersenyum mendengarnya. Jonghyun? Sepertinya manusia satu itu sudah tertidur gara-gara terlalu banyak minum bir.

“Cih alibimu, Choi,” cibir Kibum lagi.

“Kau itu kenapa? Cemburu? Nanti juga fans kita akan merayakan lima tahun saat aku melamarmu di Singapore, masih belum puas?”

Hyung! Apaan sih,” gertak Taemin dengan wajah cemberut.

“Uh Sayang tidak tidak, aku hanya bercanda. Kibum yang memulai. Marahi saja dia ya, kumohon,” bujuknya dengan sejuta kata-kata manis. Taeminnya sudah terlanjur cemberut, itu artinya dia harus memberikan sesuatu agar wajah cemberutnya berubah menjadi senyuman matahari seperti di kartun Teletubbies. “Kau boleh meminta apapun dariku, tapi setelah mereka bertiga pulang dari apartemen kita. Bagaimana?” bisiknya membuat kesepakatan.

“Baiklah,” final Taemin dengan mengela napas menyerah. Tidak ada yang bisa membantah karisma seorang Choi Minho bukan?

***

“Kami pamit dulu, Choi,” ujar Kibum berjalan bersama Jonghyun dan Jinki menyusuri lorong menuju pintu keluar apartemen. Minho mengantar mereka sampai depan pintu dengan tangannya yang masih bertengger di pundak Taemin.

“Yasudah pulang sana. Siapa juga yang mengundang kalian datang ke tempat persembunyian kami,” kata Minho.

“Taemin yang mengundang semalam asal kau tahu saja,” cibirnya. Minho terkaget-kaget melirik kearah Taemin. Taemin hanya bisa tersenyun kikuk di sampingnya. “Hei, Taemin. Kau tidak ikut pulang bersama kami?”

“Tidak. Dia akan menjadi tawananku sampai nanti siang,” itu suara Minho yang menjawab

Oh okay. Have fun your time kalau begitu.”

***

Taemin benar-benar merasa diadili sekarang, duduk di sofa dengan Minho berada di hadapannya melipat tangan di dada. Kepalanya dia tundukan dan kedua tangannya meremas satu sama lain. Tipikal Lee Taemin jika sedang gerogi.

“Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau mengundang mereka kemari?” tanya Minho tegas.

“Hm.. Aku ingin merayakan ulang tahunmu dengan cara yang berbeda, Hyung. Bukan di dorm seperti biasanya. Aku juga ingin menunjukkan kepada ketiga anggota lainnya bahwa mereka tidak perlu mengkhawatirkanku karena aku sudah memilikimu di sampingku. Begitu saja. Maafkan aku,” jawabnya dengan volume yang semakin mengecil.

“Baiklah. Kalau begitu keinginanmu semalam agar bisa meminta apapun dariku dibatalkan karena kau sudah membocorkan tempat kita kepada mereka,” kepala Taemin masih menunduk, tapi mata cantiknya masih tetap terlihat terbelalak begitu mendengar Minho dan Minho memperhatikan itu. “Maka dari itu, aku yang akan memintanya darimu dan kau tidak boleh menolak.”


Dasar bodoh, nanti siang ada rekaman acara musik. Bagaimana jika Minho
Hyung meminta yang aneh-aneh? Batinnya menjerit.

***

“Ah! Hyung—jangan membuatnya memerah—aku ada rekaman—acara musik nanti—siang,” kata Taemin dengan susah payah. Taemin sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua sementara Minho membersihkan diri. Begitu Minho keluar dari kamar mandi dan masih dengan handuk melilit di pinggangnya, dia langsung menerkam Taemin dari arah belakang.

“Kau bisa menggunakan turtle neck seperti biasanya, Sayang. Musim dingin sudah tiba, itu tidak akan terlihat aneh,” ujarnya dengan napas yang memburu dan masih mengecupi leher harum Taemin.

“Ah! Kau harus melakukannya dengan cepat—manager akan menjemputku tiga jam—lagi.”
“Baiklah.” Minho membalikkan badan Taemin agar menghadap kearahnya. Menyambar dengan lembut bibir penuh milik Taemin. Masih terasa manis seperti biasa.

Melepas tautan bibir mereka sejenak, meninggalkan benang liur yang begitu menggoda. Ditatapnya wajah cantik Taemin dengan intens, menilik ke dalam mata indahnya, tersenyum lembut setelahnya, dan kembali menautkan bibir mereka secara lembut.

Mendudukkan Taemin di meja konter dapur, memelorotkan sedikit celana yang dipakainya. Memberi rangsangan pada lubang merah muda milik Taemin yang terlihat sangat cantik itu. Mulai memasukkan dua jarinya untuk tahap awal, meskipun quick sex, mereka tetap perlu foreplay bukan?

“Ah! Hyung—ayo masukkan saja biar—lebih cepat,” perintah Taemin tidak sabar. Rupanya dia juga menginginkannya.

Minho mulai melepas lilitan handuk di pinggangnya. Kejantanannya terlihat tegak berdiri menantang. Dirasanya tidak perlu foreplay terlalu lama, dia hanya membasahinya dengan sedikit liur agar Taemin tidak merasa sakit.

“Ah! Pelan-pelan,” ucap Taemin.

Sudah berselang beberapa menit setelah mereka memulainya. Desahan dan keringat mulai memenuhi dapur itu. Pergerakan mereka semakin lama juga semakin cepat berharap apa yang mereka tunggu-tunggu akan segera datang.

“Ah Hyung iya disitu, terus, hmmm, sedikit lagi—Ahh—Ahh—”

“Ahh—”

Mereka klimaks dengan waktu yang bersamaan. Cairan putih milik Taemin sudah membasahi seluruh perutnya dan Minho, sedangkan milik Minho masuk ke dalam lubang sempit Taemin. Dia masih membiarkannya tetap berada di sana agar tidak banyak yang keluar.

Mencium bibir Taemin dengan lembut seraya melepas kejantanannya dari lubang Taemin.

“Hmm—”

“Terima kasih, Sayang. Kau sungguh luar biasa. Aku harus membersihkan diri untuk kedua kalinya. Kau juga harus membersihkan dirimu,” ucap Minho.

“Kau duluan saja, Hyung. Aku masih lemas. Kita belum sarapan tapi kau sudah mengajakku melakukannya. Energiku terkuras habis. Aku akan menyiapkan sarapannya lagi sementara kau mandi.”

“Baiklah.”

***

Terdengar suara dering telepon dari meja nakas saat Taemin sedang bersiap-siap ke acara musik. Minho sudah berangkat ke lokasi syuting sejak mereka selesai sarapan tadi.

“Halo?”


“Taemin aku sudah dibawah,”
ucap seseorang di seberang telepon.

“Oh iya, Hyung. Sebentar lagi aku akan turun,” jawab Taemin. Itu suara manager yang menjemput Taemin untuk melakukan rekaman acara musik.

Taemin bergegas mengenakan apa saja yang menurutnya patut untuk dikenakan. Minho sangat bandel masih saja membuatnya memerah di sekitar leher, menyebalkan.

Untung saja nanti memakai pakaian dengan kerah tinggi, jadi bisa tertutup, ujarnya dalam hati sambil melihat ruam kemerahannya di depan kaca.

Dia keluar dari apartemennya yang dirasa sudah cukup rapi untuk ditinggal pergi pemiliknya yang entah kapan akan kembali lagi, karena memang apartemen itu bukan prioritas tempat tinggal mereka.

Taemin masuk ke mobil yang akan mengantarnya ke gedung KBS. Manager sudah siap di belakang kemudi.

“Ayo berangkat, Hyung.”

“Taemin, kau terkena flu?” tanya sang manager heran melihat penampilan Taemin. Taemin memakai mantel yang sangat tebal—terlebih diritsletingkan serta topi mantelnya dipakai—dan masker seadanya.

“Hm.. Tidak. Hanya merasa sangat dingin, Hyung. Semakin hari semakin dingin saja hehe,” jawab Taemin. Manager hanya mengangguk saja. Dia sudah tahu watak Taemin jika dia disuruh menjemput di apartemennya, pasti ada suatu kejadian semalam atau bahkan tadi pagi. Who knows.

•fin•

An : Aku nulis apaan yawlaaa. Failed ini failed! Maafkan ya maafkan duh🙏

Advertisements

Taeyeon’s Pregnant

Cast : Choi Minho, Kim Jonghyun, Lee Taeyeon
By : bluesch
Summary : Lee Taeyeon is pregnant. Well, what can Minho does? How abt Jonghyun? And who is father of the baby?

a.n : Jangan terlalu berharap lebih sama ff ini ya. Ini bukan seperti ekspetasi kalian huhu. Ini.. Hm.. Baca aja. Saya akan terima segala kritiknya. Karena ff ini memang butuh dikritik ㅠ.ㅠ

Continue reading